dancewithmommyoci











{25 November 2011}   BAB I PENDAHULUAN – KTI HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi yang kuat. Ibu yang sehat pula akan menciptakan keluarga sehat dan bahagia.
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang. Berdasarkan penelitian WHO diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebanyak ± 500.000 jiwa pertahun. Kematian ibu dan perinatal merupakan tolak ukur kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara.
Di Indonesia Departemen Kesehatan telah membuat rencana strategi Nasional Making Pregnancy Safer yaitu : (1) menurunkan AKI sebesar 75 % pada tahun 2015 menjadi 115/100.000 kelahiran hidup dan (2) menurunkan AKB menjadi kurang dari 35/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2009 sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu secara langsung adalah perdarahan 60-70%, infeksi 10-20 % dan eklampsi 10-20%. Sedangkan AKB sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Penyebab angka kematian bayi diantaranya yaitu asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologic 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%, (SKRT, 2002).
Jumlah kematian ibu di Propinsi Banten pada tahun 2008 tercatat 256/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian bayi 34/1000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kematian Ibu di kabupaten Tangerang sebesar 197/100.000 kelahiran hidup dan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan 83,13%. Penyebab kematian ibu di wilayah kabupaten Tangerang adalah : infeksi 5%, hipertensi 9 %, perdarahan 50 %, lain-lain 36 %.
Penyebab kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetric langsung dan tidak langsung. Kematian obsterik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan antara lain perderahan 28%, infeksi 11% dan eklampsi 24,5%, partus lama 5,2%. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan/persalinan antara lain anemia, kurang energy kronik (KEK) dan hipertensi kronik 5 – 10 %. Angka kejadian hipertensi kronik pada berbagai populasi berbeda 0.5 – 4% (rata-rata 2.5%). Hipertensi kronik pada kehamilan 80% idiopatik dan 20% oleh karena penyakit ginjal.
Di Indonesia, berdasarkan SDKI (Survey Demografi Dan Kesehatan Indonesia) tahun 2007 Angka Kematian Bayi mencapai 35/10.000 Kelahiran hidup. Jumlah kematian bayi di wilayah kabupaten Tangerang tahun 2003-2009 adalah 111 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kabupaten Tangerang).
Hipertensi menyebabkan gangguan sekitar 5 -10 persen dari seluruh kehamilan, dan dapat menjadi suatu komplikasi yang mematikan, yaitu pendarahan dan infeksi, yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan angka kematian ibu. Dengan hipertensi, sindrom preeklampsia, baik sendiri atau yang berasal dari hipertensi kronis, adalah yang paling berbahaya.
WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia (Khan dan rekan, 2006), di negara-negara maju, 16 persen kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13 persen, aborsi-8 persen, dan sepsis-2 persen.
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000, yang menjelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (JHPEIGO, 2002). Efek hipertensi kronik pada kehamilan adalah solution plasenta, preeclampsia, gangguan perinatal hingga kerusakan organ-organ vital tubuh dikarenakan hipertensinya. Keputusan tentang kapan wanita dengan hipertensi kronik harus melahirkan dipandang dalam konteks perjalanan klinis, termasuk keparahan penyakit yang mendasari. Pada kasus-kasus dengan hipertensi yang terkontrol dan nonkomplikata, persalinan dapat berjalan normal pervaginam dan menjalani masa nifas yang normal pula. Sedangkan hipertensi kronik yang mempunyai komplikasi, persalinan bertujuan menekan resiko pada ibu dan janin sekecil-kecilnya.
Kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20-89 % dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Kejadian anemia dalam kehamilan mencapai 63,5% (Saifuddin, 2001).
Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun nifas dan masa selanjutnya, berbagai penyakit dapat timbul karena anemia seperti abortus, partus prematurus, partus lama karena inersia uteri, perdarahan post partum, karena atonia uteri, syok dan Infeksi (Prawiroharjo, 2000).
Dalam melakukan operasi persalinan pervaginam harus memperhitungkan keuntungan dan kerugian. Seksio sesaria merupakan tindakan operasi persalinan yang paling ringan komplikasinya dan tidak mempunyai trauma terhadap bayi. Pertolongan persalinan merupakan tindakan dengan tujuan untuk menyelamatkan ibu maupun bayi. Bahaya infeksi setelah operasi persalinan masih tetap mengancam sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.
Bedah sesar adalah prosedur pembedahan yang digunakan untuk melahirkan bayi melalui sayatan yang dibuat pada perut dan rahim (Simkin, 2008 : 277). Pada tahun 1990-an angka bedah sesar berfluktuasi antara 21 % dan 24 %. Berdasarkan tinjauan ulang terhadap literatur internasional, Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat di Amerika Serikat dan WHO menerapkan tujuan mengurangi angka bedah sesar menjadi 15 %.
Berdasarkan data yang diperoleh dari medical record RSUD Tangerang didapatkan angka persalinan tahun 2006 sebanyak 4955 persalinan, dimana persalinan normal sebanyak 2600 (52,47 %) dan persalianan dengan tindakan sebanyak 2355 (47,52 %). Jumlah ini meningkat dari tahun 2005 yaitu sebanyak 1507 (49,52%). Dari semua kasus persalinan dengan tindakan, seksio sesaria merupakan tindakan yang paling banyak yaitu 1521 (64,54 %) dengan berbagai indikasi. Dalam hal ini bidan sebagai tenaga kesehatan professional hendaknya mampu melakukan deteksi dini dan dapat mengantisipasi komplikasi yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, factor penyulit yang terjadi dapat diatasi sebagai salah satu upaya dalam menurunkan AKI.
Keberadaan bidan di tengah-tengah masyarakat, memiliki peran yang strategis terutama dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dibutuhkan tenaga yang terampil, dengan melakukan asuhan secara komprehensif terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan asuhan pada bayi baru lahir diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta memberikan kontribusi langsung dalam membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal.
Berdasarkan latar belakang diatas , dalam rangka turut menurunkan angka kematian Ibu dan angka kematian bayi di Indonesia, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus pada Ny. “A” yang dituangkan dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul : “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. “A” Dengan Hipertensi Kronik dan Anemia Dari Kehamilan 32 Minggu Sampai Dengan 6 Minggu Post Partum di Klinik Obbini Balaraja – Tangerang”.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran penerapan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ibu hamil, bersalin, nifas dan Bayi Baru lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian SOAP.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi kronik dan anemia dalam kehamilan
1.2.2.2 Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan hipertensi kronik dalam persalinan dengan tindakan operatif seksio sesaria.
1.2.2.3. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir .
1.2.2.4. Memberi asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan hipertensi kronik dan anemia.
1.2.2.5 Mendokumentasikan hasil asuhan pada masa ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan metode SOAP.

1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu mengembangkan ilmu yang didapat selama pendidikan baik teori maupun praktik dalam melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif terhadap klien mulai dari hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.

1.3.2. Bagi Klinik Obbini
Dapat meningkatkan mutu pelayanan yang berkualitas berdasarkan standar pelayanan kebidanan.
1.3.3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk study kasus selanjutnya.
1.3.4. Bagi Ibu / Klien
Setelah diberikan asuhan komprehensif pada klien selama masa hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir, diharapkan dapat mencegah, mendeteksi dan mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
1.3.5. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.

 

ABSTRAK KTI MIA

 

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: