dancewithmommyoci











{30 November 2011}   BAB II TINJAUAN PUSTAKA – KTI HIPERTENSI KRONIK DAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh dalam rahim ibu (Depekes RI, 2002).Masa kehamilan dari konsepsi dan berakhir sampir lahirnya janin Saifuddin (2006:89).
2.1.2 Lamanya Kehamilan
Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga bayi lahir, kehamilan nomal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, rimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Saifuddin, 2010 : 213).
2.1.3 Fisiologi Kehamilan
Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur ditangkap umbai-umbai dan masuk ke dalam saluran telur waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta juta sel mani bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur.
Di sekitar sel telur, banyak terkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur, peristiwa ini disebut konsepsi.
Ovum yang telah dibuahi, segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba), menuju ruang rahim kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang rahim. Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kira-kira 6 – 7 hari, untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin, dipersiapkan plasenta. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum, sperma, konsepsi, nidasi, dan plasentasi. (Sarwono Prawirohardjo, 2008)
2.1.4. Menghitung Umur Kehamilan
2.1.4.1. Mempergunakan Rumus Neagle
Rumus Neagle menggunakan usia kehamilan yang berlangsung selama 288 hari. Perkiraan kelahiran dihitung dengan menentukan hari pertama haid terakhir yang kemudian ditambah 288 hari (Manuaba, 2010 : 100). sehingga perkiraan kelahiran dapat ditetapkan. Rumus Neagle dapat dihitung dari haid pertama ditambah 7 dan bulannya ditambah 9.
Contoh : Hari pertama tanggal 15 Januari 1993, maka perhitungan perkiraan kelahiran adalah 15 + 7 = 22,1 + 9 = 10, sehingga dugaan persalinan tanggal 22 oktober 1993 Manuaba (1998, 120), rumus neagle yang digunakan juga dapat dikethaui dengan menggunakan : hari + 7, bulan – 3, dan tahun +1
Contoh : HPHT : 4 – 05 – 2009 taksiran persalinan : 4 + 7, 05 – 3, 2009 + 1
Tp : 11 – 02 – 2010 (Hanifa, 2005 : 155)

2..4.2.Gerakan janin
Pada kehamilan pertama, gerakan janin mulai terasa sesudah usia kehamilan 18-20 minggu, pada kehamilan kedua dan seterusnya gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16-18 minggu. Memasuki trimester ketiga usia kehamilan gerakan janin akan semakin kuat dan sering. Namun tak jarang janin justru kurang aktif gerak. Perkiraan ini dilakukan bila ibu lupa hari pertama haid terakhir. (Manuaba, 2001)
2..4.3.Tinggi puncak rahim
Untuk mengikuti pertumbuhan anak dengan cara mengikuti pertumbuhan rahim, maka sekarang sering ukuran rahim ditentukan dengan centimeter. Yang diukur adalah tinggi fundus uteri. Hubungan antara tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan kira-kira sebagai berikut (Mochtar, 2004) :
Tinggi fundus uteri dalam centimeter
=
Tuanya kehamilan dalam bulan
3,5 centimeter

Selain itu menghitung usia kehamilan dapat digunakan juga tinggi fundus uteri dalam satuan centimeter yaitu :
Usia kehamilan 20 minggu, tinggi fundus uteri 20 cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 22-27 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 28 minggu, tinggi fudus uteri 28 cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 29 – 35 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri 36 cm (± 2 cm) (Saifuddin, 2008).
2.4.4.Penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi.
Bila ragu-ragu dapat berkonsultasi untuk menetapkan perkiraan persalinan. Dengan menentukan usia kehamilan melalui ultrasonografi, dapat diketahui :
Diameter kantong gestasi.
Jarak kepala – bokong.
Jarak tulang biparetal.
Lingkaran perut.
Panjang tulang femur.
Metode ini memerlukan pengetahuan teoritis dan keterampilan khusus (Manuaba, 2010 : 1010).
Waktu untuk pemeriksaan USG pada trimester II pada usia kehamilan 18-22 minggu. Pada usia kehamilan ini sangat baik untuk dilakukan pemeriksaan USG karena perbandingan yang ideal antara ukuran janin dan jumlah cairan amnion memberikan gambaran pemeriksaan yang lebih jelas.
Pada usia kehamilan ini dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kehamilan janin. Tak kalah penting dalam pemeriksaan adalah juga mengetahui ada/tidaknya kelainan congenital pada janin seperti adanya down syndrome (trisomi 18,21).

2.1.5 Perubahan Fisiologis Wanita Hamil
2.1.5.1 Uterus
Ukuran : Untuk akomodasi pertumbuhan janin, rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut-serabut kolagenya menjadi higroskopis. Endometrium menjadi desidua. Ukuran pada kehamilan cukup bulan: 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc.
Berat : Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 pekan).
Bentuk dan konsistensi : Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk rahim seperti alpukat, pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat, dan akhir kehamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, istmus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian­bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim.
2.1.5.2 Vagina (Liang Senggama)
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwicks).

2.1.5.3 Ovarium atau Indung Telur
Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung Korpus Luteum Gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur kehamilan 16 minggu.
2.1.5.4 Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi yang dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, somatomammotropin, yaitu fungsinya untuk :
1.Hormon estrogen berfungsi :
Menimbulkan hypertropy sistem saluran payudara.
Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.
Tekanan serta syaraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.
2.Hormon progesteron berfungsi :
Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.
Menambah jumlah sel asinus.
3.Hormon somatomammotropin berfungsi :
Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein laktalbumin dan laktoglobulin.
Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.
Merangsang pengeluaran colostrum pada kehamilan.

2.1.5.5 Sirkulasi Darah Ibu
Peredaran darah ibu dipengaruh oleh beberapa faktor, antara lain :
1.Meningkatkan kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
2.Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
3.Pengaruh homan estrogen dan progesteron semakin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut di atas, dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, yaitu :
1.Volume darah
2.Sel darah
3.Sistem respirasi
4.Sistem pencernaan
5.Traktus urinarius
6.Perubahan pada kulit
7.Metabolisme (Manuaba, 2001)
2.1.6 Kebutuhan Zat Besi dan Kalsium
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sekitar 30-40 mg. Pada ibu hamil kebutuhan zat besi FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) perhari mininal 90 tablet. Dimulai dengan memberikan I tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hlang. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama the atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan Fe. Vitamin C meningkatkan resorbsi zat besi terdapat dalam buah-buahan segar, Vitamin C 25 mg meningkatkan resorbsi zat besi 2 kali, dan Vitamin C 500 mg meningkatkan zat besi 6 kali, selain itu hindari makan buah-buahan yang pengolahannya dapat menghilangkan Vitamin C (Saifuddin, 2002). Kebutuhan wanita hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah (Arisman, 2007). Kebutuhan kalsium untuk ibu hamil 1500 mg setiap hari yang manfaatnya untuk membangun dan menjaga kekuatan tulang dan gigi, untuk pembekuan darah, kontraksi otot, transmisi syaraf, tanpa kalsium otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku dan syaraf tidak bisa membawa pesan. (Varney, 2002)
2.1.7 Tanda Bahaya pada Ibu Hamil
Tanda-tanda bahaya ini jika tidak dilaporkan atau terdeteksi dapat menyebabkan kematian ibu. Pada setiap kunjungan antenatal, bidan harus mengajarkan kepada ibu bagaimana mengenai tanda-tanda bahaya ini dan mendorong untuk datang ke klinik segera jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut.
6 (enam) tanda-tanda bahaya selama periode antenatal yaitu perdarahan -vervaginam, sakit kepala yang hebat dan menetap yang tidak hilang, pandangan kabur, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka atau tangan, byi kurang bergerak seperti biasa. (JHPIEGO, 2003 : 88).

2.2.Anemia
2.2.1.Pengertian
Anemia adalah suatu kondisi ibu dengan kadar Hb di bawah 11 gr % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10,5 gr % pada trimester II. (Saifuddin 2006).
2.2.2.Patofisiologi
Zat besi masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Salah satu penyebab terjadinya anemia gizi besi adalah akibat ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan zat besi yang berasal dari makanan belum tentu menjamin kebutuhan tubuh akan zat besi yang memadai, karena jumlah zat besi yang diabsorbsi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumber zat besi, ada atau tidaknya zat penghambat seperti kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, atau yang meningkatkan absorbsi besi dalam tubuh seperti protein hewani dan vitamin C. Besi ferri dari makanan akan menjadi ferro jika dalam keadaan asam dan bersifat mereduksi sehingga mudah diabsorbsi oleh mukosa usus. Zat besi yang berasal dari makanan seperti daging, hati, telur, sayuran hijau dan buah-buahan diabsorbsi di usus halus. Rata-rata dari makanan yang masuk mengandung 10-15 mg zat besi tetapi hanya 5-10 % yang dapat diabsorbsi. Menurunnya asupan zat besi yang merupakan unsur utama pembentukan hemoglobin maka kadar/produksi hemoglobin juga akan menurun (Tarwoto, 2007).

2.2.4.Penyebab Anemia
a.Adanya peningkatan kebutuhan zat-zat makanan yang tidak tercukupi.
b.Obat-obatan.
c.Defisiensi zat besi.
d.Kehamilan yang disertai penyakit malaria, TBC dan cacingan.
e.Faktor Predisposisi :
Sosial budaya dan ekonomi yang rendah.
Pendidikan yang rendah.
Tingkat penyerapan zat besi yang tidak sempurna.
2.2.5.Klasifikasi Anemia
1.Anemia : Hb kurang dari 11 gr%
2.Anemia berat : Hb kurang dari 8 gr%
2.2.6.Gejala Anemia
1.Gejala subjektif
a.Cepat lelah
b.Sering pusing
c.Penglihatan berkurang
d.Mual, muntah yang hebat pada hamil muda
2.Gejala objektif
a.Hb kurang dari 11 gr%
b.Konjungtiva pucat
c.Lidah, bibir, telapak tangan dan kuku tampak pucat
d.Tekanan darah relatif rendah
e.Keadaan umum lemah
2.2.7.Pengaruh Anemia pada Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin
1.Pada kehamilan
a.Dapat terjadi abortus (2) Partus premature
b.Perdarahan ante partum
c.Pertumbuhan janin terhambat dalam rahim
d.Decompensasi cordis bila Hb kurang dari 8 gr%
e.Mudah terjadi infeksi
f.Molahydatidosa
g.Hyperemesis gravidarum
h.Ketuban pecah dini
2.Pengaruh pada persalinan
a. Gangguan his dan kekuatan mengedan
b. Kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
c. Kala II berlangsung lama sehingga menimbulkan kelelahan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan (4) Kala III dapat terjadi retensi placenta
d. Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri
3.Pengaruh pada masa nifas
a. ASI berkurang
b. Inteksi puerperium
c. Sub involusi uteri sehinga menimbulkan perdarahan post partum.
d. Terjadi decompensasi cordis mendadak setelah melahirkan
e. Angka kematian meningkat
4.Pengaruh terhadap janin
a.Persalinan prematur meningkat
b.Abortus, kematian intra uteri
c.Mengurangi kemampuan metabolisme tubuh
d.Berat badan lahir rendah
e.Mudah terkena infeksi
f.Cacat bawaan
g.Intelejensi rendah
2.2.8.Jenis Anemia dalam Kehamilan
Menurut Hanifa Wiknjosastro dalam buku Ilmu Kebidanan, berdasarkan penyelidikan di Jakarta, jenis anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :
a.Anemia defisiensi besi : 62,3%
b.Anemia megaloblastik : 28,0%
c.Anemia hipoplastik : 8,0%
d.Anemia hemolotik : 0,7%
1.Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur,besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.
2.Anemia megaloblastik (28,0%)
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pterylglumatic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).
Berbeda di Eropa dan Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup tinggi di Asia seperti India, Malaysia dan di Indonesia. Hal itu erat hubungannya dengan defisiensi makanan.
3.Anemia hipoplastik (8,0%)
Anemia pada wanita yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Darah tepi menunjukan gambaran normositer dan normokrom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi, asam folik, atau vitamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithtropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit : eritrosit yang di luar kehamilan 5: 1 dalam kehamilan 3. : 1 atau 2: 1, berubah menjadi 10 : I atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.
4.Anemia hemolitik (0,7 %)
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.
Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan besar, yakni :
1.Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalassemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I dan paroxysmal noctumal haemoglobinuria.
2.Golongan yang disebabkan oleh fak-tor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dan sebagainya), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinim, paraquin, pinaquin, nitrofurantion (furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6 phosphate-deehydrogenase), antagonismus rhesus, atau ABO, leukimia penyakit Hodgkin, limfosarkoma, penyakit hati dan lain-lain.
2.2.9.Penanganan Anemia
Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat atau na­fero bisitrat.
Pemberian preparat 60 mg/hari selama 90 hari dapat menaikkan HB sebanyak 1 gram%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat. dan Pemberian kalori 300,kalori/hari cukup mencegah anemia (Saifuddin, 2002).
Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50° gram asam folat untuk profilaksis anemia. Pemberian preparat yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus dapat meningkatkan HB relatif lebih cepat yaitu 2 gram%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/IM dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis (Saifuddin, 2008).
Bila diagnosis anemia defisiensi zat besi dibuat maka diberikan suplementasi zat besi 60-120 mg dalam penambahan vitamin multipel (Linda V Walsh, 2008, 412).
Ibu dengan anemia juga dianjurkan untuk makan makanan yang banyak mengandung zat besi yang baik meliputi daging merah, telur, jenis sayuran (seperti bayam ) dan sereal. (Jordan, 2003, 272)
2.2.10.Kebutuhan zat besi pada kehamilan dengan janin tunggal
200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sampai dengan darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan ekstemal, 30-170 untuk tali pusat pada placenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan. Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580-1340 mg (Sue Jordan, 2004)
2.2.11.Perbandingan Antara Pelbagai Zat Besi
Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 30% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan olch tubuh adalah 20% dan takar untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 300 mg; Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 33% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Fero, Glukonas yang dibutuhkan ol–h tubuh adalah 11,6% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 600 mg.
Usus hanya mampu menyerap 40-60 mg perhari bahkan pada penderita anemia yang paling berat sekalipun dosis yang paling tinggi hanya meningkatkan efek samping gastrointestinal, yaitu mual, muntah, dan kram lambung, sehingga minum tablet besi pada saat makan atau segera setelah makan dapat mengurangi gejala mual (Sue Jordan, 2004).
2.2.12.Pencegahan
Sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus, cukup 1 tablet satu hari. Selain itu nasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur­sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

2.3.Ante Natal Care
2.3.1.Pengertian
Asuhan yang diberikan kepada ibu hamil yang lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Saifuddin, 2002).
2.3.2.Tujuan Ante Natal Care
Tujuan dilakukannya antenatal care yaitu :
1.Mendeteksi faktor resiko sedini mungkin dan penanggulangannya.
2.Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
3.Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
4.Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
5.Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
6.Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Saifuddin, 2002).
2.3.3.Kebijakan Program
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling lambat 4 kali selama kehamilan, yaitu :
Satu kali pada triwulan pertama
Satu kali pada triwulan kedua
Dua kali pada triwulan ketiga
a.Trimester I (0-14 minggu)
Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan
Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa
Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan
Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya)
b.Trimester II (14-28 minggu)
Sama seperti trimester pertama, ditambah kewaspadaan khusus mengenai tanda trias.
Pantau tekanan darah
Evluasi eodema
Periksa urine untuk mengetahui proteinuria
c.Trimester III (28-36 minggu)
Selama seperti pada trimester pertama dan kedua ditambah palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.
d.Setelah 36 minggu
Sama seperti trimester pertama ditambah pendeteksian dari letak bayi yang tidak optimal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
Adapun pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7 T” yaitu :
1.(Timbang) berat badan
2.Ukur (Tekanan) darah
3.Ukur (Tinggi) fundus uteri
4.Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
5.Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan
6.Test terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
7.Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Saifuddin (2002 : 90).
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1)Mengupayakan kehamilan yang sehat
2)Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3)Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4)Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi kompikasi
Menurut Saifuddin (2002), agar ibu hamil mendapatkan informasi yang diperlukan, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah, seperti berikut :
1.Sapa ibu (dan juga keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
2.Kaji riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan ibu
3.Melakukan pemeriksaan fisik, seperlunya saja
4.Melakukan pemeriksaan laboratorium
5.Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :
Tekanan darah dibawah 140 / 90 mmHg,
Edema hanya pada ekstremitas
Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan
Denyut jantung janin 129 sampai 160 denyut per menit
Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan
6.Membantu ibu dan keluarganya mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat :
Mengidentifikasi ke mana pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut
Mempersiapkan donor darah
Mengadakan persiapan financial
Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.
7.Memberikan konseling :
a)Gizi : peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).
b)Latihan : normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah
c)Perubahan fisiologi : tambahan berat badan, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama trimester pertama, rasa panas dan atau varises, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)
d)Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikut :
Pendarahan pervagina,
Sakit kepala lebih dari biasa,
Gangguan penglihatan,
Pembengkakan pada wajah/tangan,
Nyeri abdomen (epigastrik),
Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
e)Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di rumah :
Sabun dan air
Handuk dan minuman untuk ibu selama persalinan
Mendiskusikan praktek-praktek tradisional, posisi melahirkan,
Mengidentifikasi siapa yang dapat membantu bidan dalam proses persalinan.
f)Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genitalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.
g)Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai puting susu rata atau asuk kedalam. Dilakukan 2 ali sehari selama 5 menit
8.Memberikan zat besi 90 tablet mulai minggu ke-2
9.Memberikan imunisasi TT 0,5 cc 2x selama pada masa kehamilan
10.Menjadwalkan kunjungan berikutnya
11.Mendokumentasikan hasil kunjungan tersebut dengan catatan SOAP
2.3.4.Nasihat-nasihat ibu hamil
Kepada ibu hamil diberikan nasihat-nasihat untuk memelihara kesehatannya selama hamil, nifas dan laktasi. Mochtar (1998,59).
2.3.4.1.Makanan / diet ibu hamil
Wanita hamil dan menyusui betul-betul mendapatkan perhatian susunan dietnya, terutama jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, pendarahan pacsa persalinan, sepsis, puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan makanan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklampsi, janin besar, dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan : protein, karbohidrat, zat lemak, mineral atua bermacam-macam garam : terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe) : vitamin dan air.
Tabel Kebutuhan Makanan Sehari-Hari Ibu Tidak Hamil,
Ibu Hamil, Dan Ibu Menyusui
No
Kalori & Zat Makanan
Tidak Hamil
Hamil
Menyusui
1
Kalori (kal)
2500
2500
3000
2
Protein (gram)
60 gr
85 gr
100 gr
3
Kalsium (Ca)
0,8 gr
1,5 gr
2 gr
4
Zat Besi (Ca)
12 gr
1,5 gr
15 gr
5
Vitamin A (IU)
5000 IU
6000 IU
8000 IU
6
Vitamin B (mg)
1,5
1,8
2,3
7
Vitamin C (mg)
70
150
150
8
Riboflavin (mg)
15
18
23
Menurut Manuaba (2009 Memahami Kesehatan Reproduksi kesehatan wanita, 87)

2.3.4.2.Merokok
Jelas bahwa bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok.
2.3.4.3.Obat-obatan
Prinsip : Jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh Karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan tersebut.
2.3.4.4.Lingkungan
Saat sekarang, bahaya polusi udara, air dan makanan terhadap ibu dan anak sudah mulai diselidiki seperti halnya merokok
2.3.4.5.Gerak Badan
Kegunaannya : Sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat :
a.Berdiri – jongkok
b.Terlentang – kaki diangkat
c.Terlentang – perut diangkat
d.Melatih pernapasan
2.3.4.6.Kerja
a.Boleh kerja seperti biasa
b.Cukup istirahat dan makan telur
c.Pemeriksaan hamil yang teratur
2.3.4.7. Berpergian / Traveling
a.Jangan terlalu lama dan melelahkan
b.Duduk lama-statis vena (vena stagnasi) menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak
c.Bepergian dengan pesawat udara boleh, tidak ada bahaya hipoksia dan tekanan oksigen yang cukup dalam pesawat udara.
2.3.4.8. Pakaian
a.Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut.
b.Pakailah kutang yang menyokong payudara
c.Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tiggi
d.Pakaian dalam yang selalu bersih
2.3.4.9.Istirahat dan Rekreasi
Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Tempat hiburan yang terlalu ramai, sesak dan panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan jatuh pingsan.
2.3.4.10.Mandi
Mandi diperlukan untuk kebersihan/hygiene terutama perawatan kulit, karena fugnsi eksresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan. Jangan tergelincir di perigi dan jagalah kebersihannya. Douche dan mandi berdendam tidak dianjurkan.

2.3.4.11.Koitus
Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada sejarah :
a.Sering abortus/prematur
b.Pendaharan pervaginam
c.Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati
d.Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus-partus prematurus.
2.3.4.12. Kesehatan Jiwa
Untuk menghilangkan cemas harus ditanamkan kerjasama pasien penolong (doter, bidan) dan memberikan penerangan selagi hamil denga tujuan :
a.Menghilangkan ketidak-tahuan
b.Latihan-latihan fisik dan kejiawaan
c.Mendidik cara-cara perawatan bayi
d.Berdiskusi tentang peristiwa pesalinan fisiologik.
2.3.4.13. Perawatan Buah Dada
Buah dada merupakan sumber Air Susu Ibu (ASI) yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran payudara.

2.4.Hipertensi Kronis Dalam Kehamilan
2.4.1.Pengertian
Hipertensi kronik sendiri didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmhg yang telah ada sebelum kehamilan, pada saat kehamilan 20 minggu yang bertahan sampai lebih dari 20 minggu pasca partus1 atau setelah 12 minggu menurut kepustakaan yang lain.
Hipertensi pada kehamilan secara epidemiologi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
2. Paritas
Angka kejadian tinggi pada primigravida muda maupun tua. Primigravida tua berisiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.
3. Faktor keturunan
Jika ada riwayat hipertensi, pre-eklampsia, eklampsia pada ibu atau nenek penderita. Faktor risiko meningkat sampai 25%.
4. Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif ( recessive trait ), yang ditentukan genotip ibu dan janin.
5. Diet / gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu atau pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain mengatakan bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang mengalami obesitas atau overweight.
6. Iklim / musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi
7. Tingkah laku / sosio-ekonomi
Kebiasaan merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat. Aktifitas fisik selama hamil serta istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan atau insidens hipertensi dalam kehamilan.
2.4.2. Etiologi dan diagnosis
Pada hipertensi kronik etiologinya sebagian besar tidak diketahui ( idiopatik ) sedangkan sisanya berhubungan dengan penyakit ginjal juga diabetes mellitus. Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pegukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG).
Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.
2.4.3. Komplikasi pada ibu dan janin
Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.
Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini bisa menyebabkan prematuritas plasental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.
2.4.4. Penanganan
Pengelolaan pada wanita hamil dengan hipertensi kronik bertujuan untuk menurunkan risiko kematian maternal, menurunkan mortalitas dari janin dengan pemakaian medikamentosa yang minimal. Sehingga penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti superimposed preeclampsia, eklampsia, juga monitoring unit feto – placental, mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik harus juga diperhatikan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah, monitoring keseimbangan cairan dan diuresis.
Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera di rawat di rumah sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Istirahat total memiliki efek yang baik dimana akan meningkatan aliran darah renal dan utero plasental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis dan mengurangi oedema.
Pada hipertensi yang ringan dilakukan terapi konservatif, sedapat mungkin janin dilahirkan pervaginam. Pada hipertensi berat kehamilan secepat mungkin diterminasi.
2.4.5. Mortalitas
Pada kehamilan disertai dengan hipertensi kronik di Indonesia sendiri masih merupakan penyakit yang meminta korban besar bagi ibu dan bayi. Kematian ibu yang disebabkan oleh gangguan ini berkisar 15,7% di USA antara tahun 1991-1999. Hal ini berhubungan erat dengan pemeriksaan antenatal serta perawatan ibu hamil yang kurang ditambah dengan fasilitas kesehatan yang minim. Karena itu pemeriksaan antenatal yang baik dan tersediannya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian maternal.
2.4.6. Prognosis
Pada kehamilan yang disertai hipertensi kronik, prognosis dapat kearah baik maupun kearah perburukan. Asal tidak terjadi penyulit serta komplikasi yang lain terhadap proses kehamilan dan kelahiran. Dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memadai angka kematian ibu dan anak dapat ditekan. Pemeriksaan kehamilan yang berkesinambungan memberi prognosis yang semakin baik.

2.4.7.Anti Hipertensi
a.Obat pilihan adalah hidralazin yang diberikan 5 mg Iv pelan-pelan 5 menit sampai tekanan darah turun. Jika perlu pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam atau 12,5 im setiap 2 jam.
b.Jika hidralazin tidak tersedia dapat diberikan :
Nifedipin 5 mg sublingual, jika respon tidak baik setelah 10 menit beri tambahan 5 mg sublingual.
Labetolol 10 mg Iv yang jika respon tidak baik setelah 10 menit berikan lagi labetolol 20 mg, Saepudin (2006).
Untuk menghindari kejadian komplikasi yang lebih berat bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, pereklamsi, dan kondisi yang dapat memperburuk selama kehamilan, Saepudin (2006).

2.5.Ketidakyamanan Trimester Tiga Yang Umum Dalam Masa Kehamilan
2.5.1.Pegal-pegal pada pinggang dan punggung
sebagai besar diakibatkan perubahan sikap badan pada kehamilan lanjut, karena letak berat badan pindah kedepan disebabkan perut yang membesar sehingga tulang punggung menjadi lordosis.
Penatalaksanaannya adalah menjelaskan perubahan fisiologi yang terjadi pada trimester III, yaitu pegal-pegal pada punggung dan pinggang, merupakan akibat pembesaran rahim, cara mengatasinya adalah membantu ibu mengatur posisi tubuh dengan baik pada saat duduk, berdiri ataupun bila, mengangkat barang, cara mengatasi nyeri punggung antara lain postur tubuh yang baik. Mekanik tubuh yang tepat saat mengangkat beban, hindari membungkuk berlebihan, ayunkan pinggal atau miringkan pinggul. Varney (2007).
2.5.2.Bengkak pada kaki bagian bawah
Ketidaknyamanan pada trimester III, bahwa oedema dipenden pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstremitas bagian bawah.
Penatalaksanaannya menganjurkan ibu untuk tidak banyak berjalan, bila tidur posisi miring, menghindari menggunakan pakaian ketat untuk mengurangi oedema pada tungkai bawah adalah hindari menggunakan pakaian ketat, elevasi kaki secara teratur sepanjang hari, posisi menghadap samping pada saat berbaring, penggunaan penyokong atau korset pada abdomen maternal yang dapat melonggarkan tekanan pada vena-vena. Varney (2007)
2.5.3.Kehamilan dengan masalah kesehatan
Kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, preeklampsi, pertumbuhan janin terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit kelamin dan kondisi lain-lain yang daapt memburuk selama kehamilan.

2.6.Persalinan
2.6.1 Pengertian
Persalinan adalah suatu proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke dalam jalan lahir, kelahiran adalah suatu proses dimana janin dan ketuban didorong keluar jalan lahir. (Saifuddin, 2006)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Saifuddin, 2006).
2.6.2 Persalinan Normal (Spontan)
Yaitu persalinan yang berlangsung dengan letak belakang kepala sejak awal sampai akhirnya dengan tanda melahirkan ke dunia luar.
2.6.3 Fisiologi Persalinan
Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitocin yang dikeluarkan oleh hypopise posterior dapat menimbulkan kontraksi dominan saat dimulainya persalinan. Oleh sebab itu, makin tua usia kehamilan frekuensi kontraksi makin sering, oksitocin diduga bekerjasama dengan prostaglandin makin meningkat, di samping itu faktor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim. (Manuaba, 2001)
2.6.4 Tanda-tanda Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenamya seminggu sebelum memasuki bulannya “minggunya dan harinya” yang disebut kala pendahuluan (prematori stage of labor) memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
1.Lightening atau setting/dropping yaitu kepala turun memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) terutama pada primigravida.
2.Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3.Perasaan susah atau sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terendah janin.
4.Rasa sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
5.Serviks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah dan bisa campur darah (bloody show). (Prawirohardjo, 2002)
2.6.5 Proses Persalinan
Proses persalinan dibagi dalam 4 kala menurut Saifuddin (2002), yaitu :
2.6.5.1 Kala I
Definisi : Kala I persalinan dimulai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi osteum uteru extemum. Kala I telah sempurna apabila servik telah membuka cukup luas untuk dapat dilewati kepala janin untuk dilahirkan. Kala I terhitung dari waktu mulai pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap.
Kala I terdiri dari 2 fase :
1.Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam.
2.Fase Aktif, dibagi 6 jam dan dibagi 3 sub fase :
a.Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm (mulai gerakan partosray).
b.Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam pembukaan menjadi 9 cm.
c.Periode deselerasi berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan lengkap.
Pada primipara kala I bervariasi antara 12-14 jam, sedangkan multipara antara 6-7 Jam (Siswosudarmo : 2008).
2.6.5.2 Kala II
Definisi : dimulai dari dilatasi penuh serviks dan sempurna apabila bayi telah dikeluarkan dari uterus secara menyeluruh. Pada kala ini kontraksi uterus menjadi sangat khas dalam sifat ekspalsinya dan kontraksinya menjadi sangat kuat (amplitudonya 60-80 mmHg). Kontraksi ini terus berlangsung seperti pada kala transisi dengan selang waktu 2-3 menit dan lamanya kontraksi 1 menit. Sekarang fetus didorong keluar oleh segmen atas rahim yang menjalani retraksi yang dapat dilihat secara kasar melewati serviks yang terbuka dan jalan lahir. Fetus didorong oleh tekanan aksis fetus ke bawah dan ke belakang tegak lurus dengan pintu masuk pelvis. Dengan kata lain, kala II adalah kala pengeluaran janin. Tanda dan gejala kala II adalah dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, vulva membuka, perineum menonjol. (Depkes RI, 2004)
Fase aktif ditegakkan berdasarkan dilatasi servik 4-9 cm, kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih perjam, penurunan kepala dimulai hisnya minimal 2x dalam 10 menit selama 40 detik. (Depkes RI, 2004)
Kala II untuk primi berlangsung 1-2 jam dan pada multi tidak lebih dari I jam (Manuaba, 2001).
2.6.5.3 Kala III
Definisi : pelepasan plasenta secara normal. Plasenta belum terlepas dengan adanya kontaksi-kontraksi uterus selama kala I dan awal kala II persalinan, karena sisi plasenta harus diperkecil sampai separuh ukuran aslinya sebelum dimungkinkan terjadi pelepasan. Ketika tubuh bayi dapat dilahirkan pada kala II maka panjang uterus berkurang sehingga kekebalan dinding otot uterus tersebut akan bertambah dan besarnya kapasitas uteri akan berkurang sampai ukuran semula, biasanya dimulai pada pusatnya (bagian tengah) dan meluas ke sekelilingnya. Karena disusun oleh jaringan elastis, maka plasenta akan terlepas dari dinding uterus. Suatu kontraksi uterus yang benar-benar efektif tidak hanya menyebabkan pelepasan plasenta tetapi juga mendorong plasenta tersebut ke segmen bawah rahim dan segmen atas vagina hampir setelah bayi lahir. Pada akhir persalinan kala III uterus mempunyai ukuran kira-kira panjangnya I,5 cm, lebar 10 cm, dan tebal 7,5 cm.
Proses pengeluaran uri yang normal tidak lebih dari 30 menit. (Depkes RI, 2004)
2.6.5.4 Kala IV
Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. 2.6.6 Asuhan dan Pemantauan pada Persalinan
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, bahkan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama proses persalinan dan kelahiran.
Asuhan sayang ibu pada kala I yaitu memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.
Asuhan sayang ibu pada kala II yaitu menolong persalinan dengan teknik APN, menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu, memberikan dukungan, membantu ibu memilih posisi yang nyaman, menganjurkan ibu untuk minum selama kala II, mengajarkan cara meneran yang baik. Menjaga kandung kemih tetap kosong, karena kandungan kemih yang penuh dapat memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet, menyebabkan ibu tidak nyaman, meningkatkan resiko pendarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri dan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.
Pada kala III dianjurkan untuk melakukan manajemen aktif III meliputi pemberian oksitosin 10 IU secara IM, melakukan peregangan tall pusat terkendali, melahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew dan Massase Fundus Uteri yang bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah pada kala III persalinan. (Depkes RI, 2008)
Pada kala IV, asuhan yang dilakukan adalah menilai kehilangan darah, memeriksa perineum dan perdarahan aktif, memantau kondisi ibu secara keseluruhan. Asuhan yang diberikan selama 2 jam pertama pasca persalinan adalah melakukan pemantauan kala IV atau kala pengawasan setelah plasenta lahir 2 jam. Dalam kala ini yang diawasi adalah tanda-tanda vital, TFU, kandung kemih, kontraksi, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua. (Saifuddin, 2002).

2.7.Inersia Uteri
2.7.1.1.Definisi
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his normal (Manuaba, 2010 : 372)
Ditosia kelainan tenaga/his adalah his tidak normal dalam kekuatan / sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan macet.
Inersia Uteri terbagi menjadi 2 :
1.Inersia uteri primer
Inersia uteri primer; bila sejak semula kekuatan hisnya sudah lemah. Diagnose inersia uteri paling sulit dalam masa laten, untuk ini diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri , tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik, yakni pendataran dan/atau pembukaan. Kesalahan yang sering dibuat ialah mengobati seorang penderita untuk inersia uteri, padahal persalinan belum mulai (false labour).
2.Inersia uteri sekunder
Inersia uteri sekunder ialah his pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, pada bagian terendah terdapat kaput, dan mungkin ketuban sudah pecah. His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.
2.7.1.2.Etiologi
Primigravida tua
Multipara
Faktor herediter
Faktor emosi (ketakutan, dan lain-lain)
Kelainan letak janin
Disproporsi sefalopelvik
Peregangan uterus yang berlebihan (Kehamilan ganda, hidramnion).
Kelainan bentuk uterus
Faktor yang tidak diketahui
2.7.1.3.Penanganan
Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan, harus diperiksa keadaan servik, presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul.
Apabia ada disproporsi sefalopelvik yang berarti, sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan seksio sesaria. Apabila tidak ada disproporsi sefalopelvik atau ada disproporsi sefalopelvik ringan dapat diambil sikap lain. Keadaan umum penderita sementara itu diperbaiki, dan kandung kencing serta rectum dikosongkan. Apabila kepala atau bokong janin sudah masuk kedalam panggul penderita disuruh berjalan-jalan, hal ini kadang-kadang menyebabkan his menjadi kuat. Pada waktu periksa dalam dapat juga dilakukan pemecahan ketuban. Dapat pula dilakukan induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin 5 satuan unti dimasukkan kedalam larutan dextrose 5 % 500 ml.

2.8.Induksi Persalinan
2.8.1.Tujuan Induksi Persalinan
Untuk mempercepat proses persalinan yaitu dengan menambah kekuatan dari luar, dan tidak boleh merugikan ibu dan janinnya dalam usaha well bom baby dan well hell mother, sehingga diperlukan indikasi yang tepat, waktu yang baik dan evaluasi yang cermat. Induksi persalinan harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi.
2.8.2.Indikasi Persalinan Induksi
1.Indikasi ibu :
PROM-EROM, preeklampsia eklampsia, kemungkinan kesempitan panggul, ibu dengan penyakit jantung, diabetes, melitus, infeksi amnionitis.
2.Indikasi janin : Post-term, insufisiensi plasenta, IUFD, IUGR, oligohidrammion.
3.Indikasi selektif : Maturitas paru cukup, kontraksi uterus tidak sempurna, atas permintaan yang bersangkutan.
Pertimbangan yang dapat dipakai evaluasi keberhasilan induksi, yaitu multigravida lebih berhasil dari primigravida, bagian terendah sudah masuk PAP lebih berhasil, faktor umur gravida makin aterm akan lebih berhasil, faktor usia penderita makin muda makin berhasil, umur anak terkecil di atas lima tahun makin kurang berhasil, ketuban telah pecah akan lebih berhasil jika dibandingkan belum pecah.
2.8.3.Kontraindikasi
Overdistensi uteri : hidramnion, hamil gemelli.
Sefalo pelvik disproporsi : kepala masih melayang, perasat osbom positif artinya penonjolan kepala di atas sinfisis pubis.
Fetal distrees dengan berbagai sebab : dengan pemeriksaaan USG terdapat olighidromnion, pada pemeriksaan amnioskopi cairan keruh atau kental, ketuban dipecah ternyata keruh, hijau dan kental. (Manuaba, 2001)
2.8.4 Metode Induksi dengan Oxytocin Drip
Mulai dengan 8 tetes selama 15 menit.
Dinaikkan dengan interval 15 menit sebanyak 4 tetes sampai tercapai kontraksi optimal.
Tetesan maksimal 40 tetes.
Jumlah cairan seluruhnya 1.000 cc glukosa 5%.
2.8.5. Observasi
Detik jantung janin.
His-kontraksi otot rahim.
Penurunan bagian terendah.
Lingkungan Bandle-tanda ruptura imminen.
2.8.6. Kriteria gagal
Dengan 1.000 cc tidak terjadi kontraksi.
Diulang dengan interval 24 – 48 jam.
2.8.7. Tindakan lanjut
Memecahkan ketuban dan persalinan harus berakhir dalam waktu 6 jam (Fraser),
Langsung seksio sesarea. (Manuaba, 2001).

2.9 Nifas
2.9.1 Pengertian
Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosastro, 2007: 237)
Masa nifas didefinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara populer diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal (Cunningham, 2006 : 443)
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa pulihnya kembali alat-alat kandungan yang lamanya 6 minggu setelah persalinan.
2.9.2 Periode Masa Nifas
2.9.2.1 Puerperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.9.2.2 Puerperium Intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetilia yang lamanya 6-8 minggu. 2.9.2.3 Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulan atau tahunan. (Mochtar, 1998) 2.9.3 Perubahan Fisiologi Masa Nifas
1.Uterus
Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000 gram. Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. Dengan berat uterus 700 gram. Pada hari kelima pasca persalinan uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau pertengahan simfisis pusat dengan berat 500 gram, sesudah 2 minggu kemudian tinggi fundus tidak teraba lagi dengan berat 300 gram dan setelah 6 minggu kemudian bertambah kecil dengan berat 50 gram dan 8 minggu tinggi fundus uteri normal dengan berat 30 gram.
2.Bagian bekas implantasi plasenta
Bagian bekas implantasi plasenta menjadi mengecil karena kontraksi dan menonjol ke dalam cavum uteri yang berdiameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke 6 berdiameter 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3.Involusi uterus dan pengeluaran lochea,
Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 30 gram. Proses preteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan.
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalan nifas, lochea mempunyai reaksi basalalkalis yang dapat membuat organisme berkembangan lebih cepat dari pada kondisi asam pada vagina normal. Lochea mengalami perubahan karena proses involusi. Lochea terdiri dari :
Lochea Rubra : Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, Verniks kaseosa, lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.
Lochea Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir , pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
Lochea Serosa : Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 pasca persalinan.
Lochea Alba : Cairan putih setelah 2 minggu post partum.
4.Serviks
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah dua jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari.
5.Ligamen-ligamen
Ligamen fasia dan diafragma, perivis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke 2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah 3 minggu.
6.Laktasi
Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan, umumnya produksi air susu ibu/ASI baru terjadi kedua atau ketiga pasca persalinan, pada hari pertama banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. (Mansjoer Arip, 2007: 316)
2.9.4 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari asuhan masa nifas adalah sebagai berikut :
1.Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2.Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
3.Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4.Memberikan pelayanan Keluarga Berencana. (Saifuddin, 2006: 122)
2.9.5 Perawatan Masa Nifas
Kini perawatan masa nifas aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini. Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan :
1.Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas.
2.Mempercepat involusi alat kandungan.
3.Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
4.Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat pengeluaran ASI dan sisa-sisa metabolisme. (Manuaba, 2001)
2.9.6 Program dan Kebijakan Teknis
Paling sedikit 3 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan untuk mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi. (Saifuddin, 2002).
2.9.6.1 Kunjungan I: 2-6 Jam Setelah Persalinan
1.Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2.Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
3.Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4.Pemberian ASI awal.
5.Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6.Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
7.Menilai kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri.
2.9.6.2 Kunjungan II : 6 Hari Setelah Persalinan
1.Memastikan involusi dan uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2.Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal. 3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
3.Memastikan ibu menyesuaikan dengan baik dan tidak memperhitungkan tanda­ tanda penyakit.
4.Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tall pusat dan menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
2.9.6.3 Kunjungan llI : 6 minggu Setelah Persalinan
1.Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami.
2.Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Saifuddin, 2006: 23)
2.9.7 Gizi Ibu Nifas
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan­makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan Yang banyak mengandung zat besi dan yang dapat merangsang produksi ASI (Arif Mansjoer, 2007). Pada ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup, minum sebanyak 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin. Minum kapsul vitamin A (200.000 IU) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASL (Saifuddin, 2006).

2.10 Bayi Baru Lahir
2.10.1 Pengertian
Bayi baru lahir adalah bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, langsung menangis kuat, seluruh tubuh kemerahan, pergerakan aktif dan denyut jantung 120-140 x/menit. (Prawirohardjo, 2007).
2.10.2 Tujuan Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah membersihkan jalan nafas, memotong dan merawat tali pusat, mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, pencegahan infeksi. (Saifuddin, 2006 : 133)
2.10.3 Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir
1. Gangguan Metabolisme Karbohidrat
Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonates pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolism asam lemaksehingga kadar gula dalam darah mencapai 120 mg/100 ml. bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguanpada metabolism asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonates, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemia.
2.Gangguan Umum
Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 25 oC maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2 oC dalam waktu 15 menit. Kehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (mengeringkan, membungkus badan dan kepala dan kemudian diletakkan di tempat yang hangat seperti pangkuan ibu, dibawah sorotanlampu, incubator ,dll). Suhu lingkungan yang tidak baik akan menyebabkan bayi menderita hipothermi, hipertermi, dan trauma dingin (cold injury).
3.Perubahan Sistem Pernafasan
Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernafasan timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor carotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen, rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didalam uterus dan diluar uterus.
Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 100 ml cairan, kehilangan ½ dari cairan ini. Sesudah bayi lahir, cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula.
4. Perubahan Sistem Sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida menurun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga aliran darah kea lat tersebut meningkat.
5. Perubahan Lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai berfungsi.
2.10.3.1 Pernapasan dan Peredaran Darah
Pernapasan pertama pada bayi baru lahir normal terjadi pada waktu 30 detik setelah lahir. Pada menit pertama ± 80 x/menit disertai pernapasan cuping hidung dan rintihan berlangsung 10-15 menit. Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan 02 dalam alveoli meningkat dan COZ menurun, hal ini menyebabkan aliran darah ketuban meningkatkan dan feramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang kembali menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu. Makin lama makin menurun dan pada menit ke 30 menjadi 140-120 x/menit.
2.10.3.2 Suhu
Pada saat bayi berada pada suhu lebih rendah daripada dalam kandungan dan dalam keadaan hypotermi. Ini dapat menyebabkan hypoglikemi, maka perlu mempertahankan tubuh supaya suhu berada pada 36° C – 37° C.
2.10.3.3 Kulit
Terdapat Verniks caseosa yaitu lemak putih yang melekat pada tubuh bayi baru lahir. Mungkin bercampur cairan amnion, darah, faeces, mekonium. . 2.10.3.4.Faeces
Faeces berbentuk mekonium yaitu seperti ter hitam pekat yang telah berada dalam saluran pernapasan sejak janin 16 minggu. Mulai keluar dalam 24 jam pertama lalu sampai 2-3 hari, selanjutnya hari ke 4-5 berwarna coklat kehijauan, kemudian kuning, lembek setelah minum ASI.
2.10.3.4.Tali Pusat
Pemotong tali pusat merupakan pemisahan antara kehidupan bayi dan ibu. Tali pusat biasanya lepas pada 10-14 hari setelah lahir.
2.10.3.5.Refleks
Bayi yang dilahirkan mempunyai sejumlah refleks. Hal ini merupakan dasar bayi dasar bagi untuk mengadakan reaksi dan tindakan aktif. Reaksi sementara akan menghilang setelah umur 4-6 bulan. Macam-macam refleks pada bayi baru lahir adalah :
Reflek moro
:
Reflek peluk, reflek terkejut. Anak mengembangkan tangan ke samping lebar-lebar, melebarkan jari jari, lalu mengembalikan dengan tarikan cepat seakan memeluk seorang.
Reflek tonic neck
:
Refleks otot leher, anak akan mengangkat leher dan menoleh ke kanan, ke kiri jika ditemukan posisi tengkurap.
Reflek rooting
:
Mencengkram timbul karena stimulasi taktil pada pipi dan daerah mulut, anak bereaksi memutar kepala seakan-akan mencari puting susu.
Reflek sucking
:
Menghisap dan menelan (reflek oral). Timbul bersama-sama dengan rangsangan pip] untuk menghisap puting susu dan menelan ASI.
Reflek grasping
:
Bila ada rangsangan di telapak tangan, anak akan menggenggam.
Reflek babinsky
:
Rangsangan pada telapak kaki, ibu jari akan bergerak ke atas dan jari jari membuka.
Reflek walking

Melangkah, jika bayi dibuat posisi berdiri akan ada gerakan spontan melangkah ke depan walau belum bisa berjalan.
2.10.3.6.Berat Badan
Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari. Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan air kencing dan meconium. Sedangkan cairan yang masuk belum cukup, dan pada hari ke 4 berat bada akan naik lagi. Kehilangan berat badan dalam ± 7% dari berat badan awal dan tidak melebihi 10% dari berat badan lahir. Hal ini dinamakan penurunan berat badan fisiologis. (Cunningham, 2006)
2.10.4. Tujuan Asuhan Bayi Baru Lahir
2.10.4.1.Tujuan Bayi Baru Lahir 1 Jam Pertama
Tujuan utama perawatan bayi segera setelah lahir adalah :
1.Jaga kehangatan.
2.Bersihkan jalan nafas (bila perlu).
3.Keringkan dan tetap jaga kehangatan.
4.Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir.
5.Lakukan inisiasi menyusu dini dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
6.Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata.
7.Beri suntikan Vitamin K 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah inisiasi menyusu dini.
8.Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan anterolateral kira­kira setengah jam setelah pemberian Vitamin K,. (Wiknjosastro, 2008 : 123)
2.10.4.2.Tujuan Bayi Baru Lahir 1-24 Jam Pertama
Tujuannya untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah bayi baru lahir yang memerlukan keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1.Pertahankan suhu tubuh bayi.
2.Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
3.Lakukan perawatan tali pusat.
4.Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi dan informasikan tanda bahaya pada bayi. (Saifuddin, 2006)
5.Memandikan bayi
Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (suhu aksila antara 36,5 – 37,5° C). (Depkes RI, 2008)
2.10.4.3.Pencegahan Infeksi pada Mata Bayi
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (Penyakit Menular Seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. (Saifuddin, 2006) 2.10.4.4.Profilaksis Pendarahan Bayi Baru Lahir
Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K injeksi l mg intramuskuler di paha kiRI sesegera mungkin untuk mencegah pendarahan bayi baru lahir akibat defisiensi Vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. (Depkes RI, 2008)
2.10.5. Inisiasi Menyusu Dini
Adalah proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir atau pengenalan awal pada bayi, proses menyusu yang dilakukan sesegera mungkin dalam fase1 jam setelah kelahiran. (Roesli, Utami. 2008).
Proses IMD dilakukan sesaat setelah bayi lahir dalam keadaan sehat dan menangis sesudah dipotong tali pusatnya dan dilap dengan handuk / kain hangat (dengan tetap mempertahanan vernik). Proses pencairan memakan waktu bervariasi sekitar 30-40 menit. Dalam hal ini segala tindakan ataupun prosedur yang membuat bayi stress atau merasa sakit ditunda dulu, seperti menimbang, mengukur dan memandikan bayi dilaksanakan setelah IMD selesai dilakukan.
Pengawasan dalam pelaksanaan IMD haruslah terus dilakukan pengawasan tersebut meliputi, keadaan umum bayi dan kestabilan suhu bayi yang dilakukan setiap 15 menit sekali.
Tahapan Inisiasi Menyusui Dini adalah :
1.Sesaat setelah tali pusat dipotong bayi langsung diletakan didada ibunya setelah membersihkan tubuh bayi kecuali tangannya. Letakan bayi skin to skin. Ternyata suhu badan ibu setelah melahirkan 1oC lebih tinggi, namun bila bayi kedinginan otomatis suhu badan ibu jadi naik 2oC lebih tinggi, kepanasan suhu turun 1oC setelah diletakan didada ibu biasanya bayi akan diam selama 20-30 menit karena bayi sedang menerralisir keadaannya setelah dilahirkan.
2.Gerakan kedua terjadi bayi merasa lebih tenang maka secara otomatis kaki bayi mulai bergerak-gerak, seperti hendak merangkak diperut ibu gerakan ini bertujuan untuk mengentikan perdarahan ibu
3.Setelah melakukan gerakan kakinya bayi akan melanjutkan dengan mencium tangannya, ternyata bau tangan bayi sama dengan air ketuban dan ternyata wilayah sekitar puting ibu itu juga memiliki bau yang sama, jadi dengan mencium bau tangannya bayi membantu untuk mengarahkan kemana ia akan bergera. Dia akan memulai dengan mendeteksi puting ibu bayi, menjilat-jilat dada ibu. Ternyata jilatan bayi ini berfungsi untuk membersihkan dada ibu dari bakteri-bakteri jahat dan begitu masuk ketubuh bayi akan diubah menjadi bakteri-bakteri yang baik dalam tubuhnya. Lamanya kegiatan ini tergantung dari bayi karena bayi yang tahu seberapa banyak dia harus membersihkan dada ibunya.
4.Setelah itu bayi akan meremas-remas puting susu ibu bertujuan untuk merangsang supaya ASI segera berproduksi dan bisa keluar.
5.Terakhir barulah mulai bayi menyusu. (hhtp/www.google.com/)
2.10.6. Keuntungan Rawat Gabung dan Pemberian ASI
2.10.6.1. Bagi Bayi
1)Kolostrum ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi diare karena mengandung anti bodi
2)Dalam tenggang waktu 3-6 bulan ASI sudah cukup untuk tumbuh kembang bayi dengan baik
3)ASI merupakan makanan utama bayi dan telah siap setaiap saat dalam keadaan steril dan mudah dicerna
2.10.6.2. Bagi Ibu
1)Pemberian ASI dapat mempercepat involusi uteri
2)Pemberian ASI dapat bersifat sebegai alat kontrasepsi sampai waktu 3 bulan, karena ASI mengandung Hormone Prolaktin yang menghambat terjadinya pembuahan. Memperkecil kejadian keganasan payudara pada ibu menyusui karena ASI diberikan pada bayi sehingga tidak terjadi bendungan ASI yang dapat berlanjut pada kanker.
2.10.7. ASI Eksklusif
2.10.7.1.Pengertian
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi baru lahir sampai 6 bulan tanpa diselingi dengan makanan pendamping ASI. (Depkes RI, 2003) 2.10.7.2.Keuntungan ASI
1.Praktis, tidak perlu dibuat.
2.Ekonomis, tidak perlu membeli.
3.Mengandung semua zat gizi.
4.Mengandung berbagai antibodi.
5.Selalu bersedia dalam suhu yang ideal.
6.Selalu segar, bebas dari kuman.
7.Membina hubungan yang baik antara ibu dan bayi.
2.10.7.3.Alasan Mengapa ASI Diberikan Sedini Mungkin
Memberikan kepuasan dan ketenangan.
Hisapan bayi mempercepat involusi uterus.
Hisapan bayi memperlancar produksi ASI.
2.10.7.4.Tips Agar ASI Tetap Banyak
1.Mulai menyusui segera setelah bayi lahir.
2.Tidak menyelingi dengan makanan lain atau susu botol selama bayi berusia 0-6 bulan.
3.Bersikap tenang dan percaya diri agar hormon perangsang ASI bisa bekerja.
4.Menyusui dengan teknik dan posisi yang benar.
5.Menyusui bayi sampai payudara kosong.
6.Makan dan minum yang cukup terutama makan sayuran yang berwarna hijau tua.
7.Istirahat yang cukup. (Depkes RI, 2003).

2.11. Imunisasi
2.11.1. Pengertian
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.
2.11.2 Vaksin
Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya : vaksin BCG, Hepatitis, DPT dan Campak), dan melalui mulut (misalnya : vaksin Polio).
2.11.3 Tujuan Imunisasi
Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
2.11.4 Jenis-jenis Imunisasi Dasar
1.Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG 1 kali, pemberiannya melalui intracutan. Efek samping pemberian dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan, limfadentis regional dan reaksi panas, sedangkan dosis pemberiannya 0,05 ml.
2.Imunisasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. Kandungan vaksin ini adalah HBsAg dalam bentuk cair. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml (1 buah), pemberian secara intramusculer pada daerah anterolateral paha, dan diberikan pada bayi usia 0-7 hari. Efek sampingnya adalah rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.
3.Imunisasi Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus (strain sabin) yang sudah dilemahkan. Diberikan secara oral, I dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
4.Imunisasi DPT/HB
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Vaksin DPT/HB mengandung toxoid difteri, toxoid tetanus yang telah dihilangkan sifat racunnya (dimurnikan) dan pertusis yang inactifasi namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid) dan vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg mumi dan bersifat noninfecsius. Cara pemberian intramusculer dengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali, dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Efek sampingnya adalah gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, pembengkakan dan kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala demam tinggi, iritabilitas terjadi 24 jam setelah imunisasi, reaksi ringan hilang setelah 2 hari.
5.Imunisasi Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak. Kandungan vaksin Campak merupakan virus hidup yang dilemahkan.
Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas pada usia 9-11 bulan. Efek sampingnya adalah demam ringan dan kemerahan pada daerah penyuntikan. (Depkes RI, 2006).

2.12.Asfiksia
2.12.1.Definisi
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000).
Asfiksia adalah kurangnya oksigen dalam darah dan meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah serta jaringan (Kamus saku kep. Edisi 22).
Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Medicine and linux.com).
2.12.2.Etiologi Asfiksia
Etiologi secara umum dikarenakan adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin, pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir, penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
2.12.1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu
Oksigenasi darah ibu yang tidak mencukupi akibat hipoventilasi selama anestesi, penyakit jantung sianosis, gagal pernafasan, keracunan karbon monoksida, tekanan darah ibu yang rendah.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2.12.2.Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. .Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya:
Plasenta tipis
Plasenta kecil
Plasenta tak menempel
Solusio plasenta
Perdarahan plasenta
2.12.3.Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
2.12.4.Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia / stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
2.12.5.Faktor persalinan
Partus lama
Partus tindakan (Medicine and linux.com DAN Pediatric.com)
2.12.6.Patofisiologi
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi “Primary gasping” yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.
Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah.
Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya (Medicine and linux.com).
2.12.7. Manifestasi Klinis
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:
– DJJ lebih dari 100 x / menit atau kurang dari 100 x / menit tidak teratur
– Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
– Apnea
– Pucat
– Sianosis
– Penurunan terhadap stimulus.
(Medicine and linux.com)
2.12.8. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :
Penafasan
Denyut jantung
Warna kulit
Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Tetapi skor APGAR tetap dipakai untuk menilai kemajuan kondisi BBL pada saat 1 menit dan 5 menit setelah kelahiran. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).
2.12.9. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka
Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
Kompresi dada.
Pengobatan
2.12.10. Persiapan resusitasi
Agar tindakan untuk resusitasi dapat dilaksanakan dengan cepat dan efektif, kedua faktor utama yang perlu dilakukan adalah :
1.Mengantisipasi kebutuhan akan resusitasi lahirannya bayi dengan depresi dapat terjadi tanpa diduga, tetapi tidak jarang kelahiran bayi dengan depresi atau asfiksia dapat diantisipasi dengan meninjau riwayat antepartum dan intrapartum.
2.Mempersiapkan alat dan tenaga kesehatan yang siap dan terampil. Persiapan minumum antara lain :
– Alat pemanas siap pakai – Oksigen
– Alat pengisap
– Alat sungkup dan balon resusitasi
– Alat intubasi
– Obat-obatan
2.12.11.Prinsip Dasar Resusitasi Bayi
1)Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan nafas.
2)Memberikan bantuan pernafasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernafasan buatan.
3)Memperbaiki asidosis yang terjadi
4)Menjaga agar peredaran darah tetap baik.
2.12.12.Langkah-Langkah Resusitasi
1.Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
2.Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
3.Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
4.Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
5.Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
6.Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis perifer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
a.Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
b.Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
c.Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10.
100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV.
60 – 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
9.Jika denyut jantung 0 atau 100 x / menit hentikan obat.
11.Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
12.Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak respon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro, 2007).

2.12.13.Therapi Cairan Pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia
1.Tujuan Pemberian Cairan untuk Bayi Baru Lahir dengan asfiksia
a. Mengembalikan dan mempertahankanKeseimbangan airan
b. Memberikan obat – obatan
c. Memberikan nutrisi parenteral
2.Keuntungan therapy Cairan
a.Efek therapy segera tercapai karena penghantaran obat ketempat target berlangsung cepat
b.Absorbsi total, memungkinkan dosis obat lebih tepat dan therapy lebih dapat diandalkan
c.Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek therapy dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
d.Rasa sakit dan iritasi obat- obat tertentu jika diberikan intramuscular dan subkutan dapat dihindari
e.Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorpsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinal.
3. Kerugian therapy Cairan
1. Resiko toksisitas/anapilaktik dan sensitivitas tinggi
2. Komplikasi tambahan dapat timbul :
Kontaminasi mikroba melalui sirkulasi
Iritasi vaskuler ( spt phlebitis )
Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

2.12.14.Cairan, elektrolit dan nutrisi
Semua neonatus dalam unit perawatan intensif sebaiknya menerima cairan / nutrisi / obat melalui infus intravena. Jumlah cairan tergantung pada usia bayi, ukuran / berat badan, status klinis dan fisiologis, serta keadaan patologik yang mungkin menyertai (misalnya diare, ikterus, anemia, dan sebagainya).
Kebutuhan cairan basal umumnya 50-100 cc/kgbb pada hari pertama, kemudian turun sampai 60-70 cc/kg BB pada hari ketiga. Jika bayi memiliki berat badan lebih rendah atau usia kehamilan lebih prematur, kebutuhan cairan menjadi lebih tinggi.
Infus cairan dimonitor setiap 6-8 jam, dengan input / output balans yang ketat. Tiap 24 jam dibuat rekapitulasi meliputi keseimbangan cairan dan elektrolit, input/output termasuk insensible water loss, fungsi ginjal, dan pemeriksaan elektrolit serum.
Elektrolit Na+ diberikan 3 mEq/dl cairan, dan K+ 2 mEq/dl.
Nutrisi maksimum diberikan 75 kalori per 100 cc cairan, dalam bentuk asam amino dan larutan glukosa, melalui infus intravena. Jika bayi dapat minum dan ibu dapat mengeluarkan ASI, bayi harus diberikan ASI

2.13.Keluarga Berencana
2.13.1.Pengertian
Keluarga Berencan (KB) adalah suatu usaha untuk menjarangkan kehamilan atau merencanakan jumlah da jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat secara mekanis, menggunakan obat, alat, atau dengan operasi.
2.13.2 Tujuan
A. Menunda Kehamilan
Dianjurkan pada pasangan dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Kontrasepsi yang sesuai pil, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mini, cara sederhana.
Alasannya :
Prioritas dibawah 20 tahun adalah usia dimana sebaiknya tidak mempunyai anak dulu
Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil Oral karena peserta masih muda
Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan sehingga akan mempunyai angka kegagalan yang tiggi.
B. Menjarangkan Kehamilan (Mengatur Kesuburan)
Dianjurkan pada istri berusia 20-30 tahun adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak denga jarak kelahiran 3-4 tahun. Kontrasepsi yang sesuai : AKDR, Pil, Suntik, cara sederhana, Susuk KB, Kontrasepsi mantap.
Alasannya :
Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan
Segera setelah lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama
Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tiggi namun tidak kurang berbahaya karean akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.
C. Mengakhiri Kesuburan (tidak ingin hamil lagi)
Dianjurkan saat istri di atas 30 tahun, setelah mempunyai 2. Kontrasepsi yang sesuai : Kontrasepsi mantap (Tubektomi/Vasektomi), susuk, KB, AKDR, Suntik, Pil, Cara Sederhana
Alasannnya :
Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau tidak mempunyai anak lagi karena alasan medis
Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap
Pada kontrasepsi darurat, kontap cocok dipakau dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR
Pil kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek sampig dan komplikasi
2.13.3 Syarat-syarat Kontrasepsi
a.Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya
b.Efek samping yang merugikan tidak ada
c.Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
d.Tidak mengganggu persetubuhan
e.Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol yang ketat selama pemakaian
f.Cara penggunaannya sederhana
g.Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas
h.Dapat diterima oleh pasangan suami istri
2.13.4 Tempat Pelayanan KB
A.Posyandu
B.Pos KB Desa
C.Puskesmas
D.TKBK (Tim KB Keliling)
E.Rumah Sakit
F.Dokter dan Bidan Praktek Swasta
2.13.5. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
AKDR adalah merupakan benda asing dalam rahim sehigga menimbulkan rekasi. Benda asing dengan timbunan lekosit, makrofag.
Pemadatan endometrium oleh lekosit, makrofag dan limfosit, menyebabkan balstosis mungkin dirusak oleh makrofag, dan blastosis tidak mampu nidasi.
I0N Cu dikeluarkan AKDR dengan cupper menyebabkan gangguan gerak spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melakukan konsepsi.
A.Cara Kerja AKDR
1.Menghamba kemampuan sperma untuk masuk ketuab falopii
2.Mempengaruhi fertilitas sebelum ovulasi mencapaui kavum uteri
3.AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum tertentu, walaupun AKDR
4.Membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
5.Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
B.Keuntungan AKDR
1.Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
2.AKDR, dapat efektif setelah pemasangan
3.Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan tidak perlu diganti)
4.Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat
5.Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6.Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT AKDR (CuT 380).
7.Tidak mempengaruhi dari volume ASI. Dapat dipasang segera setelah lahir atau sesudah abortus (bila tidak terjadi infeksi)
8.Dapat digunakan sampai menopause
9.Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
10.Membantu mencegah kehamilan ektopik
C.Kerugian AKDR
Efek samping yang umum terjadi :
Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setela 3 bulan)
Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan (spotting) antar menstruasi
Saat haid lebih sakit
Komplikasi lain :
Merasakaan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.
Perdarahan berat pada waktu haid diantaran yang memungkinkan penyebab anemi
Perporasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)
Tidak mencegah IMS termasuk HIV /AID
Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering bengantian pasangan
Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR.
Sering nyeri dan perdarahan
Klien tidak dapat melapas AKDR sendiri
Mengkin AKDR keluar dari uterus
Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik
Perempuan harus memeriksa posisin benang.
D.Persyaratan Pemakaian
Yang menggunakan :
Usia reproduktif
Keadaan nulipara
Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
Setelah mengalami abortus
Tidak menghendaki metode hormonal
Tidak mengehendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama
Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR :
Sedang hamil
Perdarahan vagina yang tidak diketahui penyebabna
Sedang menderita infeksi alat genetalia
Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus
Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak
Penyakit trofoblas yang ganas
Diketahui menderita TBC pelvic
Kanket alat genetalia
Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.
E.Kontra Indikasi IUD
Hamil
Perdarahan diluar siklus haid yang tidak terdiagnosa sebelumnya
Riwayat KET
Infeksi panggul atau vagina
Kelainan anatomi pada uterus
Alergi pada komponen IUD, misalnya : tembaga
Penyakit Wilson
HIV atau AIDS
F.Persiapan pemasangan AKDR
Persiapan alat
Bivalve speculum
Tenakulum
Sonde uterus
Tampon tang
Gunting benang
Mangkok berisi lauran anti septic
Duk
Sarung tangan 2 pasang
Lampu sorot
Tempat sampah
IUD copper T 380 A
Kassa
G.Langkah-langkah Pemasangan AKDR
1)Lakukan anamnesa antara lain HPHT, lama haid, nyeri haid, anemia, riwayat infeksi system gentalai, kanker srvik
2)Lakukan pemeriksaan fisik, palpasi daerah perut apakah ada nyeri, tumor.
3)Kenaikan kain penutup pada klien untuk memeriksa panggul
4)Atur peralatan dalam wadah steril atau DTT
5)Pasang sarung tangan DTT
6)Lakukan infeksi pada daerah gentalia eksterna
7)Masukan speculum
8)Lakukan pemeriksaan speculum apakah ada lesi atau keputihan dan infeksi daerah serviks
9)Keluarkan speculum dengan hati-hati
10)Lakukan pemeriksaan bimanual
11)Lakukan pemeriksaan retrivaginal bila ada indikasi
12)Celupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%
H.Tindakan Pada Pemasangan
1)Jelaskan apa yang mau dilakuan pada
2)Masukan lengan AKDR Cu T 380 A didalam kemasan sterilnya
a.Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat ke belakang
b.Masukan pendorong kedalam tabung inserter
c.Letakan kemasan ditempat yang datar
d.Selipkan kerta pengukur dibawah lengan AKDR
e.Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal
f.Setelah lengan melipat meyentuh tabung inserter, tarik tabung inserter dari bawah ikatan lengan
g.Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk memasukan lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut kedalam tabung inserter.
I.Tindakan Pemasangan
1)Pasang sarung tangan yang baru
2)Pasang speculum vagina untuk melihat srviks
3)Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali
4)Jepit serviks dengna tenakulum dengan hati-hati
5)Masukan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh (no touch).
6)Tentukan posisi dan kedalam uterus
7)Keluarkan sonde dan ukur kedalam kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung inserter kemudian buka semua plastik penutup kemasan
8)Keluarkan inserter dari tempat kemasan
9)Pegang tabung AKDR dengan posisi leher biru dalam keadaan horizontal kemudian masukan tabung inserter kedalam uterus sampai leher biru menyentuh serviks
10)Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu lengan
11)Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawel
12)Keluarkan pendorong kemudian tabung inserter didorong kembali ke seriks sampai leher biru menyentuh serviks terasa ada tahanan.
13)Keluarkan selurh tabung inserter
14)Lepaskan tenakulum dengan hati-hati
15)Periksa serviks bila ada perdarahan dari tempat belas tenakulum, tekan dengan kasa
16)Keluarkanlah speculum dengan hati-hati.
J.Konseling Pasca Pemasangan
1)Ajarakan pada ibu bagaimana cara memeriksa benang AKDR
2)Jelaskan pada ibu apa yang harus dilkukanbila ada efek samping
3)Jelaskan pada ibu bahwa AKDR bisa dilepas setiap saat bilan diinginkan
4)Amati klien kurang lebih selama 15 menit sebelum dipulangkan.

2.14.Manajemen Kebidanan Menurut Varney
2.14.1 Pengertian
Proses manajemen adalah proses memecahkan masalah dengan menggunakan metode yang terorganisir meliputi pikiran dan tindakan dengan urutan logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan dengan menunjukkan Pernyataan yang jelas tentang proses berpikir dan tindakan.
Manajemen kebidanan memberikan asuhan komprehensif, terdiri dari 7 langkah :
2.14.1.1 Langkah I
Mengumpulkan data dasar lengkap untuk mengevaluasi pasien, meliputi nwayat pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul atas indikasi, mempelajari catatan sekarang atau laporan yang lalu, mempelajari data laboratorium dan membuat laporan singkat untuk menentukan kondisi pasien.
2.14.1.2 Langkah II
Adalah interpretasi data untuk spesifikasi masalah atau diagnosa.
2.14.1.3 Langkah III
Identifikasi masalah-masalah potensial atau diagnosa berdasarkan diagnosa sekarang adalah antisipasi masalah, mencegah bila mungkin, penjagaan betul-betul dan persiapan untuk beberapa kemungkinan yang terjadi.
2.14.1.4 Langkah IV
Adalah kelanjutan secara alami dalam proses manajemen, bukan hanya selama asuhan primer atau kunjungan antenatal tetapi secara terus menerus selama bidan bersama wanita, misalnya saat persalinan data tetap dicari dan dievaluasi.
2.14.1.5 Langkah V
Membuat rencana asuhan komperehensif, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, merupakan hasil pengembangan dari masalah sekarang antisipasi masalah dan diagnosa juga melengkapi data yang kurang serta data tambahan yang penting sebagai informasi untuk data dasar.
2.14.1.6 Langkah VI
Adalah implementasi dari rencana asuhan yang komprehensif, ini mungkin s;.luruhnya diselesaikan oleh bidan atau sebagian oleh wanita atau anggota team kesehatan lainnya.

2.14.1.7 Langkah VII
Adalah evaluasi benar-benar merupakan pengecekan bagaimana rencana asuhan apakah mencakup kebutuhan bantuan telah diidentifikasi pada masalah atau diagnosa, bila ya maka perencanaannya adalah efektif dan bila tidak berarti efektif
2.14.2 Dokumentasi Kebidanan
2.14.2.1 Pengertian
Dokumentasi asuhan kebidanan adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, dan klinik kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan, produser pengobatan pada pasien dan pendidikan pada pasien dan respon pasien terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan.
2.14.2.2 Prinsip Dokumentasi
Asuhan yang diberikan bidan hams dicatat secara benar, sederhana, jelas dan logis serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga perlu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien yang di dalamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan. (Varney, 1997)
2.14.2.3 Fungsi Dokumentasi
Sebelum dokumentasi yang sah, alat komunikasi antara petugas kesehatan, sebagai bahan penelitian dan pendidikan, sebagai dokumen berharga untuk mengetahui perkembangannya dan evaluasi pasien, dan sebagai tanda bukti di pengadilan.
2.14.2.4 Teknik Pencatatan atau Cara Penulisan Dokumentasi
1.Mencantumkan nama pasien.
2.Menulis dengan tinta hitam (idealnya)
3.Menulis atau menggunakan singkatan dan simbol yang telah disepakati oleh institusi untuk mempercepat pencatatan.
4.Mencantumkan tanggal, jam tindakan atau observasi yang dilakukan sesuai kenyataan dan bukan interpretasi.
5.Hindarkan kata-kata yang menimbulkan penilaian, seperti : tampaknya, rupanya, dan bersifat umum.
6.Tulis nama jelas pada catatan observasi dan pemeriksaan oleh yang melakukan.
7.Hasil temuan digambarkan secara jelas termasuk keadaan, gejala, tanda, warna, jumlah dan besar dengan ukuran yang lazim dipakai.
8.Interpretasi data obyektif harus didukung oleh observasi.
9.Kolom jangan dibiarkan kosong, beri tanda bila tidak ada yang perlu ditulis.
10.Coretan harus disertai paraf atau tanda tangan di sampingnya.
2.14.2.5 Metode Pendokumentasian
Yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah SOAP, yang merupakan adalah satu metode pendokumentasian yang ada. SOAP adalah singkatan dari :
S : Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa (langkah 1).
O : Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment (langkah 1).
A : Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subyektif dan obyektif suatu indikasi, diagnosa masalah, antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial, tindakan segera/kolaborasi (langkah 2, 3, dan 4).
P : Pelaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment (langkah 5, 6 dan 7).

2.15.Standar Asuhan Kebidanan
2.15.1 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
2.15.1.1 Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangka tahapan mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (Varney)
2.15.1.2 Tujuan
Agar bidan mampu memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan berstandar pada ibu ante natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama hamil ini, kebutuhan dan respon ibu serta mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada dan mengantisipasinya. (PPKC, 2004)
2.15.1.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan kebidanan yang bersifat rutin maupun segera dan saat ibu hamil (trimester I s/d trimester III) meliputi pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah 280 hari 40 minggu) atau 9 bulan 7 hari, yang dibagi dalam 3 triwulan/trimester :
Triwulan I : Kehamilan sampai dengan 14 minggu
Triwulan II : Kehamilan 14 minggu – 28 minggu
Triwulan III : Kehamilan 28 minggu – 36 minggu dan sesudah 36 minggu
Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu dan perubahan di dalam keluarga. (PPKC, 2004)
2.15.2 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin
2.15.2.1 Pengertian
Manajemen kebidanan pada ibu intra natal adalah proses pemecahan masalah pada masa intra natal yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
2.15.2.2 Tujuan
Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan.
2.15.2.3 Hasil Yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada saat ibu intra partum (Kala I s/d Kala IV) termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan maupun oleh dokter atau melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.
2.15.3 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal
2.15.3.1 Pengertian
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada jam pertama setelah kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran.
2.15.3.2 Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.
2.15.3.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bayi, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.
2.15.4 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas
2.15.4.1 Pengertian
Asuhan ibu post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.
2.15.4.2 Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.
2.15.4.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.16.Standar Pelayanan Kebidanan
2.16.1 Standar Pelayanan Antenatal (Standar 4)
2.16.1.1 Tujuan
Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.
2.16.1.2 Pernyataan Standar
Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan ristiikelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas tugas terkait lainnya yang diberikan oleh pukesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat dan setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. 2.16.1.3 Hasil
Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4x selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan. Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kedaruratan.
2.16.2 Standar Pelayanan Intranatal (Standar 9)
2.16.2.1 Tujuan
Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. 2.16.2.2 Pernyataan Standar
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai kemudian memberikan asuhan dan memantau yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.
2.16.2.3 Hasil
Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu bila diperlukan. Meningkatkan cakupan persalinan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus iama.
2.16.3 Standar Pelayanan Nifas (Standar 15)
2.16.3.1 Tujuan
Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.
2.16.3.2 Pernyataan Standar
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tall pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.
2.16.3.3 Hasil
Komplikasi pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada saat yang tepat.
Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI eksklusif
Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan.
Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.
Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana/penjarangan kelahiran.
Meningkatkan imunisasi pada bayi.
2.16.4 Standar Pelayanan Bayi Baru Lahir (Standar 13)
2.16.4.1 Tujuan
Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernapasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemia, dan infeksi.
2.16.4.2 Pernyataan Standar
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi,
2.16.4.3 Hasil
Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernapasan dengan baik. Penurunan kejadian hipotermia, asfiksia, infeksi, dan hipoglikemia pada bayi baru lahir. Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: