dancewithmommyoci











{30 November 2011}   BAB I PENDAHULUAN – KTI HIPERTENSI KRONIK DAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi yang kuat. Ibu yang sehat pula akan menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Untuk mewujudkan itu semua seluruh pemangku kepentingan dalam program kesehatan reproduksi di Indonesia (pemerintah pusat maupun daerah, LSM, dunia usaha, organisasi profesi, donor agency) hendaknya meningkatkan aktifitasnya dalam mendukung pencapaian kualitas hidup yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Sebagai tolak ukur keberhasilan ibu maka salah satu indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstetric dan ginekologi di suatu wilayah adalah dengan melihat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diwilayah tersebut. Kematian saat melahirkan menjadi factor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktifitasnya.
Menurut WHO, sekitar 3% dari 120 juta bayi lahir  mengalami asfksia, dan hampir  satu juta  bayi diantaranya meninggal dunia .
Di Indonesia saat ini masih memperihatinkan, ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2009 sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu secara langsung adalah perdarahan 60-70%, infeksi 10-20 % dan eklampsi 10-20%. Sedangkan AKB sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Penyebab angka kematian bayi diantaranya yaitu asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologic 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%, (SKRT, 2002).
Jumlah kematian ibu di Propinsi Banten pada tahun 2008 tercatat 256/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian bayi 34/1000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kematian Ibu di kabupaten Tangerang sebesar 197/100.000 kelahiran hidup dan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan 83,13%. Penyebab kematian ibu di wilayah kabupaten Tangerang adalah : infeksi 5%, hipertensi 9 %, perdarahan 50 %, lain-lain 36 %. Jumlah kematian bayi di wilayah kabupaten Tangerang tahun 2003-2009 adalah 111 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kabupaten Tangerang).
Penyebab kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetric langsung dan tidak langsung. Kematian obsterik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan antara lain perderahan 28%, infeksi 11% dan eklampsi 24,5%, partus lama 5,2%. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan/persalinan antara lain anemia, kurang energy kronik (KEK) dan hipertensi kronik 5 – 10 %. Angka kejadian hipertensi kronik pada berbagai populasi berbeda 0.5 – 4% (rata-rata 2.5%). Hipertensi kronik pada kehamilan 80% idiopatik dan 20% oleh karena penyakit ginjal.
Hipertensi merupakan gangguan paling sering dalam kehamilan dan penting diperhatikan karena menyebabkan angka kematian dan kesakitan yang cukup tinggi pada maternal dan perinatal. Gangguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai.
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000, yang menjelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (JHPEIGO, 2002).
Kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20-89 % dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Kejadian anemia dalam kehamilan mencapai 63,5% (Saifuddin, 2001).
Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun nifas dan masa selanjutnya, berbagai penyakit dapat timbul karena anemia seperti abortus, partus prematurus, partus lama karena inersia uteri, perdarahan post partum, karena atonia uteri, syok dan Infeksi. (Prawiroharjo, 2000).
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his normal (Manuaba, 2010 : 372). Inersia Uteri terbagi menjadi 2 : Inersia Uteri Primer dan Inersia Uteri Sekunder. Inersia uteri primer; bila sejak semula kekuatan hisnya sudah lemah. Inersia uteri sekunder ialah his pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.
Dalam hal ini bidan sebagai tenaga kesehatan professional hendaknya mampu melakukan deteksi dini dan dapat mengantisipasi komplikasi yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, factor penyulit yang terjadi dapat diatasi sebagai salah satu upaya dalam menurunkan AKI.
Gangguan menahun dalam kehamilan pada ibu dapat berupa gizi buruk, anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000).
Kematian neonatal dini lebih banyak disebabkan secara intrinsik dengan kesehatan ibu dan perawatan yang diterima sebelum, selama dan setelah persalinan. Demikian halnya dengan asfiksia neonatorum pada umumnya disebabkan oleh manajamen persalinan yang tidak sesuai dengan standar dan kurangnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Kurangnya asupan kalori dan nutrisi pada saat masa kehamilan juga dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia. Hampir tiga per empat dari semua kematian bayi baru lahir dapat dicegah apabila ibu mendapatkan nutrisi yang cukup, pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan yang profesional (Leonardo, 2008).
Keberadaan bidan di tengah-tengah masyarakat, memiliki peran yang strategis terutama dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dibutuhkan tenaga yang terampil, dengan melakukan asuhan secara komprehensif terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan asuhan pada bayi baru lahir diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta memberikan kontribusi langsung dalam membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal.
Oleh karena itu penulis mencoba mengambil studi kasus pada Ny. N dituangkan dalam KTI dengan judul : “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. P dengan Hipertensi Kronik dan Anemia dari kehamilan 34 minggu sampai dengan 6 minggu post partum di Klinik Obbini Balaraja – Tangerang”

1.2.Tujuan
1.2.1.Tujuan Umum
Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan pendokumentasian SOAP.

1.2.2.Tujuan Khusus
1.2.2.1. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi kronik dan anemia dalam kehamilan
1.2.2.2 Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan hipertensi kronik dan anemia dalam persalinan dan inersia uteri.
1.2.2.3. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia.
1.2.2.4. Memberi asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan hipertensi kronik..
1.2.2.5 Mendokumentasikan hasil asuhan pada masa ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan metode SOAP.

1.3.Manfaat
1.3.1.Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu mengembangkan ilmu yang didapat selama pendidikan baik teori maupun praktik dalam melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif terhadap klien mulai dari hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.
1.3.2.Bagi Klinik Obbini
Dapat meningkatkan mutu pelayanan yang berkualitas berdasarkan standar pelayanan kebidanan.
1.3.3.Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk study kasus selanjutnya.

1.3.4.Bagi Ibu / Klien
Setelah diberikan asuhan komprehensif pada klien selama masa hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir, diharapkan dapat mencegah, mendeteksi dan mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
1.3.5.Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: