dancewithmommyoci











{3 Desember 2011}   BAB IV – HIPERTENSI KRONIK DAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN (MIA)

BAB IV
PEMBAHASAN

Dari studi kasus pada Ny. A, yang di ikuti dari usia kehamilan 32 minggu sampai 6 minggu masa nifas, penulis mencoba membuat suatu pembahasan yang menghubungkan teori dengan kasus yang dialami.

4.1.ANTENATAL
Selama kehamilan Ny. A mengatakan memeriksakan kehamilannya di posyandu, setiap bulan dimulai dari bulan kedua kehamilannya. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010:111) bahwa pemeriksaan kehamilan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid dan Saifuddin (2006) berbicara tentang kebijakan program kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan yaitu satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga.
Dari hasil anamnesa diketahui ibu mengaku lupa tanggal hari pertama haid terakhir pada kehamilan ini , sehingga untuk menentukan usia kehamilan penulis menggunakan hasil pemeriksaan USG pada trimester 2 yang dilakukan ibu tanggal 10 Juni 2010, diketahui bahwa umur kehamilannya pada waktu itu 23 minggu lebih 1 hari sehingga taksiran persalinan 05 Oktober 2010. Hal ini sesuai dengan Winkjosastro (2002 : 144) bahwa pengukuran diameter biparietal janin merupakan parameter yang umum digunakan untuk menentukan usia kehamilan. dr. I Putu Kusuma Yudasmara (http://www.balipost.co.id ) mengatakan bahwa pada usia kehamilan trimester 2- 3 dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kelamin janin.
Dari hasil anamnesa Ny. A pada waktu kunjungan ANC pertama, tanggal 06 Agustus 2010, pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 170 / 110 mmHg, protein urine negative dengan kehamilan 32 minggu. Ibu mengatakan mempunyai riwayat hipertensi sejak kelahiran anak pertamanya dan riwayat hipertensi dalam keluarga serta tekanan darah ibu tinggi sejak melakukan test kehamilan di polindes pada usia kehamilan satu bulan setengah. Dari data-data tersebut disimpulkan ibu mengalami hipertensi kronis. Menurut JHPIEGO (2002 : M-34) Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan. Diketahui juga dari riwayat obstetric terdahulu bahwa ibu mengalami 2 kali persalinan pre-term dan 1 kali dengan Intra uterine fetal death (IUFD) pada kehamilan yang ketiga. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2001 : 423) bahwa hipertensi menyebabkan insufisiensi plasenta yang mengakibatkan IUGR – BBL, prematuritas, sampai IUFD.
Pada kunjungan ini ibu mengeluh sering sakit kepala, hal ini sesuai dengan teori Cunningham (2006 : 267) bahwa makna patologis nyeri kepala sebagai akibat gangguan hipertensi yang timbul pada kehamilan.
Penatalaksanaan yang diberikan adalah memberikan penyuluhan tentang konsep hipertensi serta berkolaborasi dengan dokter . hal ini sesuai dengan pernyataan Cunningham, (2006) bahwa evaluasi wanita dengan hipertensi kronik sangat penting untuk penyuluhan maupun penatalaksanaan selama kehamilan. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Saifuddin (2006), bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, preeklampsi dan kondisi lain-lain yang dapat memburuk selama kehamilan. Hasil dari kolaborasi dengan dokter adalah pemberian terapi Nifedipine 3 x 10 mg. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 558) bahwa jenis antihipertensi yang digunakan pada hipertensi kronik ialah nifedipine dengan dosis bervariasi antara 30 mg – 90 mg perhari.
Dari hasil pemeriksaan tinggi fundus uteri 27 cm, maka taksiran berat badan janin 2170 gram dengan menggunakan teori Johnson dan Toshach (1954) yaitu : W (gram) = (tinggi fundus uteri – station) x 155. Untuk station minus = 13, untuk station nol = 12, dan untuk station plus = 11 (Manuaba, 2010 : 100).
Pada pemeriksaan laboratorium, haemoglobin ibu diperiksa menggunakan metode Sahli dengan hasil Hb ibu 10,0 g/dl. Batasan nilai Hb normal pada ibu hamil pada trimester ke tiga menurut Saifuddin (2010 : 776) adalah 11,0 g/dl. Sehingga ibu dinyatakan anemia.
Maka penulis memberikan tablet Fe dengan dosis 2 x 60 mg bertujuan untuk mengatasi anemia dalam kehamilan. Hal ini merujuk kepada teori Cunningham (2006 : 193) bawa kebutuhan besi pada kehamilan normal sekitar 1000 mg. sekitar 300 mg secara aktif ditransfer ke janin dan plasenta dan sekitar 200 mg hilang sepanjang berbagai jalur ekskresi normal. Dengan pemberian tablet Fe secara teratur, diharapkan haemoglobin ibu bisa naik 1 gram dalam 1 bulan, sehingga mencapai Hb menjadi normal, terutama pada saat persalinan (Saifuddin, 2006).
Pada kunjungan ini Ibu mengatakan kurang nafsu makan, dan frekuensi makan 3 kali dengan porsi sedikit, sesuai dengan keadaan ekonomi keluarganya. Sehingga masalah yang ditemukan adalah asupan nutrisi tidak adekuat. Ini memicu terjadinya anemia defisiensi besi pada Ny. A. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa anemia defisiensi besi disebabkan kurangnya asupan besi dalam gizi (Tarwoto, 2007). Tindakan yang dilakukan penulis adalah memberikan informasi tentang anemia pada masa kehamilan , dan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 777) penyebab mendasar anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoietik.
Penatalaksanaan yang diberikan lainnya adalah memberikan kalsium 3 x 500 mg kepada ibu. Hal ini sesuai dengan teori Varney bahwa kebutuhan kalsium selama kehamilan dan menyusui adalah 1200 mg perhari. Dan Winkjosastro (2002 : 99) mengatakan bahwa janin membutuhkan 30 – 40 gram kalsium untuk pembentukkan tulang-tulangnya dan ini terjadi terutama dalam trimester terakhir. Sedangkan Saifuddin (2010 : 542)mengatakan bahwa pemberian kalsium 1.500 mg – 2.000 mg / hari dapat dipakai sebagai suplemen pada resiko tinggi terjadinya pre-eklampsia.
Diagnose potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed tidak terjadi pada Ny. A. Hasil pemeriksaan didapat protein urine negative, tidak ada gangguan penglihatan, tidak ada sakit kepala yang hebat, maka dapat disimpulkan bahwa ibu tidak mengalami tanda-tanda perburukan dari hipertensinya kearah terjadinya pre-eklampsia, hal ini sesuai teori yang dikemukakan Cuningham (2006 : 1362) yaitu , kriteria yang menunjang diagnosis pre-eklampsia superimposed termasuk nyeri kepala hebat dan gangguan penglihatan, edema patologis generalisata, oliguria dan tentunya kejang atau edema paru.
Penatalaksanaan lain yang diberikan yaitu memberitahu ibu cara meminum obat yaitu dengan menggunakan air putih, bahwa menurut Tarwoto (2007) penyerapan zat besi dipengaruhi oleh faktor adanya protein hewani dan vitamin C, sedangkan yang menghambat serapan adalah kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, karena bersifat mengikat zat besi. Varney (2002:120) mengatakan bahwa teh, kopi dan susu akan mengurangi absorpsi zat besi nonhem.
Pada kujungan antenatal yang kedua, ibu masih mengeluh pusing tetapi sudah berkurang, tekanan darah terjadi penurunan pada sistolik dan diastolic, dari 170/110 mmHg menjadi 140/100 mmHg. Penurunan sistolik ini dimungkinkan dengan pemakaian nifedipin sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian oleh Smith dkk tahun 2000 yang dikutip oleh Cuningham (2006 : 1360) bahwa nifedipine adalah obat yang efektif untuk mengobati hipertensi berat pada kehamilan atau untuk persalinan preterm. Smith mengulas pemakaian nifedipine untuk mengobati hipertensi atau untuk tokolisis pada kehamilan. Pada kasus Ny. A, nifedipine membantu menurunkan resiko terjadinya pre-eklampsi superimposed dan persalinan preterm .
Pada kunjungan ini pula ibu mengatakan kurang nafsu makan, sehingga frekuensi makan 3 kali sehari dalam porsi sedikit. Maka penulis melakukan penyuluhan tentang gizi dalam masa kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 453) mengatakan bahwa pencegahan anemia adalah dengan menasehatkan wanita itu untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.
Penatalaksanaan berikutnya adalah memeriksa kesejahteraan janin, DJJ 140 x/menit teratur, taksiran berat janin naik dari 2170 gram pada ANC I menjadi 2480 gram pada ANC II kehamilan 34 minggu. Dengan demikian tidak terjadi hambatan dalam pertumbuhan janin, hal ini tidak sesuai dengan meta-analisis yang dilakukan oleh Von Dadelszen dkk (2000) dalam buku Obstetric Williams (volume 2 tahun 2006 : 1356) yang menyimpulkan bahwa penurunan rata-rata tekanan arteri yang disebabkan oleh terapi berkaitan secara bermakna dengan penurunan insiden bayi kecil untuk masa kehamilan.
Pada kunjungan ANC III, ibu mengatakan tanggal 29 Agustus 2010 ibu mengeluh pergerakan bayinya kurang dan merasa demam sejak 3 hari sebelumnya, DJJ 114 x/menit. Lalu ibu dibawa ke RSUT dengan O2 terpasang. Ibu pulang tanggal 31 Agustus 2010 dengan diagnosa ISPA. Telah di kolaborasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam oleh pihak RSUT dengan diberikan terapi : Nifedipine 10 mg dosis 3 x 1 tablet, Tablet Fe dosis 2 x 1 tablet, Kalsium 3 x 500 mg. Dalam hal ini salah satu fungsi dari pelayanan kesehatan maternal dan neonatal tingkat I telah tercapai yaitu mengatasi komplikasi jika terjadi sehingga tidak berkembang menjadi komplikasi yang membahayakan jiwa ibu Saifuddin, 2010 : 64).
Pada kunjungan ini dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah yang stabil 140 / 100 mmHg, kunjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, palpebra tidak odema, tidak ada gangguan penglihatan, tidak ada sakit pada ulu hati, ektremitas atas / bawah : odema – / -. DJJ (+) frekuensi 132 x/menit, kuat dan teratur, ibu mengatakan masih merasakan gerakan janinnya lebih dari 20 kali. Tindakan berikutnya adalah menjelaskan rencana persalinan diantaranya membuat rencana tempat persalinan, rencana pembuat keputusan, mempersiapkan rencana transportasi jika terjadi kegawat daruratan, mempersiapkan dana yang dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 :31) bahwa rujukan terencana adalah menyiapkan dan merencanakan rujukan ke rumah sakit jauh-jauh hari bagi ibu resiko tinggi / risti. Rujukan terencana berhasil menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir, pra-tindakan tidak membutuhkan stabilisasi, penanganan dengan prosedur standar, alat, obat generic, dengan biaya murah terkendali. Sedangkan menurut Wiknjosastro (2007) bahwa tanda – tanda permulaan persalinan secara sederhana harus diberitahukan kepada ibu hamil. Ibu dan suami sebagai pembuat keputusan merencanakan persalinannya dirumah sakit umum Tangerang, dengan transportasi dan dana yang telah dipersiapkan, yaitu memakai kartu jamkeskin yang dipunyai oleh ibu.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb ibu naik menjadi 11,6 gr %. Sesuai dengan teori yang dikemukakan Saifuddin (2010 : 776) batasan nilai Hb normal pada ibu hamil pada trimester ke tiga adalah 11,0 g/dl. Maka dapat disimpulkan bahwa Ny. A tidak lagi mengalami anemia pada kehamilannya. Penatalaksanaannya penulis tetap memberikan tablet besi dengan dosis 1 x 60 mg sebagai pencegahan terhadap anemia, hal ini sesuai dengan anjuran WHO untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebututuhan fisiologik selama kehamilan (Saifuddin, 2010).

4.2.INTRANATAL
Senin, 11 Oktober 2010 Pukul 09.00 WIB Ibu mengatakan belum merasakan tanda-tanda persalinan, Ibu mengaku hamil ke-4 dengan usia kehamilan mendekati 10 bulan, Ibu mengatakan kakinya bengkak, kedua tangannya terasa kaku sejak 1 minggu yang lalu dan sering merasa sedikit sesak bila beraktivitas, sering sakit kepala. Muka terdapat odema (terlihat sembab), ekstrimitas atas dan bawah : odema +/+, tekanan darah : 170 / 100 mmHg, TP : 05 Oktober 2010. Dalam hal ini Ny. A mengalami perburukan dari hipertensi kroniknya, hal ini sesuai dengan teori Cunningham (2006 : 1362 bahwa pada wanita dengan hipertensi kronik nonkomplikata, kriteria yang menunjang diagnosis pre-eklampsia superimposed mencakup, terjadinya proteinuria, gejala neurologis, termasuk nyeri kepala hebat dan gangguan penglihatan, edema patologis generalisata, oliguria dan tentunya kejang atau edema paru. Menurut Varney (2007 : 648) mengatakan bahwa tekanan darah wanita mungkin hanya meningkat sedikit, atau mungkin hanya terjadi edema pada tangan dan wajah tidak cukup untuk menegakkan diagnosis tetapi mengindikasikan retensi natrium, dan ini memerlukan observasi ketat.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Hb ibu naik dari 11,6 gr % menjadi 12,1 gr %. Menurut Varney, meningkatnya Hb di interpretasikan sebagai terjadinya hemokonsentrasi yang menandakan adanya perpindahan cairan dari intraselular dan menyebabkan edema (2007 : 647).
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah merujuk Ibu ke RSU Tangerang dan dirawat diruangan bersalin, lalu berkolaborasi dengan dokter Obsgyn. Hasil kolaborasi dilakukan penatalaksanaan prosedur PEB dengan Mg SO4 per intra vena dengan dosis tunggal 4 gr , Nifedipine 1 tablet 10 mg per oral dan 1 tab 10 mg per sublingual. Hal ini sesuai dengan teori JHPIEGO (2002 : M-37) bahwa penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan tanpa disertai proteinuria, jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai pre-eklampsia ringan. Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang
Anjuran dokter team Obsgyn pasien dipersiapkan untuk dilakukan tindakan section caesaria atas indikasi : ibu riwayat infertile ≥ 12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, tekanan darah 170 / 100 mmHg, umur kehamilan 41 minggu (per-USG) , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang. Hal ini sesuai dengan teori JHPIEGO (2002 : M-38) bahwa penanganan kehamilan lebih dari 37 minggu jika servik belum matang, dilakukan pematangan servik dengan prostaglandin atau kateter foley atau dilakukan seksio sesaria.
Penatalaksanaan yang dilakukan oleh penulis adalah mempersiapkan mental ibu menghadapi tindakan SC, melakukan persiapan operasi yaitu memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang operasi yang akan dilaksanakan, mempersiapkan izin operasi yang ditanda tangani oleh keluarganya. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 446) bahwa persiapan operasi kebidanan meliputi persiapan mental penderita dan persiapan fisik penderita. Sedangkan menurut teori Saifuddin (2010 : 46) bahwa hal tersebut dapat mengurangi kecemasan mereka dan menyiapkan mereka terhadap apa yang akan terjadi kemudian.
Proses seksio sesaria berjalan lancar selama 1 jam tanpa ada komplikasi, luka post operasi dijahit secara subcuticular dengan benang cat gut. Pada observasi kala IV post seksio sesaria Ibu mengatakan masih merasa takut dan cemas dengan tindakan seksio caesaria yang telah dilaluinya dan Ibu mulai merasa nyeri pada luka bekas operasi. Hal ini sesuai dengan Saifuddin (2010 : 860) bahwa adanya ketakutan dan suasana yang tidak bersahabat akan meningkatkan ketegangan dan rasa nyeri.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah ibu turun naik pada 2 jam pertama pasca operasi, yaitu pukul Pukul 18.15 WIB tekanan darah 150 / 90 mmHg, Pukul 18.30 WIB tekanan darah 170 / 100 mmHg, Pukul 20.00 WIB tekanan darah 150 / 90 mmHg. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 559) bahwa setelah persalinan 6 jam pertama resistensi (tahanan) perifer meningkat, akibatnya, terjadi peningkatan kerja ventrikel kiri (left ventricular work load).
Pukul 18.15 WIB pada kala IV penatalaksanaan yang penulis lakukan adalah mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan, serta output cairan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2002) bahwa segera setelah selesai pembedahan periksa kondisi pasien : cek tanda vital dan suhu tubuh setiap 15 menit selama jam pertama, kemudian tiap 30 menit pada jam selanjutnya.. Selain itu, menurut Varney (2007) menyatakan bahwa rencana asuhan pada kala IV yaitu memantau, tekanan darah, nadi, tinggi fundus uteri, kandung kemih dan kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua post partum.

4.3.POST NATAL
Pada kunjungan nifas Ny. A, dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada 6 jam post partum, hari ke 6 nifas, dan minggu ke 6 setelah melahirkan. Hal ini sesuai dengan saifuddin (2006) bahwa penatalaksanaan kunjungan masa nifas pasca persalinan normal dilakukan paling sedikit 3 kali kunjungan yaitu pada 6 jam, 6 hari dan 6 minggu, dan menurut Saifuddin (2002), kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Pada 6 jam post partum didapatkan Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan ibu mengatakan merasa sakit pada bekas luka operasi. Keluhan ini sesuai dengan teori Johnson (2005 : 364) bahwa secara psikologis, pemulihan merupakan waktu kelegaan dan kesukacitaan akan kehadiran bayi, tetapi dapat dinodai oleh nyeri, imobilitas yang terjadi secara perlahan.
Penatalaksanaan penulis pasca operatif adalah mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan, serta output cairan. Menurut Johnson (2005 : 363) pada awalnya observasi tanda-tanda vital seperti nadi, tekanan darah dan pernafasan dilakukan setiap 5 menit, berikutnya bila kondisi tetap dalam batas normal, frekuensi observasi dapat dijarangkan menjadi setiap 15 menit, 30 menit dan lain-lain.
Pada pemeriksaan fisik lainnya, didapatkan kontraksi uterus baik, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, uterus globular, konsistensi keras, kandung kemih kosong, pengeluaran pervaginam : lochea rubra, warna merah tua, konsistensi cair banyaknya 50 cc, bau amis khas darah, terdapat luka jahitan pada perineum masih basah. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 201) bahwa uterus yang telah menyelesaikan tugasnya akan menjadi keras karena kontraksinya, lokia rubra keluar berwarna merah dan hitam yang terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa meconium, sisa darah. Hanifa (2002 : 237) bahwa setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat; segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri ± 2 jari bawah pusat.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah mengobservasi keadaan umum ibu,kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, dan perdarahan. Dalam hal ini ibu melewati masa 6 jam post partum tidak ada kelainan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Manuaba (2010 : 202) bahwa salah satu perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan berupa : pemeriksaan khusus yaitu fisik (tekanan darah, nadi dan suhu), fundus uteri ( tinggi fundus uteri, kontraksi uterus), payudara (putting susu, pembengkakkan payudara, pengeluaran ASI), patrun lokia (lokia rubra, lokia sanguilenta), luka jahitan episiotomy ( ada tanda infeksi atau tidak).
Penatalaksanaan selanjutnya adalah memberikan penyuluhan tentang bahaya nifas seperti panas tinggi, payudara bengkak, pengecilan rahim terganggu, perdarahan banyak setelah 12 jam persalinan, lochea berbau tidak seperti biasanya. Seperti yang diteorikan oleh Varney (2007) bahwa tanda dan gejala infeksi nifas diantaranya suhu tubuh meningkat, malaise umum, nyeri, lochea berbau tidak sedap.
Anjuran yang diberikan kepada Ny. P adalah menganjurkan ibu untuk mobilisasi sedini mungkin karena dapat membantu mempercepat penyembuhan pada ibu nifas. Manuaba (2010 : 201) mengatakan bahwa perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan, meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
Asuhan sayang ibu yang dilaksanakan adalah melakukan rawat gabung dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI sedini mungkin. Sesuai dengan teori manfaat rawat gabung menurut Saifuddin (2010 : 386) bahwa dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya. Menurut Manuaba (2010 :223) dengan pemberian ASI dapat mempercepat terjadi involusi uteri, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan jiwa bayi sebagai titik awal kualitas sumber daya manusia.
Penatalaksanaan selanjutnya adalah menganjurkan ibu untuk cukup istirahat dan makan makanan bergizi seperti nasi, tahu, tempe, telur, daging, sayuran, buah-buahan dan minum susu, serta tidak ada pantangan. Hal ini sesuai dengan teori Winkjosastro (2002 : 242) bahwa diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, mengandung cukup protein, cairan, serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi. Hal ini juga sesuai dengan teori Bahiyatun (2009 : 110) bahwa kurang istirahat mempengaruhi ibu dalam beberapa hal (mengurangi produksi ASI, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri).
Pada kunjungan Nifas hari ke 6, tanggal 06 September 2010, pukul 15.00 WIB, didapatkan tinggi fundus uteri pertengahan pusat – simpisis, uterus globular, konsistensi keras, diastasis (-), vuva vagina tidak ada kelainan, luka jahitan perineum kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi, pengeluran pervaginam lochea sanguelenta, kandung kemih kosong. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 200) bahwa tinggi fundus uteri pada hari ke 7 setinggi pertengahan pusat – simfisis, lokia sanguinolenta keluar dari haid hari ke-3 sampai 7 hari berwarna putih bercampur merah.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, didapatkan Hb 10,3 gr%, ibu mengalami anemia pada masa nifas. Hal ini sesuai dengan teori Cuningham (2006 : 193) bahwa rata-rata kehilangan darah yang dikaitkan dengan seksio sesaria adalah sekitar 1000 ml, atau hampir dua kali lipat dari kehilangan pada kelahiran tunggal pervaginam. Sehingga anemia yang dialami ibu adalah karena perdarahan pada saat dilakukan tindakan seksio sesaria. Penatalaksanaan yang diberikan adalah memberikan tablet Fe 1 x 1 dan memberikan informasi tentang kebutuhan gizi pada masa nifas.
Pada kunjungan 6 hari post partum ini, tekanan darah 120/80 mmHg. Penyuluhan yang diberikan adalah prakarsa KB tentang macam-macam alat kontrasepsi. Hal ini sesuai dengan teori menurut Saifuddin (2006) bahwa salah satu tujuan dari kunjungan pada masa nifas adalah memprakarsai penggunaan alat kontrasepsi. Menurut Henderson, dkk, (2006) , pemilihan kontrasepsi harus sudah dipertimbangkan pada masa nifas. Saifuddin (2003 : U4-U5) mengatakan pemantapan pemilihan kontrasepsi harus sesuai dengan kebutuhan klien serta kondisi kesehatannya.
Pada kunjungan ini , ibu mengeluh kedua payudaranya terasa tegang dan bengkak, ibu mengatakan bayinya sering menangis, ibu mengaku menyusui bayinya kurang dari 10 menit tiap payudara. Dalam hal ini ibu mengalami bendungan payudara. Hal ini sesuai dengan teori Johnson (2005 : 296) bahwa Bila bayi disusui dengan benar ASI akan keluar dengan baik, sehingga tidak terjadi pembengkakkan dan ASI mencukupi kebutuhan bayi. Menurut teori Lawrence (2004), sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya, sehingga bayi menerima asupan ASI secara seimbang.Susui bayi lebih sering tanpa dijadwal, paling sedikit 8 kali dalam 24 jam, masing-masing payudara 10 – 15 menit.
Hal ini sesuai teori Bahiyatun (2009 : 29) bahwa ASI eksklusif diberikan sejak umur 0 hari sampai 6 bulan. Safrudin dan Hamidah (halaman 126) bahwa ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan, termasuk kecerdasan bayi.
Selain itu ibu mengatakan kurang tidur karena bayinya sering menangis terutama pada malam hari. Dalam hal ini kebutuhan akan istirahat / tidur pada masa nifas tidak terpenuhi. Menurut Tri Budiati ( FIK UI, 2009) keletihan dan kurang relaksnya ibu juga dapat mempengaruhi produksi ASI.
Ibu juga mengatakan sering merasa pusing, pada pemeriksaan tekanan darah 120/80 mmHg, pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10,3 gr%. Dalam hal ini ibu menderita anemia pada masa nifas. Hal ini sesuai dengan teori Debra Bick dalam buku Post Natal Care, Evidence And Guidelines For Management (2004 : 156), bahwa anemia dapat menyebabkan kelelahan pada masa nifas, dan menimbulkan keluhan lemas, pusing, sesak nafas, sakit kepala, dan gemetar pada jari jemari tangan atau kaki.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah memberikan tablet Fe 1 x 60 mg sehari sampai 40 hari post partum, sesuai dengan teori pada Medskills website (http://www.medskills.eu/index.php) bahwa jika nilai haemoglobin antara 7 – 11 g%, berikan ferrous sulfate atau ferrous fumerate 60 mg peroral. Hal ini juga sesuai dengan teori dr. Little (NATIONAL ANEMIA ACTION CAUNCIL, http://www.anemia.org/patients/faq/) bahwa terapi dosis besi (50-60 mg besi elemental oral dua kali sehari) meningkatkan kadar hemoglobin dengan 0,7-1,0 g / dL per minggu.
Pada kunjungan 6 minggu masa nifas, didapatkan tekanan darah ibu 140 / 90 mmHg, odema pada ekstremitas tidak ada, tidak ada keluhan sakit kepala, nyeri epigastrium. Sesuai dengan klasifikasi hipertensi dalamkehamilan yang dipakai di Indonesia berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 200, yang menjelelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (Saifuddin, 2010 : 531). Dalam hal ini pada kasus Ny. P , hipertensi masih menetap hingga 6 minggu post partum dan dalam keadaan stabil.
Pada kunjungan 6 minggu post partum ini, Ny. P mengatakan ingin menggunakan kontrasepsi IUD. Menurut Saifuddin (2003 : MK-74, MK-75) yang dapat menggunakan kontrasepsi IUD adalah akseptor yang menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, mempunyai tekanan darah tinggi dan sedang menyusui. Dalam hal ini pilihan metode kontrasepsi yang dipilih oleh ibu sudah tepat, sesuai dengan kebutuhan ibu yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, ibu menyusui bayinya secara eksklusif dan keadaan kesehatan ibu yang mempunyai riwayat hipertensi kronik.
Penatalaksanaan lainnya adalah memberikan konseling pra pemasangan dan pasca pemasangan kontrasepsi IUD, hal ini menurut Saifuddin (2003 : PK-4) dapat membantu klien tenang dan memudahkan pemasangan serta mengurangi rasa sakit.
Penatalaksanaan asuhan yang diberikan yaitu memberitahu ibu bahwa ibu sudah boleh mulai melakukan hubungan seksual segera setelah dilakukan pemasangan IUD, hal ini sesuai dengan teori bahwa keuntungan pemakaian AKDR ialah AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan dan tidak mempengaruhi hubungan seksual (Saifuddin, 2003 : MK-73).

4.4.NEONATAL
Pada neonatal, kunjungan dilakukan bersamaan dengan kunjungan ibu pada masa nifas. Pada kunjungan bayi baru lahir didapatkan bayi Ny. A ; lahir tanggal 11 Oktober 2010 jam 17.05 WIB , dengan usia gestasi 41 minggu, jenis persalinan sectio caesaria atas indikasi ibu riwayat infertile ≥12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, ibu mempunyai riwayat hipertensi kronik, tekanan darah 170 / 100 mmHg dengan oedema anasarka, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang.
Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit kemerahan, jenis kelamin Laki-laki, Heart Rate : 120 x/mnt, suhu 36,6 0C, Pernafasan 40 x/menit.. Hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR (2008) bahwa tanda-tanda neonatus sehat adalah bayi cukup bulan, air ketuban jernih, langsung menangis, warna kulit kemerahan. Menurut Winkjosasatro (2002 : 256) bayi yang sehat tampak kemerahan, aktif, tonus otot baik, menangis keras, minum baik, suhu tubuh 36oC – 37oC.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah mengikat tali pusat bayi tanpa dibungkus atau diberi apapun. Perawatan tali pusat yang dilakukan sesuai dengan JNPK-KR (2008 : 130) bahwa jangan membungkus puntung tali pusat atau mengoleskan cairan/bahan apapun ke puntung tali pusat. Nenurut Cunningham (2006 : 436) tali pusat mongering lebih cepat dan lepas lebih mudah kalau terbuka, karena itu pembalutan tidak dianjurkan.
Penatalaksanaan selanjutnya adalah melakukan perawatan bayi baru lahir yaitu memberikan salep mata tetrasiklin 1 % pada kedua mata, hal ini sesuai dengan teori Sarwono Prawirohardjo (2002 : 32) bahwa obat mata erytromisin 0,5% tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena klamidia. Menurut JNPK-KR (2008) bahwa salep mata tersebut diberikan dalam waktu satu jam setelah kelahiran, upaya pencegahan infeksi mata semakin tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran.
Tindakan perawatan lainnya adalah memberikan suntikan vitamin K1 1 mg intramuskuler. Menurut Cunningham (2006 : 449) bahwa pemberian vitamin K kepada bayi segera setelah lahir diperlukan untuk mencegah kelainan perdarahan pada neonatus.
Pada kunjungan 6 jam, keadaan neonatus Ny. A baik, reflex hisap baik, BAB dan BAK normal. Hal ini sesuai dengan Cunningham (2005) yang menyatakan bahwa keluarnya meconium dan urine dalam beberapa menit segera setelah lahir atau pada jam berikutnya menunjukkan potensi saluran gastro intestinal dan perkemihan. Dari semua neonates, 90 % mengeluarkan meconium dalam 24 jam pertama, sebagian sisanya dalam 36 jam.
Pada kunjungan 6 jam neonatal bayi diberikan imunisasi HB0 Hal ini sesuai dengan pedoman pelaksanaan Imunisasi Depkes RI (2007) bahwa imunisasi Hepatitis B 0 diberikan saat bayi berumur 0 – 7 hari, sedangkan menurut JNPK-KR (2008) bahwa imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan ibu-bayi.
Penatalaksanaan yang lain adalah memandikan bayi setelah suhu tubuh stabil. Hal ini sesuai menurut Saifuddin (2008) bahwa hindari memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam dan hanya setelah itu jika tidak terdapat masalah medis dan jika suhunya 36,5 oC atau lebih.
Bayi Ny. A dirawat untuk sementara diruang bayi. Ibu dan bayi dirawat gabung setelah 24 jam pasca seksio sesaria diruangan nifas, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa rawat gabung adalah suatu cara perawatan bayi baru lahir yang ditempatkan dalam suatu ruangan bersama ibunya selama 24 jam penuh perharinya, sehingga bayi mudah dijangkau oleh ibunya (Ai yeyeh : 2010), sedangkan menurut Cunningham (2006 : 439) bahwa dengan rawat gabung, ibu dapat memimpin dirinya dan bayinya, mempraktekkan perawatan rutin. Suatu kelebihan yang nyata adalah meningkatnya kemampuan untuk merawat bayi secara keseluruhan saat ibu tiba dirumah sakit.
Pada kunjungan neonatal yang kedua, yaitu pada saat bayi berumur 6 hari, berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan bahwa bayi dalam keadaan baik, tanda-tanda vital normal dan tali pusat belum puput. Hal ini sesuai dengan teori yang tertulis bahwa tali pusat biasanya lepas dalam 5 – 16 hari (Johnson, 2005 : 276).
Pada kunjungan kedua ini terjadi penurunan berat badan bayi dari 3200 gram pada saat lahir menjadi 2600 gram, hal ini sesuai terjadi karena mungkin hanya sedikit menerima nutrient pada 3 atau 4 hari pertama kehidupannya dan pada waktu yang sama menghasilkan urine, feces dan keringat yang cukup banyak, ia secara progresif kehilangan berat badan sampai aliran ASI atau makanan lainnya telah tetap (Cunningham, 2006 : 437).
Penatalaksanaan yang diberikan adalah menganjurkan kepada ibu untuk memenuhi nutrisi bayi dengan memberikan ASI tanpa dibatasi waktu, dan menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan. Hal ini mengacu kepada teori Varney (200 : 290) bahwa bayi hanya memerlukan ASI untuk enam bulan pertama.
Pada kunjungan neonatal yang ketiga yaitu pada saat bayi berumur 6 minggu, didapatkan data berat badan bayi 5000 gram dengan teori yang menyatakan bahwa jika bayi minum ASInya baik, maka dalam 10 hari bisa mencapai berat badan saat seperti lahir, selanjutnya bayi bertambah ±25 gram sehari untuk bulan-bulan pertama dan pada bulan ke-4 akan naik 2 kali pada saat bayi lahir (Cunningham, 2006).
Dari hasil anamnesa yaitu bahwa bayi dalam keadaan baik dan sudah mendapatkan imunisasi BCG dan polio 1. Hal ini sesuai dengan teori bahwa jadwal imunisasi umur 0-7 hari 1 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 9 bulan Jenis Imunisasi Hepatitis B1 BCG Hepatitis B2, DPT1, Polio1 Hepatitis B3, DPT2, Polio2 DPT3, Polio3 Campak, Polio4 (Dinkes 2005:33).
Penatalaksanaan asuhan yang diberikan yaitu menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke posyandu untuk melakukan imunisasi Hb Combo 1 dan Polio II, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa jadwal pemberian imunisasi bayi pada usia 2 bulan adalah imunisasi Hb Combo 1 dan Polio II (Saifuddin : 2010).
Kunjungan neonatus yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan teori bahwa Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan. Untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas. Serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB. (Standar pelayanan kebidanan, IBI, 2000)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: