dancewithmommyoci











{26 Mei 2016}  

Once meet again…

Dah lama bangets melupakan blog ini…

Dari hanya oci dan sifah, sekarang ada calon dai besarku, fadhil….

Allah maha baik…memberikan segalanya untukku, hanya aku yg msh kufur nikmat..

Ampuni aku yaa Rob…



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1.SIMPULAN
Penulis melakukan pengkajian asuhan kebidanan pada Ny. A sesuai dengan kebutuhan pasien melalui upaya pendekatan Manajemen Asuhan Kebidanan sejak usia kehamilan 32 minggu sampai dengan 6 minggu post partum yang dilakukan di Klinik Obbini Balaraja-Tangerang.

5.1.1.Antenatal
Pada kasus Ny. A dalam masa kehamilan , penulis melakukan pengkajian dimulai pada trimester III dengan kunjungan Antenatal Care sebanyak 3 kali. Pada ANC I ibu mengeluh sering pusing dan merasa cepat lelah, nafsu makan kurang, frekuensi makan 3 kali dalam porsi sedikit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva agak pucat dengan tekanan darah 170/110 mmHg, ibu mempunyai riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya dan mempunyai riwayat hipertensi dalam keluarga. Pada kehamilan ini hipertensi ditemukan sejak ibu melakukan test kehamilan di posyandu pada usia kehamilan sebulan setengah. Pemeriksaan protein urine negative, urine reduksi negative, Hb 10 gr%. Diagnosa Ny. P G4 P3 A0 hamil 32 minggu , janin presentasi kepala, tunggal hidup intra uterine dengan hipertensi kronik dan anemia.
Penatalaksanaan asuhan memberikan penjelasan tentang bahaya hipertensi kronik dalam kehamilan dan melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG untuk melakukan penanganan hipertensi kronik. Hasil kolaborasi diberikan terapi kepada ibu berupa Nifedipine 3 x 10 mg, tablet Fe 2 x 1 dan kalsium (Likokalk 3 x 500 mg) pada trimester I,II dan III.
Masalah yang ditemukan asupan nutrisi kurang adekuat pada ANC I dan II. Pada ANC III hal ini dapat diatasi dengan kadar Hb naik menjadi 11,6 gr%.
Pada kunjungan ANC ke III ibu mengatakan telah dirawat selama 3 hari atas diagnose ISPA di RSUD Tangerang. Pada ANC ke-II dan III, diketahui tekanan darah ibu menetap menjadi 140/100 mmHg.

5.1.2.Intranatal
Pada waktu usia kehamilan 41 minggu berdasarkan hasil USG, ibu belum merasakan tanda-tanda persalinan. Terdapat perburukan dari hipertensi kroniknya yaitu tekanan darah naik menjadi 170/100 mmHg dan ibu mengalami oedema anasarka. Dalam hal ini penulis melakukan rujukan ke RSUD Tangerang, dan atas hasil pemeriksaan team dokter menganjurkan untuk mengakhiri kehamilan dengan tindakan operatif seksio sesaria atas indikasi ibu riwayat infertile ≥ 12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, tekanan darah 170 / 100 mmHg, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang. Bayi lahir langsung menangis, pergerakan aktif dan warna kulit kemerahan. Observasi ketat dilakukan pada kala IV pasca operasi seksio sesaria. Tekanan darah ibu sempat tidak stabil pada 2 jam pertama, namun kemudian membaik hingga menjadi 140/90 mmHg.

5.1.3.Postnatal
Pada Ny. P dilakukan kunjungan nifas sebanyak 3 kali, yaitu pada waktu 6 jam post partum, 6 hari dan 6 minggu masa nifas. Pada pemeriksaan post partum 6 jam, 6 hari dan 6 minggu, didapatkan data bahwa involusi uterus berjalan normal, lochea sesuai dengan masanya, luka operasi tidak ada tanda-tanda infeksi, ibu memberikan ASI-nya pada hari ke 2 post SC dengan kesulitan dalam proses menyusui berupa bendungan payudara. Pada keadaan ini penulis mengajarkan ibu tentang perawatan payudara dan tehnik menyusui yang benar. Pada masa nifas 6 hari tekanan darah ibu mencapai 120/80 mmHg, namun kemudian naik pada 6 minggu masa nifas menjadi 170/100 mmHg, sehingga asuhan yang diberikan oleh penulis adalah menganjurkan ibu konsul ke dokter Internist untuk penanganan hipertensinya dan ibu telah menjadi akseptor KB IUD Copper T-Cu380A dengan masa kerja efektif selama 5 tahun. Saat ini asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dapat dilakukan tanpa hambatan yang berarti.

5.1.4.Neonatal
Bayi Ny. A lahir langsung menangis, pergerakan aktif, warna kulit kemerahan, berat badan 3200 mg panjang badan 49 cm. Bayi langsung mendapatkan injeksi vitamin K1 dan salep mata tetracycline 1 % pada kedua mata.
Pada kunjungan 6 jam sesudah lahir bayi mendapatkan imunisasi HB0. Pada kunjungan 6 hari berat badan bayi turun menjadi 2700 gram, namun pada umur 6 minggu berat badan bayi menjadi 5000 gram, naik 1800 gram dari berat badan lahir. Bayi mendapatkan ASI dengan baik, pertumbuhan dan perkembangan bayi normal. Bayi sudah mendapatkan imunisasi BCG dan Polio 1.

5.2.SARAN
5.2.1.Bagi Petugas Kesehatan
Setiap petugas kesehatan khususnya bidan, hendaknya lebih meningkatkan pengetahuannya tentang manajemen asuhan kebidanan dan memantau klien sejak awal kehamilan, persalinan, nifas dan BBL, agar dapat melakukan asuhan secara komprehensif sehingga dapat mendeteksi komplikasi sedini mungkin , serta dapat melakukan penatalaksanaan ibu dengan komplikasi.
5.2.2.Bagi Lahan Praktek
Setiap fasilitas kesehatan hendaknya dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan, kelengkapan sarana dan prasarana, serta melakukan pelayanan dengan pendekatan interpersonal dalam menghadapi klien khususnya dengan masalah dan potensial komplikasi secara profesional. Kolaborasi antar instansi kesehatan maupun lintas sektoral agar dapat digalang dengan baik dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dimasa yang akan datang.
5.2.3.Bagi Institusi Pendidikan
Agar institusi pendidikan lebih banyak lagi menyediakan buku-buku ataupun referensi yang terbaru untuk menunjang kelangsungan belajar mengajar dan untuk bahan karya tulis.
Untuk lebih meningkatkan kualitas dan efisiensi waktu yang diharapkan, hendaknya institusi mempunyai klinik bersalin untuk menunjang proses pembelajaran dan study kasus sehingga mahasiswa dapat memantau dari mulai ANC sampai dengan proses persalianan di institusi pendidikan.



BAB IV
PEMBAHASAN

Dari studi kasus pada Ny. A, yang di ikuti dari usia kehamilan 32 minggu sampai 6 minggu masa nifas, penulis mencoba membuat suatu pembahasan yang menghubungkan teori dengan kasus yang dialami.

4.1.ANTENATAL
Selama kehamilan Ny. A mengatakan memeriksakan kehamilannya di posyandu, setiap bulan dimulai dari bulan kedua kehamilannya. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010:111) bahwa pemeriksaan kehamilan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid dan Saifuddin (2006) berbicara tentang kebijakan program kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan yaitu satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga.
Dari hasil anamnesa diketahui ibu mengaku lupa tanggal hari pertama haid terakhir pada kehamilan ini , sehingga untuk menentukan usia kehamilan penulis menggunakan hasil pemeriksaan USG pada trimester 2 yang dilakukan ibu tanggal 10 Juni 2010, diketahui bahwa umur kehamilannya pada waktu itu 23 minggu lebih 1 hari sehingga taksiran persalinan 05 Oktober 2010. Hal ini sesuai dengan Winkjosastro (2002 : 144) bahwa pengukuran diameter biparietal janin merupakan parameter yang umum digunakan untuk menentukan usia kehamilan. dr. I Putu Kusuma Yudasmara (http://www.balipost.co.id ) mengatakan bahwa pada usia kehamilan trimester 2- 3 dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kelamin janin.
Dari hasil anamnesa Ny. A pada waktu kunjungan ANC pertama, tanggal 06 Agustus 2010, pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 170 / 110 mmHg, protein urine negative dengan kehamilan 32 minggu. Ibu mengatakan mempunyai riwayat hipertensi sejak kelahiran anak pertamanya dan riwayat hipertensi dalam keluarga serta tekanan darah ibu tinggi sejak melakukan test kehamilan di polindes pada usia kehamilan satu bulan setengah. Dari data-data tersebut disimpulkan ibu mengalami hipertensi kronis. Menurut JHPIEGO (2002 : M-34) Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan. Diketahui juga dari riwayat obstetric terdahulu bahwa ibu mengalami 2 kali persalinan pre-term dan 1 kali dengan Intra uterine fetal death (IUFD) pada kehamilan yang ketiga. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2001 : 423) bahwa hipertensi menyebabkan insufisiensi plasenta yang mengakibatkan IUGR – BBL, prematuritas, sampai IUFD.
Pada kunjungan ini ibu mengeluh sering sakit kepala, hal ini sesuai dengan teori Cunningham (2006 : 267) bahwa makna patologis nyeri kepala sebagai akibat gangguan hipertensi yang timbul pada kehamilan.
Penatalaksanaan yang diberikan adalah memberikan penyuluhan tentang konsep hipertensi serta berkolaborasi dengan dokter . hal ini sesuai dengan pernyataan Cunningham, (2006) bahwa evaluasi wanita dengan hipertensi kronik sangat penting untuk penyuluhan maupun penatalaksanaan selama kehamilan. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Saifuddin (2006), bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, preeklampsi dan kondisi lain-lain yang dapat memburuk selama kehamilan. Hasil dari kolaborasi dengan dokter adalah pemberian terapi Nifedipine 3 x 10 mg. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 558) bahwa jenis antihipertensi yang digunakan pada hipertensi kronik ialah nifedipine dengan dosis bervariasi antara 30 mg – 90 mg perhari.
Dari hasil pemeriksaan tinggi fundus uteri 27 cm, maka taksiran berat badan janin 2170 gram dengan menggunakan teori Johnson dan Toshach (1954) yaitu : W (gram) = (tinggi fundus uteri – station) x 155. Untuk station minus = 13, untuk station nol = 12, dan untuk station plus = 11 (Manuaba, 2010 : 100).
Pada pemeriksaan laboratorium, haemoglobin ibu diperiksa menggunakan metode Sahli dengan hasil Hb ibu 10,0 g/dl. Batasan nilai Hb normal pada ibu hamil pada trimester ke tiga menurut Saifuddin (2010 : 776) adalah 11,0 g/dl. Sehingga ibu dinyatakan anemia.
Maka penulis memberikan tablet Fe dengan dosis 2 x 60 mg bertujuan untuk mengatasi anemia dalam kehamilan. Hal ini merujuk kepada teori Cunningham (2006 : 193) bawa kebutuhan besi pada kehamilan normal sekitar 1000 mg. sekitar 300 mg secara aktif ditransfer ke janin dan plasenta dan sekitar 200 mg hilang sepanjang berbagai jalur ekskresi normal. Dengan pemberian tablet Fe secara teratur, diharapkan haemoglobin ibu bisa naik 1 gram dalam 1 bulan, sehingga mencapai Hb menjadi normal, terutama pada saat persalinan (Saifuddin, 2006).
Pada kunjungan ini Ibu mengatakan kurang nafsu makan, dan frekuensi makan 3 kali dengan porsi sedikit, sesuai dengan keadaan ekonomi keluarganya. Sehingga masalah yang ditemukan adalah asupan nutrisi tidak adekuat. Ini memicu terjadinya anemia defisiensi besi pada Ny. A. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa anemia defisiensi besi disebabkan kurangnya asupan besi dalam gizi (Tarwoto, 2007). Tindakan yang dilakukan penulis adalah memberikan informasi tentang anemia pada masa kehamilan , dan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 777) penyebab mendasar anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoietik.
Penatalaksanaan yang diberikan lainnya adalah memberikan kalsium 3 x 500 mg kepada ibu. Hal ini sesuai dengan teori Varney bahwa kebutuhan kalsium selama kehamilan dan menyusui adalah 1200 mg perhari. Dan Winkjosastro (2002 : 99) mengatakan bahwa janin membutuhkan 30 – 40 gram kalsium untuk pembentukkan tulang-tulangnya dan ini terjadi terutama dalam trimester terakhir. Sedangkan Saifuddin (2010 : 542)mengatakan bahwa pemberian kalsium 1.500 mg – 2.000 mg / hari dapat dipakai sebagai suplemen pada resiko tinggi terjadinya pre-eklampsia.
Diagnose potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed tidak terjadi pada Ny. A. Hasil pemeriksaan didapat protein urine negative, tidak ada gangguan penglihatan, tidak ada sakit kepala yang hebat, maka dapat disimpulkan bahwa ibu tidak mengalami tanda-tanda perburukan dari hipertensinya kearah terjadinya pre-eklampsia, hal ini sesuai teori yang dikemukakan Cuningham (2006 : 1362) yaitu , kriteria yang menunjang diagnosis pre-eklampsia superimposed termasuk nyeri kepala hebat dan gangguan penglihatan, edema patologis generalisata, oliguria dan tentunya kejang atau edema paru.
Penatalaksanaan lain yang diberikan yaitu memberitahu ibu cara meminum obat yaitu dengan menggunakan air putih, bahwa menurut Tarwoto (2007) penyerapan zat besi dipengaruhi oleh faktor adanya protein hewani dan vitamin C, sedangkan yang menghambat serapan adalah kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, karena bersifat mengikat zat besi. Varney (2002:120) mengatakan bahwa teh, kopi dan susu akan mengurangi absorpsi zat besi nonhem.
Pada kujungan antenatal yang kedua, ibu masih mengeluh pusing tetapi sudah berkurang, tekanan darah terjadi penurunan pada sistolik dan diastolic, dari 170/110 mmHg menjadi 140/100 mmHg. Penurunan sistolik ini dimungkinkan dengan pemakaian nifedipin sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian oleh Smith dkk tahun 2000 yang dikutip oleh Cuningham (2006 : 1360) bahwa nifedipine adalah obat yang efektif untuk mengobati hipertensi berat pada kehamilan atau untuk persalinan preterm. Smith mengulas pemakaian nifedipine untuk mengobati hipertensi atau untuk tokolisis pada kehamilan. Pada kasus Ny. A, nifedipine membantu menurunkan resiko terjadinya pre-eklampsi superimposed dan persalinan preterm .
Pada kunjungan ini pula ibu mengatakan kurang nafsu makan, sehingga frekuensi makan 3 kali sehari dalam porsi sedikit. Maka penulis melakukan penyuluhan tentang gizi dalam masa kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 453) mengatakan bahwa pencegahan anemia adalah dengan menasehatkan wanita itu untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.
Penatalaksanaan berikutnya adalah memeriksa kesejahteraan janin, DJJ 140 x/menit teratur, taksiran berat janin naik dari 2170 gram pada ANC I menjadi 2480 gram pada ANC II kehamilan 34 minggu. Dengan demikian tidak terjadi hambatan dalam pertumbuhan janin, hal ini tidak sesuai dengan meta-analisis yang dilakukan oleh Von Dadelszen dkk (2000) dalam buku Obstetric Williams (volume 2 tahun 2006 : 1356) yang menyimpulkan bahwa penurunan rata-rata tekanan arteri yang disebabkan oleh terapi berkaitan secara bermakna dengan penurunan insiden bayi kecil untuk masa kehamilan.
Pada kunjungan ANC III, ibu mengatakan tanggal 29 Agustus 2010 ibu mengeluh pergerakan bayinya kurang dan merasa demam sejak 3 hari sebelumnya, DJJ 114 x/menit. Lalu ibu dibawa ke RSUT dengan O2 terpasang. Ibu pulang tanggal 31 Agustus 2010 dengan diagnosa ISPA. Telah di kolaborasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam oleh pihak RSUT dengan diberikan terapi : Nifedipine 10 mg dosis 3 x 1 tablet, Tablet Fe dosis 2 x 1 tablet, Kalsium 3 x 500 mg. Dalam hal ini salah satu fungsi dari pelayanan kesehatan maternal dan neonatal tingkat I telah tercapai yaitu mengatasi komplikasi jika terjadi sehingga tidak berkembang menjadi komplikasi yang membahayakan jiwa ibu Saifuddin, 2010 : 64).
Pada kunjungan ini dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah yang stabil 140 / 100 mmHg, kunjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, palpebra tidak odema, tidak ada gangguan penglihatan, tidak ada sakit pada ulu hati, ektremitas atas / bawah : odema – / -. DJJ (+) frekuensi 132 x/menit, kuat dan teratur, ibu mengatakan masih merasakan gerakan janinnya lebih dari 20 kali. Tindakan berikutnya adalah menjelaskan rencana persalinan diantaranya membuat rencana tempat persalinan, rencana pembuat keputusan, mempersiapkan rencana transportasi jika terjadi kegawat daruratan, mempersiapkan dana yang dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 :31) bahwa rujukan terencana adalah menyiapkan dan merencanakan rujukan ke rumah sakit jauh-jauh hari bagi ibu resiko tinggi / risti. Rujukan terencana berhasil menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir, pra-tindakan tidak membutuhkan stabilisasi, penanganan dengan prosedur standar, alat, obat generic, dengan biaya murah terkendali. Sedangkan menurut Wiknjosastro (2007) bahwa tanda – tanda permulaan persalinan secara sederhana harus diberitahukan kepada ibu hamil. Ibu dan suami sebagai pembuat keputusan merencanakan persalinannya dirumah sakit umum Tangerang, dengan transportasi dan dana yang telah dipersiapkan, yaitu memakai kartu jamkeskin yang dipunyai oleh ibu.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb ibu naik menjadi 11,6 gr %. Sesuai dengan teori yang dikemukakan Saifuddin (2010 : 776) batasan nilai Hb normal pada ibu hamil pada trimester ke tiga adalah 11,0 g/dl. Maka dapat disimpulkan bahwa Ny. A tidak lagi mengalami anemia pada kehamilannya. Penatalaksanaannya penulis tetap memberikan tablet besi dengan dosis 1 x 60 mg sebagai pencegahan terhadap anemia, hal ini sesuai dengan anjuran WHO untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebututuhan fisiologik selama kehamilan (Saifuddin, 2010).

4.2.INTRANATAL
Senin, 11 Oktober 2010 Pukul 09.00 WIB Ibu mengatakan belum merasakan tanda-tanda persalinan, Ibu mengaku hamil ke-4 dengan usia kehamilan mendekati 10 bulan, Ibu mengatakan kakinya bengkak, kedua tangannya terasa kaku sejak 1 minggu yang lalu dan sering merasa sedikit sesak bila beraktivitas, sering sakit kepala. Muka terdapat odema (terlihat sembab), ekstrimitas atas dan bawah : odema +/+, tekanan darah : 170 / 100 mmHg, TP : 05 Oktober 2010. Dalam hal ini Ny. A mengalami perburukan dari hipertensi kroniknya, hal ini sesuai dengan teori Cunningham (2006 : 1362 bahwa pada wanita dengan hipertensi kronik nonkomplikata, kriteria yang menunjang diagnosis pre-eklampsia superimposed mencakup, terjadinya proteinuria, gejala neurologis, termasuk nyeri kepala hebat dan gangguan penglihatan, edema patologis generalisata, oliguria dan tentunya kejang atau edema paru. Menurut Varney (2007 : 648) mengatakan bahwa tekanan darah wanita mungkin hanya meningkat sedikit, atau mungkin hanya terjadi edema pada tangan dan wajah tidak cukup untuk menegakkan diagnosis tetapi mengindikasikan retensi natrium, dan ini memerlukan observasi ketat.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Hb ibu naik dari 11,6 gr % menjadi 12,1 gr %. Menurut Varney, meningkatnya Hb di interpretasikan sebagai terjadinya hemokonsentrasi yang menandakan adanya perpindahan cairan dari intraselular dan menyebabkan edema (2007 : 647).
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah merujuk Ibu ke RSU Tangerang dan dirawat diruangan bersalin, lalu berkolaborasi dengan dokter Obsgyn. Hasil kolaborasi dilakukan penatalaksanaan prosedur PEB dengan Mg SO4 per intra vena dengan dosis tunggal 4 gr , Nifedipine 1 tablet 10 mg per oral dan 1 tab 10 mg per sublingual. Hal ini sesuai dengan teori JHPIEGO (2002 : M-37) bahwa penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan tanpa disertai proteinuria, jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai pre-eklampsia ringan. Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang
Anjuran dokter team Obsgyn pasien dipersiapkan untuk dilakukan tindakan section caesaria atas indikasi : ibu riwayat infertile ≥ 12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, tekanan darah 170 / 100 mmHg, umur kehamilan 41 minggu (per-USG) , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang. Hal ini sesuai dengan teori JHPIEGO (2002 : M-38) bahwa penanganan kehamilan lebih dari 37 minggu jika servik belum matang, dilakukan pematangan servik dengan prostaglandin atau kateter foley atau dilakukan seksio sesaria.
Penatalaksanaan yang dilakukan oleh penulis adalah mempersiapkan mental ibu menghadapi tindakan SC, melakukan persiapan operasi yaitu memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang operasi yang akan dilaksanakan, mempersiapkan izin operasi yang ditanda tangani oleh keluarganya. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 446) bahwa persiapan operasi kebidanan meliputi persiapan mental penderita dan persiapan fisik penderita. Sedangkan menurut teori Saifuddin (2010 : 46) bahwa hal tersebut dapat mengurangi kecemasan mereka dan menyiapkan mereka terhadap apa yang akan terjadi kemudian.
Proses seksio sesaria berjalan lancar selama 1 jam tanpa ada komplikasi, luka post operasi dijahit secara subcuticular dengan benang cat gut. Pada observasi kala IV post seksio sesaria Ibu mengatakan masih merasa takut dan cemas dengan tindakan seksio caesaria yang telah dilaluinya dan Ibu mulai merasa nyeri pada luka bekas operasi. Hal ini sesuai dengan Saifuddin (2010 : 860) bahwa adanya ketakutan dan suasana yang tidak bersahabat akan meningkatkan ketegangan dan rasa nyeri.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah ibu turun naik pada 2 jam pertama pasca operasi, yaitu pukul Pukul 18.15 WIB tekanan darah 150 / 90 mmHg, Pukul 18.30 WIB tekanan darah 170 / 100 mmHg, Pukul 20.00 WIB tekanan darah 150 / 90 mmHg. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2010 : 559) bahwa setelah persalinan 6 jam pertama resistensi (tahanan) perifer meningkat, akibatnya, terjadi peningkatan kerja ventrikel kiri (left ventricular work load).
Pukul 18.15 WIB pada kala IV penatalaksanaan yang penulis lakukan adalah mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan, serta output cairan. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin (2002) bahwa segera setelah selesai pembedahan periksa kondisi pasien : cek tanda vital dan suhu tubuh setiap 15 menit selama jam pertama, kemudian tiap 30 menit pada jam selanjutnya.. Selain itu, menurut Varney (2007) menyatakan bahwa rencana asuhan pada kala IV yaitu memantau, tekanan darah, nadi, tinggi fundus uteri, kandung kemih dan kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua post partum.

4.3.POST NATAL
Pada kunjungan nifas Ny. A, dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada 6 jam post partum, hari ke 6 nifas, dan minggu ke 6 setelah melahirkan. Hal ini sesuai dengan saifuddin (2006) bahwa penatalaksanaan kunjungan masa nifas pasca persalinan normal dilakukan paling sedikit 3 kali kunjungan yaitu pada 6 jam, 6 hari dan 6 minggu, dan menurut Saifuddin (2002), kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Pada 6 jam post partum didapatkan Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan ibu mengatakan merasa sakit pada bekas luka operasi. Keluhan ini sesuai dengan teori Johnson (2005 : 364) bahwa secara psikologis, pemulihan merupakan waktu kelegaan dan kesukacitaan akan kehadiran bayi, tetapi dapat dinodai oleh nyeri, imobilitas yang terjadi secara perlahan.
Penatalaksanaan penulis pasca operatif adalah mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan, serta output cairan. Menurut Johnson (2005 : 363) pada awalnya observasi tanda-tanda vital seperti nadi, tekanan darah dan pernafasan dilakukan setiap 5 menit, berikutnya bila kondisi tetap dalam batas normal, frekuensi observasi dapat dijarangkan menjadi setiap 15 menit, 30 menit dan lain-lain.
Pada pemeriksaan fisik lainnya, didapatkan kontraksi uterus baik, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, uterus globular, konsistensi keras, kandung kemih kosong, pengeluaran pervaginam : lochea rubra, warna merah tua, konsistensi cair banyaknya 50 cc, bau amis khas darah, terdapat luka jahitan pada perineum masih basah. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 201) bahwa uterus yang telah menyelesaikan tugasnya akan menjadi keras karena kontraksinya, lokia rubra keluar berwarna merah dan hitam yang terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa meconium, sisa darah. Hanifa (2002 : 237) bahwa setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat; segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri ± 2 jari bawah pusat.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah mengobservasi keadaan umum ibu,kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, dan perdarahan. Dalam hal ini ibu melewati masa 6 jam post partum tidak ada kelainan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Manuaba (2010 : 202) bahwa salah satu perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan berupa : pemeriksaan khusus yaitu fisik (tekanan darah, nadi dan suhu), fundus uteri ( tinggi fundus uteri, kontraksi uterus), payudara (putting susu, pembengkakkan payudara, pengeluaran ASI), patrun lokia (lokia rubra, lokia sanguilenta), luka jahitan episiotomy ( ada tanda infeksi atau tidak).
Penatalaksanaan selanjutnya adalah memberikan penyuluhan tentang bahaya nifas seperti panas tinggi, payudara bengkak, pengecilan rahim terganggu, perdarahan banyak setelah 12 jam persalinan, lochea berbau tidak seperti biasanya. Seperti yang diteorikan oleh Varney (2007) bahwa tanda dan gejala infeksi nifas diantaranya suhu tubuh meningkat, malaise umum, nyeri, lochea berbau tidak sedap.
Anjuran yang diberikan kepada Ny. P adalah menganjurkan ibu untuk mobilisasi sedini mungkin karena dapat membantu mempercepat penyembuhan pada ibu nifas. Manuaba (2010 : 201) mengatakan bahwa perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan, meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
Asuhan sayang ibu yang dilaksanakan adalah melakukan rawat gabung dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI sedini mungkin. Sesuai dengan teori manfaat rawat gabung menurut Saifuddin (2010 : 386) bahwa dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya. Menurut Manuaba (2010 :223) dengan pemberian ASI dapat mempercepat terjadi involusi uteri, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan jiwa bayi sebagai titik awal kualitas sumber daya manusia.
Penatalaksanaan selanjutnya adalah menganjurkan ibu untuk cukup istirahat dan makan makanan bergizi seperti nasi, tahu, tempe, telur, daging, sayuran, buah-buahan dan minum susu, serta tidak ada pantangan. Hal ini sesuai dengan teori Winkjosastro (2002 : 242) bahwa diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, mengandung cukup protein, cairan, serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi. Hal ini juga sesuai dengan teori Bahiyatun (2009 : 110) bahwa kurang istirahat mempengaruhi ibu dalam beberapa hal (mengurangi produksi ASI, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri).
Pada kunjungan Nifas hari ke 6, tanggal 06 September 2010, pukul 15.00 WIB, didapatkan tinggi fundus uteri pertengahan pusat – simpisis, uterus globular, konsistensi keras, diastasis (-), vuva vagina tidak ada kelainan, luka jahitan perineum kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi, pengeluran pervaginam lochea sanguelenta, kandung kemih kosong. Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2010 : 200) bahwa tinggi fundus uteri pada hari ke 7 setinggi pertengahan pusat – simfisis, lokia sanguinolenta keluar dari haid hari ke-3 sampai 7 hari berwarna putih bercampur merah.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, didapatkan Hb 10,3 gr%, ibu mengalami anemia pada masa nifas. Hal ini sesuai dengan teori Cuningham (2006 : 193) bahwa rata-rata kehilangan darah yang dikaitkan dengan seksio sesaria adalah sekitar 1000 ml, atau hampir dua kali lipat dari kehilangan pada kelahiran tunggal pervaginam. Sehingga anemia yang dialami ibu adalah karena perdarahan pada saat dilakukan tindakan seksio sesaria. Penatalaksanaan yang diberikan adalah memberikan tablet Fe 1 x 1 dan memberikan informasi tentang kebutuhan gizi pada masa nifas.
Pada kunjungan 6 hari post partum ini, tekanan darah 120/80 mmHg. Penyuluhan yang diberikan adalah prakarsa KB tentang macam-macam alat kontrasepsi. Hal ini sesuai dengan teori menurut Saifuddin (2006) bahwa salah satu tujuan dari kunjungan pada masa nifas adalah memprakarsai penggunaan alat kontrasepsi. Menurut Henderson, dkk, (2006) , pemilihan kontrasepsi harus sudah dipertimbangkan pada masa nifas. Saifuddin (2003 : U4-U5) mengatakan pemantapan pemilihan kontrasepsi harus sesuai dengan kebutuhan klien serta kondisi kesehatannya.
Pada kunjungan ini , ibu mengeluh kedua payudaranya terasa tegang dan bengkak, ibu mengatakan bayinya sering menangis, ibu mengaku menyusui bayinya kurang dari 10 menit tiap payudara. Dalam hal ini ibu mengalami bendungan payudara. Hal ini sesuai dengan teori Johnson (2005 : 296) bahwa Bila bayi disusui dengan benar ASI akan keluar dengan baik, sehingga tidak terjadi pembengkakkan dan ASI mencukupi kebutuhan bayi. Menurut teori Lawrence (2004), sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya, sehingga bayi menerima asupan ASI secara seimbang.Susui bayi lebih sering tanpa dijadwal, paling sedikit 8 kali dalam 24 jam, masing-masing payudara 10 – 15 menit.
Hal ini sesuai teori Bahiyatun (2009 : 29) bahwa ASI eksklusif diberikan sejak umur 0 hari sampai 6 bulan. Safrudin dan Hamidah (halaman 126) bahwa ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan, termasuk kecerdasan bayi.
Selain itu ibu mengatakan kurang tidur karena bayinya sering menangis terutama pada malam hari. Dalam hal ini kebutuhan akan istirahat / tidur pada masa nifas tidak terpenuhi. Menurut Tri Budiati ( FIK UI, 2009) keletihan dan kurang relaksnya ibu juga dapat mempengaruhi produksi ASI.
Ibu juga mengatakan sering merasa pusing, pada pemeriksaan tekanan darah 120/80 mmHg, pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10,3 gr%. Dalam hal ini ibu menderita anemia pada masa nifas. Hal ini sesuai dengan teori Debra Bick dalam buku Post Natal Care, Evidence And Guidelines For Management (2004 : 156), bahwa anemia dapat menyebabkan kelelahan pada masa nifas, dan menimbulkan keluhan lemas, pusing, sesak nafas, sakit kepala, dan gemetar pada jari jemari tangan atau kaki.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah memberikan tablet Fe 1 x 60 mg sehari sampai 40 hari post partum, sesuai dengan teori pada Medskills website (http://www.medskills.eu/index.php) bahwa jika nilai haemoglobin antara 7 – 11 g%, berikan ferrous sulfate atau ferrous fumerate 60 mg peroral. Hal ini juga sesuai dengan teori dr. Little (NATIONAL ANEMIA ACTION CAUNCIL, http://www.anemia.org/patients/faq/) bahwa terapi dosis besi (50-60 mg besi elemental oral dua kali sehari) meningkatkan kadar hemoglobin dengan 0,7-1,0 g / dL per minggu.
Pada kunjungan 6 minggu masa nifas, didapatkan tekanan darah ibu 140 / 90 mmHg, odema pada ekstremitas tidak ada, tidak ada keluhan sakit kepala, nyeri epigastrium. Sesuai dengan klasifikasi hipertensi dalamkehamilan yang dipakai di Indonesia berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 200, yang menjelelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (Saifuddin, 2010 : 531). Dalam hal ini pada kasus Ny. P , hipertensi masih menetap hingga 6 minggu post partum dan dalam keadaan stabil.
Pada kunjungan 6 minggu post partum ini, Ny. P mengatakan ingin menggunakan kontrasepsi IUD. Menurut Saifuddin (2003 : MK-74, MK-75) yang dapat menggunakan kontrasepsi IUD adalah akseptor yang menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, mempunyai tekanan darah tinggi dan sedang menyusui. Dalam hal ini pilihan metode kontrasepsi yang dipilih oleh ibu sudah tepat, sesuai dengan kebutuhan ibu yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, ibu menyusui bayinya secara eksklusif dan keadaan kesehatan ibu yang mempunyai riwayat hipertensi kronik.
Penatalaksanaan lainnya adalah memberikan konseling pra pemasangan dan pasca pemasangan kontrasepsi IUD, hal ini menurut Saifuddin (2003 : PK-4) dapat membantu klien tenang dan memudahkan pemasangan serta mengurangi rasa sakit.
Penatalaksanaan asuhan yang diberikan yaitu memberitahu ibu bahwa ibu sudah boleh mulai melakukan hubungan seksual segera setelah dilakukan pemasangan IUD, hal ini sesuai dengan teori bahwa keuntungan pemakaian AKDR ialah AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan dan tidak mempengaruhi hubungan seksual (Saifuddin, 2003 : MK-73).

4.4.NEONATAL
Pada neonatal, kunjungan dilakukan bersamaan dengan kunjungan ibu pada masa nifas. Pada kunjungan bayi baru lahir didapatkan bayi Ny. A ; lahir tanggal 11 Oktober 2010 jam 17.05 WIB , dengan usia gestasi 41 minggu, jenis persalinan sectio caesaria atas indikasi ibu riwayat infertile ≥12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, ibu mempunyai riwayat hipertensi kronik, tekanan darah 170 / 100 mmHg dengan oedema anasarka, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang.
Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit kemerahan, jenis kelamin Laki-laki, Heart Rate : 120 x/mnt, suhu 36,6 0C, Pernafasan 40 x/menit.. Hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR (2008) bahwa tanda-tanda neonatus sehat adalah bayi cukup bulan, air ketuban jernih, langsung menangis, warna kulit kemerahan. Menurut Winkjosasatro (2002 : 256) bayi yang sehat tampak kemerahan, aktif, tonus otot baik, menangis keras, minum baik, suhu tubuh 36oC – 37oC.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah mengikat tali pusat bayi tanpa dibungkus atau diberi apapun. Perawatan tali pusat yang dilakukan sesuai dengan JNPK-KR (2008 : 130) bahwa jangan membungkus puntung tali pusat atau mengoleskan cairan/bahan apapun ke puntung tali pusat. Nenurut Cunningham (2006 : 436) tali pusat mongering lebih cepat dan lepas lebih mudah kalau terbuka, karena itu pembalutan tidak dianjurkan.
Penatalaksanaan selanjutnya adalah melakukan perawatan bayi baru lahir yaitu memberikan salep mata tetrasiklin 1 % pada kedua mata, hal ini sesuai dengan teori Sarwono Prawirohardjo (2002 : 32) bahwa obat mata erytromisin 0,5% tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena klamidia. Menurut JNPK-KR (2008) bahwa salep mata tersebut diberikan dalam waktu satu jam setelah kelahiran, upaya pencegahan infeksi mata semakin tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran.
Tindakan perawatan lainnya adalah memberikan suntikan vitamin K1 1 mg intramuskuler. Menurut Cunningham (2006 : 449) bahwa pemberian vitamin K kepada bayi segera setelah lahir diperlukan untuk mencegah kelainan perdarahan pada neonatus.
Pada kunjungan 6 jam, keadaan neonatus Ny. A baik, reflex hisap baik, BAB dan BAK normal. Hal ini sesuai dengan Cunningham (2005) yang menyatakan bahwa keluarnya meconium dan urine dalam beberapa menit segera setelah lahir atau pada jam berikutnya menunjukkan potensi saluran gastro intestinal dan perkemihan. Dari semua neonates, 90 % mengeluarkan meconium dalam 24 jam pertama, sebagian sisanya dalam 36 jam.
Pada kunjungan 6 jam neonatal bayi diberikan imunisasi HB0 Hal ini sesuai dengan pedoman pelaksanaan Imunisasi Depkes RI (2007) bahwa imunisasi Hepatitis B 0 diberikan saat bayi berumur 0 – 7 hari, sedangkan menurut JNPK-KR (2008) bahwa imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan ibu-bayi.
Penatalaksanaan yang lain adalah memandikan bayi setelah suhu tubuh stabil. Hal ini sesuai menurut Saifuddin (2008) bahwa hindari memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam dan hanya setelah itu jika tidak terdapat masalah medis dan jika suhunya 36,5 oC atau lebih.
Bayi Ny. A dirawat untuk sementara diruang bayi. Ibu dan bayi dirawat gabung setelah 24 jam pasca seksio sesaria diruangan nifas, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa rawat gabung adalah suatu cara perawatan bayi baru lahir yang ditempatkan dalam suatu ruangan bersama ibunya selama 24 jam penuh perharinya, sehingga bayi mudah dijangkau oleh ibunya (Ai yeyeh : 2010), sedangkan menurut Cunningham (2006 : 439) bahwa dengan rawat gabung, ibu dapat memimpin dirinya dan bayinya, mempraktekkan perawatan rutin. Suatu kelebihan yang nyata adalah meningkatnya kemampuan untuk merawat bayi secara keseluruhan saat ibu tiba dirumah sakit.
Pada kunjungan neonatal yang kedua, yaitu pada saat bayi berumur 6 hari, berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan bahwa bayi dalam keadaan baik, tanda-tanda vital normal dan tali pusat belum puput. Hal ini sesuai dengan teori yang tertulis bahwa tali pusat biasanya lepas dalam 5 – 16 hari (Johnson, 2005 : 276).
Pada kunjungan kedua ini terjadi penurunan berat badan bayi dari 3200 gram pada saat lahir menjadi 2600 gram, hal ini sesuai terjadi karena mungkin hanya sedikit menerima nutrient pada 3 atau 4 hari pertama kehidupannya dan pada waktu yang sama menghasilkan urine, feces dan keringat yang cukup banyak, ia secara progresif kehilangan berat badan sampai aliran ASI atau makanan lainnya telah tetap (Cunningham, 2006 : 437).
Penatalaksanaan yang diberikan adalah menganjurkan kepada ibu untuk memenuhi nutrisi bayi dengan memberikan ASI tanpa dibatasi waktu, dan menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan. Hal ini mengacu kepada teori Varney (200 : 290) bahwa bayi hanya memerlukan ASI untuk enam bulan pertama.
Pada kunjungan neonatal yang ketiga yaitu pada saat bayi berumur 6 minggu, didapatkan data berat badan bayi 5000 gram dengan teori yang menyatakan bahwa jika bayi minum ASInya baik, maka dalam 10 hari bisa mencapai berat badan saat seperti lahir, selanjutnya bayi bertambah ±25 gram sehari untuk bulan-bulan pertama dan pada bulan ke-4 akan naik 2 kali pada saat bayi lahir (Cunningham, 2006).
Dari hasil anamnesa yaitu bahwa bayi dalam keadaan baik dan sudah mendapatkan imunisasi BCG dan polio 1. Hal ini sesuai dengan teori bahwa jadwal imunisasi umur 0-7 hari 1 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 9 bulan Jenis Imunisasi Hepatitis B1 BCG Hepatitis B2, DPT1, Polio1 Hepatitis B3, DPT2, Polio2 DPT3, Polio3 Campak, Polio4 (Dinkes 2005:33).
Penatalaksanaan asuhan yang diberikan yaitu menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke posyandu untuk melakukan imunisasi Hb Combo 1 dan Polio II, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa jadwal pemberian imunisasi bayi pada usia 2 bulan adalah imunisasi Hb Combo 1 dan Polio II (Saifuddin : 2010).
Kunjungan neonatus yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan teori bahwa Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan. Untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas. Serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB. (Standar pelayanan kebidanan, IBI, 2000)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh dalam rahim ibu (Depekes RI, 2002).Masa kehamilan dari konsepsi dan berakhir sampir lahirnya janin Saifuddin (2006:89).
2.1.2 Lamanya Kehamilan
Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga bayi lahir, kehamilan nomal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, rimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Saifuddin, 2010 : 213).
2.1.3 Fisiologi Kehamilan
Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur ditangkap umbai-umbai dan masuk ke dalam saluran telur waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta juta sel mani bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur.
Di sekitar sel telur, banyak terkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur, peristiwa ini disebut konsepsi.
Ovum yang telah dibuahi, segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba), menuju ruang rahim kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang rahim. Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kira-kira 6 – 7 hari, untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin, dipersiapkan plasenta. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum, sperma, konsepsi, nidasi, dan plasentasi. (Sarwono Prawirohardjo, 2008)
2.1.4. Menghitung Umur Kehamilan
2.1.4.1. Mempergunakan Rumus Neagle
Rumus Neagle menggunakan usia kehamilan yang berlangsung selama 288 hari. Perkiraan kelahiran dihitung dengan menentukan hari pertama haid terakhir yang kemudian ditambah 288 hari (Manuaba, 2010 : 100). sehingga perkiraan kelahiran dapat ditetapkan. Rumus Neagle dapat dihitung dari haid pertama ditambah 7 dan bulannya ditambah 9.
Contoh : Hari pertama tanggal 15 Januari 1993, maka perhitungan perkiraan kelahiran adalah 15 + 7 = 22,1 + 9 = 10, sehingga dugaan persalinan tanggal 22 oktober 1993 Manuaba (1998, 120), rumus neagle yang digunakan juga dapat dikethaui dengan menggunakan : hari + 7, bulan – 3, dan tahun +1
Contoh : HPHT : 4 – 05 – 2009 taksiran persalinan : 4 + 7, 05 – 3, 2009 + 1
Tp : 11 – 02 – 2010 (Hanifa, 2005 : 155)

2..4.2.Gerakan janin
Pada kehamilan pertama, gerakan janin mulai terasa sesudah usia kehamilan 18-20 minggu, pada kehamilan kedua dan seterusnya gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16-18 minggu. Memasuki trimester ketiga usia kehamilan gerakan janin akan semakin kuat dan sering. Namun tak jarang janin justru kurang aktif gerak. Perkiraan ini dilakukan bila ibu lupa hari pertama haid terakhir. (Manuaba, 2001)
2..4.3.Tinggi puncak rahim
Untuk mengikuti pertumbuhan anak dengan cara mengikuti pertumbuhan rahim, maka sekarang sering ukuran rahim ditentukan dengan centimeter. Yang diukur adalah tinggi fundus uteri. Hubungan antara tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan kira-kira sebagai berikut (Mochtar, 2004) :
Tinggi fundus uteri dalam centimeter
=
Tuanya kehamilan dalam bulan
3,5 centimeter

Selain itu menghitung usia kehamilan dapat digunakan juga tinggi fundus uteri dalam satuan centimeter yaitu :
Usia kehamilan 20 minggu, tinggi fundus uteri 20 cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 22-27 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 28 minggu, tinggi fudus uteri 28 cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 29 – 35 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm).
Usia kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri 36 cm (± 2 cm) (Saifuddin, 2008).
2.4.4.Penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi.
Bila ragu-ragu dapat berkonsultasi untuk menetapkan perkiraan persalinan. Dengan menentukan usia kehamilan melalui ultrasonografi, dapat diketahui :
Diameter kantong gestasi.
Jarak kepala – bokong.
Jarak tulang biparetal.
Lingkaran perut.
Panjang tulang femur.
Metode ini memerlukan pengetahuan teoritis dan keterampilan khusus (Manuaba, 2010 : 1010).
Waktu untuk pemeriksaan USG pada trimester II pada usia kehamilan 18-22 minggu. Pada usia kehamilan ini sangat baik untuk dilakukan pemeriksaan USG karena perbandingan yang ideal antara ukuran janin dan jumlah cairan amnion memberikan gambaran pemeriksaan yang lebih jelas.
Pada usia kehamilan ini dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kehamilan janin. Tak kalah penting dalam pemeriksaan adalah juga mengetahui ada/tidaknya kelainan congenital pada janin seperti adanya down syndrome (trisomi 18,21).

2.1.5 Perubahan Fisiologis Wanita Hamil
2.1.5.1 Uterus
Ukuran : Untuk akomodasi pertumbuhan janin, rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut-serabut kolagenya menjadi higroskopis. Endometrium menjadi desidua. Ukuran pada kehamilan cukup bulan: 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc.
Berat : Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 pekan).
Bentuk dan konsistensi : Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk rahim seperti alpukat, pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat, dan akhir kehamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, istmus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian­bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim.
2.1.5.2 Vagina (Liang Senggama)
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwicks).

2.1.5.3 Ovarium atau Indung Telur
Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung Korpus Luteum Gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur kehamilan 16 minggu.
2.1.5.4 Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi yang dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, somatomammotropin, yaitu fungsinya untuk :
1.Hormon estrogen berfungsi :
Menimbulkan hypertropy sistem saluran payudara.
Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.
Tekanan serta syaraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.
2.Hormon progesteron berfungsi :
Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.
Menambah jumlah sel asinus.
3.Hormon somatomammotropin berfungsi :
Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein laktalbumin dan laktoglobulin.
Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.
Merangsang pengeluaran colostrum pada kehamilan.

2.1.5.5 Sirkulasi Darah Ibu
Peredaran darah ibu dipengaruh oleh beberapa faktor, antara lain :
1.Meningkatkan kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
2.Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
3.Pengaruh homan estrogen dan progesteron semakin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut di atas, dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, yaitu :
1.Volume darah
2.Sel darah
3.Sistem respirasi
4.Sistem pencernaan
5.Traktus urinarius
6.Perubahan pada kulit
7.Metabolisme (Manuaba, 2001)
2.1.6 Kebutuhan Zat Besi dan Kalsium
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sekitar 30-40 mg. Pada ibu hamil kebutuhan zat besi FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) perhari mininal 90 tablet. Dimulai dengan memberikan I tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hlang. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama the atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan Fe. Vitamin C meningkatkan resorbsi zat besi terdapat dalam buah-buahan segar, Vitamin C 25 mg meningkatkan resorbsi zat besi 2 kali, dan Vitamin C 500 mg meningkatkan zat besi 6 kali, selain itu hindari makan buah-buahan yang pengolahannya dapat menghilangkan Vitamin C (Saifuddin, 2002). Kebutuhan wanita hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah (Arisman, 2007). Kebutuhan kalsium untuk ibu hamil 1500 mg setiap hari yang manfaatnya untuk membangun dan menjaga kekuatan tulang dan gigi, untuk pembekuan darah, kontraksi otot, transmisi syaraf, tanpa kalsium otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku dan syaraf tidak bisa membawa pesan. (Varney, 2002)
2.1.7 Tanda Bahaya pada Ibu Hamil
Tanda-tanda bahaya ini jika tidak dilaporkan atau terdeteksi dapat menyebabkan kematian ibu. Pada setiap kunjungan antenatal, bidan harus mengajarkan kepada ibu bagaimana mengenai tanda-tanda bahaya ini dan mendorong untuk datang ke klinik segera jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut.
6 (enam) tanda-tanda bahaya selama periode antenatal yaitu perdarahan -vervaginam, sakit kepala yang hebat dan menetap yang tidak hilang, pandangan kabur, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka atau tangan, byi kurang bergerak seperti biasa. (JHPIEGO, 2003 : 88).

2.2.Anemia
2.2.1.Pengertian
Anemia adalah suatu kondisi ibu dengan kadar Hb di bawah 11 gr % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10,5 gr % pada trimester II. (Saifuddin 2006).
2.2.2.Patofisiologi
Zat besi masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Salah satu penyebab terjadinya anemia gizi besi adalah akibat ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan zat besi yang berasal dari makanan belum tentu menjamin kebutuhan tubuh akan zat besi yang memadai, karena jumlah zat besi yang diabsorbsi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumber zat besi, ada atau tidaknya zat penghambat seperti kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, atau yang meningkatkan absorbsi besi dalam tubuh seperti protein hewani dan vitamin C. Besi ferri dari makanan akan menjadi ferro jika dalam keadaan asam dan bersifat mereduksi sehingga mudah diabsorbsi oleh mukosa usus. Zat besi yang berasal dari makanan seperti daging, hati, telur, sayuran hijau dan buah-buahan diabsorbsi di usus halus. Rata-rata dari makanan yang masuk mengandung 10-15 mg zat besi tetapi hanya 5-10 % yang dapat diabsorbsi. Menurunnya asupan zat besi yang merupakan unsur utama pembentukan hemoglobin maka kadar/produksi hemoglobin juga akan menurun (Tarwoto, 2007).

2.2.4.Penyebab Anemia
a.Adanya peningkatan kebutuhan zat-zat makanan yang tidak tercukupi.
b.Obat-obatan.
c.Defisiensi zat besi.
d.Kehamilan yang disertai penyakit malaria, TBC dan cacingan.
e.Faktor Predisposisi :
Sosial budaya dan ekonomi yang rendah.
Pendidikan yang rendah.
Tingkat penyerapan zat besi yang tidak sempurna.
2.2.5.Klasifikasi Anemia
1.Anemia : Hb kurang dari 11 gr%
2.Anemia berat : Hb kurang dari 8 gr%
2.2.6.Gejala Anemia
1.Gejala subjektif
a.Cepat lelah
b.Sering pusing
c.Penglihatan berkurang
d.Mual, muntah yang hebat pada hamil muda
2.Gejala objektif
a.Hb kurang dari 11 gr%
b.Konjungtiva pucat
c.Lidah, bibir, telapak tangan dan kuku tampak pucat
d.Tekanan darah relatif rendah
e.Keadaan umum lemah
2.2.7.Pengaruh Anemia pada Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin
1.Pada kehamilan
a.Dapat terjadi abortus (2) Partus premature
b.Perdarahan ante partum
c.Pertumbuhan janin terhambat dalam rahim
d.Decompensasi cordis bila Hb kurang dari 8 gr%
e.Mudah terjadi infeksi
f.Molahydatidosa
g.Hyperemesis gravidarum
h.Ketuban pecah dini
2.Pengaruh pada persalinan
a. Gangguan his dan kekuatan mengedan
b. Kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
c. Kala II berlangsung lama sehingga menimbulkan kelelahan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan (4) Kala III dapat terjadi retensi placenta
d. Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri
3.Pengaruh pada masa nifas
a. ASI berkurang
b. Inteksi puerperium
c. Sub involusi uteri sehinga menimbulkan perdarahan post partum.
d. Terjadi decompensasi cordis mendadak setelah melahirkan
e. Angka kematian meningkat
4.Pengaruh terhadap janin
a.Persalinan prematur meningkat
b.Abortus, kematian intra uteri
c.Mengurangi kemampuan metabolisme tubuh
d.Berat badan lahir rendah
e.Mudah terkena infeksi
f.Cacat bawaan
g.Intelejensi rendah
2.2.8.Jenis Anemia dalam Kehamilan
Menurut Hanifa Wiknjosastro dalam buku Ilmu Kebidanan, berdasarkan penyelidikan di Jakarta, jenis anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :
a.Anemia defisiensi besi : 62,3%
b.Anemia megaloblastik : 28,0%
c.Anemia hipoplastik : 8,0%
d.Anemia hemolotik : 0,7%
1.Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur,besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.
2.Anemia megaloblastik (28,0%)
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pterylglumatic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).
Berbeda di Eropa dan Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup tinggi di Asia seperti India, Malaysia dan di Indonesia. Hal itu erat hubungannya dengan defisiensi makanan.
3.Anemia hipoplastik (8,0%)
Anemia pada wanita yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Darah tepi menunjukan gambaran normositer dan normokrom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi, asam folik, atau vitamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithtropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit : eritrosit yang di luar kehamilan 5: 1 dalam kehamilan 3. : 1 atau 2: 1, berubah menjadi 10 : I atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.
4.Anemia hemolitik (0,7 %)
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.
Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan besar, yakni :
1.Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalassemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I dan paroxysmal noctumal haemoglobinuria.
2.Golongan yang disebabkan oleh fak-tor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dan sebagainya), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinim, paraquin, pinaquin, nitrofurantion (furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6 phosphate-deehydrogenase), antagonismus rhesus, atau ABO, leukimia penyakit Hodgkin, limfosarkoma, penyakit hati dan lain-lain.
2.2.9.Penanganan Anemia
Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat atau na­fero bisitrat.
Pemberian preparat 60 mg/hari selama 90 hari dapat menaikkan HB sebanyak 1 gram%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat. dan Pemberian kalori 300,kalori/hari cukup mencegah anemia (Saifuddin, 2002).
Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50° gram asam folat untuk profilaksis anemia. Pemberian preparat yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus dapat meningkatkan HB relatif lebih cepat yaitu 2 gram%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/IM dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis (Saifuddin, 2008).
Bila diagnosis anemia defisiensi zat besi dibuat maka diberikan suplementasi zat besi 60-120 mg dalam penambahan vitamin multipel (Linda V Walsh, 2008, 412).
Ibu dengan anemia juga dianjurkan untuk makan makanan yang banyak mengandung zat besi yang baik meliputi daging merah, telur, jenis sayuran (seperti bayam ) dan sereal. (Jordan, 2003, 272)
2.2.10.Kebutuhan zat besi pada kehamilan dengan janin tunggal
200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sampai dengan darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan ekstemal, 30-170 untuk tali pusat pada placenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan. Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580-1340 mg (Sue Jordan, 2004)
2.2.11.Perbandingan Antara Pelbagai Zat Besi
Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 30% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan olch tubuh adalah 20% dan takar untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 300 mg; Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 33% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Fero, Glukonas yang dibutuhkan ol–h tubuh adalah 11,6% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 600 mg.
Usus hanya mampu menyerap 40-60 mg perhari bahkan pada penderita anemia yang paling berat sekalipun dosis yang paling tinggi hanya meningkatkan efek samping gastrointestinal, yaitu mual, muntah, dan kram lambung, sehingga minum tablet besi pada saat makan atau segera setelah makan dapat mengurangi gejala mual (Sue Jordan, 2004).
2.2.12.Pencegahan
Sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus, cukup 1 tablet satu hari. Selain itu nasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur­sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

2.3.Ante Natal Care
2.3.1.Pengertian
Asuhan yang diberikan kepada ibu hamil yang lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Saifuddin, 2002).
2.3.2.Tujuan Ante Natal Care
Tujuan dilakukannya antenatal care yaitu :
1.Mendeteksi faktor resiko sedini mungkin dan penanggulangannya.
2.Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
3.Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
4.Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
5.Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
6.Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Saifuddin, 2002).
2.3.3.Kebijakan Program
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling lambat 4 kali selama kehamilan, yaitu :
Satu kali pada triwulan pertama
Satu kali pada triwulan kedua
Dua kali pada triwulan ketiga
a.Trimester I (0-14 minggu)
Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan
Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa
Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan
Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya)
b.Trimester II (14-28 minggu)
Sama seperti trimester pertama, ditambah kewaspadaan khusus mengenai tanda trias.
Pantau tekanan darah
Evluasi eodema
Periksa urine untuk mengetahui proteinuria
c.Trimester III (28-36 minggu)
Selama seperti pada trimester pertama dan kedua ditambah palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.
d.Setelah 36 minggu
Sama seperti trimester pertama ditambah pendeteksian dari letak bayi yang tidak optimal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
Adapun pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7 T” yaitu :
1.(Timbang) berat badan
2.Ukur (Tekanan) darah
3.Ukur (Tinggi) fundus uteri
4.Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
5.Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan
6.Test terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
7.Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Saifuddin (2002 : 90).
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1)Mengupayakan kehamilan yang sehat
2)Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3)Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4)Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi kompikasi
Menurut Saifuddin (2002), agar ibu hamil mendapatkan informasi yang diperlukan, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah, seperti berikut :
1.Sapa ibu (dan juga keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
2.Kaji riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan ibu
3.Melakukan pemeriksaan fisik, seperlunya saja
4.Melakukan pemeriksaan laboratorium
5.Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :
Tekanan darah dibawah 140 / 90 mmHg,
Edema hanya pada ekstremitas
Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan
Denyut jantung janin 129 sampai 160 denyut per menit
Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan
6.Membantu ibu dan keluarganya mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat :
Mengidentifikasi ke mana pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut
Mempersiapkan donor darah
Mengadakan persiapan financial
Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.
7.Memberikan konseling :
a)Gizi : peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).
b)Latihan : normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah
c)Perubahan fisiologi : tambahan berat badan, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama trimester pertama, rasa panas dan atau varises, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)
d)Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikut :
Pendarahan pervagina,
Sakit kepala lebih dari biasa,
Gangguan penglihatan,
Pembengkakan pada wajah/tangan,
Nyeri abdomen (epigastrik),
Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
e)Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di rumah :
Sabun dan air
Handuk dan minuman untuk ibu selama persalinan
Mendiskusikan praktek-praktek tradisional, posisi melahirkan,
Mengidentifikasi siapa yang dapat membantu bidan dalam proses persalinan.
f)Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genitalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.
g)Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai puting susu rata atau asuk kedalam. Dilakukan 2 ali sehari selama 5 menit
8.Memberikan zat besi 90 tablet mulai minggu ke-2
9.Memberikan imunisasi TT 0,5 cc 2x selama pada masa kehamilan
10.Menjadwalkan kunjungan berikutnya
11.Mendokumentasikan hasil kunjungan tersebut dengan catatan SOAP
2.3.4.Nasihat-nasihat ibu hamil
Kepada ibu hamil diberikan nasihat-nasihat untuk memelihara kesehatannya selama hamil, nifas dan laktasi. Mochtar (1998,59).
2.3.4.1.Makanan / diet ibu hamil
Wanita hamil dan menyusui betul-betul mendapatkan perhatian susunan dietnya, terutama jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, pendarahan pacsa persalinan, sepsis, puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan makanan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklampsi, janin besar, dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan : protein, karbohidrat, zat lemak, mineral atua bermacam-macam garam : terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe) : vitamin dan air.
Tabel Kebutuhan Makanan Sehari-Hari Ibu Tidak Hamil,
Ibu Hamil, Dan Ibu Menyusui
No
Kalori & Zat Makanan
Tidak Hamil
Hamil
Menyusui
1
Kalori (kal)
2500
2500
3000
2
Protein (gram)
60 gr
85 gr
100 gr
3
Kalsium (Ca)
0,8 gr
1,5 gr
2 gr
4
Zat Besi (Ca)
12 gr
1,5 gr
15 gr
5
Vitamin A (IU)
5000 IU
6000 IU
8000 IU
6
Vitamin B (mg)
1,5
1,8
2,3
7
Vitamin C (mg)
70
150
150
8
Riboflavin (mg)
15
18
23
Menurut Manuaba (2009 Memahami Kesehatan Reproduksi kesehatan wanita, 87)

2.3.4.2.Merokok
Jelas bahwa bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok.
2.3.4.3.Obat-obatan
Prinsip : Jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh Karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan tersebut.
2.3.4.4.Lingkungan
Saat sekarang, bahaya polusi udara, air dan makanan terhadap ibu dan anak sudah mulai diselidiki seperti halnya merokok
2.3.4.5.Gerak Badan
Kegunaannya : Sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat :
a.Berdiri – jongkok
b.Terlentang – kaki diangkat
c.Terlentang – perut diangkat
d.Melatih pernapasan
2.3.4.6.Kerja
a.Boleh kerja seperti biasa
b.Cukup istirahat dan makan telur
c.Pemeriksaan hamil yang teratur
2.3.4.7. Berpergian / Traveling
a.Jangan terlalu lama dan melelahkan
b.Duduk lama-statis vena (vena stagnasi) menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak
c.Bepergian dengan pesawat udara boleh, tidak ada bahaya hipoksia dan tekanan oksigen yang cukup dalam pesawat udara.
2.3.4.8. Pakaian
a.Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut.
b.Pakailah kutang yang menyokong payudara
c.Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tiggi
d.Pakaian dalam yang selalu bersih
2.3.4.9.Istirahat dan Rekreasi
Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Tempat hiburan yang terlalu ramai, sesak dan panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan jatuh pingsan.
2.3.4.10.Mandi
Mandi diperlukan untuk kebersihan/hygiene terutama perawatan kulit, karena fugnsi eksresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan. Jangan tergelincir di perigi dan jagalah kebersihannya. Douche dan mandi berdendam tidak dianjurkan.

2.3.4.11.Koitus
Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada sejarah :
a.Sering abortus/prematur
b.Pendaharan pervaginam
c.Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati
d.Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus-partus prematurus.
2.3.4.12. Kesehatan Jiwa
Untuk menghilangkan cemas harus ditanamkan kerjasama pasien penolong (doter, bidan) dan memberikan penerangan selagi hamil denga tujuan :
a.Menghilangkan ketidak-tahuan
b.Latihan-latihan fisik dan kejiawaan
c.Mendidik cara-cara perawatan bayi
d.Berdiskusi tentang peristiwa pesalinan fisiologik.
2.3.4.13. Perawatan Buah Dada
Buah dada merupakan sumber Air Susu Ibu (ASI) yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran payudara.

2.4.Hipertensi Kronis Dalam Kehamilan
2.4.1.Pengertian
Hipertensi kronik sendiri didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmhg yang telah ada sebelum kehamilan, pada saat kehamilan 20 minggu yang bertahan sampai lebih dari 20 minggu pasca partus1 atau setelah 12 minggu menurut kepustakaan yang lain.
Hipertensi pada kehamilan secara epidemiologi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
2. Paritas
Angka kejadian tinggi pada primigravida muda maupun tua. Primigravida tua berisiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.
3. Faktor keturunan
Jika ada riwayat hipertensi, pre-eklampsia, eklampsia pada ibu atau nenek penderita. Faktor risiko meningkat sampai 25%.
4. Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif ( recessive trait ), yang ditentukan genotip ibu dan janin.
5. Diet / gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu atau pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain mengatakan bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang mengalami obesitas atau overweight.
6. Iklim / musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi
7. Tingkah laku / sosio-ekonomi
Kebiasaan merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat. Aktifitas fisik selama hamil serta istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan atau insidens hipertensi dalam kehamilan.
2.4.2. Etiologi dan diagnosis
Pada hipertensi kronik etiologinya sebagian besar tidak diketahui ( idiopatik ) sedangkan sisanya berhubungan dengan penyakit ginjal juga diabetes mellitus. Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pegukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG).
Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.
2.4.3. Komplikasi pada ibu dan janin
Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.
Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini bisa menyebabkan prematuritas plasental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.
2.4.4. Penanganan
Pengelolaan pada wanita hamil dengan hipertensi kronik bertujuan untuk menurunkan risiko kematian maternal, menurunkan mortalitas dari janin dengan pemakaian medikamentosa yang minimal. Sehingga penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti superimposed preeclampsia, eklampsia, juga monitoring unit feto – placental, mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik harus juga diperhatikan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah, monitoring keseimbangan cairan dan diuresis.
Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera di rawat di rumah sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Istirahat total memiliki efek yang baik dimana akan meningkatan aliran darah renal dan utero plasental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis dan mengurangi oedema.
Pada hipertensi yang ringan dilakukan terapi konservatif, sedapat mungkin janin dilahirkan pervaginam. Pada hipertensi berat kehamilan secepat mungkin diterminasi.
2.4.5. Mortalitas
Pada kehamilan disertai dengan hipertensi kronik di Indonesia sendiri masih merupakan penyakit yang meminta korban besar bagi ibu dan bayi. Kematian ibu yang disebabkan oleh gangguan ini berkisar 15,7% di USA antara tahun 1991-1999. Hal ini berhubungan erat dengan pemeriksaan antenatal serta perawatan ibu hamil yang kurang ditambah dengan fasilitas kesehatan yang minim. Karena itu pemeriksaan antenatal yang baik dan tersediannya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian maternal.
2.4.6. Prognosis
Pada kehamilan yang disertai hipertensi kronik, prognosis dapat kearah baik maupun kearah perburukan. Asal tidak terjadi penyulit serta komplikasi yang lain terhadap proses kehamilan dan kelahiran. Dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memadai angka kematian ibu dan anak dapat ditekan. Pemeriksaan kehamilan yang berkesinambungan memberi prognosis yang semakin baik.

2.4.7.Anti Hipertensi
a.Obat pilihan adalah hidralazin yang diberikan 5 mg Iv pelan-pelan 5 menit sampai tekanan darah turun. Jika perlu pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam atau 12,5 im setiap 2 jam.
b.Jika hidralazin tidak tersedia dapat diberikan :
Nifedipin 5 mg sublingual, jika respon tidak baik setelah 10 menit beri tambahan 5 mg sublingual.
Labetolol 10 mg Iv yang jika respon tidak baik setelah 10 menit berikan lagi labetolol 20 mg, Saepudin (2006).
Untuk menghindari kejadian komplikasi yang lebih berat bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, pereklamsi, dan kondisi yang dapat memperburuk selama kehamilan, Saepudin (2006).

2.5.Ketidakyamanan Trimester Tiga Yang Umum Dalam Masa Kehamilan
2.5.1.Pegal-pegal pada pinggang dan punggung
sebagai besar diakibatkan perubahan sikap badan pada kehamilan lanjut, karena letak berat badan pindah kedepan disebabkan perut yang membesar sehingga tulang punggung menjadi lordosis.
Penatalaksanaannya adalah menjelaskan perubahan fisiologi yang terjadi pada trimester III, yaitu pegal-pegal pada punggung dan pinggang, merupakan akibat pembesaran rahim, cara mengatasinya adalah membantu ibu mengatur posisi tubuh dengan baik pada saat duduk, berdiri ataupun bila, mengangkat barang, cara mengatasi nyeri punggung antara lain postur tubuh yang baik. Mekanik tubuh yang tepat saat mengangkat beban, hindari membungkuk berlebihan, ayunkan pinggal atau miringkan pinggul. Varney (2007).
2.5.2.Bengkak pada kaki bagian bawah
Ketidaknyamanan pada trimester III, bahwa oedema dipenden pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstremitas bagian bawah.
Penatalaksanaannya menganjurkan ibu untuk tidak banyak berjalan, bila tidur posisi miring, menghindari menggunakan pakaian ketat untuk mengurangi oedema pada tungkai bawah adalah hindari menggunakan pakaian ketat, elevasi kaki secara teratur sepanjang hari, posisi menghadap samping pada saat berbaring, penggunaan penyokong atau korset pada abdomen maternal yang dapat melonggarkan tekanan pada vena-vena. Varney (2007)
2.5.3.Kehamilan dengan masalah kesehatan
Kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, preeklampsi, pertumbuhan janin terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit kelamin dan kondisi lain-lain yang daapt memburuk selama kehamilan.

2.6.Persalinan
2.6.1 Pengertian
Persalinan adalah suatu proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke dalam jalan lahir, kelahiran adalah suatu proses dimana janin dan ketuban didorong keluar jalan lahir. (Saifuddin, 2006)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Saifuddin, 2006).
2.6.2 Persalinan Normal (Spontan)
Yaitu persalinan yang berlangsung dengan letak belakang kepala sejak awal sampai akhirnya dengan tanda melahirkan ke dunia luar.
2.6.3 Fisiologi Persalinan
Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitocin yang dikeluarkan oleh hypopise posterior dapat menimbulkan kontraksi dominan saat dimulainya persalinan. Oleh sebab itu, makin tua usia kehamilan frekuensi kontraksi makin sering, oksitocin diduga bekerjasama dengan prostaglandin makin meningkat, di samping itu faktor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim. (Manuaba, 2001)
2.6.4 Tanda-tanda Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenamya seminggu sebelum memasuki bulannya “minggunya dan harinya” yang disebut kala pendahuluan (prematori stage of labor) memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
1.Lightening atau setting/dropping yaitu kepala turun memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) terutama pada primigravida.
2.Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3.Perasaan susah atau sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terendah janin.
4.Rasa sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
5.Serviks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah dan bisa campur darah (bloody show). (Prawirohardjo, 2002)
2.6.5 Proses Persalinan
Proses persalinan dibagi dalam 4 kala menurut Saifuddin (2002), yaitu :
2.6.5.1 Kala I
Definisi : Kala I persalinan dimulai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi osteum uteru extemum. Kala I telah sempurna apabila servik telah membuka cukup luas untuk dapat dilewati kepala janin untuk dilahirkan. Kala I terhitung dari waktu mulai pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap.
Kala I terdiri dari 2 fase :
1.Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam.
2.Fase Aktif, dibagi 6 jam dan dibagi 3 sub fase :
a.Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm (mulai gerakan partosray).
b.Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam pembukaan menjadi 9 cm.
c.Periode deselerasi berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan lengkap.
Pada primipara kala I bervariasi antara 12-14 jam, sedangkan multipara antara 6-7 Jam (Siswosudarmo : 2008).
2.6.5.2 Kala II
Definisi : dimulai dari dilatasi penuh serviks dan sempurna apabila bayi telah dikeluarkan dari uterus secara menyeluruh. Pada kala ini kontraksi uterus menjadi sangat khas dalam sifat ekspalsinya dan kontraksinya menjadi sangat kuat (amplitudonya 60-80 mmHg). Kontraksi ini terus berlangsung seperti pada kala transisi dengan selang waktu 2-3 menit dan lamanya kontraksi 1 menit. Sekarang fetus didorong keluar oleh segmen atas rahim yang menjalani retraksi yang dapat dilihat secara kasar melewati serviks yang terbuka dan jalan lahir. Fetus didorong oleh tekanan aksis fetus ke bawah dan ke belakang tegak lurus dengan pintu masuk pelvis. Dengan kata lain, kala II adalah kala pengeluaran janin. Tanda dan gejala kala II adalah dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, vulva membuka, perineum menonjol. (Depkes RI, 2004)
Fase aktif ditegakkan berdasarkan dilatasi servik 4-9 cm, kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih perjam, penurunan kepala dimulai hisnya minimal 2x dalam 10 menit selama 40 detik. (Depkes RI, 2004)
Kala II untuk primi berlangsung 1-2 jam dan pada multi tidak lebih dari I jam (Manuaba, 2001).
2.6.5.3 Kala III
Definisi : pelepasan plasenta secara normal. Plasenta belum terlepas dengan adanya kontaksi-kontraksi uterus selama kala I dan awal kala II persalinan, karena sisi plasenta harus diperkecil sampai separuh ukuran aslinya sebelum dimungkinkan terjadi pelepasan. Ketika tubuh bayi dapat dilahirkan pada kala II maka panjang uterus berkurang sehingga kekebalan dinding otot uterus tersebut akan bertambah dan besarnya kapasitas uteri akan berkurang sampai ukuran semula, biasanya dimulai pada pusatnya (bagian tengah) dan meluas ke sekelilingnya. Karena disusun oleh jaringan elastis, maka plasenta akan terlepas dari dinding uterus. Suatu kontraksi uterus yang benar-benar efektif tidak hanya menyebabkan pelepasan plasenta tetapi juga mendorong plasenta tersebut ke segmen bawah rahim dan segmen atas vagina hampir setelah bayi lahir. Pada akhir persalinan kala III uterus mempunyai ukuran kira-kira panjangnya I,5 cm, lebar 10 cm, dan tebal 7,5 cm.
Proses pengeluaran uri yang normal tidak lebih dari 30 menit. (Depkes RI, 2004)
2.6.5.4 Kala IV
Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. 2.6.6 Asuhan dan Pemantauan pada Persalinan
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, bahkan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama proses persalinan dan kelahiran.
Asuhan sayang ibu pada kala I yaitu memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.
Asuhan sayang ibu pada kala II yaitu menolong persalinan dengan teknik APN, menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu, memberikan dukungan, membantu ibu memilih posisi yang nyaman, menganjurkan ibu untuk minum selama kala II, mengajarkan cara meneran yang baik. Menjaga kandung kemih tetap kosong, karena kandungan kemih yang penuh dapat memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet, menyebabkan ibu tidak nyaman, meningkatkan resiko pendarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri dan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.
Pada kala III dianjurkan untuk melakukan manajemen aktif III meliputi pemberian oksitosin 10 IU secara IM, melakukan peregangan tall pusat terkendali, melahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew dan Massase Fundus Uteri yang bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah pada kala III persalinan. (Depkes RI, 2008)
Pada kala IV, asuhan yang dilakukan adalah menilai kehilangan darah, memeriksa perineum dan perdarahan aktif, memantau kondisi ibu secara keseluruhan. Asuhan yang diberikan selama 2 jam pertama pasca persalinan adalah melakukan pemantauan kala IV atau kala pengawasan setelah plasenta lahir 2 jam. Dalam kala ini yang diawasi adalah tanda-tanda vital, TFU, kandung kemih, kontraksi, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua. (Saifuddin, 2002).

2.7.Inersia Uteri
2.7.1.1.Definisi
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his normal (Manuaba, 2010 : 372)
Ditosia kelainan tenaga/his adalah his tidak normal dalam kekuatan / sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan macet.
Inersia Uteri terbagi menjadi 2 :
1.Inersia uteri primer
Inersia uteri primer; bila sejak semula kekuatan hisnya sudah lemah. Diagnose inersia uteri paling sulit dalam masa laten, untuk ini diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri , tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik, yakni pendataran dan/atau pembukaan. Kesalahan yang sering dibuat ialah mengobati seorang penderita untuk inersia uteri, padahal persalinan belum mulai (false labour).
2.Inersia uteri sekunder
Inersia uteri sekunder ialah his pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, pada bagian terendah terdapat kaput, dan mungkin ketuban sudah pecah. His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.
2.7.1.2.Etiologi
Primigravida tua
Multipara
Faktor herediter
Faktor emosi (ketakutan, dan lain-lain)
Kelainan letak janin
Disproporsi sefalopelvik
Peregangan uterus yang berlebihan (Kehamilan ganda, hidramnion).
Kelainan bentuk uterus
Faktor yang tidak diketahui
2.7.1.3.Penanganan
Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan, harus diperiksa keadaan servik, presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul.
Apabia ada disproporsi sefalopelvik yang berarti, sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan seksio sesaria. Apabila tidak ada disproporsi sefalopelvik atau ada disproporsi sefalopelvik ringan dapat diambil sikap lain. Keadaan umum penderita sementara itu diperbaiki, dan kandung kencing serta rectum dikosongkan. Apabila kepala atau bokong janin sudah masuk kedalam panggul penderita disuruh berjalan-jalan, hal ini kadang-kadang menyebabkan his menjadi kuat. Pada waktu periksa dalam dapat juga dilakukan pemecahan ketuban. Dapat pula dilakukan induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin 5 satuan unti dimasukkan kedalam larutan dextrose 5 % 500 ml.

2.8.Induksi Persalinan
2.8.1.Tujuan Induksi Persalinan
Untuk mempercepat proses persalinan yaitu dengan menambah kekuatan dari luar, dan tidak boleh merugikan ibu dan janinnya dalam usaha well bom baby dan well hell mother, sehingga diperlukan indikasi yang tepat, waktu yang baik dan evaluasi yang cermat. Induksi persalinan harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi.
2.8.2.Indikasi Persalinan Induksi
1.Indikasi ibu :
PROM-EROM, preeklampsia eklampsia, kemungkinan kesempitan panggul, ibu dengan penyakit jantung, diabetes, melitus, infeksi amnionitis.
2.Indikasi janin : Post-term, insufisiensi plasenta, IUFD, IUGR, oligohidrammion.
3.Indikasi selektif : Maturitas paru cukup, kontraksi uterus tidak sempurna, atas permintaan yang bersangkutan.
Pertimbangan yang dapat dipakai evaluasi keberhasilan induksi, yaitu multigravida lebih berhasil dari primigravida, bagian terendah sudah masuk PAP lebih berhasil, faktor umur gravida makin aterm akan lebih berhasil, faktor usia penderita makin muda makin berhasil, umur anak terkecil di atas lima tahun makin kurang berhasil, ketuban telah pecah akan lebih berhasil jika dibandingkan belum pecah.
2.8.3.Kontraindikasi
Overdistensi uteri : hidramnion, hamil gemelli.
Sefalo pelvik disproporsi : kepala masih melayang, perasat osbom positif artinya penonjolan kepala di atas sinfisis pubis.
Fetal distrees dengan berbagai sebab : dengan pemeriksaaan USG terdapat olighidromnion, pada pemeriksaan amnioskopi cairan keruh atau kental, ketuban dipecah ternyata keruh, hijau dan kental. (Manuaba, 2001)
2.8.4 Metode Induksi dengan Oxytocin Drip
Mulai dengan 8 tetes selama 15 menit.
Dinaikkan dengan interval 15 menit sebanyak 4 tetes sampai tercapai kontraksi optimal.
Tetesan maksimal 40 tetes.
Jumlah cairan seluruhnya 1.000 cc glukosa 5%.
2.8.5. Observasi
Detik jantung janin.
His-kontraksi otot rahim.
Penurunan bagian terendah.
Lingkungan Bandle-tanda ruptura imminen.
2.8.6. Kriteria gagal
Dengan 1.000 cc tidak terjadi kontraksi.
Diulang dengan interval 24 – 48 jam.
2.8.7. Tindakan lanjut
Memecahkan ketuban dan persalinan harus berakhir dalam waktu 6 jam (Fraser),
Langsung seksio sesarea. (Manuaba, 2001).

2.9 Nifas
2.9.1 Pengertian
Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosastro, 2007: 237)
Masa nifas didefinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara populer diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal (Cunningham, 2006 : 443)
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa pulihnya kembali alat-alat kandungan yang lamanya 6 minggu setelah persalinan.
2.9.2 Periode Masa Nifas
2.9.2.1 Puerperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.9.2.2 Puerperium Intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetilia yang lamanya 6-8 minggu. 2.9.2.3 Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulan atau tahunan. (Mochtar, 1998) 2.9.3 Perubahan Fisiologi Masa Nifas
1.Uterus
Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000 gram. Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. Dengan berat uterus 700 gram. Pada hari kelima pasca persalinan uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau pertengahan simfisis pusat dengan berat 500 gram, sesudah 2 minggu kemudian tinggi fundus tidak teraba lagi dengan berat 300 gram dan setelah 6 minggu kemudian bertambah kecil dengan berat 50 gram dan 8 minggu tinggi fundus uteri normal dengan berat 30 gram.
2.Bagian bekas implantasi plasenta
Bagian bekas implantasi plasenta menjadi mengecil karena kontraksi dan menonjol ke dalam cavum uteri yang berdiameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke 6 berdiameter 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3.Involusi uterus dan pengeluaran lochea,
Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 30 gram. Proses preteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan.
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalan nifas, lochea mempunyai reaksi basalalkalis yang dapat membuat organisme berkembangan lebih cepat dari pada kondisi asam pada vagina normal. Lochea mengalami perubahan karena proses involusi. Lochea terdiri dari :
Lochea Rubra : Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, Verniks kaseosa, lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.
Lochea Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir , pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
Lochea Serosa : Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 pasca persalinan.
Lochea Alba : Cairan putih setelah 2 minggu post partum.
4.Serviks
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah dua jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari.
5.Ligamen-ligamen
Ligamen fasia dan diafragma, perivis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke 2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah 3 minggu.
6.Laktasi
Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan, umumnya produksi air susu ibu/ASI baru terjadi kedua atau ketiga pasca persalinan, pada hari pertama banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. (Mansjoer Arip, 2007: 316)
2.9.4 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari asuhan masa nifas adalah sebagai berikut :
1.Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2.Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
3.Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4.Memberikan pelayanan Keluarga Berencana. (Saifuddin, 2006: 122)
2.9.5 Perawatan Masa Nifas
Kini perawatan masa nifas aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini. Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan :
1.Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas.
2.Mempercepat involusi alat kandungan.
3.Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
4.Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat pengeluaran ASI dan sisa-sisa metabolisme. (Manuaba, 2001)
2.9.6 Program dan Kebijakan Teknis
Paling sedikit 3 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan untuk mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi. (Saifuddin, 2002).
2.9.6.1 Kunjungan I: 2-6 Jam Setelah Persalinan
1.Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2.Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
3.Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4.Pemberian ASI awal.
5.Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6.Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
7.Menilai kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri.
2.9.6.2 Kunjungan II : 6 Hari Setelah Persalinan
1.Memastikan involusi dan uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2.Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal. 3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
3.Memastikan ibu menyesuaikan dengan baik dan tidak memperhitungkan tanda­ tanda penyakit.
4.Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tall pusat dan menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
2.9.6.3 Kunjungan llI : 6 minggu Setelah Persalinan
1.Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami.
2.Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Saifuddin, 2006: 23)
2.9.7 Gizi Ibu Nifas
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan­makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan Yang banyak mengandung zat besi dan yang dapat merangsang produksi ASI (Arif Mansjoer, 2007). Pada ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup, minum sebanyak 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin. Minum kapsul vitamin A (200.000 IU) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASL (Saifuddin, 2006).

2.10 Bayi Baru Lahir
2.10.1 Pengertian
Bayi baru lahir adalah bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, langsung menangis kuat, seluruh tubuh kemerahan, pergerakan aktif dan denyut jantung 120-140 x/menit. (Prawirohardjo, 2007).
2.10.2 Tujuan Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah membersihkan jalan nafas, memotong dan merawat tali pusat, mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, pencegahan infeksi. (Saifuddin, 2006 : 133)
2.10.3 Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir
1. Gangguan Metabolisme Karbohidrat
Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonates pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolism asam lemaksehingga kadar gula dalam darah mencapai 120 mg/100 ml. bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguanpada metabolism asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonates, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemia.
2.Gangguan Umum
Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 25 oC maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2 oC dalam waktu 15 menit. Kehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (mengeringkan, membungkus badan dan kepala dan kemudian diletakkan di tempat yang hangat seperti pangkuan ibu, dibawah sorotanlampu, incubator ,dll). Suhu lingkungan yang tidak baik akan menyebabkan bayi menderita hipothermi, hipertermi, dan trauma dingin (cold injury).
3.Perubahan Sistem Pernafasan
Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernafasan timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor carotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen, rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didalam uterus dan diluar uterus.
Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 100 ml cairan, kehilangan ½ dari cairan ini. Sesudah bayi lahir, cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula.
4. Perubahan Sistem Sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida menurun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga aliran darah kea lat tersebut meningkat.
5. Perubahan Lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai berfungsi.
2.10.3.1 Pernapasan dan Peredaran Darah
Pernapasan pertama pada bayi baru lahir normal terjadi pada waktu 30 detik setelah lahir. Pada menit pertama ± 80 x/menit disertai pernapasan cuping hidung dan rintihan berlangsung 10-15 menit. Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan 02 dalam alveoli meningkat dan COZ menurun, hal ini menyebabkan aliran darah ketuban meningkatkan dan feramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang kembali menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu. Makin lama makin menurun dan pada menit ke 30 menjadi 140-120 x/menit.
2.10.3.2 Suhu
Pada saat bayi berada pada suhu lebih rendah daripada dalam kandungan dan dalam keadaan hypotermi. Ini dapat menyebabkan hypoglikemi, maka perlu mempertahankan tubuh supaya suhu berada pada 36° C – 37° C.
2.10.3.3 Kulit
Terdapat Verniks caseosa yaitu lemak putih yang melekat pada tubuh bayi baru lahir. Mungkin bercampur cairan amnion, darah, faeces, mekonium. . 2.10.3.4.Faeces
Faeces berbentuk mekonium yaitu seperti ter hitam pekat yang telah berada dalam saluran pernapasan sejak janin 16 minggu. Mulai keluar dalam 24 jam pertama lalu sampai 2-3 hari, selanjutnya hari ke 4-5 berwarna coklat kehijauan, kemudian kuning, lembek setelah minum ASI.
2.10.3.4.Tali Pusat
Pemotong tali pusat merupakan pemisahan antara kehidupan bayi dan ibu. Tali pusat biasanya lepas pada 10-14 hari setelah lahir.
2.10.3.5.Refleks
Bayi yang dilahirkan mempunyai sejumlah refleks. Hal ini merupakan dasar bayi dasar bagi untuk mengadakan reaksi dan tindakan aktif. Reaksi sementara akan menghilang setelah umur 4-6 bulan. Macam-macam refleks pada bayi baru lahir adalah :
Reflek moro
:
Reflek peluk, reflek terkejut. Anak mengembangkan tangan ke samping lebar-lebar, melebarkan jari jari, lalu mengembalikan dengan tarikan cepat seakan memeluk seorang.
Reflek tonic neck
:
Refleks otot leher, anak akan mengangkat leher dan menoleh ke kanan, ke kiri jika ditemukan posisi tengkurap.
Reflek rooting
:
Mencengkram timbul karena stimulasi taktil pada pipi dan daerah mulut, anak bereaksi memutar kepala seakan-akan mencari puting susu.
Reflek sucking
:
Menghisap dan menelan (reflek oral). Timbul bersama-sama dengan rangsangan pip] untuk menghisap puting susu dan menelan ASI.
Reflek grasping
:
Bila ada rangsangan di telapak tangan, anak akan menggenggam.
Reflek babinsky
:
Rangsangan pada telapak kaki, ibu jari akan bergerak ke atas dan jari jari membuka.
Reflek walking

Melangkah, jika bayi dibuat posisi berdiri akan ada gerakan spontan melangkah ke depan walau belum bisa berjalan.
2.10.3.6.Berat Badan
Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari. Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan air kencing dan meconium. Sedangkan cairan yang masuk belum cukup, dan pada hari ke 4 berat bada akan naik lagi. Kehilangan berat badan dalam ± 7% dari berat badan awal dan tidak melebihi 10% dari berat badan lahir. Hal ini dinamakan penurunan berat badan fisiologis. (Cunningham, 2006)
2.10.4. Tujuan Asuhan Bayi Baru Lahir
2.10.4.1.Tujuan Bayi Baru Lahir 1 Jam Pertama
Tujuan utama perawatan bayi segera setelah lahir adalah :
1.Jaga kehangatan.
2.Bersihkan jalan nafas (bila perlu).
3.Keringkan dan tetap jaga kehangatan.
4.Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir.
5.Lakukan inisiasi menyusu dini dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
6.Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata.
7.Beri suntikan Vitamin K 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah inisiasi menyusu dini.
8.Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan anterolateral kira­kira setengah jam setelah pemberian Vitamin K,. (Wiknjosastro, 2008 : 123)
2.10.4.2.Tujuan Bayi Baru Lahir 1-24 Jam Pertama
Tujuannya untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah bayi baru lahir yang memerlukan keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1.Pertahankan suhu tubuh bayi.
2.Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
3.Lakukan perawatan tali pusat.
4.Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi dan informasikan tanda bahaya pada bayi. (Saifuddin, 2006)
5.Memandikan bayi
Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (suhu aksila antara 36,5 – 37,5° C). (Depkes RI, 2008)
2.10.4.3.Pencegahan Infeksi pada Mata Bayi
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (Penyakit Menular Seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. (Saifuddin, 2006) 2.10.4.4.Profilaksis Pendarahan Bayi Baru Lahir
Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K injeksi l mg intramuskuler di paha kiRI sesegera mungkin untuk mencegah pendarahan bayi baru lahir akibat defisiensi Vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. (Depkes RI, 2008)
2.10.5. Inisiasi Menyusu Dini
Adalah proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir atau pengenalan awal pada bayi, proses menyusu yang dilakukan sesegera mungkin dalam fase1 jam setelah kelahiran. (Roesli, Utami. 2008).
Proses IMD dilakukan sesaat setelah bayi lahir dalam keadaan sehat dan menangis sesudah dipotong tali pusatnya dan dilap dengan handuk / kain hangat (dengan tetap mempertahanan vernik). Proses pencairan memakan waktu bervariasi sekitar 30-40 menit. Dalam hal ini segala tindakan ataupun prosedur yang membuat bayi stress atau merasa sakit ditunda dulu, seperti menimbang, mengukur dan memandikan bayi dilaksanakan setelah IMD selesai dilakukan.
Pengawasan dalam pelaksanaan IMD haruslah terus dilakukan pengawasan tersebut meliputi, keadaan umum bayi dan kestabilan suhu bayi yang dilakukan setiap 15 menit sekali.
Tahapan Inisiasi Menyusui Dini adalah :
1.Sesaat setelah tali pusat dipotong bayi langsung diletakan didada ibunya setelah membersihkan tubuh bayi kecuali tangannya. Letakan bayi skin to skin. Ternyata suhu badan ibu setelah melahirkan 1oC lebih tinggi, namun bila bayi kedinginan otomatis suhu badan ibu jadi naik 2oC lebih tinggi, kepanasan suhu turun 1oC setelah diletakan didada ibu biasanya bayi akan diam selama 20-30 menit karena bayi sedang menerralisir keadaannya setelah dilahirkan.
2.Gerakan kedua terjadi bayi merasa lebih tenang maka secara otomatis kaki bayi mulai bergerak-gerak, seperti hendak merangkak diperut ibu gerakan ini bertujuan untuk mengentikan perdarahan ibu
3.Setelah melakukan gerakan kakinya bayi akan melanjutkan dengan mencium tangannya, ternyata bau tangan bayi sama dengan air ketuban dan ternyata wilayah sekitar puting ibu itu juga memiliki bau yang sama, jadi dengan mencium bau tangannya bayi membantu untuk mengarahkan kemana ia akan bergera. Dia akan memulai dengan mendeteksi puting ibu bayi, menjilat-jilat dada ibu. Ternyata jilatan bayi ini berfungsi untuk membersihkan dada ibu dari bakteri-bakteri jahat dan begitu masuk ketubuh bayi akan diubah menjadi bakteri-bakteri yang baik dalam tubuhnya. Lamanya kegiatan ini tergantung dari bayi karena bayi yang tahu seberapa banyak dia harus membersihkan dada ibunya.
4.Setelah itu bayi akan meremas-remas puting susu ibu bertujuan untuk merangsang supaya ASI segera berproduksi dan bisa keluar.
5.Terakhir barulah mulai bayi menyusu. (hhtp/www.google.com/)
2.10.6. Keuntungan Rawat Gabung dan Pemberian ASI
2.10.6.1. Bagi Bayi
1)Kolostrum ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi diare karena mengandung anti bodi
2)Dalam tenggang waktu 3-6 bulan ASI sudah cukup untuk tumbuh kembang bayi dengan baik
3)ASI merupakan makanan utama bayi dan telah siap setaiap saat dalam keadaan steril dan mudah dicerna
2.10.6.2. Bagi Ibu
1)Pemberian ASI dapat mempercepat involusi uteri
2)Pemberian ASI dapat bersifat sebegai alat kontrasepsi sampai waktu 3 bulan, karena ASI mengandung Hormone Prolaktin yang menghambat terjadinya pembuahan. Memperkecil kejadian keganasan payudara pada ibu menyusui karena ASI diberikan pada bayi sehingga tidak terjadi bendungan ASI yang dapat berlanjut pada kanker.
2.10.7. ASI Eksklusif
2.10.7.1.Pengertian
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi baru lahir sampai 6 bulan tanpa diselingi dengan makanan pendamping ASI. (Depkes RI, 2003) 2.10.7.2.Keuntungan ASI
1.Praktis, tidak perlu dibuat.
2.Ekonomis, tidak perlu membeli.
3.Mengandung semua zat gizi.
4.Mengandung berbagai antibodi.
5.Selalu bersedia dalam suhu yang ideal.
6.Selalu segar, bebas dari kuman.
7.Membina hubungan yang baik antara ibu dan bayi.
2.10.7.3.Alasan Mengapa ASI Diberikan Sedini Mungkin
Memberikan kepuasan dan ketenangan.
Hisapan bayi mempercepat involusi uterus.
Hisapan bayi memperlancar produksi ASI.
2.10.7.4.Tips Agar ASI Tetap Banyak
1.Mulai menyusui segera setelah bayi lahir.
2.Tidak menyelingi dengan makanan lain atau susu botol selama bayi berusia 0-6 bulan.
3.Bersikap tenang dan percaya diri agar hormon perangsang ASI bisa bekerja.
4.Menyusui dengan teknik dan posisi yang benar.
5.Menyusui bayi sampai payudara kosong.
6.Makan dan minum yang cukup terutama makan sayuran yang berwarna hijau tua.
7.Istirahat yang cukup. (Depkes RI, 2003).

2.11. Imunisasi
2.11.1. Pengertian
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.
2.11.2 Vaksin
Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya : vaksin BCG, Hepatitis, DPT dan Campak), dan melalui mulut (misalnya : vaksin Polio).
2.11.3 Tujuan Imunisasi
Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
2.11.4 Jenis-jenis Imunisasi Dasar
1.Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG 1 kali, pemberiannya melalui intracutan. Efek samping pemberian dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan, limfadentis regional dan reaksi panas, sedangkan dosis pemberiannya 0,05 ml.
2.Imunisasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. Kandungan vaksin ini adalah HBsAg dalam bentuk cair. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml (1 buah), pemberian secara intramusculer pada daerah anterolateral paha, dan diberikan pada bayi usia 0-7 hari. Efek sampingnya adalah rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.
3.Imunisasi Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus (strain sabin) yang sudah dilemahkan. Diberikan secara oral, I dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
4.Imunisasi DPT/HB
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Vaksin DPT/HB mengandung toxoid difteri, toxoid tetanus yang telah dihilangkan sifat racunnya (dimurnikan) dan pertusis yang inactifasi namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid) dan vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg mumi dan bersifat noninfecsius. Cara pemberian intramusculer dengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali, dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Efek sampingnya adalah gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, pembengkakan dan kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala demam tinggi, iritabilitas terjadi 24 jam setelah imunisasi, reaksi ringan hilang setelah 2 hari.
5.Imunisasi Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak. Kandungan vaksin Campak merupakan virus hidup yang dilemahkan.
Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas pada usia 9-11 bulan. Efek sampingnya adalah demam ringan dan kemerahan pada daerah penyuntikan. (Depkes RI, 2006).

2.12.Asfiksia
2.12.1.Definisi
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000).
Asfiksia adalah kurangnya oksigen dalam darah dan meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah serta jaringan (Kamus saku kep. Edisi 22).
Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Medicine and linux.com).
2.12.2.Etiologi Asfiksia
Etiologi secara umum dikarenakan adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin, pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir, penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
2.12.1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu
Oksigenasi darah ibu yang tidak mencukupi akibat hipoventilasi selama anestesi, penyakit jantung sianosis, gagal pernafasan, keracunan karbon monoksida, tekanan darah ibu yang rendah.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2.12.2.Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. .Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya:
Plasenta tipis
Plasenta kecil
Plasenta tak menempel
Solusio plasenta
Perdarahan plasenta
2.12.3.Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
2.12.4.Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia / stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
2.12.5.Faktor persalinan
Partus lama
Partus tindakan (Medicine and linux.com DAN Pediatric.com)
2.12.6.Patofisiologi
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi “Primary gasping” yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.
Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah.
Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya (Medicine and linux.com).
2.12.7. Manifestasi Klinis
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:
– DJJ lebih dari 100 x / menit atau kurang dari 100 x / menit tidak teratur
– Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
– Apnea
– Pucat
– Sianosis
– Penurunan terhadap stimulus.
(Medicine and linux.com)
2.12.8. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :
Penafasan
Denyut jantung
Warna kulit
Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Tetapi skor APGAR tetap dipakai untuk menilai kemajuan kondisi BBL pada saat 1 menit dan 5 menit setelah kelahiran. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).
2.12.9. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka
Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
Kompresi dada.
Pengobatan
2.12.10. Persiapan resusitasi
Agar tindakan untuk resusitasi dapat dilaksanakan dengan cepat dan efektif, kedua faktor utama yang perlu dilakukan adalah :
1.Mengantisipasi kebutuhan akan resusitasi lahirannya bayi dengan depresi dapat terjadi tanpa diduga, tetapi tidak jarang kelahiran bayi dengan depresi atau asfiksia dapat diantisipasi dengan meninjau riwayat antepartum dan intrapartum.
2.Mempersiapkan alat dan tenaga kesehatan yang siap dan terampil. Persiapan minumum antara lain :
– Alat pemanas siap pakai – Oksigen
– Alat pengisap
– Alat sungkup dan balon resusitasi
– Alat intubasi
– Obat-obatan
2.12.11.Prinsip Dasar Resusitasi Bayi
1)Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan nafas.
2)Memberikan bantuan pernafasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernafasan buatan.
3)Memperbaiki asidosis yang terjadi
4)Menjaga agar peredaran darah tetap baik.
2.12.12.Langkah-Langkah Resusitasi
1.Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
2.Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
3.Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
4.Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
5.Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
6.Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis perifer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
a.Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
b.Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
c.Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10.
100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV.
60 – 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
9.Jika denyut jantung 0 atau 100 x / menit hentikan obat.
11.Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
12.Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak respon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro, 2007).

2.12.13.Therapi Cairan Pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia
1.Tujuan Pemberian Cairan untuk Bayi Baru Lahir dengan asfiksia
a. Mengembalikan dan mempertahankanKeseimbangan airan
b. Memberikan obat – obatan
c. Memberikan nutrisi parenteral
2.Keuntungan therapy Cairan
a.Efek therapy segera tercapai karena penghantaran obat ketempat target berlangsung cepat
b.Absorbsi total, memungkinkan dosis obat lebih tepat dan therapy lebih dapat diandalkan
c.Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek therapy dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
d.Rasa sakit dan iritasi obat- obat tertentu jika diberikan intramuscular dan subkutan dapat dihindari
e.Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorpsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinal.
3. Kerugian therapy Cairan
1. Resiko toksisitas/anapilaktik dan sensitivitas tinggi
2. Komplikasi tambahan dapat timbul :
Kontaminasi mikroba melalui sirkulasi
Iritasi vaskuler ( spt phlebitis )
Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

2.12.14.Cairan, elektrolit dan nutrisi
Semua neonatus dalam unit perawatan intensif sebaiknya menerima cairan / nutrisi / obat melalui infus intravena. Jumlah cairan tergantung pada usia bayi, ukuran / berat badan, status klinis dan fisiologis, serta keadaan patologik yang mungkin menyertai (misalnya diare, ikterus, anemia, dan sebagainya).
Kebutuhan cairan basal umumnya 50-100 cc/kgbb pada hari pertama, kemudian turun sampai 60-70 cc/kg BB pada hari ketiga. Jika bayi memiliki berat badan lebih rendah atau usia kehamilan lebih prematur, kebutuhan cairan menjadi lebih tinggi.
Infus cairan dimonitor setiap 6-8 jam, dengan input / output balans yang ketat. Tiap 24 jam dibuat rekapitulasi meliputi keseimbangan cairan dan elektrolit, input/output termasuk insensible water loss, fungsi ginjal, dan pemeriksaan elektrolit serum.
Elektrolit Na+ diberikan 3 mEq/dl cairan, dan K+ 2 mEq/dl.
Nutrisi maksimum diberikan 75 kalori per 100 cc cairan, dalam bentuk asam amino dan larutan glukosa, melalui infus intravena. Jika bayi dapat minum dan ibu dapat mengeluarkan ASI, bayi harus diberikan ASI

2.13.Keluarga Berencana
2.13.1.Pengertian
Keluarga Berencan (KB) adalah suatu usaha untuk menjarangkan kehamilan atau merencanakan jumlah da jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat secara mekanis, menggunakan obat, alat, atau dengan operasi.
2.13.2 Tujuan
A. Menunda Kehamilan
Dianjurkan pada pasangan dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Kontrasepsi yang sesuai pil, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mini, cara sederhana.
Alasannya :
Prioritas dibawah 20 tahun adalah usia dimana sebaiknya tidak mempunyai anak dulu
Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil Oral karena peserta masih muda
Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan sehingga akan mempunyai angka kegagalan yang tiggi.
B. Menjarangkan Kehamilan (Mengatur Kesuburan)
Dianjurkan pada istri berusia 20-30 tahun adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak denga jarak kelahiran 3-4 tahun. Kontrasepsi yang sesuai : AKDR, Pil, Suntik, cara sederhana, Susuk KB, Kontrasepsi mantap.
Alasannya :
Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan
Segera setelah lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama
Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tiggi namun tidak kurang berbahaya karean akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.
C. Mengakhiri Kesuburan (tidak ingin hamil lagi)
Dianjurkan saat istri di atas 30 tahun, setelah mempunyai 2. Kontrasepsi yang sesuai : Kontrasepsi mantap (Tubektomi/Vasektomi), susuk, KB, AKDR, Suntik, Pil, Cara Sederhana
Alasannnya :
Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau tidak mempunyai anak lagi karena alasan medis
Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap
Pada kontrasepsi darurat, kontap cocok dipakau dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR
Pil kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek sampig dan komplikasi
2.13.3 Syarat-syarat Kontrasepsi
a.Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya
b.Efek samping yang merugikan tidak ada
c.Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
d.Tidak mengganggu persetubuhan
e.Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol yang ketat selama pemakaian
f.Cara penggunaannya sederhana
g.Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas
h.Dapat diterima oleh pasangan suami istri
2.13.4 Tempat Pelayanan KB
A.Posyandu
B.Pos KB Desa
C.Puskesmas
D.TKBK (Tim KB Keliling)
E.Rumah Sakit
F.Dokter dan Bidan Praktek Swasta
2.13.5. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
AKDR adalah merupakan benda asing dalam rahim sehigga menimbulkan rekasi. Benda asing dengan timbunan lekosit, makrofag.
Pemadatan endometrium oleh lekosit, makrofag dan limfosit, menyebabkan balstosis mungkin dirusak oleh makrofag, dan blastosis tidak mampu nidasi.
I0N Cu dikeluarkan AKDR dengan cupper menyebabkan gangguan gerak spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melakukan konsepsi.
A.Cara Kerja AKDR
1.Menghamba kemampuan sperma untuk masuk ketuab falopii
2.Mempengaruhi fertilitas sebelum ovulasi mencapaui kavum uteri
3.AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum tertentu, walaupun AKDR
4.Membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
5.Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
B.Keuntungan AKDR
1.Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
2.AKDR, dapat efektif setelah pemasangan
3.Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan tidak perlu diganti)
4.Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat
5.Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6.Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT AKDR (CuT 380).
7.Tidak mempengaruhi dari volume ASI. Dapat dipasang segera setelah lahir atau sesudah abortus (bila tidak terjadi infeksi)
8.Dapat digunakan sampai menopause
9.Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
10.Membantu mencegah kehamilan ektopik
C.Kerugian AKDR
Efek samping yang umum terjadi :
Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setela 3 bulan)
Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan (spotting) antar menstruasi
Saat haid lebih sakit
Komplikasi lain :
Merasakaan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.
Perdarahan berat pada waktu haid diantaran yang memungkinkan penyebab anemi
Perporasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)
Tidak mencegah IMS termasuk HIV /AID
Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering bengantian pasangan
Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR.
Sering nyeri dan perdarahan
Klien tidak dapat melapas AKDR sendiri
Mengkin AKDR keluar dari uterus
Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik
Perempuan harus memeriksa posisin benang.
D.Persyaratan Pemakaian
Yang menggunakan :
Usia reproduktif
Keadaan nulipara
Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
Setelah mengalami abortus
Tidak menghendaki metode hormonal
Tidak mengehendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama
Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR :
Sedang hamil
Perdarahan vagina yang tidak diketahui penyebabna
Sedang menderita infeksi alat genetalia
Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus
Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak
Penyakit trofoblas yang ganas
Diketahui menderita TBC pelvic
Kanket alat genetalia
Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.
E.Kontra Indikasi IUD
Hamil
Perdarahan diluar siklus haid yang tidak terdiagnosa sebelumnya
Riwayat KET
Infeksi panggul atau vagina
Kelainan anatomi pada uterus
Alergi pada komponen IUD, misalnya : tembaga
Penyakit Wilson
HIV atau AIDS
F.Persiapan pemasangan AKDR
Persiapan alat
Bivalve speculum
Tenakulum
Sonde uterus
Tampon tang
Gunting benang
Mangkok berisi lauran anti septic
Duk
Sarung tangan 2 pasang
Lampu sorot
Tempat sampah
IUD copper T 380 A
Kassa
G.Langkah-langkah Pemasangan AKDR
1)Lakukan anamnesa antara lain HPHT, lama haid, nyeri haid, anemia, riwayat infeksi system gentalai, kanker srvik
2)Lakukan pemeriksaan fisik, palpasi daerah perut apakah ada nyeri, tumor.
3)Kenaikan kain penutup pada klien untuk memeriksa panggul
4)Atur peralatan dalam wadah steril atau DTT
5)Pasang sarung tangan DTT
6)Lakukan infeksi pada daerah gentalia eksterna
7)Masukan speculum
8)Lakukan pemeriksaan speculum apakah ada lesi atau keputihan dan infeksi daerah serviks
9)Keluarkan speculum dengan hati-hati
10)Lakukan pemeriksaan bimanual
11)Lakukan pemeriksaan retrivaginal bila ada indikasi
12)Celupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%
H.Tindakan Pada Pemasangan
1)Jelaskan apa yang mau dilakuan pada
2)Masukan lengan AKDR Cu T 380 A didalam kemasan sterilnya
a.Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat ke belakang
b.Masukan pendorong kedalam tabung inserter
c.Letakan kemasan ditempat yang datar
d.Selipkan kerta pengukur dibawah lengan AKDR
e.Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal
f.Setelah lengan melipat meyentuh tabung inserter, tarik tabung inserter dari bawah ikatan lengan
g.Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk memasukan lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut kedalam tabung inserter.
I.Tindakan Pemasangan
1)Pasang sarung tangan yang baru
2)Pasang speculum vagina untuk melihat srviks
3)Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali
4)Jepit serviks dengna tenakulum dengan hati-hati
5)Masukan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh (no touch).
6)Tentukan posisi dan kedalam uterus
7)Keluarkan sonde dan ukur kedalam kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung inserter kemudian buka semua plastik penutup kemasan
8)Keluarkan inserter dari tempat kemasan
9)Pegang tabung AKDR dengan posisi leher biru dalam keadaan horizontal kemudian masukan tabung inserter kedalam uterus sampai leher biru menyentuh serviks
10)Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu lengan
11)Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawel
12)Keluarkan pendorong kemudian tabung inserter didorong kembali ke seriks sampai leher biru menyentuh serviks terasa ada tahanan.
13)Keluarkan selurh tabung inserter
14)Lepaskan tenakulum dengan hati-hati
15)Periksa serviks bila ada perdarahan dari tempat belas tenakulum, tekan dengan kasa
16)Keluarkanlah speculum dengan hati-hati.
J.Konseling Pasca Pemasangan
1)Ajarakan pada ibu bagaimana cara memeriksa benang AKDR
2)Jelaskan pada ibu apa yang harus dilkukanbila ada efek samping
3)Jelaskan pada ibu bahwa AKDR bisa dilepas setiap saat bilan diinginkan
4)Amati klien kurang lebih selama 15 menit sebelum dipulangkan.

2.14.Manajemen Kebidanan Menurut Varney
2.14.1 Pengertian
Proses manajemen adalah proses memecahkan masalah dengan menggunakan metode yang terorganisir meliputi pikiran dan tindakan dengan urutan logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan dengan menunjukkan Pernyataan yang jelas tentang proses berpikir dan tindakan.
Manajemen kebidanan memberikan asuhan komprehensif, terdiri dari 7 langkah :
2.14.1.1 Langkah I
Mengumpulkan data dasar lengkap untuk mengevaluasi pasien, meliputi nwayat pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul atas indikasi, mempelajari catatan sekarang atau laporan yang lalu, mempelajari data laboratorium dan membuat laporan singkat untuk menentukan kondisi pasien.
2.14.1.2 Langkah II
Adalah interpretasi data untuk spesifikasi masalah atau diagnosa.
2.14.1.3 Langkah III
Identifikasi masalah-masalah potensial atau diagnosa berdasarkan diagnosa sekarang adalah antisipasi masalah, mencegah bila mungkin, penjagaan betul-betul dan persiapan untuk beberapa kemungkinan yang terjadi.
2.14.1.4 Langkah IV
Adalah kelanjutan secara alami dalam proses manajemen, bukan hanya selama asuhan primer atau kunjungan antenatal tetapi secara terus menerus selama bidan bersama wanita, misalnya saat persalinan data tetap dicari dan dievaluasi.
2.14.1.5 Langkah V
Membuat rencana asuhan komperehensif, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, merupakan hasil pengembangan dari masalah sekarang antisipasi masalah dan diagnosa juga melengkapi data yang kurang serta data tambahan yang penting sebagai informasi untuk data dasar.
2.14.1.6 Langkah VI
Adalah implementasi dari rencana asuhan yang komprehensif, ini mungkin s;.luruhnya diselesaikan oleh bidan atau sebagian oleh wanita atau anggota team kesehatan lainnya.

2.14.1.7 Langkah VII
Adalah evaluasi benar-benar merupakan pengecekan bagaimana rencana asuhan apakah mencakup kebutuhan bantuan telah diidentifikasi pada masalah atau diagnosa, bila ya maka perencanaannya adalah efektif dan bila tidak berarti efektif
2.14.2 Dokumentasi Kebidanan
2.14.2.1 Pengertian
Dokumentasi asuhan kebidanan adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, dan klinik kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan, produser pengobatan pada pasien dan pendidikan pada pasien dan respon pasien terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan.
2.14.2.2 Prinsip Dokumentasi
Asuhan yang diberikan bidan hams dicatat secara benar, sederhana, jelas dan logis serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga perlu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien yang di dalamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan. (Varney, 1997)
2.14.2.3 Fungsi Dokumentasi
Sebelum dokumentasi yang sah, alat komunikasi antara petugas kesehatan, sebagai bahan penelitian dan pendidikan, sebagai dokumen berharga untuk mengetahui perkembangannya dan evaluasi pasien, dan sebagai tanda bukti di pengadilan.
2.14.2.4 Teknik Pencatatan atau Cara Penulisan Dokumentasi
1.Mencantumkan nama pasien.
2.Menulis dengan tinta hitam (idealnya)
3.Menulis atau menggunakan singkatan dan simbol yang telah disepakati oleh institusi untuk mempercepat pencatatan.
4.Mencantumkan tanggal, jam tindakan atau observasi yang dilakukan sesuai kenyataan dan bukan interpretasi.
5.Hindarkan kata-kata yang menimbulkan penilaian, seperti : tampaknya, rupanya, dan bersifat umum.
6.Tulis nama jelas pada catatan observasi dan pemeriksaan oleh yang melakukan.
7.Hasil temuan digambarkan secara jelas termasuk keadaan, gejala, tanda, warna, jumlah dan besar dengan ukuran yang lazim dipakai.
8.Interpretasi data obyektif harus didukung oleh observasi.
9.Kolom jangan dibiarkan kosong, beri tanda bila tidak ada yang perlu ditulis.
10.Coretan harus disertai paraf atau tanda tangan di sampingnya.
2.14.2.5 Metode Pendokumentasian
Yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah SOAP, yang merupakan adalah satu metode pendokumentasian yang ada. SOAP adalah singkatan dari :
S : Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa (langkah 1).
O : Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment (langkah 1).
A : Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subyektif dan obyektif suatu indikasi, diagnosa masalah, antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial, tindakan segera/kolaborasi (langkah 2, 3, dan 4).
P : Pelaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment (langkah 5, 6 dan 7).

2.15.Standar Asuhan Kebidanan
2.15.1 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
2.15.1.1 Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangka tahapan mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (Varney)
2.15.1.2 Tujuan
Agar bidan mampu memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan berstandar pada ibu ante natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama hamil ini, kebutuhan dan respon ibu serta mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada dan mengantisipasinya. (PPKC, 2004)
2.15.1.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan kebidanan yang bersifat rutin maupun segera dan saat ibu hamil (trimester I s/d trimester III) meliputi pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah 280 hari 40 minggu) atau 9 bulan 7 hari, yang dibagi dalam 3 triwulan/trimester :
Triwulan I : Kehamilan sampai dengan 14 minggu
Triwulan II : Kehamilan 14 minggu – 28 minggu
Triwulan III : Kehamilan 28 minggu – 36 minggu dan sesudah 36 minggu
Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu dan perubahan di dalam keluarga. (PPKC, 2004)
2.15.2 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin
2.15.2.1 Pengertian
Manajemen kebidanan pada ibu intra natal adalah proses pemecahan masalah pada masa intra natal yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
2.15.2.2 Tujuan
Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan.
2.15.2.3 Hasil Yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada saat ibu intra partum (Kala I s/d Kala IV) termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan maupun oleh dokter atau melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.
2.15.3 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal
2.15.3.1 Pengertian
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada jam pertama setelah kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran.
2.15.3.2 Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.
2.15.3.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bayi, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.
2.15.4 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas
2.15.4.1 Pengertian
Asuhan ibu post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.
2.15.4.2 Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.
2.15.4.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.16.Standar Pelayanan Kebidanan
2.16.1 Standar Pelayanan Antenatal (Standar 4)
2.16.1.1 Tujuan
Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.
2.16.1.2 Pernyataan Standar
Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan ristiikelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas tugas terkait lainnya yang diberikan oleh pukesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat dan setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. 2.16.1.3 Hasil
Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4x selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan. Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kedaruratan.
2.16.2 Standar Pelayanan Intranatal (Standar 9)
2.16.2.1 Tujuan
Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. 2.16.2.2 Pernyataan Standar
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai kemudian memberikan asuhan dan memantau yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.
2.16.2.3 Hasil
Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu bila diperlukan. Meningkatkan cakupan persalinan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus iama.
2.16.3 Standar Pelayanan Nifas (Standar 15)
2.16.3.1 Tujuan
Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.
2.16.3.2 Pernyataan Standar
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tall pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.
2.16.3.3 Hasil
Komplikasi pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada saat yang tepat.
Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI eksklusif
Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan.
Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.
Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana/penjarangan kelahiran.
Meningkatkan imunisasi pada bayi.
2.16.4 Standar Pelayanan Bayi Baru Lahir (Standar 13)
2.16.4.1 Tujuan
Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernapasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemia, dan infeksi.
2.16.4.2 Pernyataan Standar
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi,
2.16.4.3 Hasil
Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernapasan dengan baik. Penurunan kejadian hipotermia, asfiksia, infeksi, dan hipoglikemia pada bayi baru lahir. Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir.



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi yang kuat. Ibu yang sehat pula akan menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Untuk mewujudkan itu semua seluruh pemangku kepentingan dalam program kesehatan reproduksi di Indonesia (pemerintah pusat maupun daerah, LSM, dunia usaha, organisasi profesi, donor agency) hendaknya meningkatkan aktifitasnya dalam mendukung pencapaian kualitas hidup yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Sebagai tolak ukur keberhasilan ibu maka salah satu indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstetric dan ginekologi di suatu wilayah adalah dengan melihat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diwilayah tersebut. Kematian saat melahirkan menjadi factor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktifitasnya.
Menurut WHO, sekitar 3% dari 120 juta bayi lahir  mengalami asfksia, dan hampir  satu juta  bayi diantaranya meninggal dunia .
Di Indonesia saat ini masih memperihatinkan, ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2009 sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu secara langsung adalah perdarahan 60-70%, infeksi 10-20 % dan eklampsi 10-20%. Sedangkan AKB sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Penyebab angka kematian bayi diantaranya yaitu asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologic 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%, (SKRT, 2002).
Jumlah kematian ibu di Propinsi Banten pada tahun 2008 tercatat 256/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian bayi 34/1000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kematian Ibu di kabupaten Tangerang sebesar 197/100.000 kelahiran hidup dan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan 83,13%. Penyebab kematian ibu di wilayah kabupaten Tangerang adalah : infeksi 5%, hipertensi 9 %, perdarahan 50 %, lain-lain 36 %. Jumlah kematian bayi di wilayah kabupaten Tangerang tahun 2003-2009 adalah 111 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kabupaten Tangerang).
Penyebab kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetric langsung dan tidak langsung. Kematian obsterik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan antara lain perderahan 28%, infeksi 11% dan eklampsi 24,5%, partus lama 5,2%. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan/persalinan antara lain anemia, kurang energy kronik (KEK) dan hipertensi kronik 5 – 10 %. Angka kejadian hipertensi kronik pada berbagai populasi berbeda 0.5 – 4% (rata-rata 2.5%). Hipertensi kronik pada kehamilan 80% idiopatik dan 20% oleh karena penyakit ginjal.
Hipertensi merupakan gangguan paling sering dalam kehamilan dan penting diperhatikan karena menyebabkan angka kematian dan kesakitan yang cukup tinggi pada maternal dan perinatal. Gangguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai.
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000, yang menjelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (JHPEIGO, 2002).
Kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20-89 % dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Kejadian anemia dalam kehamilan mencapai 63,5% (Saifuddin, 2001).
Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun nifas dan masa selanjutnya, berbagai penyakit dapat timbul karena anemia seperti abortus, partus prematurus, partus lama karena inersia uteri, perdarahan post partum, karena atonia uteri, syok dan Infeksi. (Prawiroharjo, 2000).
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his normal (Manuaba, 2010 : 372). Inersia Uteri terbagi menjadi 2 : Inersia Uteri Primer dan Inersia Uteri Sekunder. Inersia uteri primer; bila sejak semula kekuatan hisnya sudah lemah. Inersia uteri sekunder ialah his pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.
Dalam hal ini bidan sebagai tenaga kesehatan professional hendaknya mampu melakukan deteksi dini dan dapat mengantisipasi komplikasi yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, factor penyulit yang terjadi dapat diatasi sebagai salah satu upaya dalam menurunkan AKI.
Gangguan menahun dalam kehamilan pada ibu dapat berupa gizi buruk, anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000).
Kematian neonatal dini lebih banyak disebabkan secara intrinsik dengan kesehatan ibu dan perawatan yang diterima sebelum, selama dan setelah persalinan. Demikian halnya dengan asfiksia neonatorum pada umumnya disebabkan oleh manajamen persalinan yang tidak sesuai dengan standar dan kurangnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Kurangnya asupan kalori dan nutrisi pada saat masa kehamilan juga dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia. Hampir tiga per empat dari semua kematian bayi baru lahir dapat dicegah apabila ibu mendapatkan nutrisi yang cukup, pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan yang profesional (Leonardo, 2008).
Keberadaan bidan di tengah-tengah masyarakat, memiliki peran yang strategis terutama dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dibutuhkan tenaga yang terampil, dengan melakukan asuhan secara komprehensif terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan asuhan pada bayi baru lahir diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta memberikan kontribusi langsung dalam membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal.
Oleh karena itu penulis mencoba mengambil studi kasus pada Ny. N dituangkan dalam KTI dengan judul : “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. P dengan Hipertensi Kronik dan Anemia dari kehamilan 34 minggu sampai dengan 6 minggu post partum di Klinik Obbini Balaraja – Tangerang”

1.2.Tujuan
1.2.1.Tujuan Umum
Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan pendokumentasian SOAP.

1.2.2.Tujuan Khusus
1.2.2.1. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi kronik dan anemia dalam kehamilan
1.2.2.2 Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan hipertensi kronik dan anemia dalam persalinan dan inersia uteri.
1.2.2.3. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia.
1.2.2.4. Memberi asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan hipertensi kronik..
1.2.2.5 Mendokumentasikan hasil asuhan pada masa ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan metode SOAP.

1.3.Manfaat
1.3.1.Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu mengembangkan ilmu yang didapat selama pendidikan baik teori maupun praktik dalam melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif terhadap klien mulai dari hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.
1.3.2.Bagi Klinik Obbini
Dapat meningkatkan mutu pelayanan yang berkualitas berdasarkan standar pelayanan kebidanan.
1.3.3.Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk study kasus selanjutnya.

1.3.4.Bagi Ibu / Klien
Setelah diberikan asuhan komprehensif pada klien selama masa hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir, diharapkan dapat mencegah, mendeteksi dan mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
1.3.5.Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.



KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN RANGKASBITUNG

KARYA TULIS, DESEMBER 2010
SITI KUSTIANAH
NIM : P.17324308641

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. “P” DENGAN HIPERTENSI KRONIK DAN ANEMIA SEJAK KEHAMILAN 34 MINGGU SAMPAI DENGAN 6 MINGGU POST PARTUM DI KLINIK OBBINI BALARAJA – TANGERANG
( PERIODE AGUSTUS 2010 S.D OKTOBER 2010 )
V + 151 halaman + 7 lampiran

ABSTRAK

Hipertensi penyebab gangguan 5 -10 % dari seluruh kehamilan, dan dapat menjadi komplikasi yang mematikan, yaitu pendarahan dan infeksi, yang berkontribusi besar terhadap AKI. WHO meninjau secara sistematis AKI di negara maju, 16 % disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13 %, aborsi-8 %, dan sepsis-2 %.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan kebidanan pada kasus hipertensi kronik dan anemia dalam masa kehamilan, persalinan, nifas dan BBL dengan pendekatan Manajemen Varney serta mendokumentasikannya dalam bentuk SOAP.
Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (Saifuddin, 2010 : 531). Anemia dalam kehamilan adalah suatu keadaan dimana kadar Hb ibu di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kurang dari 10,5% pada trimester II (Saifuddin, 2006).
Ibu G3 P2 A0 , pada ANC I tekanan darah ibu 150/100 mmHg, kadar Hb 9,5 gr%, ibu mengalami hipertensi kronik dan anemia. Penatalaksanaannya memberikan penjelasan tentang hipertensi kronik dan berkolaborasi dengan dokter SPOG. Hasil kolaborasi diberikan Adalat 0,5 mg 1 x 1 tablet serta pemberian Fe 60 mg 2 x 1 perhari. Pada ANC II dan III Tekanan darah menetap 140/90 mmHg. Ibu melahirkan pada usia kehamilan 37 minggu, terjadi kala I dan kala II memanjang karena inersia uteri, dilakukan induksi oksitosin drip dan Nifedipine tiap 6 jam/oral. Bayi lahir spontan pervaginam dengan Asfiksia, resusitasi berhasil, dilakukan IMD dan rawat gabung. Masa nifas umur 6 jam, 6 hari hingga 6 minggu berjalan normal, ibu menjadi akseptor KB IUD Copper T-Cu380 (Winkjosastro : 2002) dan bayi telah diimunisasi HB0, BCG, dan Polio 1 (Saifuddin : 2010).
Setiap fasilitas kesehatan diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanan kesehatan.

Kata Kunci : Hipertensi kronik, Anemia
Referensi : 28 ( 2000 – 2010 )



BAB III
TINJAUAN KASUS

Ny. A, umur 37 tahun, suku Sunda , kebangsaan Indonesia, agama Islam, Tidak tamat SD, tidak bekerja, mempunyai suami Tn, S, umur 40 tahun, suku Sunda, kebangsaan Indonesia, agama Islam, Tidak tamat SD, pekerjaan dagang, alamat Balaraja Kabupaten Tangerang.
3.1. MASA KEHAMILAN (Ante Natal)
3.1.1. Trimester I (0 – 12 miggu)
Pada trimester ini ibu memeriksakan kehamilan yang pertama di posyandu tanggal 29 Januari 2010, pada saat itu usia kehamilan satu setengah bulan, dari hasil dokumentasi didapatkan data ibu lupa tanggal HPHT Ibu mengeluh sering pusing. Tekanan darah 150/100 mmHg dengan riwayat hipertensi sebelumnya. Pola makan tidak teratur hanya 3 kali sehari dalam porsi kecil karena kurang nafsu makan.
3.1.2. Trimester II (13 – 27 minggu)
Pada trimester ini, ibu juga memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Balaraja atas rujukan bidan desa, pada tanggal 10 Juni 2010 . Pada saat itu usia kehamilan lima bulan, keluhan ibu sering pusing, pergerakan janin dirasakan pada usia kehamilan 5 bulan, pertumbuhan janin dan pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilannya. Lalu dilakukan USG oleh dokter dengan hasil TP 05 Oktober 2010, usia kehamilan 23 minggu. Ibu diberikan terapi Nifedipine 3 x 10 mg dan dianjurkan kontrol setiap bulan, tetapi ibu tidak control kembali dan tidak meneruskan obat antihipertensinya. Ibu belum pernah mendapat imunisasi TT sebelumnya, juga pada kehamilan sebelumnya.
3.1.3. Trimester III (28 – 40 minggu)
3.1.3.1.Kunjungan Antenatal I
Tanggal 06 Agustus 2010 dilakukan ante natal pertama pada Ny. A di Klinik Obbini Balaraja. Pada pemeriksaan ini ibu mengeluh sering merasa pusing.
Dari kajian yang penulis lakukan pada Ny. A, menarche umur 10 tahun, siklus haid 30 hari, teratur, lama haid 7 hari, banyaknya darah haid 2 kali ganti pembalut dalam sehari, sifat darah haidnya merah dan encer. Ny.A mengatakan hamil keempat dengan 2 kali melahirkan anak kurang bulan dan 1 kali hamil dengan kematian janin dalam kandungan umur kehamilan 6 bulan. Ibu tidak mempunyai anak hidup dari kehamilan sebelumnya dengan riwayat infertile selama kurang lebih 12 tahun sebelum kehamilan pertama. Pada kehamilan ini , ibu mengaku lupa tanggal hari pertama haid terakhirnya. Namun dari pemeriksaan USG yang dilakukan oleh Ibu pada tanggal 10 Juni 2010 didapatkan taksiran persalinan tanggal 05 Oktober 2010. Keluhan pada trimester I ibu mengeluh sering pusing. Pada trimester II mengeluh sering pusing. Pada trimester ke III, ibu mengeluh sering pusing dan merasa cepat lelah. Pergerakan janin pertama kali dirasakan pada usia kehamilan 4 bulan. Pergeakan janin dalam 24 jam terakhir lebih dari 20 kali gerakan. Personal hygiene ; ibu mandi 3 kali sehari menggunakan sabun mandi, cuci rambut 3 kali dalam seminggu menggunakan sampo , menggosok gigi 3 kali sehari menggunakan pasta gigi dan dalam sehari mengganti pakaian 3 kali setiap habis mandi , pakaian dari bahan kaos / katun atau sejenisnya. Diet makan ibu 3 kali sehari , dalam porsi sedikit , nafsu makan kurang dengan menu nasi , sayur, dan buah-buahan. Ibu tidak mempunyai pantangan dalam makanan atau minuman, dengan frekuensi minum 6 – 7 gelas sehari. Pola aktifitas dan istirahat ; Ibu tidak bekerja , pekerjaan rumah dikerjakan sendiri atau bersama- sama dengan suami .Tidur siang 1 jam, mulai pukul 13.00 WIB – 14.00 WIB , Tidur malam ± 8 jam, mulai pukul 22.00 WIB – 06.00 WIB , tidak ada gangguan/ masalah tidur. Ibu tidak mempunyai keluhan / masalah dalam pola seksual dengan frekuensi 2 – 3 kali dalam seminggu, tidak teratur. Pola eliminasi buang ari besar 1 kali sehari dan buang air kecil 6 kali sehari. Ibu belum pernah mendapatkan imunisasi TT sejak kehamilan anak pertama hingga sekarang. Ibu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap obat-obatan. Ibu mempunyai riwayat hipertensi sejak kelahiran anak pertamanya, tetapi ibu tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik yang lainnya seperti penyakit jantung, ginjal, asthma, TBC, hepatitis, DM dan PMS. Di keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti jantung, ginjal, asthma, TBC, hepatitis, DM, dan keturunan kembar, tetapi ada riwayat hipertensi dalam keluarga. Dalam pernikahannya, Ibu pernah mengikuti program pil, selama 1 tahun, mulai dari 40 hari anak kedua di posyandu, berhenti tahun 2007, karena ingin punya anak lagi. Riwayat Psikologi, sosial, spiritual dan ekonomi; Ibu menikah 2 kali sudah 22 tahun, pada saat berusia 17 tahun dan suami berusia 20 tahun. Jumlah anggota keluarga dirumah sebanyak 3 orang. Ibu merencanakan persalinannya di polindes, ibu merasa senang dengan kehamilan ini, pembuat keputusan adalah suami, penghasilan suami kurang lebih 1 juta rupiah dalam sebulan, ibu selalu berdoa untuk keselamatan dirinya dan bayi yang sedang dikandungnya. Dalam perilaku dan kebiasaan kesehatan, ibu tidak pernah merokok,minuman keras dan konsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan.
Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan, ditemukan keadaan umum ibu baik, kesadaran kompos mentis, keadaaan emosional stabil. Berat badan 58 Kg dengan tinggi badan 152 cm. Berat badan sebelum hamil 50 Kg. Tanda-tanda vital : tekanan darah 170 / 110 mmHg, frekuensi nadi 82 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu tubuh ibu 36,5 oC.
Dari pemeriksaan fisik kepala, bentuk kepala bulat simetris, rambut lebat dan bersih dan tidak rontok. Pada muka tidak terdapat oedema, bentuk simetris, konjungtiva mata agak pucat, sclera mata tidak kuning, tidak ada gangguan penglihatan. hidung bersih, septum hidung ditengah dan tidak ada polip, pada lidah dan mulut : tidak ada sariawan, tonsillitis (-), ovula 1 buah, caries gigi (+). Tidak ada pembesarankelenjar getah bening dan kelenjar tiroid pada leher. Bunyi jantung dan paru-paru normal. Bentuk payudara simetris, tidak ada benjolan abnormal, areola mammae terdapat hiperpigmentasi, putting susu mononjol dan bersih, kolostrum belum ada, tanda dimpling tidak ada. Punggung Lordosis Fisiologis , pinggang tidak ada nyeri ketuk pada daerah Costo Vertebre Angle Tenderness. Tidak ada oedema pada tangan kaki, varices dan betis kemerahan tidak ada, reflek patella kanan dan kiri +/+.
Pada pemeriksaan fisik khusus kebidanan, pada inspeksi abdomen didapatkan bentuk perut bulat memanjang, pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan, tidak ada luka bekas operasi, tidak ada oedema, tidak ada ascites, kandung kemih kosong. Pada palpasi Leopold I didapatkan bagian bulat, lunak dan tidak melenting pada fundus uteri. Pada Leopold II, tahanan memanjang teraba disebelah kanan perut ibu dan bagian – bagian kecil janin teraba di bagian kiri perut ibu. Palpasi Leopold III teraba bagian bulat, keras dan melenting sebagai bagian terendah janin. Sedangkan pada Leopold IV , Konvergen , kepala belum masuk PAP. Kontraksi uterus tidak ada, tinggi fundus uteri 27 cm, taksiran berat badan janin 2170 gram. Pemeriksaan auskultasi ditemukan denyut jantung janin yang teratur dengan frekuensi 124 x/menit, punctum maksimum terdengar satu tempat dibawah pusat perut ibu . Genitalia terlihat bersih, tidak ada odema dan varices, tidak ada bekas luka parut dan anus tidak terdapat haemorrhoid. Pada palpasi genitalia, tidak ada benjolan di kelenjar barholini dan kelenjar skene, nyeri tekan (-).
Pemeriksaan laboratorium Haemoglobin 10,2 gr%, protein urine (-), urine reduksi (-).Hasil pemeriksaan USG menunjukkan Tanggal 10 – 06 – 2010, usia kehamilan 32 minggu, janin tunggal, hidup, intra uterine, plasenta dikorpus belakang, air ketuban jernih, jumlah air ketuban cukup, jenis kelamin perempuan. TP : 05 Oktober 2010.
Hasil analisa pada kasus : Ny. A umur 37 tahun G4P3A0 hamil 32 minggu, janin presentasi kepala, tunggal , hidup , dengan hipertensi kronik dan anemia. Dasar analisa : Ibu mengatakan hamil yang keempat, tidak pernah keguguran, mengeluh sering pusing dan merasa cepat lelah. Tekanan darah 170/110 mmHg , mengeluh sering pusing , HPHT Lupa (Kira-Kira 30 Desember 2009 dari hasil USG tanggal 10 Juni 2010), TP : 05 Oktober 2010, Leopold I didapatkan bagian bulat, lunak dan tidak melenting pada fundus uteri. Leopold II, tahanan memanjang teraba disebelah kanan perut ibu dan bagian – bagian kecil janin teraba di bagian kiri perut ibu. Leopold III teraba bagian bulat, keras dan melenting sebagai bagian terendah janin. Leopold IV , kepala belum masuk PAP. TFU 27 cm, Ibu masih merasakan gerakan anak ≥ 20 kali, BJJ : 124 kali / menit, TBBJ : 2170 gram, Hb : 10,0 gr %, urine reduksi negative, protein urine negative. Masalah yang ditemukan : Asupan nutrisi kurang adekuat.Dasar : Nafsu makan kurang, porsi makan sedikit. Kebutuhan : informasi tentang gizi pada masa kehamilan.
Diagnosa potensial terjadinya partus prematurus atas dasar tekanan darah 170/110 mmHg dan Hb 10 gr%, potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed atas dasar tekanan darah 170/110 mmHg dan potensial terjadinya solutio plasenta atas dasar tekanan darah 170/110 mmHg. Kebutuhan tindakan segera untuk ibu adalah berkolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan.
Perencanaan yang dilakukan pada Ny. A adalah lakukan Informed concent, beritahu Ibu tentang hasil pemeriksaan, beri penyuluhan tentang hipertensi kronik dalam kehamilan, anjurkan ibu untuk cukup istirahat, Berikan informasi tentang anemia pada masa kehamilan dan cara mengatasinya, Berikan terapi Fe serta kalsium laktat,Anjurkan ibu kontrol ulang untuk memantau dan memeriksa kadar Hb dalam waktu 1 bulan, Anjurkan ibu untuk konsul kedokter spesialis kebidanan , Anjurkan ibu memeriksakan tekanan darahnya setiap minggu atau jika ada keluhan atau tanda-tanda bahaya lainnya dan kontrol ulang tanggal 20 Agustus 2010,.
Penatalaksanaan yang dilakukan pada Ny. A adalah melakukan Informed concent, Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu bahwa ibu hamil 8 bulan dengan hipertensi kronik dan anemia, Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat , Memberikan penyuluhan kepada ibu tentang bahaya hipertensi dalam kehamilan, , Memberikan informasi kepada ibu tentang anemia pada masa kehamilan dan cara mengatasinya, Memberikan penjelasan kepada ibu tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, Memberikan terapi Fe 2 x 1 tablet / hari, Kalsium laktat 3 x 1 tablet/hari serta memberitahu ibu agar tidak meminum obatnya dengan menggunakan air teh, kopi atau susu karena dapat mempengaruhi penyerapan obat,menganjurkan ibu kontrol ulang untuk memantau dan memeriksa kadar Hb dalam waktu 1 bulan, hasil kolaborasi dengan dokter SPOG ibu mendapatkan therapy Nifedipine 3 x 10 mg , menganjurkan ibu memeriksakan tekanan darahnya setiap minggu atau jika ada keluhan atau tanda-tanda bahaya lainnya dan kontrol ulang tanggal 20 Agustus 2010.
Evaluasi didapatkan Ibu mengerti dan paham pada kondisinya saat ini.Ibu berjanji mau mengkonsumsi tablet Fe dan obat – obat tambahan lainnya serta Ibu tahu bawa dilarang mengkonsumsi soft drink, teh, kopi, saat menjalani terapi yang diberikan bidan.Ibu mengatakan akan lebih berhati – hati dan waspada. Serta akan memeriksakan tekanan darahnya setiap minggu atau bila ada tanda – tanda bahaya pada kehamilannya.Ibu setuju untuk periksa ulang 2 minggu lagi tanggal 20 Agustus 2010.Tanggal 14 Agustus 2010 tekanan darah ibu 140 / 100 mmHg.
3.1.3.2.Kunjungan Ante Natal II
Tanggal 20 Agustus 2010 pukul 16.00 WIB, penulis melakukan pemeriksaan ANC yang kedua. Ibu mengatakan masih merasa pusing, tetapi telah berkurang setelah diberi obat untuk menurunkan tekanan darahnya. Ibu mengaku kurang nafsu makan.Ibu mengaku hamil delapan bulan dan merasakan gerakan bayinya lebih dari 20 kali
Pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan emosi stabil. Tanda-tanda Vital : TD : 140 / 100 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,5 0C. Pemeriksaan fisik : muka tidak odema, kunjungtiva agak pucat, scklera tidak ikterik, gangguan penglihatan (-) , puting susu menonjol dan terlihat bersih, kolostrum +/+, nyeri pada ulu hati (-). Leopold I didapatkan bagian bulat, lunak dan tidak melenting pada fundus uteri. Leopold II, tahanan memanjang teraba disebelah kanan perut ibu dan bagian – bagian kecil janin teraba di bagian kiri perut ibu. Leopold III teraba bagian bulat, keras dan melenting sebagai bagian terendah janin. Leopold IV , kepala belum masuk kedalam pintu atas panggul (konvergen). TFU 29 cm, BJJ (+) 132 x/mnt, teratur, TBBJ 2480 gram.
Analisa data Ny, A, Ny A G4P3A0 Hamil 34 minggu janin presentasi kepala, tunggal, hidup, dengan hipertensi kronik dan anemia. Masalah yang ditemukan asupan nutrisi kurang adekuat, diagnose potensial terjadinya partus prematurus, potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed, potensial terjadinya solutio plasenta.
Penatalaksanaannya adalah melakukan Informed consent, menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu bahwa ibu hamil 8 bulan lebih 2 minggu dengan hipertensi dan anemia, Memberikan penyuluhan kepada ibu tentang gizi pada masa kehamilan, Memberikan terapi : Fe 2 x 1 tablet / hari, Kalsium laktat 3 x 1 tablet/hari , menganjurkan ibu untuk terus mengkonsumsi obat-obatan hasil kolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan, yaitu Nifedipine 10 mg dengan dosis 3 kali dalam sehari. menganjurkan ibu memeriksakan tekanan darahnya setiap 3 – 4 hari atau jika ada keluhan atau tanda-tanda bahaya lainnya dan kontrol ulang tanggal 29 Agustus 2010.
Ibu mengerti dan paham pada kondisinya saat ini.Ibu berjanji mengkonsumsi obat – obat secara teratur.Ibu mengatakan akan memeriksakan tekanan darahnya setiap minggu atau bila ada tanda – tanda bahaya pada kehamilannya.Ibu setuju untuk periksa ulang 1 minggu lagi tanggal 29 Agustus 2010.

3.1.3.3.Kunjungan Ante Natal III
Sabtu, 3 September 2010 pukul 14.00 WIB , dilakukan pemeriksaan kehamilan yang ketiga. Pada kunjungan ini Ibu mengatakan pada tanggal 29 Agustus 2010 ibu merasa pergerakan bayinya kurang dan merasa demam sejak 3 hari yang lalu.
Keadaan umum Lemah, Kesadaran : Compos Mentis ,tanda-tanda Vital : TD : 150 / 100 mmHg, Nadi : 92 x/menit, Pernafasan : 26 x/menit, Suhu : 35,4 0C. BJJ 114 kali / menit, teratur. Ibu dirujuk ke RSUT dengan O2 terpasang.
Ibu pulang tanggal 31 Agustus 2010 dengan diagnosa ISPA. Telah dikolaborasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam oleh pihak RSUT dengan diberikan terapi : Nifedipine 10 mg dosis 3 x 1 tablet, Tablet Fe dosis 2 x 1 tablet, Kalsium 3 x 500 mg . Saran dari pihak rumah sakit :Ibu istirahat yang cukup dan asupan gizi yang baik.
Kemudian pada kunjungan ini, hasil anamnesanya ialah Ibu mengatakan keadaannya lebih baik setelah dirawat di RSUT, ibu merasakan pergerakan bayinya aktif ≥ 20 kali . pada pemeriksaan fisik didapatkan K/U Baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan emosi stabil, Berat Badan 66 Kg. muka tidak odema, kunjungtiva tidak pucat, scklera tidak ikterik, gangguan penglihatan (-),puting susu menonjol dan terlihat bersih, kolostrum +/+, nyeri pada ulu hati (-).
Tanda-tanda Vital : TD : 140 / 100 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,5 0C. TFU 29 cm, BJJ (+) 132 x/mnt, teratur, TBJ 2480 gram. Leopold I didapatkan bagian bulat, lunak dan tidak melenting pada fundus uteri. Leopold II, tahanan memanjang teraba disebelah kanan perut ibu dan bagian – bagian kecil janin teraba di bagian kiri perut ibu. Leopold III teraba bagian bulat, keras dan melenting sebagai bagian terendah janin. Leopold IV , kepala belum masuk kedalam pintu atas panggul (konvergen). TFU 29 cm, DJJ (+) 132 x/mnt, teratur,TBBJ 2480 gram . Pemeriksaan Laboratorium : Hb 11,6 gr %, protein urine negative,urine albumin negative.
Diagnose Ny. A adalah Ny A G4P3A0 Hamil 36 minggu Janin presentasi kepala, tunggal, hidup, dengan hipertensi kronik. Diagnose potensial terjadinya partus prematurus, potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed, potensial terjadinya solutio plasenta
Tindakan yang dilakukan penulis adalah melakukan Informed consent, menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu bahwa ibu hamil 9 bulan dengan hipertensi kronik, memberikan penyuluhan kepada ibu tentang persiapan persalinan dan rencana persalinan diantaranya membuat rencana tempat persalinan, rencana pembuat keputusan, mempersiapkan rencana transportasi jika terjadi kegawat daruratan, mempersiapkan dana yang dibutuhkan, memberikan penjelasan ulang kepada ibu bahaya hipertensi pada masa kehamilan, menganjurkan ibu untuk terus mengkonsumsi obat-obatan hasil kolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan, yaitu Nifedipine 10 mg dengan dosis 3 kali hari, Fe dosis 1 x 1 tablet / hari, Kalsium laktat dosis 2 x 1 tablet / hari, Menganjurkan ibu memeriksakan tekanan darahnya setiap 3 – 4 hari atau jika ada keluhan atau tanda-tanda bahaya lainnya, Menganjurkan pada ibu untuk segera menghubungi bidan apabila terdapat tanda-tanda persalinan yaitu adanya nyeri perut yang bersifat teratur, nyeri disertai keluar lender bercampur darah, adanya pengeluaran air secara tiba-tiba dari vagina dan sepakat untuk bersalin di rumah sakit
Ibu mengerti dan paham pada kondisinya saat ini, Ibu berjanji mau mengkonsumsi tablet Fe dan obat – obat tambahan lainnya secara teratur, Ibu mengatakan akan memeriksakan tekanan darahnya setiap minggu atau bila ada tanda – tanda bahaya pada kehamilannya atau bila ada tanda-tanda persalinan, Ibu dan keluarga sepakat melahirkan dirumah sakit.

3.2. PERSALINAN (Intra Partum)
Senin, 11 Oktober 2010 pukul 09.00 WIB Ibu mengatakan belum merasakan tanda-tanda persalinan, Ibu mengaku hamil ke-4 dengan usia kehamilan mendekati 10 bulan, HPHT : Lupa, Ibu mengatakan kakinya bengkak, kedua tangannya terasa kaku sejak 1 minggu yang lalu dan sering merasa sedikit sesak bila beraktivitas, sering sakit kepala, Ibu merasa cemas dengan kehamilannya .
Pada pemeriksaan fisik K/U Baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Cemas, Tanda-tanda Vital : TD : 170 / 100 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Pernafasan : 26 x/menit, Suhu : 36,4 0C. TP : 05 Oktober 2010. Muka terdapat odema (terlihat sembab), kunjungtiva tidak pucat, scklera tidak ikterik, gangguan penglihatan (-), puting susu menonjol dan terlihat bersih, kolostrum +/+, nyeri pada ulu hati (-).Leopold I didapatkan bagian bulat, lunak dan tidak melenting pada fundus uteri. Leopold II, tahanan memanjang teraba disebelah kanan perut ibu dan bagian – bagian kecil janin teraba di bagian kiri perut ibu. Leopold III teraba bagian bulat, keras dan melenting sebagai bagian terendah janin. Leopold IV , kepala belum masuk kedalam pintu atas panggul (konvergen). TFU : 31 cm, TBBJ : 3100 gram, DJJ 144 kali/menit teratur, punctum maksimum dibawah pusat sebelah kiri, kontraksi tidak ada. Ekstrimitas atas dan bawah : odema +/+
Pukul 12.00 WIB Ibu dirujuk ke RSU Tangerang dan dirawat diruangan bersalin. Pukul 13.30 WIB dilakukan pemeriksaan dalam : Vulva vagina tidak ada kelainan, portio tebal lunak, belum ada pembukaan, ketuban +, kepala janin masih diatas PAP. Berkolaborasi dengan dokter Obsgyn, Dilakukan pemeriksaan USG : gambaran air ketuban berkurang, Hasil Laboratorium : Darah Rutin : Haemoglobin 12,1 gr % ,Leukosit 7400, Hematokrit 36 %, Trombosit 227.000 µ/L, Waktu Perdarahan 2 menit, Waktu Pembekuan 12 menit, Gula Darah Sewaktu 96 mg / dl, Kreatinin 0,6 mg / dl, Ureum 15 mg / dl, SGOT 19 µ/L, SGPT 19 µ/L, Urine Rutin : Warna Urine Kuning agak keruh, PH 6,0 , BJ 1010, Leukosit Negative, Nitrit Negative, Urobilinogen Negative, Protein / Albumin Negative, Darah Samar Negative, Keton Negative, Bilirubin Negative, Glukosa
Negative, Mikroskopis / sedimen : Leukosit 1 – 2, Eritrosit 0 – 2.
Ny. “A” umur 37 tahun G4P3A0 Hamil 41 minggu janin presentasi kepala tunggal hidup belum inpartu dengan Hipertensi kronik. Diagnose potensial terjadinya pre-eklampsia superimposed, potensial terjadinya kejang karena hipertensinya, potensial terjadi solutio plasenta.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah melakukan Informed Consent, memberitahukan hasil pemeriksaan kepada Ibu dan keluarga, menjelaskan kepada Ibu dan keluarga bahwa dengan riwayat persalinan yang lalu serta riwayat hipertensi yang ada, Ibu lebih baik melahirkan dirumah sakit, memasang cairan infuse RL kolf I dengan 20 tetesan per menit, Hasil kolaborasi dengan dokter : dilakukan penatalaksanaan prosedur PEB dengan Mg SO4 per intra vena dengan dosis tunggal 4 gr , Nifedipine 1 tablet 10 mg per oral dan 1 tab 10 mg per sublingual, anjuran dokter team Obsgyn pasien dipersiapkan untuk dilakukan tindakan section caesaria atas indikasi : ibu riwayat infertile ≥ 12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, tekanan darah 170 / 100 mmHg, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang. Penatalaksanaan selanjutnya adalah mempersiapkan mental ibu menghadapi tindakan SC., melakukan persiapan operasi yaitu memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang operasi yang akan dilaksanakan, mempersiapkan izin operasi yang ditanda tangani oleh keluarganya, mengganti pakaian ibu dengan pakaian steril khusus untuk ruangan operasi, membersihkan / mencukur daerah kulit yang akan dilakukan pembedahan, memasang foley catheter, dan memberikan antibiotika Ceftriaxon1 gram per infuse.
Tanggal 11 Oktober 2010 Pukul 16.45 WIB ibu masuk kamar operasi. Bayi lahir pukul 17.08 WIB langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit kemerahan, jenis kelamin Laki-laki, berat badan bayi 3200 gram, panjang badan 49 cm. Pukul 18.55 WIB operasi selesai, ibu dipindahkan keruangan pemulihan.
3.2.1. Kala IV
Senin, 11 Oktober 2010 Ibu masih merasa takut dan cemas dengan tindakan seksio caesaria yang telah dilaluinya .Ibu mulai merasa nyeri pada luka bekas operasi dan merasa kedinginan, Pukul 18.15 WIB K/U Lemah, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Cemas, Tanda-tanda Vital : TD : 150 / 90 mmHg, Nadi : 92 x/menit, Pernafasan : 26 x/menit, Suhu : 35,3 0C. Ibu menggigil kedinginan.Kontraksi Uterus baik, TFU 2 jari bawah pusat, perdarahan normal, luka post operasi baik, volume urine 50 cc, warna kuning jernih, infuse RL lancar 20 tetes per menit, kolf 1 pasca operasi.
Pukul 18.30 WIB K/U Lemah, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Cemas, Tanda-tanda Vital : TD : 170 / 100 mmHg, Nadi : 92 x/menit, Pernafasan : 26 x/menit, Suhu : 35,4 0C. Ibu masih menggigil kedinginan.Kontraksi Uterus baik, TFU 2 jari bawah pusat, perdarahan normal, luka post operasi baik, volume urine 40 cc, warna kuning jernih, infuse RL lancar 20 tetes per menit, kolf 1 pasca operasi.
Pukul 20.00 WIB K/U Lemah, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Cemas, Tanda-tanda Vital : TD : 150 / 90 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 35,8 0C. Ibu masih menggigil kedinginan.Kontraksi Uterus baik, TFU 2 jari bawah pusat, perdarahan normal, luka post operasi baik, volume urine 30 cc, warna kuning jernih, infuse RL lancar 20 tetes per menit, kolf 1 pasca operasi.
Analisa diagnosa pada Ny. “A” umur 37 tahun P4 A0 partus kala IV post sectio caesaria dengan hipertensi kronik. Diagnose potensial terjadinya kejang karena hipertensinya, potensial terjadi perdarahan post partum primer primer.
Penatalaksanaan yang dilakukan mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan serta output cairan. Instruksi post operasi : cek DPL post operasi, transfusi bila Hb < 7 gr/dl sampai dengan Hb ≥ 10 gr / dl, ganti verban hari ke 3.Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan luka operasi baik, kontraksi uterus baik, perdarahan normal.Memberikan dukungan mental kepada ibu pasca operasi dan menjawab pertanyaan ibu seputar keadaan fisiknya setelah operasi. Ibu mengerti apa yang dijelaskan oleh petugas, keadaan ibu terus membaik, pukul 22.00 WIB ibu dipindahkan ke ruangan nifas paviliun Aster RSUT

3.3. MASA NIFAS (Post Partum)
3.3.1. Masa Nifas 6 Jam
Senin, 12 Oktober 2010 Pukul 00.30 WIB Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan ibu mengatakan merasa sakit pada bekas luka operasi.
K/U Baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Stabil, Tanda-tanda Vital : TD : 140 / 90 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,9 0C. Muka tidak ada oedema, Konjungtiva tidak anemis, payudara pengeluaran kolostrum +, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari bawah pusat, luka post operasi tertutup kasa ; tidak terlihat perdarahan pada luka bekas operasi, perdarahan 20 cc, volume urine 50 cc, warna kuning jernih, ektremitas bawah odema +/+. Infus RL lancar 20 tetes per menit, kolf 2 pasca operasi.Hasil Laboratorium : Haemoglobin 11,2 g / dl Leukosit, 14.100, Hematokrit 34 %, Trombosit 200.000 µ/L.
Analisa pada Ny. “A” umur 37 tahun post partum 6 jam post sectio caesaria dengan hipertensi kronik. Diagnose potensial terjadinya kejang karena hipertensinya, potensial terjadinya perdarahan post partum primer.
Penatalaksanaannya adalah mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, luka bekas operasi, kontraksi uterus, perdarahan,tinggi fundus uteri, intake cairan, makanan dan obat-obatan, serta output cairan.Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan luka operasi baik, kontraksi uterus baik, perdarahan normal.Berkolaborasi dengan dokter Obsgyn dalam pemberian obat-obatan : Cefotaxime injeksi 3 x 1 gram IV, asam mefenamat 3 x 1 tablet, Fe 1 x 1 tablet, Pronalges 3 x 1 tablet, Nifedipine 2 x 10 mg, dan memberikan 1 buah kapsul vitamin A dosis 200.000 unit. Memberikan penyuluhan tentang tanda bahaya pada masa nifas , memberikan informasi tentang cara pemberian ASI eksklusif sesuai keinginan bayi.Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, tidak berpantang dalam intake nutrisi.Memotivasi ibu agar mengkonsumsi obat-obatannya secara teratur.Memberikan informasi kepada ibu mengenai kunjungan ulang setelah melahirkan yaitu pada tanggal 16 Oktober 2010.
Keadaan umum ibu baik, Ibu mengerti yang telah dijelaskan petugas dan akan melaksanakannya.Ibu dan bayi diperbolehkan pulang pada tanggal 15 Oktober 2010 dengan nilai Hb 10,3 gr %..
3.3.2. Masa Nifas 6 Hari
Senin, 16 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB Ibu mengatakan merasa sakit sedikit pada bekas luka operasi dan sedikit pusing. Ibu mengatakan susah tidur karena bayinya sering menangis terutama pada malam hari. Ibu mengatakan kedua payudaranya terasa tegang dan bengkak, ibu mengaku menyusui bayinya kurang dari 10 menit tiap payudara. Ibu mengatakan nafsu baik, frekuensi 3 – 5 kali porsi sedang.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan emosional : Stabil, Tanda-tanda Vital : TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,7 0C. Konjungtiva tidak anemis, payudara pengeluaran ASI +, banyak, payudara bengkak, kontraksi uterus baik, TFU 3 jari bawah pusat, luka post operasi tertutup kasa ; tidak terlihat perdarahan pada luka bekas operasi, lochea rubra, kandung kemih kosong, tidak ada oedema pada ektremitas atas dan bawah. Pemeriksaan Laboratorium : Hb 10,3 gr %, Leukosit 10.100, Hematokrit 28 %, trombosit 265.000 µ/L.
Analisa diagnose Ny. “A” umur 37 tahun nifas 6 hari post sectio caesaria dengan anemia. Masalah : nutrisi kurang adekuat dan bendungan payudara. Kebutuhan istirahat pada masa nifas kurang. Maka penatalaksanaannya yaitu memberikan informasi kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa masa nifasnya berjalan normal. Mengobservasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital.Memberikan penyuluhan tentang prakarsa KB. Mengajarkan ibu tentang perawatan payudara dan tehnik menyusui .Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif sampai dengan bayi berumur 6 bulan. Memberikan informasi tentang kebutuhan gizi pada masa nifas. Menganjurkan ibu untuk cukup tidur / istirahat Memberikan terapi oral : Fe 2 x 1 tablet, , nifedipine 1 x 10 mg. Memotivasi ibu agar kontrol ulang ke rumah sakit pada tanggal 18 Oktober 2010 atau bila ada keluhan.
Ibu mengerti bagaimana merawat payudaranya yang bengkak dan akan melakukan anjuran yang diberikan oleh bidan .
3.3.3. Masa Nifas 6 Minggu
Minggu, 21 November 2010 pukul 16.00 WIB Ibu mengeluh sakit kepala, nyeri epigastrium (-). Ibu mengatakan ingin menggunakan KB IUD.
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, status emosional stabil ,
Tanda tanda vital : TD : 170 / 100 mmHg, N : 88 x/mnt, S : 36,5 oC, R : 24 x/mnt, Pemeriksaan fisik : Mata : konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik, kelopak mata tidak oedem .Dada : payudara simetris, pengeluaran ASI (+/+), areola bersih, putting susu menonjol, Abdomen : TFU: tidak teraba, kandung kemih kosong, diastasis (-).Genitalia : pengeluaran (-), pembengkakkan pada kelenjar bartholini / kelenjar skene -/- .Ekstremitas : tidak ada oedem, tidak ada kemerahan , tanda homan (-),refleks patela +/+. Pemeriksaan laboratorium : Hb 12 gr %.
Analisa diagnose Ny. A umur 37 tahun P4 A0 Nifas 6 minggu dengan hipertensi kronis. Penatalaksanaan yang dilakukan penulis adalah melakukan informed consent, menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa keadaan umum ibu baik, dan masa nifas berjalan baik, tekanan darah tinggi, ibu bisa menjalani pemasangan IUD.Melakukan penyuluhan tentang alat kontrasepsi IUD, menjelaskan prosedur yang akan di lakukan, meneruskan terapi nifedipin 10 mg dengan dosis 3 x 1 tablet. Menganjurkan ibu untuk konsul ke dokter Internist untuk penanganan hipertensinya.
Keadaan umum ibu baik. Ibu mengerti tentang penjelasan yang telah di berikan .Tanggal 24 November 2010 Pukul 16.00 WIB telah dilakukan pemasangan IUD jenis Copper TCu 380A oleh dokter.

3.4. BAYI BARU LAHIR (Neonatal)
3.4.1. Bayi Baru Lahir
Senin, 11 Oktober 2010 pukul 17.05 WIB Bayi lahir tanggal 11 Oktober 2010 jam 17.05 WIB , dengan usia gestasi 41 minggu, jenis persalinan sectio caesaria atas indikasi ibu riwayat infertile 10 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, ibu mempunyai riwayat hipertensi kronik, tekanan darah 170 / 100 mmHg dengan oedema anasarka, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang.
Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit kemerahan, Heart Rate : 120 x/mnt, suhu 36,6 0C, Pernafasan 40 x/menit. Jenis kelamin Laki-laki, berat badan bayi 3200 gram, panjang badan 49 cm.
Analisa Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan.Diagnosa potensial terjadinya hipotermi. Tindakan yang penulis lakukan melakukan Informed Consent. Menginformasikan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga.Menjaga kehangatan tubuh bayi dengan mengeringkan dan membungkus tubuh bayi serta menempatkan bayi di tempat yang hangat.Mengikat tali pusat bayi tanpa dibungkus atau diberi apapun. Memberikan peneng/identitas bayi pada tangan kanan bayi.Memberikan salep mata antibiotika tetrasiklin 1 % pada kedua mata. Memberikan suntikan vitamin K1 (1 mg) intramuscular dipaha kiri anterolateral.Melakukan perawatan bayi baru lahir.
Pukul 17.15 WIB Keadaan umum bayi baik, bayi menangis kuat, gerakan aktif, warna kulit kemerahan. Ibu dan keluarga sangat mensyukuri atas kelahiran anaknya.
3.2.3. Neonatal 6 jam
Pada kunjungan neonatal 6 jam, pada tanggal 01 September 2010, didapatkan keadaan umum bayi baik, bayi menangis kuat, warna kulit kemerahan, pergerakan aktif, jenis kelamin perempuan. Pada tanda vital, heart rate 120 x/menit, respirasi 42 x/menit teratus, suhu 37 oC. Pemeriksaan antopometri didapatkan berat badan 3200 gram, panjang badan 49 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar kepala 33 cm.
Lalu dilakukan pemeriksaan secara sistematis meliputi : bentuk kepala simetris, rambut merata, warna hitam, tidak ada kaput succedanium, tidak ada cephal hematom, sutura dalam batas normal. Bentuk muka simetris, tidak ada oedem, tidak ada ikterik, bentuk mata normal, letak simetris, tidak ada infeksi, sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat, secret (-), sklera tidak ikterik. bentuk telinga simetris, sejajar dengan mata, bersih dan tidak ada pengeluaran cairan.Bentuk hidung simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, septum hidung simetris, tidak ada secret. Pada bibir dan mulut Tidak ada labio schizis, labio palate schizis, tidak ada stomatitis dan bibir kemerahan, Pada leher Simetris, pergerakan baik , tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar getah bening , bentuk dada simetris, bunyi jantung I – II murni regular, mur – mur – gallop, putting susu menonjol dan simetris, wheezing -/- ,ronkhi -/- . Bentuk abdomen simetris, tidak ada pembesaran hepar, perut teraba lembek pada saat bayi tidak menangis, pada saat bayi tenang dan dipalpasi tidak teraba benjolan atau massa, tali pusat masih basah dan tidak ada perdarahan. Kedua ekstremitas , bentuk simetris, bentuk normal, tidak sianosis, tidak ikterus, tidak ada polidaktili/sindaktili, pergerakan baik, kuku jari panjang. Pada genitalia Jenis kelamin terdapat 2 testis sudah turun kedalam, skrotum dan lubang saluran kencing diujung penis. Anus (+) tidak ada kelainan. Punggung tidak ada spina bifida, pada kulit terdapat, pada kulit terdapat lanugo, dan kulit sedikit mengelupas, Eliminasi, miksi sudah keluar, putih kekuningan, mekonium sudah keluar, warna hitam kehijauan. Reflek sucking (+), rooting (+), Swallowing (+), morro (+/+), grasping (+/+), babinsky ( +/+), walking (+/+).
Dari hasil pemeriksaan diatas, dapat dianalisa bahwa Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan umur 6 jam, keadaan bayi baik . Dasar Partus dengan tindakan sectio caesaria tanggal 11 Oktober 2010 Pukul 17.08 WIB, masa gestasi 41 minggu lebih 5 hari, jenis kelamin laki-laki, berat badan 3200 gram panjang 49 cm,tangis kuat, gerak aktif, warna kulit kemerahan, anus +, meconium + , cacat –
Rencana asuhan menyeluruh adalah lakukan informed consent, beritahu Ibu dan keluarga bahwa bayinya dalam keadaan baik dan sehat.Mandikan bayi setelah suhu tubuh stabil, pertahankan suhu tubuh bayi. Berikan suntikan HB 0,5 cc IM, lakukan perawatan bayi rutin.
Pelaksanaan asuhan menyeluruh yaitu melakukan informed consent, memberitahu Ibu dan keluarga bahwa bayinya dalam keadaan baik dan sehat. Memandikan bayi setelah suhu tubuh stabil, mempertahankan suhu tubuh bayi dengan membungkus badan dan kepala janin lalu menempatkannya ditempat yang hangat.Memberikan suntikan HB 0,5 cc IM, melakukan perawatan bayi rutin.
Ibu dan keluarga mengerti apa yang telah dijelaskan oleh petugas dan berbahagia dengan kelahiran bayinya. Bayi dirawat untuk sementara diruang bayi. Ibu dan bayi dirawat gabung setelah 24 jam diruangan Nifas.

3.4.2. Bayi 6 Hari
Senin, 16 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB Ibu mengatakan bayinya sehat
Keadaan umum baik, menangis kuat, Heart Rate : 120 x/mnt, suhu 36,6 0C, Pernafasan 40 x/menit.
Pada pemeriksaan antopometri didapatkan : Berat badan : 2700 gram, Panjang Badan : 49 cm, Lingkar Kepala 33 cm, Lingkar dada 34 cm. Pemeriksaan fisik ditemukan tidak ada sianosis, pergerakan aktif, mata tidak ikterik, tali pusat belum puput, warna kulit dan ekstrimitas kemerahan, reflex rooting (+), reflek moro (+), reflek tonik neck (+), reflek sucking (+), reflek grasping (+), reflek babinsky (+), reflek stepping (+), BAB dan BAK normal
Analisa data Neonatus cukup bulan, Sesuai masa kehamilan, umur 6 hari, keadaan bayi baik. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah memeriksa keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital.Menganjurkan kepada ibu untuk memenuhi nutrisi bayi dengan memberikan ASI tanpa dibatasi waktu.Memberikan immunisasi Hepatitis B 1 dan Polio 1.Menjelaskan kepada ibu tentang tanda bahaya pada bayi dan apa yang harus dilakukan ketika menemukan hal tersebut.Menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan.Menganjurkan kepada ibu untuk memberikan imunisasi BCG bayinya pada tanggal 11 November 2010. Hasil : Keadaan umum bayi baik, bayi menyusu ASI. Ibu mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan dan akan melaksanakannya.

3.4.3. Neonatal 6 Minggu
Minggu,21 November 2010, Pukul 16.00 WIB Ibu mengatakan bayinya dalam keadaan baik dan sehat bayi sudah mendapatkan imunisasi BCG dan Polio 1 di posyandu pada tanggal 18 November 2010
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan Umum Baik , Tanda – Tanda Vital : Heart Rate : 120 /mnt teratur, Respirasi : 42 x/ menit teratur , Suhu : 36,5 oC , warna kulit kemerahan, pergerakan aktif, refleks hisap baik.Antopometri : Berat Badan : 5000 gram, Panjang Badan : 52 cm, Lingkar Dada : 35 cm, Lingkar Kepala : 36 cm. Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ada ikterik.Eliminasi : buang air kecil (+), warna putih kekuningan, lancar ± 8 – 10 kali dalam sehari, buang air besar (+), lancar ± 3 – 4 kali dalam sehari , warna kuning, konsistensi lunak .
Analisa data Bayi Ny.A Umur 6 minggu keadaan bayi baik. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah menginformasikan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan umum bayi baik.Memberikan penyuluhan pada ibu tentang kontrasepsi IUD. Memastikan bayi mendapat ASI dan menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI secara eksklusif. Memberitahukan ibu jadwal imunisasi selanjutnya yaitu imunisasi DPT-COMBO 1 dan polio 2 pada umur 2 bulan. Menganjurkan ibu supaya membawa bayinya ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan imunisasi dan memantau pertumbuhan dan perkembangan bayinya.
Keadaan umum bayi baik, bayi tetap diberi ASI.Ibu mengerti tentang apa yang telah di sampaikan dan mau melaksanakan apa yang telah di anjurkan.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kehamilan

2.1.1   Pengertian Kehamilan

Kehamilan merupakan suatu proses dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh dalam rahim ibu (Depekes RI, 2002).Masa kehamilan dari konsepsi dan berakhir sampir lahirnya janin Saifuddin (2006:89).

2.1.2    Lamanya Kehamilan

Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga bayi lahir, kehamilan nomal akan  berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, rimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Saifuddin, 2010 : 213).

2.1.3    Fisiologi Kehamilan

Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur ditangkap umbai-umbai dan masuk ke dalam saluran telur waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta juta sel mani bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur.

Di sekitar sel telur, banyak terkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur, peristiwa ini disebut konsepsi.

Ovum yang telah dibuahi, segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba), menuju ruang rahim kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang rahim. Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kira-kira 6 – 7 hari, untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin, dipersiapkan plasenta. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum, sperma, konsepsi, nidasi, dan plasentasi. (Sarwono Prawirohardjo, 2008)

2.1.4.   Menghitung Umur Kehamilan

2.1.4.1. Mempergunakan Rumus Neagle

Rumus Neagle menggunakan usia kehamilan yang berlangsung selama 288 hari. Perkiraan kelahiran dihitung dengan menentukan hari pertama haid  terakhir yang kemudian ditambah 288 hari (Manuaba, 2010 : 100). sehingga perkiraan kelahiran dapat ditetapkan. Rumus Neagle dapat dihitung dari haid pertama ditambah 7 dan bulannya ditambah 9.

Contoh : Hari pertama tanggal 15 Januari 1993, maka perhitungan perkiraan kelahiran adalah 15 + 7 = 22,1 + 9 = 10, sehingga dugaan persalinan tanggal 22 oktober 1993 Manuaba (1998, 120), rumus neagle yang digunakan juga dapat dikethaui dengan menggunakan : hari + 7, bulan – 3, dan tahun +1

Contoh : HPHT : 4 – 05 – 2009 taksiran persalinan : 4 + 7, 05 – 3, 2009 + 1

Tp : 11 – 02 – 2010 (Hanifa, 2005 : 155)

2..4.2.         Gerakan janin

Pada kehamilan pertama, gerakan janin mulai terasa sesudah usia kehamilan 18-20 minggu, pada kehamilan kedua dan seterusnya gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16-18 minggu. Memasuki trimester ketiga usia kehamilan gerakan janin akan semakin kuat dan sering. Namun tak jarang janin justru kurang aktif gerak. Perkiraan ini dilakukan bila ibu lupa hari pertama haid terakhir. (Manuaba, 2001)

2..4.3.         Tinggi puncak rahim

Untuk mengikuti pertumbuhan anak dengan cara mengikuti pertumbuhan rahim, maka sekarang sering ukuran rahim ditentukan dengan centimeter. Yang diukur adalah tinggi fundus uteri. Hubungan antara tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan kira-kira sebagai berikut (Mochtar, 2004) :

Tinggi fundus uteri dalam centimeter

=

Tuanya kehamilan dalam bulan

3,5 centimeter

Selain itu menghitung usia kehamilan dapat digunakan juga tinggi fundus uteri dalam satuan centimeter yaitu :

–        Usia kehamilan 20 minggu, tinggi fundus uteri 20 cm (±  2 cm).

–        Usia kehamilan 22-27 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (±  2 cm).

–        Usia kehamilan 28 minggu, tinggi fudus uteri 28 cm (±  2 cm).

–        Usia kehamilan 29 – 35 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (±  2 cm).

–        Usia kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri 36 cm (±  2 cm) (Saifuddin, 2008).

2.4.4.      Penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi.

Bila ragu-ragu dapat berkonsultasi untuk menetapkan perkiraan persalinan. Dengan menentukan usia kehamilan melalui ultrasonografi, dapat diketahui :

–       Diameter kantong gestasi.

–       Jarak kepala – bokong.

–       Jarak tulang biparetal.

–       Lingkaran perut.

–       Panjang tulang femur.

Metode ini memerlukan pengetahuan teoritis dan keterampilan khusus (Manuaba, 2010 : 1010).

Waktu untuk pemeriksaan USG  pada trimester II pada usia kehamilan 18-22 minggu. Pada usia kehamilan ini sangat baik untuk dilakukan pemeriksaan USG karena perbandingan yang ideal antara ukuran janin dan jumlah cairan amnion memberikan gambaran pemeriksaan yang lebih jelas.
Pada usia kehamilan ini dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kehamilan janin. Tak kalah penting dalam pemeriksaan adalah juga mengetahui ada/tidaknya kelainan congenital pada janin seperti adanya down syndrome (trisomi 18,21).

2.1.5    Perubahan Fisiologis Wanita Hamil

2.1.5.1 Uterus

Ukuran : volume total isi uterus saat aterm rata-rata sekitar 5 liter, tetapi dapat mencapai 20 liter atau lebih, sehingga pada akhir kehamilan kapasitas uterus telah mencapai 500 sampai 1000 kali lebih besar daripada saat tidak hamil (Cuningham, 2006 : 181).

Bentuk dan konsistensi : Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk rahim seperti alpukat, pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat, dan akhir kehamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, istmus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian­bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim. (Mochtar, 1998)

2.1.5.2 Vagina (Liang Senggama)

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwicks).

2.1.5.3 Ovarium atau Indung Telur

Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung Korpus Luteum Gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur kehamilan 16 minggu.

2.1.5.4 Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi yang dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, somatomammotropin, yaitu fungsinya untuk :

  1. Hormon estrogen berfungsi :

–     Menimbulkan hypertropy sistem saluran payudara.

–     Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.

–     Tekanan serta syaraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.

  1. Hormon progesteron berfungsi :

–     Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.

–     Menambah jumlah sel asinus.

  1. Hormon somatomammotropin berfungsi :

–     Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein laktalbumin dan laktoglobulin.

–     Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.

–     Merangsang pengeluaran colostrum pada kehamilan.

2.1.5.5 Sirkulasi Darah Ibu

Peredaran darah ibu dipengaruh oleh beberapa faktor, antara lain :

  1. Meningkatkan kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
  2. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
  3. Pengaruh homan estrogen dan progesteron semakin meningkat.

Akibat dari faktor tersebut di atas, dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, yaitu :

  1. Volume darah
  2. Sel darah
  3. Sistem respirasi
  4. Sistem pencernaan
  5. Traktus urinarius
  6. Perubahan pada kulit
  7. 7.      Metabolisme (Manuaba, 2001)

2.1.6    Kebutuhan Zat Besi dan Kalsium

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sekitar 30-40 mg. Pada ibu hamil kebutuhan zat besi FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) perhari mininal 90 tablet. Dimulai dengan memberikan I tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hlang. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama the atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan Fe. Vitamin C meningkatkan resorbsi zat besi terdapat dalam buah-buahan segar, Vitamin C 25 mg meningkatkan resorbsi zat besi 2 kali, dan Vitamin C 500 mg meningkatkan zat besi 6 kali, selain itu hindari makan buah-buahan yang pengolahannya dapat menghilangkan Vitamin C (Saifuddin, 2002). Kebutuhan wanita hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah (Arisman, 2007). Kebutuhan kalsium untuk ibu hamil 1500 mg setiap hari yang manfaatnya untuk membangun dan menjaga kekuatan tulang dan gigi, untuk pembekuan darah, kontraksi otot, transmisi syaraf, tanpa kalsium otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku dan syaraf tidak bisa membawa pesan. (Varney, 2002)

2.1.7    Tanda Bahaya pada Ibu Hamil

Tanda-tanda bahaya ini jika tidak dilaporkan atau terdeteksi dapat menyebabkan kematian ibu. Pada setiap kunjungan antenatal, bidan harus mengajarkan kepada ibu bagaimana mengenai tanda-tanda bahaya ini dan mendorong untuk datang ke klinik segera jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut.

6 (enam) tanda-tanda bahaya selama periode antenatal yaitu perdarahan -vervaginam, sakit kepala yang hebat dan menetap yang tidak hilang, pandangan kabur, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka atau tangan, byi kurang bergerak seperti biasa. (JHPIEGO, 2003 : 88).

2.1.8.   Ante Natal Care

2.1.8.1 Pengertian

Asuhan yang diberikan kepada ibu hamil yang lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Saifuddin, 2002).

2.1.8.2 Tujuan Ante Natal Care

Tujuan dilakukannya antenatal care yaitu :

  1. Mendeteksi faktor resiko sedini mungkin dan penanggulangannya.
  2. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
  3. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
  4. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
  5. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Saifuddin, 2002).

2.1.8.3 Kebijakan Program

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling lambat 4 kali selama kehamilan, yaitu :

–     Satu kali pada triwulan pertama

–     Satu kali pada triwulan kedua

–     Dua kali pada triwulan ketiga

  1. Trimester I (0-14 minggu)

–     Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan

–     Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa

–     Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan

–     Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi

–     Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya)

  1. Trimester II (14-28 minggu)

Sama seperti trimester pertama, ditambah kewaspadaan khusus mengenai tanda trias.

–       Pantau tekanan darah

–       Evluasi eodema

–       Periksa urine untuk mengetahui proteinuria

  1. Trimester III (28-36 minggu)

Selama seperti pada trimester pertama dan kedua ditambah palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.

  1. Setelah 36 minggu

Sama seperti trimester pertama ditambah pendeteksian dari letak bayi yang tidak optimal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

Adapun pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7 T” yaitu :

  1. (Timbang) berat badan
  2. Ukur (Tekanan) darah
  3. Ukur (Tinggi) fundus uteri
  4. Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
  5. Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan
  6. Test terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Saifuddin (2002 : 90).

Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :

1)        Mengupayakan kehamilan yang sehat

2)        Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalksanaan awal serta rujukan bila diperlukan

3)        Persiapan persalinan yang bersih dan aman.

4)        Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi kompikasi

Menurut Saifuddin (2002), agar ibu hamil mendapatkan informasi yang diperlukan, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah, seperti berikut :

  1. Sapa ibu (dan juga keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
  2. Kaji riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan ibu
  3. Melakukan pemeriksaan fisik, seperlunya saja
  4. Melakukan pemeriksaan laboratorium
  5. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :

–     Tekanan darah dibawah 140 / 90 mmHg,

–     Edema hanya pada ekstremitas

–     Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan

–     Denyut jantung janin 129 sampai 160 denyut per menit

–     Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan

  1. Membantu ibu dan keluarganya mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat :

–     Mengidentifikasi ke mana pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut

–     Mempersiapkan donor darah

–     Mengadakan persiapan financial

–     Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.

  1. Memberikan konseling :

a)    Gizi      : peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).

b)   Latihan            : normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah

c)    Perubahan fisiologi      : tambahan berat badan, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama trimester pertama, rasa panas dan atau varises, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)

d)   Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikut :

–          Pendarahan pervagina,

–          Sakit kepala lebih dari biasa,

–          Gangguan penglihatan,

–          Pembengkakan pada wajah/tangan,

–          Nyeri abdomen (epigastrik),

–          Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.

e)    Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di rumah :

–          Sabun dan air

–          Handuk dan minuman untuk ibu selama persalinan

–          Mendiskusikan praktek-praktek tradisional, posisi melahirkan,

–          Mengidentifikasi siapa yang dapat membantu bidan dalam proses persalinan.

f)    Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genitalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.

g)   Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai puting susu rata atau asuk kedalam. Dilakukan 2 ali sehari selama 5 menit

  1. Memberikan zat besi 90 tablet mulai minggu ke-2
  2. Memberikan imunisasi TT 0,5 cc 2x selama pada masa kehamilan
  3. Menjadwalkan kunjungan berikutnya
  4. Mendokumentasikan hasil kunjungan tersebut dengan catatan SOAP

2.1.8.4. Nasihat-nasihat ibu hamil

2.1.8.4.1. Makanan / diet ibu hamil

Wanita hamil dan menyusui betul-betul mendapatkan perhatian susunan dietnya, terutama jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, pendarahan pacsa persalinan, sepsis, puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan makanan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklampsi, janin besar, dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan : protein, karbohidrat, zat lemak, mineral atua bermacam-macam garam : terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe) : vitamin dan air.

Tabel  Kebutuhan Makanan Sehari-Hari Ibu Tidak Hamil,

Ibu Hamil, Dan Ibu Menyusui

No

Kalori & Zat Makanan

Tidak Hamil

Hamil

Menyusui

1 Kalori (kal)

2500

2500

3000

2 Protein (gram)

60 gr

85 gr

100 gr

No

Kalori & Zat Makanan

Tidak Hamil

Hamil

Menyusui

3 Kalsium (Ca)

0,8 gr

1,5 gr

2 gr

4 Zat Besi (Ca)

12 gr

1,5 gr

15 gr

5 Vitamin A (IU)

5000 IU

6000 IU

8000 IU

6 Vitamin B (mg)

1,5

1,8

2,3

7 Vitamin C (mg)

70

150

150

8 Riboflavin (mg)

15

18

23

Manuaba (2009 Memahami Kesehatan Reproduksi kesehatan wanita, 87)

2.1.8.4.2 Merokok

Jelas bahwa bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok.

2.1.8.4.3 Obat-obatan

Prisip : Jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh Karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan  tersebut.

2.1.8.4.4 Lingkungan

Saat sekarang, bahaya polusi udara, air dan makanan terhadap ibu dan anak sudah mulai diselidiki seperti halnya merokok

2.1.8.5 Gerak Badan

Kegunaannya : Sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat :

  1. Berdiri – jongkok
  2. Terlentang – kaki diangkat
  3. Terlentang – perut diangkat
  4. Melatih pernapasan

2.1.8.6. Kerja

  1. Boleh kerja seperti biasa
  2. Cukup istirahat dan makan telur
  3. Pemeriksaan hamil yang teratur

2.1.8.7. Berpergian / Traveling

  1. Jangan terlalu lama dan melelahkan
  2. Duduk lama-statis vena (vena stagnasi) menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak
  3. Bepergian dengan pesawat udara boleh, tidak ada bahaya hipoksia dan tekanan oksigen yang cukup dalam pesawat udara.

2.1.8.8. Pakaian

  1. Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut.
  2. Pakailah kutang yang menyokong payudara
  3. Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tiggi
  4. Pakaian dalam yang selalu bersih

2.1.8.9. Istirahat dan Rekreasi

Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Tempat hiburan yang terlalu ramai, sesak dan panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan jatuh pingsan.

2.1.8.10. Mandi

Mandi diperlukan untuk kebersihan/hygiene terutama perawatan kulit, karena fugnsi eksresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan. Jangan tergelincir di perigi dan jagalah kebersihannya. Douche dan mandi berdendam tidak dianjurkan.

2.1.8.11. Koitus

Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada sejarah :

  1. Sering abortus/prematur
  2. Pendaharan pervaginam
  3. Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati
  4. Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus-partus prematurus.

2.1.8.12. Kesehatan Jiwa

Untuk menghilangkan cemas harus ditanamkan kerjasama pasien penolong (doter, bidan) dan memberikan penerangan selagi hamil denga tujuan :

  1. Menghilangkan ketidak-tahuan
  2. Latihan-latihan fisik dan kejiawaan
  3. Mendidik cara-cara perawatan bayi
  4. Berdiskusi tentang peristiwa pesalinan fisiologik.

2.1.8.13. Perawatan Buah Dada

Buah dada merupakan sumber Air Susu Ibu (ASI) yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran payudara.

 

2.2.      Hipertensi Kronis Dalam Kehamilan

2.2.1    Pengertian

Hipertensi kronik sendiri didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmhg yang telah ada sebelum kehamilan, yang bertahan sampai lebih dari 20 minggu pasca partus 1 atau setelah 12 minggu menurut kepustakaan yang lain. (Saifuddin, 2010 : 531).

Hipertensi pada kehamilan secara epidemiologi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Usia

Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.

2. Paritas

Angka kejadian tinggi pada primigravida muda maupun tua. Primigravida tua berisiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.

3. Faktor keturunan

Jika ada riwayat hipertensi, pre-eklampsia, eklampsia pada ibu atau nenek penderita. Faktor risiko meningkat sampai 25%.

4. Faktor gen

Diduga adanya suatu sifat resesif ( recessive trait ), yang ditentukan genotip ibu dan janin.

5. Diet / gizi

Tidak ada hubungan bermakna antara menu atau pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain mengatakan bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang mengalami obesitas atau overweight.

6. Iklim / musim

Di daerah tropis insidens lebih tinggi

7. Tingkah laku / sosio-ekonomi

Kebiasaan merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat. Aktifitas fisik selama hamil serta istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan atau insidens hipertensi dalam kehamilan.

2.2.2.   Etiologi

Etiologi hipertensi kronik dapat dibagi menjadi :

  1. Primer (idiopatik) : 90 %
  2. Sekunder : 10%, yang berhubungan dengan penyakit ginjal, penyakit endokrin (diabetes melitus), penyakit hipertensi dan vaskular

2.2.3.   Diagnosis 

Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pengukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG).

Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.

2.2.3.   Komplikasi pada ibu dan janin

Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.

Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini bisa menyebabkan prematuritas plasental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.

2.2.4.   Penanganan

Pengelolaan pada wanita hamil dengan hipertensi kronik bertujuan untuk menurunkan risiko kematian maternal, menurunkan mortalitas dari janin dengan pemakaian medikamentosa yang minimal. Sehingga penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti superimposed preeclampsia, eklampsia, juga monitoring unit feto – placental, mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik harus juga diperhatikan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah, monitoring keseimbangan cairan dan diuresis.

Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera di rawat di rumah sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Istirahat total memiliki efek yang baik dimana akan meningkatan aliran darah renal dan utero plasental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis dan mengurangi oedema.

Pada hipertensi yang ringan dilakukan terapi konservatif, sedapat mungkin janin dilahirkan pervaginam. Pada hipertensi berat kehamilan secepat mungkin diterminasi.
2.2.5.   Mortalitas

Pada kehamilan disertai dengan hipertensi kronik di Indonesia sendiri masih merupakan penyakit yang meminta korban besar bagi ibu dan bayi.  Kematian ibu yang disebabkan oleh gangguan ini berkisar 15,7% di USA antara tahun 1991-1999.  Hal ini berhubungan erat dengan pemeriksaan antenatal serta perawatan ibu hamil yang kurang ditambah dengan fasilitas kesehatan yang minim. Karena itu pemeriksaan antenatal yang baik dan tersediannya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian maternal.
2.2.6.   Prognosis

Pada kehamilan yang disertai hipertensi kronik, prognosis dapat kearah baik maupun kearah perburukan. Asal tidak terjadi penyulit serta komplikasi yang lain terhadap proses kehamilan dan kelahiran. Dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memadai angka kematian ibu dan anak dapat ditekan. Pemeriksaan kehamilan yang berkesinambungan memberi prognosis yang semakin baik.

2.2.7.   Anti Hipertensi

Indikasi pemberian antihipertensi adalah :

a.   Risiko rendah hipertensi

– Ibu sehat dengan desakan diastolik menetap ³100 mmHg

– Dengan disfungsi organ dan desakan diastolik ³ 90 mmHg

b.   Obat antihipertensi

–       Pilihan pertama : Methyldopa : 0.5 – 3.0 g/hari, dibagi dalam 2-3 dosis

–       Pilihan kedua : Nifedipine : 30 – 120 g/hari, dalam slow-release tablet (Nifedipine harus diberikan peroral)

Untuk menghindari kejadian komplikasi yang lebih berat bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, pereklamsi, dan kondisi yang dapat memperburuk selama kehamilan, Saepudin (2006).

2.2.8.  Odema Anasarka

Oedema ialah penimbunan cairan yang berlebih dalam jaringan tubuh, dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Edema dapat terjadi karena hipoalbuminemia atau kerusakan sel endotel kapilar. (Saifuddin, 2010 : 540).

Oedema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang setelah beristirahat atau meninggikan kaki.

Oedema yang mengkhawatirkan ialah oedema yang muncul mendadak dan cenderung meluas. Oedema biasa menjadi menunjukkan adanya masalah serius dengan tanda-tanda antara lain: jika muncul pada muka dan tangan, bengkak tidak hilang setelah beristirahat, bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya, seperti: sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur dll. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklampsia. (Uswhaaja, 2009: 5-6)

2.2.9. Penanganan Umum

  1. Istirahat cukup
  2. Mengatur diet, yaitu meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung protein dan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak.
  3. Kalau keadaan memburuk namun memungkinkan dokter akan mempertimbangkan untuk segera melahirkan bayi demi keselamatan ibu dan bayi

(Hendrayani, 2009:3)

2.2.10. Komplikasi

Kondisi ibu disebabkan oleh kehamilan disebut dengan keracunan kehamilan dengan tanda–tanda oedema (pembengkakan) terutama tampak pada tungkai dan muka, tekanan darah tinggi dan dalam air seni terdapat zat putih telur pada pemeriksaan urin dan laboratorium. (Rochjati, 2003:2)

 

2.3      Anemia           

2.3.1   Pengertian

Anemia adalah suatu kondisi ibu dengan kadar Hb di bawah 11 gr % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10,5 gr % pada trimester II. (Saifuddin 2006).

2.3.2   Patofisiologi

Zat besi masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Salah satu penyebab terjadinya anemia gizi besi adalah akibat ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan zat besi yang berasal dari makanan belum tentu menjamin kebutuhan tubuh akan zat besi yang memadai, karena jumlah zat besi yang diabsorbsi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumber zat besi, ada atau tidaknya zat penghambat seperti kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, atau yang meningkatkan absorbsi besi dalam tubuh seperti protein hewani dan vitamin C.

Besi ferri dari makanan akan menjadi ferro jika dalam keadaan asam dan bersifat mereduksi sehingga mudah diabsorbsi oleh mukosa usus. Zat besi yang berasal dari makanan seperti daging, hati, telur, sayuran hijau dan buah-buahan diabsorbsi di usus halus. Rata-rata dari makanan yang masuk mengandung 10-15 mg zat besi tetapi hanya 5-10 % yang dapat diabsorbsi. Menurunnya asupan zat besi yang merupakan unsur utama pembentukan hemoglobin maka kadar/produksi hemoglobin juga akan menurun (Tarwoto, 2007).

2.3.3 Penyebab Anemia

  1. Adanya peningkatan kebutuhan zat-zat makanan yang tidak tercukupi.
  2. Obat-obatan.
  3. Defisiensi zat besi.
  4. Kehamilan yang disertai penyakit malaria, TBC dan cacingan.
  5. Faktor Predisposisi :

–       Sosial budaya dan ekonomi yang rendah.

–       Pendidikan yang rendah.

–       Tingkat penyerapan zat besi yang tidak sempurna.

2.3.4.      Klasifikasi Anemia

  1. Anemia                        : Hb kurang dari 11 gr%
  2. Anemia berat               : Hb kurang dari 8 gr%

2.3.5   Gejala Anemia

  1. Gejala subjektif
    1. Cepat lelah
    2. Sering pusing
    3. Penglihatan berkurang
    4. Mual, muntah yang hebat pada hamil muda
  2. Gejala objektif
    1. Hb kurang dari 11 gr%
    2. Konjungtiva pucat
    3. Lidah, bibir, telapak tangan dan kuku tampak pucat
    4. Tekanan darah relatif rendah
    5. Keadaan umum lemah

2.3.6   Pengaruh Anemia pada Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin

  1. Pada kehamilan
    1. Dapat terjadi abortus (2) Partus premature
    2. Perdarahan ante partum
    3. Pertumbuhan janin terhambat dalam rahim
    4. Decompensasi cordis bila Hb kurang dari 8 gr%
    5. Mudah terjadi infeksi
    6. Molahydatidosa
    7. Hyperemesis gravidarum
    8. Ketuban pecah dini
  2. Pengaruh pada persalinan
    1.   Gangguan his dan kekuatan mengedan
    2.   Kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
    3.   Kala II berlangsung lama sehingga menimbulkan kelelahan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan (4) Kala III dapat terjadi retensi placenta
    4.   Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri
  3. Pengaruh pada masa nifas
    1.   ASI berkurang
    2.   Inteksi puerperium
    3.   Sub involusi uteri sehinga menimbulkan perdarahan post partum.
    4.   Terjadi decompensasi cordis mendadak setelah melahirkan
    5.   Angka kematian meningkat
  4. Pengaruh terhadap janin
    1. Persalinan prematur meningkat
    2. Abortus, kematian intra uteri
    3. Mengurangi kemampuan metabolisme tubuh
    4. Berat badan lahir rendah
    5. Mudah terkena infeksi
    6. Cacat bawaan
    7. Intelejensi rendah

2.3.7   Jenis Anemia dalam Kehamilan

Menurut Hanifa Wiknjosastro dalam buku Ilmu Kebidanan, berdasarkan penyelidikan di Jakarta, jenis anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Anemia defisiensi besi            : 62,3%
  2. Anemia megaloblastik : 28,0%
  3. Anemia hipoplastik                 : 8,0%
  4. Anemia hemolotik                   : 0,7%

1)      Anemia defisiensi besi (62,3%)

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur,besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.

2)      Anemia megaloblastik (28,0%)

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pterylglumatic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).

Berbeda di Eropa dan Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup tinggi di Asia seperti India, Malaysia dan di Indonesia. Hal itu erat hubungannya dengan defisiensi makanan.

3)      Anemia hipoplastik (8,0%)

Anemia pada wanita yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Darah tepi menunjukan gambaran normositer dan normokrom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi, asam folik, atau vitamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithtropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit : eritrosit yang di luar kehamilan 5: 1 dalam kehamilan 3. : 1 atau 2: 1, berubah menjadi 10 : I atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.

4)      Anemia hemolitik (0,7 %)

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.

Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan besar, yakni :

  1. Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalassemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I dan paroxysmal noctumal haemoglobinuria.
  2. Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dan sebagainya), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinim, paraquin, pinaquin, nitrofurantion (furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6 phosphate-deehydrogenase), antagonismus rhesus, atau ABO, leukimia penyakit Hodgkin, limfosarkoma, penyakit hati dan lain-lain.

2.3.8   Penanganan Anemia

Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat atau na­fero bisitrat.

Pemberian preparat 60 mg/hari selama 90 hari dapat menaikkan HB sebanyak 1 gram%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat. dan Pemberian kalori 300,kalori/hari cukup mencegah anemia (Saifuddin, 2002).

Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50° gram asam folat untuk profilaksis anemia.

Pemberian preparat yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus dapat meningkatkan HB relatif lebih cepat yaitu 2 gram%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/IM dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis (Saifuddin, 2008)

Bila diagnosis anemia defisiensi zat besi dibuat maka diberikan suplementasi zat besi 60-120 mg dalam penambahan vitamin multipel (Linda V Walsh, 2008, 412).

Ibu dengan anemia juga dianjurkan untuk makan makanan yang banyak mengandung zat besi yang baik meliputi daging merah, telur, jenis sayuran (seperti bayam ) dan sereal (Jordan, 2003, 272).

2.3.9    Kebutuhan zat besi pada kehamilan dengan janin tunggal

200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sampai dengan darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan ekstemal, 30-170 untuk tali pusat pada placenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan. Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580-1340 mg (Sue Jordan, 2004)

2.3.10 Perbandingan Antara Pelbagai Zat Besi

Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 30% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan olch tubuh adalah 20% dan takar untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 300 mg; Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 33% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Fero, Glukonas yang dibutuhkan ol–h tubuh adalah 11,6% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 600 mg.

Usus hanya mampu menyerap 40-60 mg perhari bahkan pada penderita anemia yang paling berat sekalipun dosis yang paling tinggi hanya meningkatkan efek samping gastrointestinal, yaitu mual, muntah, dan kram lambung, sehingga minum tablet besi pada saat makan atau segera setelah makan dapat mengurangi gejala mual (Sue Jordan, 2004).

2.3.11 Pencegahan

Sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus, cukup 1 tablet satu hari. Selain itu nasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur­sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

 

2.4.            Persalinan

2.4.1   Pengertian

Persalinan adalah suatu proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke dalam jalan lahir, kelahiran adalah suatu proses dimana janin dan ketuban didorong keluar jalan lahir. (Saifuddin, 2006)

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Saifuddin, 2006).

2.4.2   Persalinan Normal (Spontan)

Yaitu persalinan yang berlangsung dengan letak belakang kepala sejak awal sampai akhirnya dengan tanda melahirkan ke dunia luar.

2.4.3    Fisiologi Persalinan

Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitocin yang dikeluarkan oleh hypopise posterior dapat menimbulkan kontraksi dominan saat dimulainya persalinan. Oleh sebab itu, makin tua usia kehamilan frekuensi kontraksi makin sering, oksitocin diduga bekerjasama dengan prostaglandin makin meningkat, di samping itu faktor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim. (Manuaba, 2001)

2.4.4   Tanda-tanda Persalinan

Sebelum terjadi persalinan sebenamya seminggu sebelum memasuki bulannya “minggunya dan harinya” yang disebut kala pendahuluan (prematori stage of labor) memberikan tanda-tanda sebagai berikut :

  1. Lightening atau setting/dropping yaitu kepala turun memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) terutama pada primigravida.
  2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
  3. Perasaan susah atau sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terendah janin.
  4. Rasa sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
  5. Serviks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah dan bisa campur darah (bloody show). (Prawirohardjo, 2002)

2.4.5    Proses Persalinan

Proses persalinan dibagi dalam 4 kala menurut Saifuddin (2002), yaitu :

2.4.5.1 Kala I

Definisi : Kala I persalinan dimulai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi osteum uteru extemum. Kala I telah sempurna apabila servik telah membuka cukup luas untuk dapat dilewati kepala janin untuk dilahirkan. Kala I terhitung dari waktu mulai pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap.

Kala I terdiri dari 2 fase :

  1. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam.
  2. Fase Aktif, dibagi 6 jam dan dibagi 3 sub fase :
    1. Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm (mulai gerakan partosray).
    2. Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam pembukaan menjadi 9 cm.
    3. Periode deselerasi berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan lengkap.

Pada  primipara kala I bervariasi antara 12-14 jam, sedangkan multipara antara 6-7 Jam (Siswosudarmo : 2008).

2.4.5.2 Kala II

Definisi : dimulai dari dilatasi penuh serviks dan sempurna apabila bayi telah dikeluarkan dari uterus secara menyeluruh. Pada kala ini kontraksi uterus menjadi sangat khas dalam sifat ekspalsinya dan kontraksinya menjadi sangat kuat (amplitudonya 60-80 mmHg). Kontraksi ini terus berlangsung seperti pada kala transisi dengan selang waktu 2-3 menit dan lamanya kontraksi 1 menit. Sekarang fetus didorong keluar oleh segmen atas rahim yang menjalani retraksi yang dapat dilihat secara kasar melewati serviks yang terbuka dan jalan lahir. Fetus didorong oleh tekanan aksis fetus ke bawah dan ke belakang tegak lurus dengan pintu masuk pelvis. Dengan kata lain, kala II adalah kala pengeluaran janin. Tanda dan gejala kala II adalah dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, vulva membuka, perineum menonjol. (Depkes RI, 2004)

Fase aktif ditegakkan berdasarkan dilatasi servik 4-9 cm, kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih perjam, penurunan kepala dimulai hisnya minimal 2x dalam 10 menit selama 40 detik. (Depkes RI, 2004)

Kala II untuk primi berlangsung 1-2 jam dan pada multi tidak lebih dari I jam (Manuaba, 2001).

2.4.5.3 Kala III

Definisi : pelepasan plasenta secara normal. Plasenta belum terlepas dengan adanya kontaksi-kontraksi uterus selama kala I dan awal kala II persalinan, karena sisi plasenta harus diperkecil sampai separuh ukuran aslinya sebelum dimungkinkan terjadi pelepasan. Ketika tubuh bayi dapat dilahirkan pada kala II maka panjang uterus berkurang sehingga kekebalan dinding otot uterus tersebut akan bertambah dan besarnya kapasitas uteri akan berkurang sampai ukuran semula, biasanya dimulai pada pusatnya (bagian tengah) dan meluas ke sekelilingnya. Karena disusun oleh jaringan elastis, maka plasenta akan terlepas dari dinding uterus. Suatu kontraksi uterus yang benar-benar efektif tidak hanya menyebabkan pelepasan plasenta tetapi juga mendorong plasenta tersebut ke segmen bawah rahim dan segmen atas vagina hampir setelah bayi lahir. Pada akhir persalinan kala III uterus mempunyai ukuran kira-kira panjangnya I,5 cm, lebar 10 cm, dan tebal 7,5 cm.

Proses pengeluaran uri yang normal tidak lebih dari 30 menit. (Depkes RI, 2004).

2.4.5.4 Kala IV

Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. 2.4.6    Asuhan dan Pemantauan pada Persalinan

Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, bahkan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama proses persalinan dan kelahiran.

Asuhan sayang ibu pada kala I yaitu memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.

Asuhan sayang ibu pada kala II yaitu menolong persalinan dengan teknik APN, menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu, memberikan dukungan, membantu ibu memilih posisi yang nyaman, menganjurkan ibu untuk minum selama kala II, mengajarkan cara meneran yang baik. Menjaga kandung kemih tetap kosong, karena kandungan kemih yang penuh dapat memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet, menyebabkan ibu tidak nyaman, meningkatkan resiko pendarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri dan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.

Pada kala III dianjurkan untuk melakukan manajemen aktif III meliputi pemberian oksitosin 10 IU secara IM, melakukan peregangan tall pusat terkendali, melahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew dan Massase Fundus Uteri yang bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah pada kala III persalinan. (Depkes RI, 2008)

Pada kala IV, asuhan yang dilakukan adalah menilai kehilangan darah, memeriksa perineum dan perdarahan aktif, memantau kondisi ibu secara keseluruhan. Asuhan yang diberikan selama 2 jam pertama pasca persalinan adalah melakukan pemantauan kala IV atau kala pengawasan setelah plasenta lahir 2 jam. Dalam kala ini yang diawasi adalah tanda-tanda vital, TFU, kandung kemih, kontraksi, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua. (Saifuddin, 2002).

2.5.            Sectio Caesaria

2.5.1.      Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Prawirohardjo, 2005).
Sectio caesarea adalah prosedur operatis, yang dilakukan di bawah anastesi sehingga janin, plasenta dan ketuban dilahirkan melalui insisi dinding abdomen dan uterus (Cooper, 2009).

Sectio caesarea adalah suatu tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Cuningham, 2005). Sectio caesarea adalah operasi perut untuk mengeluarkan bayi dari kandungan (Ramli, 2005).

2.5.2.      Tujuan Sectio Caesarea

Tujuan sectio caesarea menurut Bobak (2004) adalah memelihara kehidupan atau kesehatan ibu dan janinnya. Penggunaan cara caesaria didasarkan pada bukti adanya stres maternal atau fetal. Morbiditas dan mortalitas maternal dan fetal menurun sejak adanya metode pembedahan dan perawatan modern. Namun, kelahiran caesaria ini masih mengancam kesehatan ibu dan bayi.

2.5.3.      Jenis – jenis operasi sectio caesarea

  1.  Berdasarkan Teknik Insisi

Menurut Cunningham (2005) ada dua tipe utama operasi caesarea yaitu sesaria klasik dan sesaria segmen bawah uterus. Kelahiran sesaria klasik kini jarang dilakukan, tetapi dapat dilakukan bila diperlukan kelahiran yang cepat dan pada beberapa kasus presentasi bahu dan placenta praevia. Insisi vertikal dilakukan ke dalam bagian tubuh atas uterus. Prosedur ini terkait dengan jumlah insiden kehilangan darah, infeksi, dan ruptur uterus yang lebih tinggi pada kehamilan selanjutnya daripada kelahiran dengan prosedur sesaria segmen bawah.

Kelahiran caesarea segmen bawah uterus dapat dilakukan melalui insisi vertikal (Sellheim) atau insisi transversal (Kerr). Insisi vertikal memberikan ruang yang lebih luas untuk melahirkan bayi, tetapi saat ini lebih jarang dilakukan karena lebih memungkinkan untuk terjadinya komplikasi. Insisi transversal lebih popular karena lebih mudah dilakukan, kehilangan darah relatif lebih sedikit, dan infeksi pasca operasi lebih kecil, serta kemungkinan ruptur pada kehamilan selanjutnya lebih kecil. Kelahiran pervaginam sectio caesarea dengan insisi klasik dikontraindikasikan.

  1. Berdasarkan Indikasi pada Pasien

i.          Kelahiran Caesarea Terjadwal menurut Prawirohardjo (2005)

Sectio sesaria ini direncanakan lebih dahulu karena sudah diketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan. Wanita yang mengalami kelahiran sesaria terjadwal atau terencana yaitu jika persalinan dikontraindikasikan, sedangkan kelahiran harus dilakukan, tetapi persalinan tidak dapat diinduksi atau bila ada suatu keputusan yang dibuat antara petugas kesehatan dan wanita yang akan melahirkan.

Keuntungan dari kelahiran sectio caesarea terjadwal ialah waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan bahwa segala persiapan dapat dilakukan dengan baik. Kerugiannya adalah oleh karena persalinan belum dimulai, segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan, dan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perdarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya. Akan tetapi dapat dikatakan bahwa umumnya keuntungan lebih besar daripada kerugian.

ii.          Kelahiran Caesaria Darurat menurut Cooper (2009)

Hal ini dilakukan jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan selama kehamilan atau persalinan. Beberapa standar telah dibuat untuk menetapkan waktu maksimal yang boleh dilewati dari keputusan untuk melahirkan hingga waktu aktual bayi dilahirkan. Namun demikian, hal ini menjadi kurang jelas karena pada beberapa kasus benar-benar terjadi ‘kedaruratan’ dan segalanya harus sudah siap untuk pelahiran bayi yang segera jika bayi diharapkan dapat bertahan hidup. Kemudian terdapat juga situasi lain ketika pelahiran bersifat ‘mendesak’, tetapi waktu yang digunakan untuk mempersiapkan operasi dapat lebih banyak dan tindakan yang akan dilakukan dapat didiskusikan bersama orang tua dengan sikap yang lebih relaksi. Berikut ini contoh alasan mendesak / darurat untuk kelahiran dengan sectio caesarea:

1.Perdarahan antepartum

2.Porlaps tali pusat

3.Ruptur uterus

4.Disproporsi sefalopelvik yang terdiagnosis pada persalinan

5.Pre-eklamsia berat

6.Eklamsia

7.Persalinan macet pada kala satu atau kala dua dan perburukan kondisi janin jika pelahiran tidak segera dilakukan.

2.5.4.   Indikasi Pelaksanaan Sectio caesarea

Sectio caesarea biasanya dilakukan jika ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan bila dibiarkan maka dapat terjadi komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. Tiga faktor indikasi pelaksanaan sectio caesarea menurut Cooper (2009) adalah :

2.5.4.1.     Faktor Ibu

  1. Disproporsi Sefalopelvik

Ukuran panggul yang sempit dan tidak proporsional dengan ukuran janin menimbulkan kesulitan dalam persalinan pervaginam. Panggul sempit lebih sering pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Kesempitan panggul dapat ditemukan pada satu bidang atau lebih, pintu atas panggul dianggap sempit bila conjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversal kurang dari 12 cm.

  1. Usia

Ibu yang melahirkan untuk pertama kalinya berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko melahirkan dengan sectio caesarea karena pada usia tersebut ibu memiliki penyakit beresiko seperti hipertensi, jantung, diabetes melitus, dan preeklamsia.

  1. Infeksi

Setiap tindakan operasi vaginal selalu diikuti oleh kontaminasi bakteri, sehingga menimbulkan infeksi. Infeksi makin meningkat apabila didahului oleh keadaan umum yang kurang baik seperti anemia saat hamil, sudah terdapat manipulasi intra¬uterin, sudah terdapat infeksi dan perlukaan operasi yang menjadi jalan masuk bakteri.

  1. Trauma tindakan operasi persalinan

Operasi merupakan tindakan paksa pertolongan persalinan sehingga menimbulkan trauma jalan lahir. Trauma operasi persalinan dijabarkan sebagai berikut:

– Perluasan luka episiotomy

– Perlukaan pada vagina

– Perlukaan pada serviks

– Perlukaan pada forniks-kolfoporeksis

– Terjadi ruptur uteri lengkap atau tidak lengkap

– Terjadi fistula dan ingkontinensia

2.5.4.2.     Faktor Janin

a. Janin besar

b.Gawat janin

c.Letak lintang

Kelainan letak ini dapat disebabkan karena adanya tumor dijalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plesenta previa, cairan ketuban pecah banyak, kehamilan kembar dan ukuran janin. Keadaan tersebut menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Bila dibiarkan terlalu lama, mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan meyebabkan kerusakan otak janin.

d.Letak Sungsang

Resiko bayi lahir sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan alami diperkirakan 4 x lebih besar dibandingkan keadaan normal. Pada bayi aterm, tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan ini persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena; pertama, persalinan terlambat beberapa menit, akibat penurunan kepala menyesuaikan dengan panggul ibu, padahal hipoksia dan asidosis bertambah berat. serta persalinan yang dipacu dapat menyebabkan trauma karena penekanan, traksi ataupun kedua-duanya. Misalnya trauma otak, syaraf, tulang belakang, tulang rangka dan viseral abdomen.

e.Bayi Abnormal

Misalnya hidrosefalus, kerusakan Rhesus dan kerusakan genetik.

2.5.4.3.     Faktor Jalan Lahir

a.Plasenta Previa

b.Solusio Placenta

c. Plasenta accrete

d.Kelainan tali pusat.

–       Pelepasan tali pusat (tali pusat menumbung)

–       Terlilit tali pusat

e.Bayi kembar

Kelahiran kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi preeklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan. Bagi bayi yang sungsang akibat dipicu adanya tumor atau placenta previa, maka operasi cesar adalah keharusan. Sebab tidak ada penanganan yang bisa dilakukan, selain dengan melakukan operasi untuk mengetahui posisi bayi yang dikandung mengalami sungsang atau tidak, sebaiknya jangan hanya berdasarkan hasil ultrasonografi. “Saat kontrol, sebaiknya ibu aktif bertanya perihal letak janin di dalam kandungan. Begitu juga dengan umur kehamilan, perkiraan berat janin, letak plasenta serta volume air ketuban. Operasi sesar dapat menurunkan risiko yang dialami janin saat lahir. Bayi yang lahir secara normal dalam kondisi sungsang, memiliki risiko komplikasi yang cukup besar dibanding bayi yang letaknya normal. Karena itu dokter umumnya cenderung memilih proses persalinan bedah sesar.

2.5.5.      Resiko Bedah Caesar

2.5.5.1.     Resiko Maternal

Studi yang dipublikasikan 13 Februari 2007 oleh Canadian Medical Association Journal menemukan bahwa wanita dengan caesar terencana mempunyai rata rata morbiditas yang parah sebesar 27,3 per 1000 persalinan dibandingkan dengan persalinan pervaginam yang sebesar 9 per 1000 persalinan. Kelompok dengan caesar terencana lebih beresiko tinggi terhadap gagal jantung, hematoma, histerektomi, infeksi puerperal mayor, komplikasi akibat anestesi, tromboemboli vena, dan perdarahan yang membutuhkan histerektomi (Cunningham, 2005).

Studi yang dipublikasikan pada Februari 2007 dalam Obstetric and Gynecology Journal menunjukkan bahwa wanita dengan bedah sesar lebih memungkinkan untuk bermasalah pada persalinan setelahnya. Resiko maternal menurut Ceterini (2007) maternal ini meliputi:

a.Infeksi yaitu infeksi dapat terjadi pada lokasi insisi, dalam uterus, pada organ lain dalam pelvis seperti kandung kemih.

b.Perdarahan yaitu ibu kehilangan lebih banyak darah pada bedah caesar daripada pada persalinan pervaginam. Hal ini dapat mengarah pada anemia atau tranfusi darah.

c.Luka pada organ yaitu adanya kemungkinan luka pada organ seperti bowel atau kandung kemih.

d.Adhesions yaitu jaringan parut dapat terbentuk dalam area pelvis dan menyebabkan blokade dan nyeri. Hal ini juga dapat mengarah ke komplikasi pada kehamilan selanjutnya seperti placenta previa atau abruptio placenta.

e.Waktu pemulihan yang lebih lama yaitu waktu pemulihan pasca bedah caesar dapat mencapai beberapa minggu hingga beberapa bulan, hingga berdampak pada bonding time ibu dengan bayi.

f.Reaksi terhadap obat yaitu dapat terjadi reaksi negatif pada anestesi yang diberikan selama bedah sesar atau reaksi pada obat anti nyeri yang diberikan pasca prosedur.

g.Resiko pembedahan tambahan yaitu seperti hysterectomy, kandung kemih, atau bedah sesar selanjutnya.

h.Maternal mortalitas yaitu pada bedah sesar, angka ini lebih besar dibandingkan pada persalinan pervaginam.

i.Reaksi emotional yaitu wanita yang melahirkan secara sesar dilaporkan merasa pengalaman melahirkan yang negatif dan mungkin mengalami kendala bonding dengan bayinya.

2.5.5.2.     Resiko Fetal

Adapun resiko fetal menurut caterini (2007) antara lain :

a. Anestesi

Beberapa bayi dapat terpengaruh oleh anestesi yang diberikan kepada ibu selama proses operasi. Obat ini dapat mematirasakan ibu tapi juga dapat membuat bayi tidak aktif.

b.Masalah pernafasan

Walaupun bayi lahir full term, bayi yang lahir melalui bedah sesar lebih beresiko daripada bayi yang lahir pervaginam. jika dilahirkan secara sesar, bayi lebih cenderung mempunyai masalah pernafasan dan kendala respiratorik. Beberapa studi menyebutkan peningkatan kebutuhan bantuan pada. pernafasan dan perawatan segera dibandingkan pada bayi yang dilahirkan pervaginam.

c.Kelahiran premature

Jika usia kehamilan tidak dihitung dengan tepat, bayi yang dilahirkan melalui bedah sesar bisa saja masih prematur dan mempunyai berat badan yang rendah.

d.Nilai APGAR rendah

Hal ini bisa diakibatkan oleh anestesi, fetal distress sebelum persalinan atau kurangnya stimulasi selama persalinan (persalinan pervaginam memberikan stimulasi alami ketika bayi berada dalam jalan lahir). 50% bayi yang lahir melalui bedah sesar cenderung mempunyai nilai APGAR yang lebih rendah daripada bayi yang lahir pervaginam.

2.5.5.3.     Dampak Bedah Caesaria

Tanpa indikasi medis, ibu sudah seharusnya menjalani persalinan normal. Namun agaknya, masih banyak kesalahkaprahan dalam memandang persalinan sesar. Akibatnya, bersalin sesar atau normal sama-sama dijadikan pilihan seperti halnya menu makanan. Memang benar, kalau ibu dan ayah mendesak si jabang bayi dilahirkan di tanggal pesanan.

Proses melahirkan melalui sesar memiliki beberapa dampak baik pada ibu maupun pada bayi, Adapun dampak proses melahirkan melalui sesar yang akan dialami ibu menurut caterini (2007) yaitu :

  1. Sakit di tulang belakang

Banyak ibu setelah sesar mengeluh sakit dibagian tulang belakang (tempat dilakukan suntik anastesi sebelum operasi). Keluhan ini umumnya terasa saat membungkukkan badan, mengambil sesuatu di lantai, atau mengangkat beban yang lumayan berat. Sumber rasa nyeri berada tepat pada bekas tusukan jarum suntik saat dilakukan bius lokal. Akibatnya, sehabis melahirkan sesar, ibu tidak disarankan melakukan gerakan yang terlalu mendadak dan drastis serta harus menghindari mengangkat beban berat.

Umumnya jika keluhan ini berlarut-larut atau intensitas sakitnya meningkat, ibu disarankan untuk berkonsultasi pada dokter. Kalau perlu, akan dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya rontgen tulang belakang. Pada ibu yang melahirkan normal, kondisi ini tidak terjadi. Empat puluh hari bahkan enam jam setelah bersalin, ibu bisa langsung beraktivitas normal.

  1. Nyeri di bekas sayatan

Pasca-operasi, saat efek anestesi hilang, nyeri di bekas sayatan bedah akan terasa. Ibu melahirkan normal, setelah istirahat enam jam, paling-paling akan merasa letih atau pegal-pegal. Rasa letih ini lekas hilang jika ibu banyak bergerak.

  1. Rasa kebal di bekas sayatan

Keluhan lain sehabis operasi sesar adalah rasa kebal di bagian atas bekas sayatan operasi. Ini wajar karena saraf di daerah tersebut boleh jadi ada yang terputus akibat sayatan saat operasi. Butuh kira-kira 6-12 bulan, sampai serabut saraf tersebut menyambung kembali. Pada persalinan normal, putus saraf di perut dipastikan tidak ada.

  1. Nyeri di bekas jahitan

Keluhan ini sebetulnya wajar karena tubuh tengah mengalami luka, dan penyembuhannya tidak bisa sempurna 100%. Apalagi jika luka tersebut tergolong panjang dan dalam. Dalam operasi sesar ada 7 lapisan perut yang harus disayat. Sementara saat proses penutupan luka, 7 lapisan tersebut dijahit satu demi satu menggunakan beberapa macam benang jahit.

Proses penyembuhan tidak bisa dihindari terjadinya pembentukan jaringan parut. Jaringan parut inilah yang dapat menyebabkan nyeri saat melakukan aktivitas tertentu, terlebih aktivitas yang berlebihan atau aktivitas yang memberi penekanan di bagian tersebut.

Pada persalinan normal, walau ada jahitan pada vagina (ini juga tidak pada semua ibu), tapi efeknya tidak akan seperti kondisi ibu disesar. Ibu yang bersalin normal biasanya tidak akan mengeluhkan apa-apa pada jahitan tersebut.

  1. Mual muntah

Rasa mual-muntah yang umumnya timbul akibat sisa-sisa anestesi pada diri ibu. Efek seperti ini, tidak ditemukan pada ibu bersalin normal. Yang ibu rasakan hanyalah perasaan letih, lapar, dan haus.

  1. Muncul keloid dibekas jahitan

Selama masa penyembuhan luka operasi, banyak ibu yang gundah karena perutnya tak lagi mulus. Apalagi jika di bekas jahitan muncul benjolan memanjang yang disebut keloid. Munculnya keloid pada bekas sayatan operasi sesar biasanya disebabkan oleh paparan cairan ketuban yang mengandung faktor pertumbuhan sel, jenis benang jahit yang dipakai, teknik menjahit, serta bakat seseorang dalam reaksi jaringan. Pada ibu yang bersalin normal, mendambakan perut yang tetap mulus seperti saat gadis bukanlah masalah berarti.

  1. Gatal dibekas jahitan

Rasa gatal dibekas jahitan sangat mengganggu dan mendorong ibu untuk menggaruknya. Sedihnya, tidak disarankan bagi ibu untuk menggaruk karena dikhawatirkan jahitan akan terbuka dan menimbulkan dampak lebih parah. Rasa gatal bisa timbul akibat adanya infeksi pada daerah luka operasi seperti infeksi jamur atau karena reaksi penyembuhan luka yang berlebihan.

Bila penyebabnya infeksi biasanya akan tampak tanda radang di daerah jahitan (ditandai dengan kulit yang berwarna kemerahan, ada luka, ada cairan yang keluar, terasa panas, dan terasa nyeri bila ditekan). Berbeda bila disebabkan reaksi kulit yang berlebihan yaitu kulit di daerah jahitan menebal dan mengeras serta menonjol dibanding permukaan kulit lainnya. Inilah yang disebut keloid. Ibu bersalin normal tidak merasakan hal ini karena tidak ada luka sayatan di daerah perut.

  1. Luka berpeluang infeksi

Ibu yang melahirkan secara sesar harus menjaga luka di perutnya agar jangan sampai terkena air dan terinfeksi. Proses penyembuhan luka bekas sesar biasanya berlangsung 10 hari. Bagi ibu yang bersalin normal, perawatan luka kemungkinan dilakukan di bibir vagina yang diepisiotomi (digunting sedikit). Jika tak ada indikasi perlunya eposiotomi, setelah bersalin normal dan kembali bugar, ibu boleh mandi sesuka hati.

  1. Minum antibiotic

Untuk mencegah infeksi pada luka sayatan sesar, pasca operasi ibu akan diberi antibiotik untuk beberapa hari ke depan. Jadi, sabar-sabar saja untuk tidak putus obat sepanjang dosis yang ditentukan dokter. Ibu bersalin normal, tidak perlu antibiotik. Yang mesti dipenuhi adalah asupan makanan empat sehat lima sempurna, dan minum minimal 8 gelas sehari.

  1. Tidak Boleh Segera Hamil

Jarak aman antar kehamilan yang disarankan adalah 2 tahun setelah sesar, meski ini bukan angka mati karena terpulang kembali pada kondisi masing-masing ibu. Idealnya, sehabis menjalani operasi sesar, tunda kehamilan sampai luka operasi dan jahitannya benar-benar sembuh dan kuat.

Selain itu, tenggang waktu 2 tahun ini juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada organ-organ reproduksi maupun organ lainnya untuk beristirahat.

  1. Mobilisasi terbatas

Dalam waktu 24 jam, mobilisasi ibu pasca persalinan sesar mesti dilakukan secara lebih lama dan lebih bertahap. Tanpa itu, proses penyembuhan luka bisa mengalami gangguan. Ibu yang melahirkan normal, setelah 6 jam beristirahat hanya perlu tahapan singkat mobilisasi. Setelah itu, ibu dapat langsung beraktivitas seperti biasa.

  1. Latihan pernapasan dan batuk

Latihan pernapasan dan batuk bagi ibu sesar dimaksudkan untuk membantu mengeluarkan sisa-sisa anestesi. Tujuannya agar paru-paru benar-benar bersih dan terhindar dari risiko pneumonia. Ibu bersalin normal tidak perlu susah-susah melakukan latihan napas dan batuk. Cukup lakukan senam ringan yang akan membantu proses pemulihan.

  1. Dibatasi 3 anak

Ibu hamil yang sudah menjalani 3x operasi sesar mau tidak mau harus bersedia disteril. Ini adalah standar medis di Indonesia guna menghindari hal-hal yang sangat membahayakan ibu maupun janinnya. Juga karena memang belum ada RS yang menyediakan teknologi mutakhir untuk melakukan operasi sesar ke empat kalinya pada ibu yang sama. Pada ibu yang melakukan persalinan normal, setelah bersalin anak ketiga, jika masih berencana ingin punya anak keempat dan seterusnya boleh-boleh saja. Dengan catatan ibu mampu lahir dan batin.

  1. Pantangan-pantangan

Meski tergantung pada jenis anastesi yang digunakan, kemungkinan besar sehabis disesar ibu tidak boleh langsung minum sampai mendapat izin dari dokter. Ibu sesar juga mesti mengalami pemasangan kateter sebelum operasi dimulai yang dilepas setelah 24 jam. Biasanya setelah kateter dilepas, ibu sulit buang air kecil.

Pada ibu yang melahirkan secara normal, minum dan makan bisa dilakukan kapan saja setelahnya. Selain itu, tidak ada proses pemasangan kateter dan buang air kecil atau buang air besar bisa dilakukan langsung secara normal. Setelah operasi ibu yang bersalin sesar juga harus rela badannya ditusuk jarum infus yang tidak akan dirasakan oleh ibu yang bersalin normal.

2.5.6.      Perawatan Bedah Kebidanan

2.5.6.1.     Tujuan dilakukan perawatan

Dilakukan untuk menetapkan strategi  yang sesuai dengan kebutuhan individu selama periode perioperatif sehingga klien memperoleh kemudahan sejak datang sampai klien sehat kembali.

2.5.6.2.     Periode perioperatif

Perioperatif terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

  1. Pre-operatif (sebelum)
  2. Intra-operatif (selama)
  3. Post-operatif  (sesudah)

2.5.6.2.1.      PRE-OPERATIF

Perawatan pre operatif  merupakan  tahap pertama dari  perawatan perioperatif  yang dimulai   sejak   pasien   diterima  masuk   di   ruang   terima   pasien   dan   berakhir   ketika   pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.

Persiapan   pembedahan   dapat   dibagi   menjadi   2   bagian,   yang   meliputi   persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).

1. Persiapan psikologi

Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena:

  1. Takut akan perasaan sakit, narkosa atau hasilnya
  1. Keadaan social ekonomi keluarga

Penyuluhan  merupakan   fungsi   penting   dari   perawat   pada   fase   pra   bedah   dan   dapat mengurangi  cemas pasien.  Hal-hal  dibawah  ini  penyuluhan yang dapat  diberikan kepada pasien pra bedah:

  1. Penjelasan tentang peristiwa

1)      Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).

2)      Hal-hal yang rutin sebelum operasi.

3)      Alat-alat khusus yang diperlukan

4)      Pengiriman ke ruang bedah.

5)      Ruang pemulihan.

  1. Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :

a)      Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.

b)      Perlu kebebasan saluran nafas.

c)      Antisipasi pengobatan.

–        Bernafas dalam dan latihan batuk

–        Latihan kaki

–        Mobilitas

–        Membantu kenyamanan

2. Persiapan fisiologi

  1. Diet
    1. Persiapan Perut

Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.

Maksud dari pemberian lavement antara lain :

–     Mencegah cidera kolon

–     Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.

–     Mencegah konstipasi.

–     Mencegah infeksi.

a)    Persiapan Kulit

Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi.  Rambut  pubis dicukur  bila perlu saja,   lemak dan kotoran harus   terbebas   dari   daerah   kulit   yang   akan   dioperasi.   Luas   daerah   yang   dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.

b)   Hasil Pemeriksaan

Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.

c)    Persetujuan Operasi / Informed Consent

Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat. Pada   kasus   gawat   darurat   ahli   bedah mempunyai  wewenang   untuk  melaksanakan operasi  tanpa surat  izin tertulis dari  pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak  dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.

3. Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima dengan perawat OK)

  1. Mencegah cidera

Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini :

–        Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).

–        Cek gelang identitas / identifikasi pasien.

–        Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.

–        Lepas perhiasan

–        Bersihkan cat kuku.

–        Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.

–        Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.

–        Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada gangguan pendengaran.

–        Kaus   kaki   anti   emboli   perlu   dipasang   pada   pasien   yang   beresiko terhadap tromboplebitis.

–        Kandung kencing harus sudah kosong.

–        Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi ;

a)      Catatan tentang persiapan kulit.

b)      Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).

c)      Pemberian premedikasi.

d)     Pengobatan rutin.

e)      Data antropometri (BB, TB)

f)       Informed Consent

g)      Pemeriksan laboratorium.

  1. Pemberian obat premedikasi

Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi kecemasan,  memperlancar  induksi dan untuk pengelolaan anaesthesi.  Sedative biasanya diberikan pada malam menjelang operasi agar pasien tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas.

  1. Latihan Pra Operasi

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondsi pasca operasi, seperti : nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain latihan nafas dalam, latiihan batuk efektif dan latihan gerak sendi.

a) Latihan Nafas Dalam dan Batuk Efektif

Pengertian       : Suatu tindakan pendidikan kesehatan yang diajarkan pada klien sebelum operasi

Tujuan        :

(a) Mencegah terjadinya komplikasi paru-paru akibat pembedahan

(b) Membantu paru-paru berkembang dan mencegah terjadinya akumulasi sekresi yang terjadi setelah anestesi

Prosedur     :

–       Tidur dengan posisi semi fowler atau fowler penuh dengan lutut fleksi, abdomen relaks dan dada ekspansi penuh.

–        Letakkan tangan diatas perut

–        Bernafas pelan melalui hidung dengan membiarkan dada ekspansi dan rasakan perut mengempis dengan tangan yang ada diatasnya

–        Tahan nafas selama 3 detik

–        Keluarkan nafas melalui bibir yang terbuka sedikit secara pelan-pelan (abdomen/perut kontraksi dengan inspirasi)

–        Tarik dan keluarkan nafas 3x, kemudian setelah inspirasi diikuti dengan batuk yang kuat /keras untuk mengeluarkan secret

–        Istirahat

–        Ulangi tahap 3 sampai tahap 7

(b).  Latihan Kaki

Pengertian              : Suatu tindakan latihan persiapan fisik yang diajarkan ke pasien pada saat periode sebelum operasi (pre operasi).

Tujuan                    :

–           Memperlancar peredaran darah

–           Mencegah vena statis

–           Mempertahankan tonus otot

Prosedur :

Ajarkan pada pasien tiga bentuk latihan yang berisi tentang kontraksi dan relaksasi otot quadriceps (vastus intermedius, vastus lateralis, rectus femoris dan vastus medialis) dan otot gastroknemius.

–          Lakukan dorsifikasi dan flantar fleksi pada kaki. Latihan kadang-kadang diberiakan seperti dalam keadaan memompa. Gerakan ini akan membuat kontrksi dan relaksasi pada otot betis. Latihan kaki menolong mencegah terjadinya thrombophlebitis dan vena statis.

–          (b) Fleksi dan ekstensi pada lutut dan penekanan kembali lutut kedalam bed. Instruksikan pasien untuk memulai latihan segera setelah operasi sesuai dengan kemampuannya.

–          Naikkan dan turunkan kaki dari permukaan bed. Ekstensikan lutut untuk menggerakan kaki. Latihan ini menimbulkan kontraksi dan relaksasi otot quadriceps. Awasi pasien dalam melakukan latihan kurang lebih satu jam setiap bangun tidur, dengan catatan frekuensi latihan tergantung kondisi pasien. Jelaskan pada pasien bahwa dengan kontraksi otot akan memperlancar peredaran darah.

c) Latihan Gerak Sendi

Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasien

Keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus.

Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.

Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukungh dan mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usispenuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan operasi.

2.5.6.2.2.      INTRA-OPERATIF

Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.

1. Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operatif

Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :

  1. Anggota steril

–     Ahli bedah utama / operator

–     Asisten ahli bedah.

–     Scrub Nurse / Perawat Instrumen

  1. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :

–     Ahli atau pelaksana anaesthesi.

–     Perawat sirkulasi

–     Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).

2. Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.

a)    Persiapan Psikologis Pasien

b)   Pengaturan Posisi

Posisi  diberikan perawat   akan mempengaruhi   rasa nyaman pasien dan  keadaan psikologis pasien. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :

1)   Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

2)   Umur dan ukuran tubuh pasien.

3)   Tipe anaesthesia yang digunakan.

4)   Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :

  1. Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.
  2. Sedapat mungkin  jaga privasi  pasien,  buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan duk.
  3. Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya   dililitkan   diatas   lutut.   Saraf,   otot   dan   tulang   dilindungi   untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
  4. Jaga   pernafasan   dan   sirkulasi   vaskuler   pasien   tetap   adekuat,   untuk meyakinkan terjadinya pertukaran udara.
  5. Hindari   tekanan pada dada atau bagain  tubuh  tertentu,  karena  tekanan dapat  menyebabkan   perlambatan   sirkulasi   darah   yang  merupakan   faktor predisposisi terjadinya thrombus.
  6. Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.
  7. Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.
  8. Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan.
  9. Untuk   posisi   litotomi,   naikkan   dan   turunkan   kedua   ekstremitas bawah secara bersamaan untuk menjaga agar lutut tidak mengalami dislokasi.

–        Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.

–        Penutupan Daerah Steril

–        Mempertahankan Surgical Asepsis

–        Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh

–        Monitor dari Malignant Hyperthermia

–        Penutupan luka pembedahan

–        Perawatan Drainase

–        Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.

  1. 3.        Komplikasi Intra Operatif

Komplikasi selama operasi bisa muncul sewaktu-waktu selama tindakan pembedahan. Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan hipertermi maligna.

1) Hipotensi

Hipotensi yeng terjadi selama pembedahan, biasanya dilakukan dengan pemberian obat-obatan tertentu (hipotensi di induksi). Hipotensi ini memang diinginkan untuk menurunkan tekanan darah pasien dengan tujuan untuk menurunkan jumlah perdarahan pada bagian yang dioperasi, sehingga menungkinkan operasi lebih cepat dilakukan dengan jumlah perdarahan yang sedikit. Hipotensi yang disengaja ini biasanya dilakukan melalui inhalasi atau suntikan medikasi yang mempengaruhi sistem saraf simpatis dan otot polos perifer.

Agen anastetik inhalasi yang biasa digunakan adalah halotan.
Oleh karena adanya hipotensi diinduksi ini, maka perlu kewaspadaan perawat untuk selalu memantau kondisi fisiologis pasien, terutama fungsi kardiovaskulernya agar hipotensi yang tidak diinginkan tidak muncul, dan bila muncul hipotensi yang sifatnya malhipotensi bisa segera ditangani dengan penanganan yang adekuat.

2) Hipotermi

Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh dibawah 36,6 oC (normotermi : 36,6 37,5 oC). Hipotermi yang tidak diinginkan mungkin saja dialami pasien sebagai akibat suhu rendah di kamar operasi (25 oC,  26,6 oC), infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas dingin, kavitas atau luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia lanjut atau obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anastetik umum, dan lain-lain).

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari hipotermi yang tidak diinginkan adalah atur suhu ruangan kamar operasi pada suhu ideal (25 26,6 oC) jangan lebih rendah dari suhu tersebut, caiaran intravena dan irigasi dibuat pada suhu 37 oC, gaun operasi pasien dan selimut yang basah harus segera diganti dengan gaun dan selimut yang kering. Penggunaann topi operasi juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotermi. Penatalaksanaan pencegahan hipotermi ini dilakukan tidak hanya pada saat periode intra operatif saja, namun juga sampai saat pasca operatif.

3) Hipertermi Malignan

Hipertermi malignan sering kali terjadi pada pasien yang dioperasi. Angka mortalitasnya sangat tinggi lebih dari 50%. Sehingga diperlukan penatalaksanaan yang adekuat. Hipertermi malignan terjadi akibat gangguan otot yang disebabkan oleh agen anastetik. Selama anastesi, agen anastesi inhalasi (halotan, enfluran) dan relaksan otot (suksinilkolin) dapat memicu terjadinya hipertermi malignan.

Ketika diinduksi agen anastetik, kalsium di dalam kantong sarkoplasma akan dilepaskan ke membran luar yang akan menyebabkan terjadinya kontraksi. Secara normal, tubuh akan melakukan mekanisme pemompaan untuk mengembalikan kalsium ke dalam kantong sarkoplasma. Sehingga otot-otot akan kembali relaksasi. Namun pada orang dengan hipertermi malignan, mekanisme ini tidak terjadi sehingga otot akan terus berkontraksi dan tubuh akan mengalami hipermetabolisme. Akibatnya akan terjadi hipertermi malignan dan kerusakan sistem saraf pusat.

Untuk menghindari mortalitas, maka segera diberikan oksigen 100%, natrium dantrolen, natrium bikarbonat dan agen relaksan otot. lakukan juga monitoring terhadap kondisi pasien meliputi tanda-tanda vital, EKG, elektrolit dan analisa gas darah

2.5.6.2.3. POST-OPERATIF

Perawatan   post   operasi  merupakan   tahap   lanjutan   dari   perawatan   pre   dan   intra  operatif yang dimulai  saat klien diterima di  ruang pemulihan /  pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya

Periode segera sesudah anaesthesi adalah gawat. Pasien harus diamati dengan jeli dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis yang intensif sampai pengaruh utama dari anaesthesi mulai berkurang dan kondisi umum mulai stabil. Banyaknya  asuhan   yang   dilaksanakan   segera   setelah   periode   pasca anaesthesi   tergantung   kepada   prosedur   bedah   yang   dilakukan.

1. Hal-hal   yang   harus diperhatikan meliputi :

  1. Mempertahankan ventilasi pulmonary

–     Berikan   posisi   miring   atau   setengah   telungkup   dengan   kepala   tengadah kebelakang   dan   rahang   didorong   ke   depan   pada   pasien   sampai   reflek-reflek pelindung pulih.

–     Saluran nafas buatan. Saluran   nafas   pada   orofaring   biasanya   terpasang   terus   setelah   pemberian anaesthesi umum untuk mempertahankan saluran tetap terbuka dan lidah kedepan sampai reflek faring pulih. Bila pasien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak dan lendir harus dibantu dengan suction.

–     Terapi oksigen

O2 sering diberikan pada pasca operasi, karena obat anaesthesi dapat menyebabkan lyphokhemia.   Selain   pemberian  O2  harus   diberikan   latihan   nafas   dalam  setelah pasien sadar.

  1. Mempertahankan sirkulasi

Hipotensi dan aritmia adalah merupakan komplikasi kardiovaskuler yang paling sering terjadi pada pasien post anaesthesi. Pemantauan tanda vital dilakukan tiap 15 menit sekali selama pasien berada di ruang pemulihan.

  1. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Pemberian   infus  merupakan   usaha   pertama   untuk  mempertahankan   keseimbangan cairan dan elektrolit. Monitor cairan per  infus sangat  penting untuk mengetahui  kecukupan pengganti  dan pencegah kelebihan cairan. Begitu pula cairan yang keluar juga harus dimonitor.

  1. Mempertahankan keamanan dan kenyamanan

Pasien post  operasi  atau post  anaesthesi   sebaiknya pada  tempat   tidurnya dipasang pengaman  sampai  pasien  sadar  betul.  Posisi  pasien  sering diubah untuk mencegah kerusakan saraf akibat tekanan kepada saraf otot dan persendian. Obat analgesik dapat diberikan pada pasien yang kesakitan dan gelisah sesuai dengan program dokter. Pada pasien yang mulai  sadar,  memerlukan orientasi  dan merupakan tunjangan agar tidak merasa sendirian. Pasien harus diberi penjelasan bahwa operasi sudah selesai dan diberitahu apa yang sedang dilakukan.

2. Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan/Recovery   Room

Uraian diatas telah membahas tentang hal yang diperhatikan pada pasien post anaesthesi. Untuk  lebih  jelasnya maka dibawah  ini  adalah petunjuk perawatan/ observasi  diruang pemulihan:

  1. Posisi   kepala   pasien   lebih   rendah   dan   kepala   dimiringkan   pada   pasien   dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.
  2. Pasang pengaman pada tempat tidur.
  3. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.
  4. Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.
  5. Beri O2 2,3 liter sesuai program.
  6. Observasi adanya muntah.
  7. Catat intake dan out put cairan.
  1. Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis:

–  Tekanan sistolik <  90 –100 mmHg atau > 150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg.

–  HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit

–  Suhu > 38,3° C atau kurang dari 35° C.

–  Meningkatnya kegelisahan  pasien

–  Tidak BAK + 8 jam post operasi.

3. Pengeluaran dari ruang pemulihan / Recovery Room

Kriteria umum yang digunakan dalam mengevaluasi pasien :

  1. Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.
  2. Tanda-tanda vital harus stabil.
  3. Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.
  4. Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.
  5. Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna.
  6. Urine yang keluar  harus adekuat   (  1cc/  Kg/jam).   Jumlahnya harus dicatat  dan dilaporkan.
  7. Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.
  8. Jika   keadaan   pasien  membaik,   pernyataan   persetujuan   harus   dibuat   untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
  9. Staf   dari   unit   dimana   pasien   harus   dipindahkan,   perlu   diingatkan   untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.

4. Pengangkutan Pasien keruangan

Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain:

–     Keadaan penderita serta order dokter.

–     Usahakan pasien jangan sampai kedinginan.

–     Kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk menjaga bila muntah sewaktu-waktu dan  muka   pasien   harus   terlihat   sehingga   bila   ada   perubahan sewaktu-waktu terlihat.

2.6.      Nifas

2.6.1   Pengertian

Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosastro, 2007: 237)

Masa nifas didefinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara populer diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal (Cunningham, 2006 : 443)

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa pulihnya kembali alat-alat kandungan yang lamanya 6 minggu setelah persalinan.

2.6.2    Periode Masa Nifas

2.6.2.1 Puerperium Dini

Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2.6.2.2 Puerperium Intermedial

Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetilia yang lamanya 6-8 minggu. 2.6.2.3 Remote Puerperium

Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulan atau tahunan. (Mochtar, 1998) 2.6.3    Perubahan Fisiologi Masa Nifas

  1. Uterus

Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000 gram. Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. Dengan berat uterus 700 gram. Pada hari kelima pasca persalinan uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau pertengahan simfisis pusat dengan berat 500 gram, sesudah 2 minggu kemudian tinggi fundus tidak teraba lagi dengan berat 300 gram dan setelah 6 minggu kemudian bertambah kecil dengan berat 50 gram dan 8 minggu tinggi fundus uteri normal dengan berat 30 gram.

  1. Bagian bekas implantasi plasenta

Bagian bekas implantasi plasenta menjadi mengecil karena kontraksi dan menonjol ke dalam cavum uteri yang berdiameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke 6 berdiameter 2,4 cm dan akhirnya pulih.

  1. Involusi uterus dan pengeluaran lochea,

Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 30 gram. Proses preteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan.

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalan nifas, lochea mempunyai reaksi basalalkalis yang dapat membuat organisme berkembangan lebih cepat dari pada kondisi asam pada vagina normal. Lochea mengalami perubahan karena proses involusi. Lochea terdiri dari :

–       Lochea Rubra

Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, Verniks kaseosa, lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.

–       Lochea Sanguinolenta.

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir , pada hari ke 3-7 pasca persalinan.

–       Lochea Serosa

Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 pasca persalinan.

–       Lochea Alba

Cairan putih setelah 2 minggu post partum.

  1. Serviks

Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah dua jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari.

  1. Ligamen-ligamen

Ligamen fasia dan diafragma, perivis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke 2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah 3 minggu.

  1. Laktasi

Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan, umumnya produksi air susu ibu/ASI baru terjadi kedua atau ketiga pasca persalinan, pada hari pertama banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. (Mansjoer Arip, 2007: 316).

2.6.4    Perubahan Psikologi Masa Nifas

Reva Rubin membagi periode postpartum menjadi tiga fase (Pilitteri, 2003), yaitu :

1). Taking-In Phase (dependent phase)

Fase ini merupakan fase refleksi. Berlangsung selama satu atau dua hari setelah melahirkan. Pada masa ini ibu sangat tergantung dan pasif. Ibu masih ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dan masih berfokus pada kebutuhan dirinya sendiri, membutuhkan banyak istirahat dan makan. Pada masa ini ibu masih terkenang pengalamannya saat persalinan. Pada masa ini ibu semakin cemas jika dirinya tidak mampu merawat bayi dan tidak mampu menyusui dengan baik, tidak dilakukannya inisiasi menyusu dini dapat memperburuk kondisi menyusui ibu sehingga pengeluaran ASI menjadi terhambat (Komara, 2008).

2). Taking-Hold Phase (dependent-independent phase)

Berlangsung pada hari kedua atau ketiga postpartum hingga 10 hari postpartum. Ibu pada fase ini sudah mulai mandiri, memiliki keinginan yang kuat untuk terlibat dalam perawatan bayinya. Walaupun sudah mulai mandiri, tetapi masih memiliki rasa kekhawatiran tentang kemampuannya dalam merawat bayinya. Fase ini merup fase yang paling tepat untuk diberikan pendidikan kesehatan pada ibu postpartum. Pendidikan kesehatan tentang ASI dengan segala keuntungannya dapat diulang kembali pada masa ini selain pada masa prenatal, karena pada masa ini ibu sangat siap menerima informasi.

3). Letting-Go Phase (interdependent phase)

Ibu menerima peran dan tanggung jawab yang baru. Kemandirian dalam  perawatan diri dan bayinya semakin meningkat. Menyadari bahwa dirinya terpisah dari bayinya. Penyesuaian hubungan keluarga dalam menerima kehadiran bayinya, dengan kemandirian ini ibu berusaha memberikan yang terbaik untuk bayinya, termasuk bagaimana memenuhi gizi bayinya dengan hanya memberikan makanan terbaik yaitu ASI.

2.6.5.   Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari asuhan masa nifas adalah sebagai berikut :

  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
  2. Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
  3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
  4. Memberikan pelayanan Keluarga Berencana. (Saifuddin, 2006: 122)

2.6.6   Perawatan Masa Nifas

Kini perawatan masa nifas aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini. Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan :

  1. Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas.
  2. Mempercepat involusi alat kandungan.
  3. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
  4. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat pengeluaran ASI dan sisa-sisa metabolisme. (Manuaba, 2001)

2.6.7   Program dan Kebijakan Teknis

Paling sedikit 3 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan untuk mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi. (Saifuddin, 2002).

2.6.7.1 Kunjungan I: 2-6 Jam Setelah Persalinan

  1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
  3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  4. Pemberian ASI awal.
  5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
  6. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
  7. 7.      Menilai kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri.

2.6.7.2 Kunjungan II : 6 Hari Setelah Persalinan

  1. Memastikan involusi dan uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
  2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal. 3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
  3. Memastikan ibu menyesuaikan dengan baik dan tidak memperhitungkan tanda­ tanda penyakit.
  4. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tall pusat dan menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

2.6.7.3 Kunjungan llI : 6 minggu Setelah Persalinan

  1. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami.
  2. Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Saifuddin, 2006: 23)

2.6.8   Gizi Ibu Nifas

Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan­makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan Yang banyak mengandung zat besi dan yang dapat merangsang produksi ASI (Arif Mansjoer, 2007). Pada ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup, minum sebanyak 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin. Minum kapsul vitamin A (200.000 IU) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Saifuddin, 2006).

2.7.            Bendungan Payudara

2.7.1.      Definisi

Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan overdistensi dari saluran system laktasi.

2.7.2.      Penatalaksanaan

–          Susui bayi sesering mungkin dengan kedua payudara secara bergantian.

–          Kompres hangat payudara sebelum disusukan.

–          Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui.

–          Lakukan pengurutan mulai dari pangkal kearah puting.

–          Keluarkan ASI dengan pompa atau manual dengan tangan bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi

–          Sangga payudara dengan baik

–          Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui.

–          Masasse pada punggung untuk merangsang pengeluaran oksitosin agar ASI dapat menetes keluar (reflex oksitosin). Pijat oksitosin memberikan banyak manfaat dalam proses menyusui, manfaat yang dilaporkan adalah selain mengurangi stress pada ibu nifas dan mengurangi nyeri pada tulang belakang juga dapat merangsang kerja hormon oksitosin (Biancuzzzo, 2000).

–          Bila diperlukan, berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

–          Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengetahui hasilnya.

2.7.3.      Tehnik Menyusui yang Benar

Bayi harus memasukkan seluruh puting susu sampai daerah areola mammae kedalam mulutnya sehingga dapat menggunakan rahang untuk menekan daerah belakang puting susu (kantong penyimpanan susu).

Ibu mengambil posisi duduk, punggung ibu bersandar, kaki depan diangkat dan diluruskan kedepan sejajar dengan bokong atau kebawah tetapi harus diberi penyangga (jangan menggantung), bayi tidur di pangkuan ibu dengan dialasi bantal sehingga perut ibu bersentuhan / berhadapan dengan bayi. Leher bayi harus dalam posisi tidak terpelintir. Posisi menyusui cara lain adalah ibu tidur miring dengan bantal agak tinggi dan lengan tangan menopang kepala bayi. Posisi perut bayi dan perut ibu sama dengan pada posisi duduk. Siku bayi harus sejajar dengan telinga bayi bila ditarik garis lurus.

Bila mengambil posisi telungkup diatas meja, bayi ditidurkan di meja dengan kepala bayi mengarah ke payudara ibu. Posisi ini akan menguntungkan bayi kembar karena kedua bayi memperoleh kesempatan yang sama tanpa harus dibedakan. Segera setelah persalinan posisi menyusu yang terbaik untuk bayi adalah ditelungkupkan di perut ibu bersentuhan dengan kulit bayi sebagai proses penghangat untuk bayi dan sekaligus bayi dapat menghisap puting susu ibu.

 

2.8.            Bayi Baru Lahir

2.8.1    Pengertian

Bayi baru lahir adalah bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, langsung menangis kuat, seluruh tubuh kemerahan, pergerakan aktif dan denyut jantung 120-140 x/menit. (Prawirohardjo, 2007)

2.8.2   Tujuan Penanganan Bayi Baru Lahir

Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah membersihkan jalan nafas, memotong dan merawat tali pusat, mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, pencegahan infeksi. (Saifuddin, 2006 : 133)

2.8.3   Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

1. Gangguan Metabolisme Karbohidrat

Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonates pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolism asam lemaksehingga kadar gula dalam darah mencapai 120 mg/100 ml. bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguanpada metabolism asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonates, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemia.

  1. Gangguan Umum

Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 25 oC maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2 oC dalam waktu 15 menit. Kehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (mengeringkan, membungkus badan dan kepala dan kemudian diletakkan di tempat yang hangat seperti pangkuan ibu, dibawah sorotanlampu, incubator ,dll). Suhu lingkungan yang tidak baik akan menyebabkan bayi menderita hipothermi, hipertermi, dan trauma dingin (cold injury).

  1. Perubahan Sistem Pernafasan

Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernafasan timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor carotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen, rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didalam uterus dan diluar uterus.

Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 100 ml cairan, kehilangan ½ dari cairan ini. Sesudah bayi lahir, cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula.

4. Perubahan Sistem Sirkulasi

Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida menurun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga aliran darah kea lat tersebut meningkat.

5. Perubahan Lain

Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai berfungsi.

2.8.3.1 Pernapasan dan Peredaran Darah

Pernapasan pertama pada bayi baru lahir normal terjadi pada waktu 30 detik setelah lahir. Pada menit pertama ± 80 x/menit disertai pernapasan cuping hidung dan rintihan berlangsung 10-15 menit. Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan 02 dalam alveoli meningkat dan COZ menurun, hal ini menyebabkan aliran darah ketuban meningkatkan dan feramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang kembali menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu. Makin lama makin menurun dan pada menit ke 30 menjadi 140-120 x/menit.

2.8.3.2 Suhu

Pada saat bayi berada pada suhu lebih rendah daripada dalam kandungan dan dalam keadaan hypotermi. Ini dapat menyebabkan hypoglikemi, maka perlu mempertahankan tubuh supaya suhu berada pada 36° C – 37° C.

2.8.3.3 Kulit

Terdapat Verniks caseosa yaitu lemak putih yang melekat pada tubuh bayi baru lahir. Mungkin bercampur cairan amnion, darah, faeces, mekonium. 2.4.3.4 Faeces

Faeces berbentuk mekonium yaitu seperti ter hitam pekat yang telah berada dalam saluran pernapasan sejak janin 16 minggu. Mulai keluar dalam 24 jam pertama lalu sampai 2-3 hari, selanjutnya hari ke 4-5 berwarna coklat kehijauan, kemudian kuning, lembek setelah minum ASI.

2.8.3.4 Tali Pusat

Pemotong tali pusat merupakan pemisahan antara kehidupan bayi dan ibu. Tali pusat biasanya lepas pada 10-14 hari setelah lahir.

2.8.3.5 Refleks

Bayi yang dilahirkan mempunyai sejumlah refleks. Hal ini merupakan dasar bayi dasar bagi untuk mengadakan reaksi dan tindakan aktif. Reaksi sementara akan menghilang setelah umur 4-6 bulan. Macam-macam refleks pada bayi baru lahir adalah :

Reflek moro : Reflek peluk, reflek terkejut. Anak mengembangkan tangan ke samping lebar-lebar, melebarkan jari jari, lalu mengembalikan dengan tarikan cepat seakan memeluk seorang.
Reflek tonic neck : Refleks otot leher, anak akan mengangkat leher dan menoleh ke kanan, ke kiri jika ditemukan posisi tengkurap.
Reflek rooting : Mencengkram timbul karena stimulasi taktil pada pipi dan daerah mulut, anak bereaksi memutar kepala seakan-akan mencari puting susu.
Reflek sucking : Menghisap dan menelan (reflek oral). Timbul bersama-sama dengan rangsangan pip] untuk menghisap puting susu dan menelan ASI.
Reflek grasping : Bila ada rangsangan di telapak tangan, anak akan menggenggam.
Reflek babinsky : Rangsangan pada telapak kaki, ibu jari akan bergerak ke atas dan jari jari membuka.
Reflek walking Melangkah, jika bayi dibuat posisi berdiri akan ada gerakan spontan melangkah ke depan walau belum bisa berjalan.

2.8.3.6 Berat Badan

Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari. Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan air kencing dan meconium. Sedangkan cairan yang masuk belum cukup, dan pada hari ke 4 berat bada akan naik lagi. Kehilangan berat badan dalam ± 7% dari berat badan awal dan tidak melebihi 10% dari berat badan lahir. Hal ini dinamakan penurunan berat badan fisiologis. (Cunningham, 2006)

2.8.4    Tujuan Asuhan Bayi Baru Lahir

2.8.4.1 Tujuan Bayi Baru Lahir 1 Jam Pertama

Tujuan utama perawatan bayi segera setelah lahir adalah :

  1. Jaga kehangatan.
  2. Bersihkan jalan nafas (bila perlu).
  3. Keringkan dan tetap jaga kehangatan.
  4. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir.
    1. Lakukan inisiasi menyusu dini dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
    2. Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata.
    3. Beri suntikan Vitamin K 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah inisiasi menyusu dini.
    4. Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan anterolateral kira­kira setengah jam setelah pemberian Vitamin K,. (Wiknjosastro, 2008 : 123)

2.8.4.2 Tujuan Bayi Baru Lahir 1-24 Jam Pertama

Tujuannya untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah bayi baru lahir yang memerlukan keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.

  1. Pertahankan suhu tubuh bayi.
  2. Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  3. Lakukan perawatan tali pusat.
  4. Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi dan informasikan tanda bahaya pada bayi. (Saifuddin, 2006)
  5. Memandikan bayi

Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (suhu aksila antara 36,5 – 37,5° C). (Depkes RI, 2008)

2.8.4.3 Pencegahan Infeksi pada Mata Bayi

Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (Penyakit Menular Seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. (Saifuddin, 2006)

2.8.4.4 Profilaksis Pendarahan Bayi Baru Lahir

Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K injeksi l mg intramuskuler di paha kiRI sesegera mungkin untuk mencegah pendarahan bayi baru lahir akibat defisiensi Vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. (Depkes RI, 2008)

2.8.6. Keuntungan Rawat Gabung dan Pemberian ASI

2.8.6.1. Bagi Bayi

1)   Kolostrum ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi diare karena mengandung anti bodi

2)   Dalam tenggang waktu 3-6 bulan ASI sudah cukup untuk tumbuh kembang bayi dengan baik

3)   ASI merupakan makanan utama bayi dan telah siap setaiap saat dalam keadaan steril dan mudah dicerna

2.8.6.2. Bagi Ibu

1)   Pemberian ASI dapat mempercepat involusi uteri

2)   Pemberian ASI dapat bersifat sebegai alat kontrasepsi sampai waktu 3 bulan, karena ASI mengandung Hormone Prolaktin yang menghambat terjadinya pembuahan. Memperkecil kejadian keganasan payudara pada ibu menyusui karena ASI diberikan pada bayi sehingga tidak terjadi bendungan ASI yang dapat berlanjut pada kanker.

2.8.7.   ASI Eksklusif

2.8.7.1.Pengertian

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi baru lahir sampai 6 bulan tanpa diselingi dengan makanan pendamping ASI. (Depkes RI, 2003) 2.8.7.2.Keuntungan ASI

  1. Praktis, tidak perlu dibuat.
  2. Ekonomis, tidak perlu membeli.
  3. Mengandung semua zat gizi.
  4. Mengandung berbagai antibodi.
  5. Selalu bersedia dalam suhu yang ideal.
  6. Selalu segar, bebas dari kuman.
  7. Membina hubungan yang baik antara ibu dan bayi.

2.8.7.3.Alasan Mengapa ASI Diberikan Sedini Mungkin

–        Memberikan kepuasan dan ketenangan.

–        Hisapan bayi mempercepat involusi uterus.

–        Hisapan bayi memperlancar produksi ASI.

2.8.7.4.Tips Agar ASI Tetap Banyak

  1. Mulai menyusui segera setelah bayi lahir.
  2. Tidak menyelingi dengan makanan lain atau susu botol selama bayi berusia 0-6 bulan.
  3. Bersikap tenang dan percaya diri agar hormon perangsang ASI bisa bekerja.
  4. Menyusui dengan teknik dan posisi yang benar.
  5. Menyusui bayi sampai payudara kosong.
  6. Makan dan minum yang cukup terutama makan sayuran yang berwarna hijau tua.
  7. Istirahat yang cukup. (Depkes RI, 2003).

2.8.8    Imunisasi

2.8.8.1 Pengertian

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

2.8.8.2 Vaksin

Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya : vaksin BCG, Hepatitis, DPT dan Campak), dan melalui mulut (misalnya : vaksin Polio).

2.8.8.3 Tujuan Imunisasi

Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

2.8.8.4 Jenis-jenis Imunisasi Dasar

  1. 1.      Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG 1 kali, pemberiannya melalui intracutan. Efek samping pemberian dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan, limfadentis regional dan reaksi panas, sedangkan dosis pemberiannya 0,05 ml.

  1. 2.      Imunisasi Hepatitis B

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. Kandungan vaksin ini adalah HBsAg dalam bentuk cair. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml (1 buah), pemberian secara intramusculer pada daerah anterolateral paha, dan diberikan pada bayi usia 0-7 hari. Efek sampingnya adalah rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.

  1. 3.      Imunisasi Polio

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus (strain sabin) yang sudah dilemahkan. Diberikan secara oral, I dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.

  1. 4.      Imunisasi DPT/HB

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Vaksin DPT/HB mengandung toxoid difteri, toxoid tetanus yang telah dihilangkan sifat racunnya (dimurnikan) dan pertusis yang inactifasi namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid) dan vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg mumi dan bersifat noninfecsius. Cara pemberian intramusculer dengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali, dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Efek sampingnya adalah gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, pembengkakan dan kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala demam tinggi, iritabilitas terjadi 24 jam setelah imunisasi, reaksi ringan hilang setelah 2 hari.

  1. 5.      Imunisasi Campak

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak. Kandungan vaksin Campak merupakan virus hidup yang dilemahkan.

Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas pada usia 9-11 bulan. Efek sampingnya adalah demam ringan dan kemerahan pada daerah penyuntikan. (Depkes RI, 2006).

2.9.            Keluarga Berencana

2.9.1.   Pengertian

Keluarga Berencan (KB) adalah suatu usaha untuk menjarangkan kehamilan atau merencanakan jumlah da jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat secara mekanis, menggunakan obat, alat, atau dengan operasi.

2.9.2    Tujuan

A. Menunda Kehamilan

Dianjurkan pada pasangan dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Kontrasepsi yang sesuai pil, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mini, cara sederhana.

Alasannya :

–       Prioritas dibawah 20 tahun adalah usia dimana sebaiknya tidak mempunyai anak dulu

–       Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil Oral karena peserta masih muda

–       Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan sehingga akan mempunyai angka kegagalan yang tiggi.

B. Menjarangkan Kehamilan (Mengatur Kesuburan)

Dianjurkan pada istri berusia 20-30 tahun adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak denga jarak kelahiran 3-4 tahun. Kontrasepsi yang sesuai : AKDR, Pil, Suntik, cara sederhana, Susuk KB, Kontrasepsi mantap.

Alasannya :

–       Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan

–       Segera setelah lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama

–       Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tiggi namun tidak kurang berbahaya karean akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.

C. Mengakhiri Kesuburan (tidak ingin hamil lagi)

Dianjurkan saat istri di atas 30 tahun, setelah mempunyai 2. Kontrasepsi yang sesuai : Kontrasepsi mantap (Tubektomi/Vasektomi), susuk, KB, AKDR, Suntik, Pil, Cara Sederhana

Alasannnya :

–       Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau tidak mempunyai anak lagi karena alasan medis

–       Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap

–       Pada kontrasepsi darurat, kontap cocok dipakau dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR

–       Pil kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek sampig dan komplikasi

2.9.3    Syarat-syarat Kontrasepsi

  1. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya
  2. Efek samping yang merugikan tidak ada
  3. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
  4. Tidak mengganggu persetubuhan
  5. Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol  yang ketat selama pemakaian
  6. Cara penggunaannya sederhana
  7. Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas
  8. Dapat diterima oleh pasangan suami istri

2.9.4    Tempat Pelayanan KB

  1. Posyandu
  2. Pos KB Desa
  3. Puskesmas
  4. TKBK (Tim KB Keliling)
  5. Rumah Sakit
  6. Dokter dan Bidan Praktek Swasta

2.9.5.   Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

AKDR adalah merupakan benda asing dalam rahim sehigga menimbulkan rekasi. Benda asing dengan timbunan lekosit, makrofag.

Pemadatan endometrium oleh lekosit, makrofag dan limfosit, menyebabkan balstosis mungkin dirusak oleh makrofag, dan blastosis tidak mampu nidasi.

I0N Cu dikeluarkan AKDR dengan cupper menyebabkan gangguan gerak spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melakukan konsepsi.

  1. Cara Kerja AKDR
  2. Menghamba kemampuan sperma untuk masuk ketuab falopii
  3. Mempengaruhi fertilitas sebelum ovulasi mencapaui kavum uteri
  4. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum tertentu, walaupun AKDR
  5. Membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
  6. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
  7. Keuntungan AKDR
  8. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
  9. AKDR, dapat efektif setelah pemasangan
  10. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan tidak perlu diganti)
  11. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat
  12. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
  13. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT AKDR (CuT 380).
  14. Tidak mempengaruhi dari volume ASI. Dapat dipasang segera setelah lahir atau sesudah abortus (bila tidak terjadi infeksi)
  15. Dapat digunakan sampai menopause
  16. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
  17. Membantu mencegah kehamilan ektopik
    1. Kerugian AKDR

Efek samping yang umum terjadi :

–       Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setela 3 bulan)

–       Haid lebih lama dan banyak

–       Perdarahan (spotting) antar menstruasi

–       Saat haid lebih sakit

Komplikasi lain :

–       Merasakaan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.

–       Perdarahan berat pada waktu haid diantaran yang memungkinkan penyebab anemi

–       Perporasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)

–       Tidak mencegah IMS termasuk HIV /AID

–       Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering bengantian pasangan

–       Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR.

–       Sering nyeri dan perdarahan

–       Klien tidak dapat melapas AKDR sendiri

–       Mengkin AKDR keluar dari uterus

–       Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik

–       Perempuan harus memeriksa posisin benang.

  1. Persyaratan Pemakaian

Yang menggunakan :

–     Usia reproduktif

–     Keadaan nulipara

–     Menginginkan kontrasepsi jangka panjang

–     Setelah mengalami abortus

–     Tidak menghendaki metode hormonal

–     Tidak mengehendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama

Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR

–       Sedang hamil

–       Perdarahan vagina  yang tidak diketahui penyebabna

–       Sedang menderita infeksi alat genetalia

–       Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus

–       Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak

–       Penyakit trofoblas yang ganas

–       Diketahui menderita TBC pelvic

–       Kanket alat genetalia

–       Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

  1. Persiapan pemasangan AKDR

Persiapan alat

–       Bivalve speculum-       Tenakulum-       Sonde uterus-       Tampon tang

–       Gunting benang

–       Mangkok berisi lauran anti septic

–          Duk-          Sarung tangan 2 pasang-          Lampu sorot-          Tempat sampah

–          IUD copper T 380 A

–          Kassa

  1. Langkah-langkah Pemasangan AKDR

1)      Lakukan anamnesa antara lain HPHT, lama haid, nyeri haid, anemia, riwayat infeksi system gentalai, kanker srvik

2)      Lakukan pemeriksaan fisik, palpasi daerah perut apakah ada nyeri, tumor.

3)      Kenaikan kain penutup pada klien untuk memeriksa panggul

4)      Atur peralatan dalam wadah steril atau DTT

5)      Pasang sarung tangan DTT

6)      Lakukan infeksi pada daerah gentalia eksterna

7)      Masukan speculum

8)      Lakukan pemeriksaan speculum apakah ada lesi atau keputihan dan infeksi daerah serviks

9)      Keluarkan speculum dengan hati-hati

10)  Lakukan pemeriksaan bimanual

11)  Lakukan pemeriksaan retrivaginal bila ada indikasi

12)  Celupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%

  1. Tindakan Pada Pemasangan

1)      Jelaskan apa yang mau dilakuan pada

2)      Masukan lengan AKDR Cu T 380 A didalam kemasan sterilnya

  1. Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat ke belakang
  2. Masukan pendorong kedalam tabung inserter
  3. Letakan kemasan ditempat yang datar
  4. Selipkan kerta pengukur dibawah lengan AKDR
  5. Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal
  6. Setelah lengan melipat meyentuh tabung inserter, tarik tabung inserter dari bawah ikatan lengan
  7. Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk memasukan lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut kedalam tabung inserter.
  8. Tindakan Pemasangan

1)      Pasanga sarung tangan yang baru

2)      Pasang speculum vagina untuk melihat srviks

3)      Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali

4)      Jepit serviks dengna tenakulum dengan hati-hati

5)      Masukan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh (no touch).

6)      Tentukan posisi dan kedalam uterus

7)      Keluarkan sonde dan ukur kedalam kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung inserter kemudian buka semua plastik penutup kemasan

8)      Keluarkan inserter dari tempat kemasan

9)      Pegang tabung AKDR dengan posisi leher biru dalam keadaan horizontal kemudian masukan tabung inserter kedalam uterus sampai leher biru menyentuh serviks

10)  Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu lengan

11)  Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawel

12)  Keluarkan pendorong kemudian tabung inserter didorong kembali ke seriks sampai leher biru menyentuh serviks terasa ada tahanan.

13)  Keluarkan selurh tabung inserter

14)  Lepaskan tenakulum dengan hati-hati

15)  Periksa serviks bila ada perdarahan dari tempat belas tenakulum, tekan dengan kasa

16)  Keluarkanlah speculum dengan hati-hati.

  1. Konseling Pasca Pemasangan

1)      Ajarakan pada ibu bagaimana cara memeriksa benang AKDR

2)      Jelaskan pada ibu apa yang harus dilkukanbila ada efek samping

3)      Jelaskan pada ibu bahwa AKDR bisa dilepas setiap saat bilan diinginkan

4)      Amati klien kurang lebih selama 15 menit sebelum dipulangkan.

2.10.        Manajemen Kebidanan Menurut Varney

2.10.1 Pengertian

Proses manajemen adalah proses memecahkan masalah dengan menggunakan metode yang terorganisir meliputi pikiran dan tindakan dengan urutan logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan dengan menunjukkan Pernyataan yang jelas tentang proses berpikir dan tindakan.

Manajemen kebidanan memberikan asuhan komprehensif, terdiri dari 7 langkah :

2.10.1.1 Langkah I

Mengumpulkan data dasar lengkap untuk mengevaluasi pasien, meliputi nwayat pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul atas indikasi, mempelajari catatan sekarang atau laporan yang lalu, mempelajari data laboratorium dan membuat laporan singkat untuk menentukan kondisi pasien.

2.10.1.2 Langkah II

Adalah interpretasi data untuk spesifikasi masalah atau diagnosa.

2.10.1.3 Langkah III

Identifikasi masalah-masalah potensial atau diagnosa berdasarkan diagnosa sekarang adalah antisipasi masalah, mencegah bila mungkin, penjagaan betul-betul dan persiapan untuk beberapa kemungkinan yang terjadi.

2.10.1.4 Langkah IV

Adalah kelanjutan secara alami dalam proses manajemen, bukan hanya selama asuhan primer atau kunjungan antenatal tetapi secara terus menerus selama bidan bersama wanita, misalnya saat persalinan data tetap dicari dan dievaluasi.

2.11.1.5 Langkah V

Membuat rencana asuhan komperehensif, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, merupakan hasil pengembangan dari masalah sekarang antisipasi masalah dan diagnosa juga melengkapi data yang kurang serta data tambahan yang penting sebagai informasi untuk data dasar.

2.10.1.6 Langkah VI

Adalah implementasi dari rencana asuhan yang komprehensif, ini mungkin s;.luruhnya diselesaikan oleh bidan atau sebagian oleh wanita atau anggota team kesehatan lainnya.

2.10.1.7 Langkah VII

Adalah evaluasi benar-benar merupakan pengecekan bagaimana rencana asuhan apakah mencakup kebutuhan bantuan telah diidentifikasi pada masalah atau diagnosa, bila ya maka perencanaannya adalah efektif dan bila tidak berarti efektif

2.11.      Dokumentasi Kebidanan

2.11.1 Pengertian

Dokumentasi asuhan kebidanan adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, dan klinik kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan, produser pengobatan pada pasien dan pendidikan pada pasien dan respon pasien terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan.

2.11.2. Prinsip Dokumentasi

Asuhan yang diberikan bidan hams dicatat secara benar, sederhana, jelas dan logis serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga perlu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien yang di dalamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan. (Varney, 1997)

2.11.3 Fungsi Dokumentasi

Sebelum dokumentasi yang sah, alat komunikasi antara petugas kesehatan, sebagai bahan penelitian dan pendidikan, sebagai dokumen berharga untuk mengetahui perkembangannya dan evaluasi pasien, dan sebagai tanda bukti di pengadilan.

2.11. 4 Teknik Pencatatan atau Cara Penulisan Dokumentasi

  1. Mencantumkan nama pasien.
  2. Menulis dengan tinta hitam (idealnya)
  3. Menulis atau menggunakan singkatan dan simbol yang telah disepakati oleh institusi untuk mempercepat pencatatan.
  4. Mencantumkan tanggal, jam tindakan atau observasi yang dilakukan sesuai kenyataan dan bukan interpretasi.
  5. Hindarkan kata-kata yang menimbulkan penilaian, seperti : tampaknya, rupanya, dan bersifat umum.
  6. Tulis nama jelas pada catatan observasi dan pemeriksaan oleh yang melakukan.
  7. Hasil temuan digambarkan secara jelas termasuk keadaan, gejala, tanda, warna, jumlah dan besar dengan ukuran yang lazim dipakai.
  8. Interpretasi data obyektif harus didukung oleh observasi.
  9. Kolom jangan dibiarkan kosong, beri tanda bila tidak ada yang perlu ditulis.
  10. Coretan harus disertai paraf atau tanda tangan di sampingnya.

2.11.5.  Metode Pendokumentasian

Yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah SOAP, yang merupakan adalah satu metode pendokumentasian yang ada. SOAP adalah singkatan dari :

S     :   Subyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa (langkah 1).

O     :   Obyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment (langkah 1).

A     :   Assesment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subyektif dan obyektif suatu indikasi, diagnosa masalah, antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial, tindakan segera/kolaborasi (langkah 2, 3, dan 4).

P     :   Pelaksanaan

Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment (langkah 5, 6 dan 7).

2.12.        Standar Asuhan Kebidanan

2.12.1 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil

2.12.1.1 Pengertian

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangka tahapan mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (Varney)

2.12.1.2 Tujuan

Agar bidan mampu memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan berstandar pada ibu ante natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama hamil ini, kebutuhan dan respon ibu serta mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada dan mengantisipasinya. (PPKC, 2004)

2.12.1.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan kebidanan yang bersifat rutin maupun segera dan saat ibu hamil (trimester I s/d trimester III) meliputi pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah 280 hari 40 minggu) atau 9 bulan 7 hari, yang dibagi dalam 3 triwulan/trimester :

Triwulan I      : Kehamilan sampai dengan 14 minggu

Triwulan II      : Kehamilan 14 minggu – 28 minggu

Triwulan III    : Kehamilan 28 minggu – 36 minggu dan sesudah 36 minggu

Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu dan perubahan di dalam keluarga. (PPKC, 2004)

2.12.2 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin

2.12.2.1 Pengertian

Manajemen kebidanan pada ibu intra natal adalah proses pemecahan masalah pada masa intra natal yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.

2.12.2.2 Tujuan

Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan.

2.12.2.3 Hasil Yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada saat ibu intra partum (Kala I s/d Kala IV) termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan maupun oleh dokter atau melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.

2.12.3 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal

2.12.3.1 Pengertian

Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada jam pertama setelah kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran.

2.12.3.2 Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.

2.12.3.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bayi, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.12.4 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas

2.12.4.1 Pengertian

Asuhan ibu post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.

2.12.4.2 Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.

2.12.4.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.13.        Standar Pelayanan Kebidanan

2.13.1  Standar Pelayanan Antenatal (Standar 4)

2.13.1.1 Tujuan

Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.

2.13.1.2 Pernyataan Standar

Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan ristiikelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas tugas terkait lainnya yang diberikan oleh pukesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat dan setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. 2.13.1.3 Hasil

Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4x selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan. Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kedaruratan.

2.13.2 Standar Pelayanan Intranatal (Standar 9)

2.13.2.1 Tujuan

Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. 2.13.2.2 Pernyataan Standar

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai kemudian memberikan asuhan dan memantau yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.

2.13.2.3 Hasil

Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu bila diperlukan. Meningkatkan cakupan persalinan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus iama.

2.13.3 Standar Pelayanan Nifas (Standar 15)

2.13.3.1 Tujuan

Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.

2.13.3.2 Pernyataan Standar

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tall pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

2.13.3.3 Hasil

–     Komplikasi pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada saat yang tepat.

–     Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI eksklusif

–     Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan.

–     Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.

–     Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana/penjarangan kelahiran.

–     Meningkatkan imunisasi pada bayi.

2.13.4 Standar Pelayanan Bayi Baru Lahir (Standar 13)

2.13.4.1 Tujuan

Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernapasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemia, dan infeksi.

2.13.4.2 Pernyataan Standar

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi,

2.13.4.3 Hasil

Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernapasan dengan baik. Penurunan kejadian hipotermia, asfiksia, infeksi, dan hipoglikemia pada bayi baru lahir. Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bahiyatun, S.Pd, S.Si.T. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta :EGC

Bobak,dkk.2005.Buku Ajar Keperawatan Maternitas.Jakarta.:EGC

Bick,Debra. Dkk. 2004. Postnatal Care – Evidence And Guidelines For Management. China : Churchill Livingstone.

Chapman, Vicky dkk. 2006.Asuhan Kebidanan : Persalinan & Kelahiran. Jakarta : EGC

Cunningham, F.Gary dkk, 2006 . William’s Obstetri, Jakarta :EGC

 

Denis, Difa. Kamus Istilah Kedokteran. Gitamedia Press

Departemen Kesehatan RI. 2008. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : JNPKKR

Everett, Suzanne. 2005. Handbook of Contraception and Reproductive Sexual Health. China : Elsevier Limited

http://drdidiksuprayitno.blogspot.com/ diunduh tanggal 01 November 2010

Johnson; Ruth. Taylor, Wendy. 2004. Praktik kebidanan (skills for midwifery practice): buku ajar. Jakarta : EGC

 

 Little,dr. http://www.anemia.org/. National Anemia Action Cauncil. Diunduh 12 Desember 2010

Manuaba, Ida Bagus Gde, 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB, Jakarta : EGC

——————————-, 2010 . Buku Panduan Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Bagi Bidan. Jakarta : EGC

Owen P. 2005. Caesarean section. http://www.netdoctor.co.uk. Diunduh 12 Desember 2010

Prawirohardjo,Sarwono.2006.Ilmu Kebidanan.Jakarta:FKUI

Ramaiah, dr.Savitri. 200 . Gaya Hidup di Masa Hamil. Jakarta : Kelompok Gramedia.

Safrudin, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes. 2009. Buku Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC

 Saifuddin,Prof. dr. Abdul Bari SPOG, MPH. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neontal, Jakarta : JNPKKR-POGI- JHPIEGO/MNH PROGRAM

————————————————————- 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : JNPKKR/POGI, BKKBN, DEPKES, dan JHPIEGO/STARH  PROGRAM

————————————————————- 2006 , Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal . Jakarta : JNPKKR-POGI- JHPIEGO/MNH PROGRAM

———————————————————— 2010. Buku Ilmu Kebidanan, Jakarta : YBP-SP

Tarwoto.Ns. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Jakarta : Trans Infomedia

WHO. 2003. Pregnancy, Childbirth, Postpartum and Newborn Care : A Guide For Essensial. Geneva : WHO

Winknjosastro,Prof. Dr. dr. Gulardi Hanifa SPOG, 2002. Buku Ilmu Kebidanan, Jakarta : YBP-SP

———————————————————— 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta : YBP-SP

www.usudigitallibrary.co.id. Diunduh tanggal 01 November 2010

www.medskills.eu/index.php. Diunduh 12 Desember 2010

http://www.wikipedia.org. Caesarean section (editorial) Diunduh 12 Desember 2010

Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC

 ——————-, 2007 . Buku Ajar Asuhan Kebidanan . Jakarta : EGC



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi yang kuat. Ibu yang sehat pula akan menciptakan keluarga sehat dan bahagia.
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang. Berdasarkan penelitian WHO diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebanyak ± 500.000 jiwa pertahun. Kematian ibu dan perinatal merupakan tolak ukur kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara.
Di Indonesia Departemen Kesehatan telah membuat rencana strategi Nasional Making Pregnancy Safer yaitu : (1) menurunkan AKI sebesar 75 % pada tahun 2015 menjadi 115/100.000 kelahiran hidup dan (2) menurunkan AKB menjadi kurang dari 35/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2009 sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu secara langsung adalah perdarahan 60-70%, infeksi 10-20 % dan eklampsi 10-20%. Sedangkan AKB sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Penyebab angka kematian bayi diantaranya yaitu asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologic 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%, (SKRT, 2002).
Jumlah kematian ibu di Propinsi Banten pada tahun 2008 tercatat 256/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian bayi 34/1000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kematian Ibu di kabupaten Tangerang sebesar 197/100.000 kelahiran hidup dan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan 83,13%. Penyebab kematian ibu di wilayah kabupaten Tangerang adalah : infeksi 5%, hipertensi 9 %, perdarahan 50 %, lain-lain 36 %.
Penyebab kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetric langsung dan tidak langsung. Kematian obsterik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan antara lain perderahan 28%, infeksi 11% dan eklampsi 24,5%, partus lama 5,2%. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan/persalinan antara lain anemia, kurang energy kronik (KEK) dan hipertensi kronik 5 – 10 %. Angka kejadian hipertensi kronik pada berbagai populasi berbeda 0.5 – 4% (rata-rata 2.5%). Hipertensi kronik pada kehamilan 80% idiopatik dan 20% oleh karena penyakit ginjal.
Di Indonesia, berdasarkan SDKI (Survey Demografi Dan Kesehatan Indonesia) tahun 2007 Angka Kematian Bayi mencapai 35/10.000 Kelahiran hidup. Jumlah kematian bayi di wilayah kabupaten Tangerang tahun 2003-2009 adalah 111 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kabupaten Tangerang).
Hipertensi menyebabkan gangguan sekitar 5 -10 persen dari seluruh kehamilan, dan dapat menjadi suatu komplikasi yang mematikan, yaitu pendarahan dan infeksi, yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan angka kematian ibu. Dengan hipertensi, sindrom preeklampsia, baik sendiri atau yang berasal dari hipertensi kronis, adalah yang paling berbahaya.
WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia (Khan dan rekan, 2006), di negara-negara maju, 16 persen kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13 persen, aborsi-8 persen, dan sepsis-2 persen.
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000, yang menjelaskan Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (JHPEIGO, 2002). Efek hipertensi kronik pada kehamilan adalah solution plasenta, preeclampsia, gangguan perinatal hingga kerusakan organ-organ vital tubuh dikarenakan hipertensinya. Keputusan tentang kapan wanita dengan hipertensi kronik harus melahirkan dipandang dalam konteks perjalanan klinis, termasuk keparahan penyakit yang mendasari. Pada kasus-kasus dengan hipertensi yang terkontrol dan nonkomplikata, persalinan dapat berjalan normal pervaginam dan menjalani masa nifas yang normal pula. Sedangkan hipertensi kronik yang mempunyai komplikasi, persalinan bertujuan menekan resiko pada ibu dan janin sekecil-kecilnya.
Kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20-89 % dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Kejadian anemia dalam kehamilan mencapai 63,5% (Saifuddin, 2001).
Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun nifas dan masa selanjutnya, berbagai penyakit dapat timbul karena anemia seperti abortus, partus prematurus, partus lama karena inersia uteri, perdarahan post partum, karena atonia uteri, syok dan Infeksi (Prawiroharjo, 2000).
Dalam melakukan operasi persalinan pervaginam harus memperhitungkan keuntungan dan kerugian. Seksio sesaria merupakan tindakan operasi persalinan yang paling ringan komplikasinya dan tidak mempunyai trauma terhadap bayi. Pertolongan persalinan merupakan tindakan dengan tujuan untuk menyelamatkan ibu maupun bayi. Bahaya infeksi setelah operasi persalinan masih tetap mengancam sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.
Bedah sesar adalah prosedur pembedahan yang digunakan untuk melahirkan bayi melalui sayatan yang dibuat pada perut dan rahim (Simkin, 2008 : 277). Pada tahun 1990-an angka bedah sesar berfluktuasi antara 21 % dan 24 %. Berdasarkan tinjauan ulang terhadap literatur internasional, Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat di Amerika Serikat dan WHO menerapkan tujuan mengurangi angka bedah sesar menjadi 15 %.
Berdasarkan data yang diperoleh dari medical record RSUD Tangerang didapatkan angka persalinan tahun 2006 sebanyak 4955 persalinan, dimana persalinan normal sebanyak 2600 (52,47 %) dan persalianan dengan tindakan sebanyak 2355 (47,52 %). Jumlah ini meningkat dari tahun 2005 yaitu sebanyak 1507 (49,52%). Dari semua kasus persalinan dengan tindakan, seksio sesaria merupakan tindakan yang paling banyak yaitu 1521 (64,54 %) dengan berbagai indikasi. Dalam hal ini bidan sebagai tenaga kesehatan professional hendaknya mampu melakukan deteksi dini dan dapat mengantisipasi komplikasi yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, factor penyulit yang terjadi dapat diatasi sebagai salah satu upaya dalam menurunkan AKI.
Keberadaan bidan di tengah-tengah masyarakat, memiliki peran yang strategis terutama dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dibutuhkan tenaga yang terampil, dengan melakukan asuhan secara komprehensif terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan asuhan pada bayi baru lahir diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta memberikan kontribusi langsung dalam membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal.
Berdasarkan latar belakang diatas , dalam rangka turut menurunkan angka kematian Ibu dan angka kematian bayi di Indonesia, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus pada Ny. “A” yang dituangkan dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul : “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. “A” Dengan Hipertensi Kronik dan Anemia Dari Kehamilan 32 Minggu Sampai Dengan 6 Minggu Post Partum di Klinik Obbini Balaraja – Tangerang”.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran penerapan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ibu hamil, bersalin, nifas dan Bayi Baru lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian SOAP.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi kronik dan anemia dalam kehamilan
1.2.2.2 Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan hipertensi kronik dalam persalinan dengan tindakan operatif seksio sesaria.
1.2.2.3. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir .
1.2.2.4. Memberi asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan hipertensi kronik dan anemia.
1.2.2.5 Mendokumentasikan hasil asuhan pada masa ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan metode SOAP.

1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu mengembangkan ilmu yang didapat selama pendidikan baik teori maupun praktik dalam melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif terhadap klien mulai dari hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.

1.3.2. Bagi Klinik Obbini
Dapat meningkatkan mutu pelayanan yang berkualitas berdasarkan standar pelayanan kebidanan.
1.3.3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk study kasus selanjutnya.
1.3.4. Bagi Ibu / Klien
Setelah diberikan asuhan komprehensif pada klien selama masa hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir, diharapkan dapat mencegah, mendeteksi dan mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
1.3.5. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya.

 

ABSTRAK KTI MIA

 

 



KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN RANGKASBITUNG

KARYA TULIS, 2011
MIA PRAHARTINA
NIM : P17324308627

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. “A” DENGAN HIPERTENSI KRONIK DAN ANEMIA SEJAK KEHAMILAN 32 MINGGU SAMPAI DENGAN 6 MINGGU POST PARTUM DI KLINIK OBBINI BALARAJA – TANGERANG
( PERIODE AGUSTUS 2010 S.D OKTOBER 2010 )
V + 170 halaman + 7 lampiran

ABSTRAK

Hipertensi menyebabkan gangguan sekitar 5 -10 persen dari seluruh kehamilan, dan dapat menjadi suatu komplikasi yang mematikan, yaitu pendarahan dan infeksi, yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan angka kematian ibu. WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia (Khan dan rekan, 2006), di negara-negara maju, 16 persen kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13 persen, aborsi-8 persen, dan sepsis-2 persen.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penerapan asuhan kebidanan pada kasus hipertensi kronik dengan anemia dalam masa kehamilan, persalinan, nifas dan BBL dengan pendekatan Manajemen Varney serta mendokumentasikannya dalam bentuk SOAP.
Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (Saifuddin, 2010 : 531). Anemia dalam kehamilan adalah suatu keadaan dimana kadar Hb ibu di bawah 11 gr % pada trimester I dan III atau kurang dari 10,5 gr % pada trimester II (Saifuddin, 2006).
Pada ANC I ditemukan tekanan darah ibu 170/110 mmHg dan pemeriksaan laboratorium Hb 10,0 gr%, dalam hal ini ibu mengalami hipertensi dan anemia, penatalaksanaannya memberikan penyuluhan tentang hipertensi kronik dalam kehamilan dan melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG. Hasil kolaborasi diberikan Nifedipine 3 x 10 mg serta pemberian Fe 2 x 60 mg. Pada ANC II dan III Tekanan darah menetap menjadi 140/100 mmHg dan Hb naik menjadi 11,6 gr%. Ibu mengalami perburukan dari hipertensi kroniknya berupa naiknya tekanan darah menjadi 170/100 mmHg serta ditemukannya oedema anasarka . Atas dasar riwayat infertile ≥ 12 tahun, ibu G4 P3 A0 dengan anak hidup 0, tekanan darah 170 / 100 mmHg, umur kehamilan 41 minggu , servik belum matang, dengan pemeriksaan USG gambaran air ketuban berkurang di lakukan terminasi kehamilan melalui tindakan operatif seksio sesaria. Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, warna kulit kemerahan. Pada hari kedua dilakukan rawat gabung dan pemberian ASI on demand. Masa nifas 6 jam berjalan baik, tekanan darah stabil 120/80 mmHg. Nifas 6 hari tekanan darah naik 120/80 mmHg. Ibu mengalami anemia dengan Hb 10,3 gr% dan bendungan payudara. Ibu diberikan tablet Fe 1 x 60 mg selama 6 bulan. Pada 6 minggu post partum ibu dianjurkan untuk konsul ke dokter Internist untuk penanganan hipertensinya. Ibu telah menjadi akseptor KB IUD (Copper T-Cu380). Bayi telah mendapatkan imunisasi HB0, BCG, dan Polio 1 (Saifuddin : 2010).
Dengan melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif, diharapkan tenaga kesehatan dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan asuhan kebidanan sehingga dapat mencegah dan menangani komplikasi yang terjadi dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas serta bayi baru lahir.

Referensi : 31 ( 2000 – 2010 )



et cetera