dancewithmommyoci











{25 November 2011}   BAB II TINJAUAN PUSTAKA – KTI HIPERTENSI KRONIK DALAM KEHAMILAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kehamilan

2.1.1   Pengertian Kehamilan

Kehamilan merupakan suatu proses dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh dalam rahim ibu (Depekes RI, 2002).Masa kehamilan dari konsepsi dan berakhir sampir lahirnya janin Saifuddin (2006:89).

2.1.2    Lamanya Kehamilan

Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga bayi lahir, kehamilan nomal akan  berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, rimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Saifuddin, 2010 : 213).

2.1.3    Fisiologi Kehamilan

Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur ditangkap umbai-umbai dan masuk ke dalam saluran telur waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta juta sel mani bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur.

Di sekitar sel telur, banyak terkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur, peristiwa ini disebut konsepsi.

Ovum yang telah dibuahi, segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba), menuju ruang rahim kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang rahim. Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kira-kira 6 – 7 hari, untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin, dipersiapkan plasenta. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum, sperma, konsepsi, nidasi, dan plasentasi. (Sarwono Prawirohardjo, 2008)

2.1.4.   Menghitung Umur Kehamilan

2.1.4.1. Mempergunakan Rumus Neagle

Rumus Neagle menggunakan usia kehamilan yang berlangsung selama 288 hari. Perkiraan kelahiran dihitung dengan menentukan hari pertama haid  terakhir yang kemudian ditambah 288 hari (Manuaba, 2010 : 100). sehingga perkiraan kelahiran dapat ditetapkan. Rumus Neagle dapat dihitung dari haid pertama ditambah 7 dan bulannya ditambah 9.

Contoh : Hari pertama tanggal 15 Januari 1993, maka perhitungan perkiraan kelahiran adalah 15 + 7 = 22,1 + 9 = 10, sehingga dugaan persalinan tanggal 22 oktober 1993 Manuaba (1998, 120), rumus neagle yang digunakan juga dapat dikethaui dengan menggunakan : hari + 7, bulan – 3, dan tahun +1

Contoh : HPHT : 4 – 05 – 2009 taksiran persalinan : 4 + 7, 05 – 3, 2009 + 1

Tp : 11 – 02 – 2010 (Hanifa, 2005 : 155)

2..4.2.         Gerakan janin

Pada kehamilan pertama, gerakan janin mulai terasa sesudah usia kehamilan 18-20 minggu, pada kehamilan kedua dan seterusnya gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16-18 minggu. Memasuki trimester ketiga usia kehamilan gerakan janin akan semakin kuat dan sering. Namun tak jarang janin justru kurang aktif gerak. Perkiraan ini dilakukan bila ibu lupa hari pertama haid terakhir. (Manuaba, 2001)

2..4.3.         Tinggi puncak rahim

Untuk mengikuti pertumbuhan anak dengan cara mengikuti pertumbuhan rahim, maka sekarang sering ukuran rahim ditentukan dengan centimeter. Yang diukur adalah tinggi fundus uteri. Hubungan antara tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan kira-kira sebagai berikut (Mochtar, 2004) :

Tinggi fundus uteri dalam centimeter

=

Tuanya kehamilan dalam bulan

3,5 centimeter

Selain itu menghitung usia kehamilan dapat digunakan juga tinggi fundus uteri dalam satuan centimeter yaitu :

-        Usia kehamilan 20 minggu, tinggi fundus uteri 20 cm (±  2 cm).

-        Usia kehamilan 22-27 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (±  2 cm).

-        Usia kehamilan 28 minggu, tinggi fudus uteri 28 cm (±  2 cm).

-        Usia kehamilan 29 – 35 minggu, tinggi fundus uteri, usia kehamilan dalam minggu = cm (±  2 cm).

-        Usia kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri 36 cm (±  2 cm) (Saifuddin, 2008).

2.4.4.      Penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi.

Bila ragu-ragu dapat berkonsultasi untuk menetapkan perkiraan persalinan. Dengan menentukan usia kehamilan melalui ultrasonografi, dapat diketahui :

-       Diameter kantong gestasi.

-       Jarak kepala – bokong.

-       Jarak tulang biparetal.

-       Lingkaran perut.

-       Panjang tulang femur.

Metode ini memerlukan pengetahuan teoritis dan keterampilan khusus (Manuaba, 2010 : 1010).

Waktu untuk pemeriksaan USG  pada trimester II pada usia kehamilan 18-22 minggu. Pada usia kehamilan ini sangat baik untuk dilakukan pemeriksaan USG karena perbandingan yang ideal antara ukuran janin dan jumlah cairan amnion memberikan gambaran pemeriksaan yang lebih jelas.
Pada usia kehamilan ini dapat diukur biometri (ukuran) janin, sehingga dapat diketahui pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia kehamilan ibu. Dapat diketahui juga taksiran berat janin, jumlah cairan amnion, profil wajah, anggota gerak dan jenis kehamilan janin. Tak kalah penting dalam pemeriksaan adalah juga mengetahui ada/tidaknya kelainan congenital pada janin seperti adanya down syndrome (trisomi 18,21).

2.1.5    Perubahan Fisiologis Wanita Hamil

2.1.5.1 Uterus

Ukuran : volume total isi uterus saat aterm rata-rata sekitar 5 liter, tetapi dapat mencapai 20 liter atau lebih, sehingga pada akhir kehamilan kapasitas uterus telah mencapai 500 sampai 1000 kali lebih besar daripada saat tidak hamil (Cuningham, 2006 : 181).

Bentuk dan konsistensi : Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk rahim seperti alpukat, pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat, dan akhir kehamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, istmus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian­bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim. (Mochtar, 1998)

2.1.5.2 Vagina (Liang Senggama)

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwicks).

2.1.5.3 Ovarium atau Indung Telur

Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung Korpus Luteum Gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur kehamilan 16 minggu.

2.1.5.4 Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi yang dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, somatomammotropin, yaitu fungsinya untuk :

  1. Hormon estrogen berfungsi :

-     Menimbulkan hypertropy sistem saluran payudara.

-     Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.

-     Tekanan serta syaraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.

  1. Hormon progesteron berfungsi :

-     Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.

-     Menambah jumlah sel asinus.

  1. Hormon somatomammotropin berfungsi :

-     Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein laktalbumin dan laktoglobulin.

-     Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara.

-     Merangsang pengeluaran colostrum pada kehamilan.

2.1.5.5 Sirkulasi Darah Ibu

Peredaran darah ibu dipengaruh oleh beberapa faktor, antara lain :

  1. Meningkatkan kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
  2. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
  3. Pengaruh homan estrogen dan progesteron semakin meningkat.

Akibat dari faktor tersebut di atas, dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, yaitu :

  1. Volume darah
  2. Sel darah
  3. Sistem respirasi
  4. Sistem pencernaan
  5. Traktus urinarius
  6. Perubahan pada kulit
  7. 7.      Metabolisme (Manuaba, 2001)

2.1.6    Kebutuhan Zat Besi dan Kalsium

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sekitar 30-40 mg. Pada ibu hamil kebutuhan zat besi FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) perhari mininal 90 tablet. Dimulai dengan memberikan I tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hlang. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama the atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan Fe. Vitamin C meningkatkan resorbsi zat besi terdapat dalam buah-buahan segar, Vitamin C 25 mg meningkatkan resorbsi zat besi 2 kali, dan Vitamin C 500 mg meningkatkan zat besi 6 kali, selain itu hindari makan buah-buahan yang pengolahannya dapat menghilangkan Vitamin C (Saifuddin, 2002). Kebutuhan wanita hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah (Arisman, 2007). Kebutuhan kalsium untuk ibu hamil 1500 mg setiap hari yang manfaatnya untuk membangun dan menjaga kekuatan tulang dan gigi, untuk pembekuan darah, kontraksi otot, transmisi syaraf, tanpa kalsium otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku dan syaraf tidak bisa membawa pesan. (Varney, 2002)

2.1.7    Tanda Bahaya pada Ibu Hamil

Tanda-tanda bahaya ini jika tidak dilaporkan atau terdeteksi dapat menyebabkan kematian ibu. Pada setiap kunjungan antenatal, bidan harus mengajarkan kepada ibu bagaimana mengenai tanda-tanda bahaya ini dan mendorong untuk datang ke klinik segera jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut.

6 (enam) tanda-tanda bahaya selama periode antenatal yaitu perdarahan -vervaginam, sakit kepala yang hebat dan menetap yang tidak hilang, pandangan kabur, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka atau tangan, byi kurang bergerak seperti biasa. (JHPIEGO, 2003 : 88).

2.1.8.   Ante Natal Care

2.1.8.1 Pengertian

Asuhan yang diberikan kepada ibu hamil yang lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Saifuddin, 2002).

2.1.8.2 Tujuan Ante Natal Care

Tujuan dilakukannya antenatal care yaitu :

  1. Mendeteksi faktor resiko sedini mungkin dan penanggulangannya.
  2. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
  3. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
  4. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
  5. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Saifuddin, 2002).

2.1.8.3 Kebijakan Program

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling lambat 4 kali selama kehamilan, yaitu :

-     Satu kali pada triwulan pertama

-     Satu kali pada triwulan kedua

-     Dua kali pada triwulan ketiga

  1. Trimester I (0-14 minggu)

-     Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan

-     Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa

-     Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan

-     Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi

-     Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya)

  1. Trimester II (14-28 minggu)

Sama seperti trimester pertama, ditambah kewaspadaan khusus mengenai tanda trias.

-       Pantau tekanan darah

-       Evluasi eodema

-       Periksa urine untuk mengetahui proteinuria

  1. Trimester III (28-36 minggu)

Selama seperti pada trimester pertama dan kedua ditambah palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.

  1. Setelah 36 minggu

Sama seperti trimester pertama ditambah pendeteksian dari letak bayi yang tidak optimal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

Adapun pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7 T” yaitu :

  1. (Timbang) berat badan
  2. Ukur (Tekanan) darah
  3. Ukur (Tinggi) fundus uteri
  4. Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
  5. Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan
  6. Test terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Saifuddin (2002 : 90).

Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :

1)        Mengupayakan kehamilan yang sehat

2)        Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalksanaan awal serta rujukan bila diperlukan

3)        Persiapan persalinan yang bersih dan aman.

4)        Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi kompikasi

Menurut Saifuddin (2002), agar ibu hamil mendapatkan informasi yang diperlukan, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah, seperti berikut :

  1. Sapa ibu (dan juga keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
  2. Kaji riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan ibu
  3. Melakukan pemeriksaan fisik, seperlunya saja
  4. Melakukan pemeriksaan laboratorium
  5. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :

-     Tekanan darah dibawah 140 / 90 mmHg,

-     Edema hanya pada ekstremitas

-     Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan

-     Denyut jantung janin 129 sampai 160 denyut per menit

-     Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan

  1. Membantu ibu dan keluarganya mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat :

-     Mengidentifikasi ke mana pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut

-     Mempersiapkan donor darah

-     Mengadakan persiapan financial

-     Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.

  1. Memberikan konseling :

a)    Gizi      : peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).

b)   Latihan            : normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah

c)    Perubahan fisiologi      : tambahan berat badan, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama trimester pertama, rasa panas dan atau varises, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)

d)   Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikut :

-          Pendarahan pervagina,

-          Sakit kepala lebih dari biasa,

-          Gangguan penglihatan,

-          Pembengkakan pada wajah/tangan,

-          Nyeri abdomen (epigastrik),

-          Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.

e)    Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di rumah :

-          Sabun dan air

-          Handuk dan minuman untuk ibu selama persalinan

-          Mendiskusikan praktek-praktek tradisional, posisi melahirkan,

-          Mengidentifikasi siapa yang dapat membantu bidan dalam proses persalinan.

f)    Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genitalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.

g)   Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai puting susu rata atau asuk kedalam. Dilakukan 2 ali sehari selama 5 menit

  1. Memberikan zat besi 90 tablet mulai minggu ke-2
  2. Memberikan imunisasi TT 0,5 cc 2x selama pada masa kehamilan
  3. Menjadwalkan kunjungan berikutnya
  4. Mendokumentasikan hasil kunjungan tersebut dengan catatan SOAP

2.1.8.4. Nasihat-nasihat ibu hamil

2.1.8.4.1. Makanan / diet ibu hamil

Wanita hamil dan menyusui betul-betul mendapatkan perhatian susunan dietnya, terutama jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, pendarahan pacsa persalinan, sepsis, puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan makanan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklampsi, janin besar, dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan : protein, karbohidrat, zat lemak, mineral atua bermacam-macam garam : terutama kalsium, fosfor dan zat besi (Fe) : vitamin dan air.

Tabel  Kebutuhan Makanan Sehari-Hari Ibu Tidak Hamil,

Ibu Hamil, Dan Ibu Menyusui

No

Kalori & Zat Makanan

Tidak Hamil

Hamil

Menyusui

1 Kalori (kal)

2500

2500

3000

2 Protein (gram)

60 gr

85 gr

100 gr

No

Kalori & Zat Makanan

Tidak Hamil

Hamil

Menyusui

3 Kalsium (Ca)

0,8 gr

1,5 gr

2 gr

4 Zat Besi (Ca)

12 gr

1,5 gr

15 gr

5 Vitamin A (IU)

5000 IU

6000 IU

8000 IU

6 Vitamin B (mg)

1,5

1,8

2,3

7 Vitamin C (mg)

70

150

150

8 Riboflavin (mg)

15

18

23

Manuaba (2009 Memahami Kesehatan Reproduksi kesehatan wanita, 87)

2.1.8.4.2 Merokok

Jelas bahwa bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok.

2.1.8.4.3 Obat-obatan

Prisip : Jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh Karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan  tersebut.

2.1.8.4.4 Lingkungan

Saat sekarang, bahaya polusi udara, air dan makanan terhadap ibu dan anak sudah mulai diselidiki seperti halnya merokok

2.1.8.5 Gerak Badan

Kegunaannya : Sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat :

  1. Berdiri – jongkok
  2. Terlentang – kaki diangkat
  3. Terlentang – perut diangkat
  4. Melatih pernapasan

2.1.8.6. Kerja

  1. Boleh kerja seperti biasa
  2. Cukup istirahat dan makan telur
  3. Pemeriksaan hamil yang teratur

2.1.8.7. Berpergian / Traveling

  1. Jangan terlalu lama dan melelahkan
  2. Duduk lama-statis vena (vena stagnasi) menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak
  3. Bepergian dengan pesawat udara boleh, tidak ada bahaya hipoksia dan tekanan oksigen yang cukup dalam pesawat udara.

2.1.8.8. Pakaian

  1. Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut.
  2. Pakailah kutang yang menyokong payudara
  3. Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tiggi
  4. Pakaian dalam yang selalu bersih

2.1.8.9. Istirahat dan Rekreasi

Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Tempat hiburan yang terlalu ramai, sesak dan panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan jatuh pingsan.

2.1.8.10. Mandi

Mandi diperlukan untuk kebersihan/hygiene terutama perawatan kulit, karena fugnsi eksresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut/ringan. Jangan tergelincir di perigi dan jagalah kebersihannya. Douche dan mandi berdendam tidak dianjurkan.

2.1.8.11. Koitus

Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada sejarah :

  1. Sering abortus/prematur
  2. Pendaharan pervaginam
  3. Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati
  4. Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus-partus prematurus.

2.1.8.12. Kesehatan Jiwa

Untuk menghilangkan cemas harus ditanamkan kerjasama pasien penolong (doter, bidan) dan memberikan penerangan selagi hamil denga tujuan :

  1. Menghilangkan ketidak-tahuan
  2. Latihan-latihan fisik dan kejiawaan
  3. Mendidik cara-cara perawatan bayi
  4. Berdiskusi tentang peristiwa pesalinan fisiologik.

2.1.8.13. Perawatan Buah Dada

Buah dada merupakan sumber Air Susu Ibu (ASI) yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran payudara.

 

2.2.      Hipertensi Kronis Dalam Kehamilan

2.2.1    Pengertian

Hipertensi kronik sendiri didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmhg yang telah ada sebelum kehamilan, yang bertahan sampai lebih dari 20 minggu pasca partus 1 atau setelah 12 minggu menurut kepustakaan yang lain. (Saifuddin, 2010 : 531).

Hipertensi pada kehamilan secara epidemiologi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Usia

Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.

2. Paritas

Angka kejadian tinggi pada primigravida muda maupun tua. Primigravida tua berisiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.

3. Faktor keturunan

Jika ada riwayat hipertensi, pre-eklampsia, eklampsia pada ibu atau nenek penderita. Faktor risiko meningkat sampai 25%.

4. Faktor gen

Diduga adanya suatu sifat resesif ( recessive trait ), yang ditentukan genotip ibu dan janin.

5. Diet / gizi

Tidak ada hubungan bermakna antara menu atau pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain mengatakan bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang mengalami obesitas atau overweight.

6. Iklim / musim

Di daerah tropis insidens lebih tinggi

7. Tingkah laku / sosio-ekonomi

Kebiasaan merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat. Aktifitas fisik selama hamil serta istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan atau insidens hipertensi dalam kehamilan.

2.2.2.   Etiologi

Etiologi hipertensi kronik dapat dibagi menjadi :

  1. Primer (idiopatik) : 90 %
  2. Sekunder : 10%, yang berhubungan dengan penyakit ginjal, penyakit endokrin (diabetes melitus), penyakit hipertensi dan vaskular

2.2.3.   Diagnosis 

Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pengukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG).

Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.

2.2.3.   Komplikasi pada ibu dan janin

Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.

Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini bisa menyebabkan prematuritas plasental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.

2.2.4.   Penanganan

Pengelolaan pada wanita hamil dengan hipertensi kronik bertujuan untuk menurunkan risiko kematian maternal, menurunkan mortalitas dari janin dengan pemakaian medikamentosa yang minimal. Sehingga penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti superimposed preeclampsia, eklampsia, juga monitoring unit feto – placental, mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik harus juga diperhatikan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah, monitoring keseimbangan cairan dan diuresis.

Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera di rawat di rumah sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Istirahat total memiliki efek yang baik dimana akan meningkatan aliran darah renal dan utero plasental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis dan mengurangi oedema.

Pada hipertensi yang ringan dilakukan terapi konservatif, sedapat mungkin janin dilahirkan pervaginam. Pada hipertensi berat kehamilan secepat mungkin diterminasi.
2.2.5.   Mortalitas

Pada kehamilan disertai dengan hipertensi kronik di Indonesia sendiri masih merupakan penyakit yang meminta korban besar bagi ibu dan bayi.  Kematian ibu yang disebabkan oleh gangguan ini berkisar 15,7% di USA antara tahun 1991-1999.  Hal ini berhubungan erat dengan pemeriksaan antenatal serta perawatan ibu hamil yang kurang ditambah dengan fasilitas kesehatan yang minim. Karena itu pemeriksaan antenatal yang baik dan tersediannya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian maternal.
2.2.6.   Prognosis

Pada kehamilan yang disertai hipertensi kronik, prognosis dapat kearah baik maupun kearah perburukan. Asal tidak terjadi penyulit serta komplikasi yang lain terhadap proses kehamilan dan kelahiran. Dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memadai angka kematian ibu dan anak dapat ditekan. Pemeriksaan kehamilan yang berkesinambungan memberi prognosis yang semakin baik.

2.2.7.   Anti Hipertensi

Indikasi pemberian antihipertensi adalah :

a.   Risiko rendah hipertensi

- Ibu sehat dengan desakan diastolik menetap ³100 mmHg

- Dengan disfungsi organ dan desakan diastolik ³ 90 mmHg

b.   Obat antihipertensi

-       Pilihan pertama : Methyldopa : 0.5 – 3.0 g/hari, dibagi dalam 2-3 dosis

-       Pilihan kedua : Nifedipine : 30 – 120 g/hari, dalam slow-release tablet (Nifedipine harus diberikan peroral)

Untuk menghindari kejadian komplikasi yang lebih berat bahwa kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, pereklamsi, dan kondisi yang dapat memperburuk selama kehamilan, Saepudin (2006).

2.2.8.  Odema Anasarka

Oedema ialah penimbunan cairan yang berlebih dalam jaringan tubuh, dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Edema dapat terjadi karena hipoalbuminemia atau kerusakan sel endotel kapilar. (Saifuddin, 2010 : 540).

Oedema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang setelah beristirahat atau meninggikan kaki.

Oedema yang mengkhawatirkan ialah oedema yang muncul mendadak dan cenderung meluas. Oedema biasa menjadi menunjukkan adanya masalah serius dengan tanda-tanda antara lain: jika muncul pada muka dan tangan, bengkak tidak hilang setelah beristirahat, bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya, seperti: sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur dll. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklampsia. (Uswhaaja, 2009: 5-6)

2.2.9. Penanganan Umum

  1. Istirahat cukup
  2. Mengatur diet, yaitu meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung protein dan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak.
  3. Kalau keadaan memburuk namun memungkinkan dokter akan mempertimbangkan untuk segera melahirkan bayi demi keselamatan ibu dan bayi

(Hendrayani, 2009:3)

2.2.10. Komplikasi

Kondisi ibu disebabkan oleh kehamilan disebut dengan keracunan kehamilan dengan tanda–tanda oedema (pembengkakan) terutama tampak pada tungkai dan muka, tekanan darah tinggi dan dalam air seni terdapat zat putih telur pada pemeriksaan urin dan laboratorium. (Rochjati, 2003:2)

 

2.3      Anemia           

2.3.1   Pengertian

Anemia adalah suatu kondisi ibu dengan kadar Hb di bawah 11 gr % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10,5 gr % pada trimester II. (Saifuddin 2006).

2.3.2   Patofisiologi

Zat besi masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Salah satu penyebab terjadinya anemia gizi besi adalah akibat ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan zat besi yang berasal dari makanan belum tentu menjamin kebutuhan tubuh akan zat besi yang memadai, karena jumlah zat besi yang diabsorbsi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumber zat besi, ada atau tidaknya zat penghambat seperti kopi, teh, garam kalsium dan magnesium, atau yang meningkatkan absorbsi besi dalam tubuh seperti protein hewani dan vitamin C.

Besi ferri dari makanan akan menjadi ferro jika dalam keadaan asam dan bersifat mereduksi sehingga mudah diabsorbsi oleh mukosa usus. Zat besi yang berasal dari makanan seperti daging, hati, telur, sayuran hijau dan buah-buahan diabsorbsi di usus halus. Rata-rata dari makanan yang masuk mengandung 10-15 mg zat besi tetapi hanya 5-10 % yang dapat diabsorbsi. Menurunnya asupan zat besi yang merupakan unsur utama pembentukan hemoglobin maka kadar/produksi hemoglobin juga akan menurun (Tarwoto, 2007).

2.3.3 Penyebab Anemia

  1. Adanya peningkatan kebutuhan zat-zat makanan yang tidak tercukupi.
  2. Obat-obatan.
  3. Defisiensi zat besi.
  4. Kehamilan yang disertai penyakit malaria, TBC dan cacingan.
  5. Faktor Predisposisi :

-       Sosial budaya dan ekonomi yang rendah.

-       Pendidikan yang rendah.

-       Tingkat penyerapan zat besi yang tidak sempurna.

2.3.4.      Klasifikasi Anemia

  1. Anemia                        : Hb kurang dari 11 gr%
  2. Anemia berat               : Hb kurang dari 8 gr%

2.3.5   Gejala Anemia

  1. Gejala subjektif
    1. Cepat lelah
    2. Sering pusing
    3. Penglihatan berkurang
    4. Mual, muntah yang hebat pada hamil muda
  2. Gejala objektif
    1. Hb kurang dari 11 gr%
    2. Konjungtiva pucat
    3. Lidah, bibir, telapak tangan dan kuku tampak pucat
    4. Tekanan darah relatif rendah
    5. Keadaan umum lemah

2.3.6   Pengaruh Anemia pada Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin

  1. Pada kehamilan
    1. Dapat terjadi abortus (2) Partus premature
    2. Perdarahan ante partum
    3. Pertumbuhan janin terhambat dalam rahim
    4. Decompensasi cordis bila Hb kurang dari 8 gr%
    5. Mudah terjadi infeksi
    6. Molahydatidosa
    7. Hyperemesis gravidarum
    8. Ketuban pecah dini
  2. Pengaruh pada persalinan
    1.   Gangguan his dan kekuatan mengedan
    2.   Kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
    3.   Kala II berlangsung lama sehingga menimbulkan kelelahan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan (4) Kala III dapat terjadi retensi placenta
    4.   Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri
  3. Pengaruh pada masa nifas
    1.   ASI berkurang
    2.   Inteksi puerperium
    3.   Sub involusi uteri sehinga menimbulkan perdarahan post partum.
    4.   Terjadi decompensasi cordis mendadak setelah melahirkan
    5.   Angka kematian meningkat
  4. Pengaruh terhadap janin
    1. Persalinan prematur meningkat
    2. Abortus, kematian intra uteri
    3. Mengurangi kemampuan metabolisme tubuh
    4. Berat badan lahir rendah
    5. Mudah terkena infeksi
    6. Cacat bawaan
    7. Intelejensi rendah

2.3.7   Jenis Anemia dalam Kehamilan

Menurut Hanifa Wiknjosastro dalam buku Ilmu Kebidanan, berdasarkan penyelidikan di Jakarta, jenis anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Anemia defisiensi besi            : 62,3%
  2. Anemia megaloblastik : 28,0%
  3. Anemia hipoplastik                 : 8,0%
  4. Anemia hemolotik                   : 0,7%

1)      Anemia defisiensi besi (62,3%)

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur,besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.

2)      Anemia megaloblastik (28,0%)

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pterylglumatic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).

Berbeda di Eropa dan Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup tinggi di Asia seperti India, Malaysia dan di Indonesia. Hal itu erat hubungannya dengan defisiensi makanan.

3)      Anemia hipoplastik (8,0%)

Anemia pada wanita yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Darah tepi menunjukan gambaran normositer dan normokrom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi, asam folik, atau vitamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithtropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit : eritrosit yang di luar kehamilan 5: 1 dalam kehamilan 3. : 1 atau 2: 1, berubah menjadi 10 : I atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.

4)      Anemia hemolitik (0,7 %)

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.

Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan besar, yakni :

  1. Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalassemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I dan paroxysmal noctumal haemoglobinuria.
  2. Golongan yang disebabkan oleh fak-tor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dan sebagainya), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinim, paraquin, pinaquin, nitrofurantion (furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6 phosphate-deehydrogenase), antagonismus rhesus, atau ABO, leukimia penyakit Hodgkin, limfosarkoma, penyakit hati dan lain-lain.

2.3.8   Penanganan Anemia

Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat atau na­fero bisitrat.

Pemberian preparat 60 mg/hari selama 90 hari dapat menaikkan HB sebanyak 1 gram%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat. dan Pemberian kalori 300,kalori/hari cukup mencegah anemia (Saifuddin, 2002).

Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50° gram asam folat untuk profilaksis anemia.

Pemberian preparat yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus dapat meningkatkan HB relatif lebih cepat yaitu 2 gram%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/IM dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis (Saifuddin, 2008)

Bila diagnosis anemia defisiensi zat besi dibuat maka diberikan suplementasi zat besi 60-120 mg dalam penambahan vitamin multipel (Linda V Walsh, 2008, 412).

Ibu dengan anemia juga dianjurkan untuk makan makanan yang banyak mengandung zat besi yang baik meliputi daging merah, telur, jenis sayuran (seperti bayam ) dan sereal (Jordan, 2003, 272).

2.3.9    Kebutuhan zat besi pada kehamilan dengan janin tunggal

200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sampai dengan darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan ekstemal, 30-170 untuk tali pusat pada placenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan. Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580-1340 mg (Sue Jordan, 2004)

2.3.10 Perbandingan Antara Pelbagai Zat Besi

Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 30% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan olch tubuh adalah 20% dan takar untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 300 mg; Sulfas Feros/Fero Sulfat yang dibutuhkan oleh tubuh adalah 33% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 200 mg, Fero, Glukonas yang dibutuhkan ol–h tubuh adalah 11,6% dan takaran untuk mendapatkan 60-65 mg zat besi dalam bentuk yang bisa diserap adalah 600 mg.

Usus hanya mampu menyerap 40-60 mg perhari bahkan pada penderita anemia yang paling berat sekalipun dosis yang paling tinggi hanya meningkatkan efek samping gastrointestinal, yaitu mual, muntah, dan kram lambung, sehingga minum tablet besi pada saat makan atau segera setelah makan dapat mengurangi gejala mual (Sue Jordan, 2004).

2.3.11 Pencegahan

Sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus, cukup 1 tablet satu hari. Selain itu nasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur­sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

 

2.4.            Persalinan

2.4.1   Pengertian

Persalinan adalah suatu proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke dalam jalan lahir, kelahiran adalah suatu proses dimana janin dan ketuban didorong keluar jalan lahir. (Saifuddin, 2006)

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Saifuddin, 2006).

2.4.2   Persalinan Normal (Spontan)

Yaitu persalinan yang berlangsung dengan letak belakang kepala sejak awal sampai akhirnya dengan tanda melahirkan ke dunia luar.

2.4.3    Fisiologi Persalinan

Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitocin yang dikeluarkan oleh hypopise posterior dapat menimbulkan kontraksi dominan saat dimulainya persalinan. Oleh sebab itu, makin tua usia kehamilan frekuensi kontraksi makin sering, oksitocin diduga bekerjasama dengan prostaglandin makin meningkat, di samping itu faktor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim. (Manuaba, 2001)

2.4.4   Tanda-tanda Persalinan

Sebelum terjadi persalinan sebenamya seminggu sebelum memasuki bulannya “minggunya dan harinya” yang disebut kala pendahuluan (prematori stage of labor) memberikan tanda-tanda sebagai berikut :

  1. Lightening atau setting/dropping yaitu kepala turun memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) terutama pada primigravida.
  2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
  3. Perasaan susah atau sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terendah janin.
  4. Rasa sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
  5. Serviks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah dan bisa campur darah (bloody show). (Prawirohardjo, 2002)

2.4.5    Proses Persalinan

Proses persalinan dibagi dalam 4 kala menurut Saifuddin (2002), yaitu :

2.4.5.1 Kala I

Definisi : Kala I persalinan dimulai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi osteum uteru extemum. Kala I telah sempurna apabila servik telah membuka cukup luas untuk dapat dilewati kepala janin untuk dilahirkan. Kala I terhitung dari waktu mulai pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap.

Kala I terdiri dari 2 fase :

  1. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam.
  2. Fase Aktif, dibagi 6 jam dan dibagi 3 sub fase :
    1. Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm (mulai gerakan partosray).
    2. Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam pembukaan menjadi 9 cm.
    3. Periode deselerasi berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan lengkap.

Pada  primipara kala I bervariasi antara 12-14 jam, sedangkan multipara antara 6-7 Jam (Siswosudarmo : 2008).

2.4.5.2 Kala II

Definisi : dimulai dari dilatasi penuh serviks dan sempurna apabila bayi telah dikeluarkan dari uterus secara menyeluruh. Pada kala ini kontraksi uterus menjadi sangat khas dalam sifat ekspalsinya dan kontraksinya menjadi sangat kuat (amplitudonya 60-80 mmHg). Kontraksi ini terus berlangsung seperti pada kala transisi dengan selang waktu 2-3 menit dan lamanya kontraksi 1 menit. Sekarang fetus didorong keluar oleh segmen atas rahim yang menjalani retraksi yang dapat dilihat secara kasar melewati serviks yang terbuka dan jalan lahir. Fetus didorong oleh tekanan aksis fetus ke bawah dan ke belakang tegak lurus dengan pintu masuk pelvis. Dengan kata lain, kala II adalah kala pengeluaran janin. Tanda dan gejala kala II adalah dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, vulva membuka, perineum menonjol. (Depkes RI, 2004)

Fase aktif ditegakkan berdasarkan dilatasi servik 4-9 cm, kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih perjam, penurunan kepala dimulai hisnya minimal 2x dalam 10 menit selama 40 detik. (Depkes RI, 2004)

Kala II untuk primi berlangsung 1-2 jam dan pada multi tidak lebih dari I jam (Manuaba, 2001).

2.4.5.3 Kala III

Definisi : pelepasan plasenta secara normal. Plasenta belum terlepas dengan adanya kontaksi-kontraksi uterus selama kala I dan awal kala II persalinan, karena sisi plasenta harus diperkecil sampai separuh ukuran aslinya sebelum dimungkinkan terjadi pelepasan. Ketika tubuh bayi dapat dilahirkan pada kala II maka panjang uterus berkurang sehingga kekebalan dinding otot uterus tersebut akan bertambah dan besarnya kapasitas uteri akan berkurang sampai ukuran semula, biasanya dimulai pada pusatnya (bagian tengah) dan meluas ke sekelilingnya. Karena disusun oleh jaringan elastis, maka plasenta akan terlepas dari dinding uterus. Suatu kontraksi uterus yang benar-benar efektif tidak hanya menyebabkan pelepasan plasenta tetapi juga mendorong plasenta tersebut ke segmen bawah rahim dan segmen atas vagina hampir setelah bayi lahir. Pada akhir persalinan kala III uterus mempunyai ukuran kira-kira panjangnya I,5 cm, lebar 10 cm, dan tebal 7,5 cm.

Proses pengeluaran uri yang normal tidak lebih dari 30 menit. (Depkes RI, 2004).

2.4.5.4 Kala IV

Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. 2.4.6    Asuhan dan Pemantauan pada Persalinan

Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, bahkan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama proses persalinan dan kelahiran.

Asuhan sayang ibu pada kala I yaitu memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.

Asuhan sayang ibu pada kala II yaitu menolong persalinan dengan teknik APN, menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu, memberikan dukungan, membantu ibu memilih posisi yang nyaman, menganjurkan ibu untuk minum selama kala II, mengajarkan cara meneran yang baik. Menjaga kandung kemih tetap kosong, karena kandungan kemih yang penuh dapat memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet, menyebabkan ibu tidak nyaman, meningkatkan resiko pendarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri dan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.

Pada kala III dianjurkan untuk melakukan manajemen aktif III meliputi pemberian oksitosin 10 IU secara IM, melakukan peregangan tall pusat terkendali, melahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew dan Massase Fundus Uteri yang bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah pada kala III persalinan. (Depkes RI, 2008)

Pada kala IV, asuhan yang dilakukan adalah menilai kehilangan darah, memeriksa perineum dan perdarahan aktif, memantau kondisi ibu secara keseluruhan. Asuhan yang diberikan selama 2 jam pertama pasca persalinan adalah melakukan pemantauan kala IV atau kala pengawasan setelah plasenta lahir 2 jam. Dalam kala ini yang diawasi adalah tanda-tanda vital, TFU, kandung kemih, kontraksi, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua. (Saifuddin, 2002).

2.5.            Sectio Caesaria

2.5.1.      Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Prawirohardjo, 2005).
Sectio caesarea adalah prosedur operatis, yang dilakukan di bawah anastesi sehingga janin, plasenta dan ketuban dilahirkan melalui insisi dinding abdomen dan uterus (Cooper, 2009).

Sectio caesarea adalah suatu tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Cuningham, 2005). Sectio caesarea adalah operasi perut untuk mengeluarkan bayi dari kandungan (Ramli, 2005).

2.5.2.      Tujuan Sectio Caesarea

Tujuan sectio caesarea menurut Bobak (2004) adalah memelihara kehidupan atau kesehatan ibu dan janinnya. Penggunaan cara caesaria didasarkan pada bukti adanya stres maternal atau fetal. Morbiditas dan mortalitas maternal dan fetal menurun sejak adanya metode pembedahan dan perawatan modern. Namun, kelahiran caesaria ini masih mengancam kesehatan ibu dan bayi.

2.5.3.      Jenis – jenis operasi sectio caesarea

  1.  Berdasarkan Teknik Insisi

Menurut Cunningham (2005) ada dua tipe utama operasi caesarea yaitu sesaria klasik dan sesaria segmen bawah uterus. Kelahiran sesaria klasik kini jarang dilakukan, tetapi dapat dilakukan bila diperlukan kelahiran yang cepat dan pada beberapa kasus presentasi bahu dan placenta praevia. Insisi vertikal dilakukan ke dalam bagian tubuh atas uterus. Prosedur ini terkait dengan jumlah insiden kehilangan darah, infeksi, dan ruptur uterus yang lebih tinggi pada kehamilan selanjutnya daripada kelahiran dengan prosedur sesaria segmen bawah.

Kelahiran caesarea segmen bawah uterus dapat dilakukan melalui insisi vertikal (Sellheim) atau insisi transversal (Kerr). Insisi vertikal memberikan ruang yang lebih luas untuk melahirkan bayi, tetapi saat ini lebih jarang dilakukan karena lebih memungkinkan untuk terjadinya komplikasi. Insisi transversal lebih popular karena lebih mudah dilakukan, kehilangan darah relatif lebih sedikit, dan infeksi pasca operasi lebih kecil, serta kemungkinan ruptur pada kehamilan selanjutnya lebih kecil. Kelahiran pervaginam sectio caesarea dengan insisi klasik dikontraindikasikan.

  1. Berdasarkan Indikasi pada Pasien

i.          Kelahiran Caesarea Terjadwal menurut Prawirohardjo (2005)

Sectio sesaria ini direncanakan lebih dahulu karena sudah diketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan. Wanita yang mengalami kelahiran sesaria terjadwal atau terencana yaitu jika persalinan dikontraindikasikan, sedangkan kelahiran harus dilakukan, tetapi persalinan tidak dapat diinduksi atau bila ada suatu keputusan yang dibuat antara petugas kesehatan dan wanita yang akan melahirkan.

Keuntungan dari kelahiran sectio caesarea terjadwal ialah waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan bahwa segala persiapan dapat dilakukan dengan baik. Kerugiannya adalah oleh karena persalinan belum dimulai, segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan, dan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perdarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya. Akan tetapi dapat dikatakan bahwa umumnya keuntungan lebih besar daripada kerugian.

ii.          Kelahiran Caesaria Darurat menurut Cooper (2009)

Hal ini dilakukan jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan selama kehamilan atau persalinan. Beberapa standar telah dibuat untuk menetapkan waktu maksimal yang boleh dilewati dari keputusan untuk melahirkan hingga waktu aktual bayi dilahirkan. Namun demikian, hal ini menjadi kurang jelas karena pada beberapa kasus benar-benar terjadi ‘kedaruratan’ dan segalanya harus sudah siap untuk pelahiran bayi yang segera jika bayi diharapkan dapat bertahan hidup. Kemudian terdapat juga situasi lain ketika pelahiran bersifat ‘mendesak’, tetapi waktu yang digunakan untuk mempersiapkan operasi dapat lebih banyak dan tindakan yang akan dilakukan dapat didiskusikan bersama orang tua dengan sikap yang lebih relaksi. Berikut ini contoh alasan mendesak / darurat untuk kelahiran dengan sectio caesarea:

1.Perdarahan antepartum

2.Porlaps tali pusat

3.Ruptur uterus

4.Disproporsi sefalopelvik yang terdiagnosis pada persalinan

5.Pre-eklamsia berat

6.Eklamsia

7.Persalinan macet pada kala satu atau kala dua dan perburukan kondisi janin jika pelahiran tidak segera dilakukan.

2.5.4.   Indikasi Pelaksanaan Sectio caesarea

Sectio caesarea biasanya dilakukan jika ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan bila dibiarkan maka dapat terjadi komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. Tiga faktor indikasi pelaksanaan sectio caesarea menurut Cooper (2009) adalah :

2.5.4.1.     Faktor Ibu

  1. Disproporsi Sefalopelvik

Ukuran panggul yang sempit dan tidak proporsional dengan ukuran janin menimbulkan kesulitan dalam persalinan pervaginam. Panggul sempit lebih sering pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Kesempitan panggul dapat ditemukan pada satu bidang atau lebih, pintu atas panggul dianggap sempit bila conjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversal kurang dari 12 cm.

  1. Usia

Ibu yang melahirkan untuk pertama kalinya berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko melahirkan dengan sectio caesarea karena pada usia tersebut ibu memiliki penyakit beresiko seperti hipertensi, jantung, diabetes melitus, dan preeklamsia.

  1. Infeksi

Setiap tindakan operasi vaginal selalu diikuti oleh kontaminasi bakteri, sehingga menimbulkan infeksi. Infeksi makin meningkat apabila didahului oleh keadaan umum yang kurang baik seperti anemia saat hamil, sudah terdapat manipulasi intra¬uterin, sudah terdapat infeksi dan perlukaan operasi yang menjadi jalan masuk bakteri.

  1. Trauma tindakan operasi persalinan

Operasi merupakan tindakan paksa pertolongan persalinan sehingga menimbulkan trauma jalan lahir. Trauma operasi persalinan dijabarkan sebagai berikut:

- Perluasan luka episiotomy

- Perlukaan pada vagina

- Perlukaan pada serviks

- Perlukaan pada forniks-kolfoporeksis

- Terjadi ruptur uteri lengkap atau tidak lengkap

- Terjadi fistula dan ingkontinensia

2.5.4.2.     Faktor Janin

a. Janin besar

b.Gawat janin

c.Letak lintang

Kelainan letak ini dapat disebabkan karena adanya tumor dijalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plesenta previa, cairan ketuban pecah banyak, kehamilan kembar dan ukuran janin. Keadaan tersebut menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Bila dibiarkan terlalu lama, mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan meyebabkan kerusakan otak janin.

d.Letak Sungsang

Resiko bayi lahir sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan alami diperkirakan 4 x lebih besar dibandingkan keadaan normal. Pada bayi aterm, tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan ini persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena; pertama, persalinan terlambat beberapa menit, akibat penurunan kepala menyesuaikan dengan panggul ibu, padahal hipoksia dan asidosis bertambah berat. serta persalinan yang dipacu dapat menyebabkan trauma karena penekanan, traksi ataupun kedua-duanya. Misalnya trauma otak, syaraf, tulang belakang, tulang rangka dan viseral abdomen.

e.Bayi Abnormal

Misalnya hidrosefalus, kerusakan Rhesus dan kerusakan genetik.

2.5.4.3.     Faktor Jalan Lahir

a.Plasenta Previa

b.Solusio Placenta

c. Plasenta accrete

d.Kelainan tali pusat.

-       Pelepasan tali pusat (tali pusat menumbung)

-       Terlilit tali pusat

e.Bayi kembar

Kelahiran kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi preeklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan. Bagi bayi yang sungsang akibat dipicu adanya tumor atau placenta previa, maka operasi cesar adalah keharusan. Sebab tidak ada penanganan yang bisa dilakukan, selain dengan melakukan operasi untuk mengetahui posisi bayi yang dikandung mengalami sungsang atau tidak, sebaiknya jangan hanya berdasarkan hasil ultrasonografi. “Saat kontrol, sebaiknya ibu aktif bertanya perihal letak janin di dalam kandungan. Begitu juga dengan umur kehamilan, perkiraan berat janin, letak plasenta serta volume air ketuban. Operasi sesar dapat menurunkan risiko yang dialami janin saat lahir. Bayi yang lahir secara normal dalam kondisi sungsang, memiliki risiko komplikasi yang cukup besar dibanding bayi yang letaknya normal. Karena itu dokter umumnya cenderung memilih proses persalinan bedah sesar.

2.5.5.      Resiko Bedah Caesar

2.5.5.1.     Resiko Maternal

Studi yang dipublikasikan 13 Februari 2007 oleh Canadian Medical Association Journal menemukan bahwa wanita dengan caesar terencana mempunyai rata rata morbiditas yang parah sebesar 27,3 per 1000 persalinan dibandingkan dengan persalinan pervaginam yang sebesar 9 per 1000 persalinan. Kelompok dengan caesar terencana lebih beresiko tinggi terhadap gagal jantung, hematoma, histerektomi, infeksi puerperal mayor, komplikasi akibat anestesi, tromboemboli vena, dan perdarahan yang membutuhkan histerektomi (Cunningham, 2005).

Studi yang dipublikasikan pada Februari 2007 dalam Obstetric and Gynecology Journal menunjukkan bahwa wanita dengan bedah sesar lebih memungkinkan untuk bermasalah pada persalinan setelahnya. Resiko maternal menurut Ceterini (2007) maternal ini meliputi:

a.Infeksi yaitu infeksi dapat terjadi pada lokasi insisi, dalam uterus, pada organ lain dalam pelvis seperti kandung kemih.

b.Perdarahan yaitu ibu kehilangan lebih banyak darah pada bedah caesar daripada pada persalinan pervaginam. Hal ini dapat mengarah pada anemia atau tranfusi darah.

c.Luka pada organ yaitu adanya kemungkinan luka pada organ seperti bowel atau kandung kemih.

d.Adhesions yaitu jaringan parut dapat terbentuk dalam area pelvis dan menyebabkan blokade dan nyeri. Hal ini juga dapat mengarah ke komplikasi pada kehamilan selanjutnya seperti placenta previa atau abruptio placenta.

e.Waktu pemulihan yang lebih lama yaitu waktu pemulihan pasca bedah caesar dapat mencapai beberapa minggu hingga beberapa bulan, hingga berdampak pada bonding time ibu dengan bayi.

f.Reaksi terhadap obat yaitu dapat terjadi reaksi negatif pada anestesi yang diberikan selama bedah sesar atau reaksi pada obat anti nyeri yang diberikan pasca prosedur.

g.Resiko pembedahan tambahan yaitu seperti hysterectomy, kandung kemih, atau bedah sesar selanjutnya.

h.Maternal mortalitas yaitu pada bedah sesar, angka ini lebih besar dibandingkan pada persalinan pervaginam.

i.Reaksi emotional yaitu wanita yang melahirkan secara sesar dilaporkan merasa pengalaman melahirkan yang negatif dan mungkin mengalami kendala bonding dengan bayinya.

2.5.5.2.     Resiko Fetal

Adapun resiko fetal menurut caterini (2007) antara lain :

a. Anestesi

Beberapa bayi dapat terpengaruh oleh anestesi yang diberikan kepada ibu selama proses operasi. Obat ini dapat mematirasakan ibu tapi juga dapat membuat bayi tidak aktif.

b.Masalah pernafasan

Walaupun bayi lahir full term, bayi yang lahir melalui bedah sesar lebih beresiko daripada bayi yang lahir pervaginam. jika dilahirkan secara sesar, bayi lebih cenderung mempunyai masalah pernafasan dan kendala respiratorik. Beberapa studi menyebutkan peningkatan kebutuhan bantuan pada. pernafasan dan perawatan segera dibandingkan pada bayi yang dilahirkan pervaginam.

c.Kelahiran premature

Jika usia kehamilan tidak dihitung dengan tepat, bayi yang dilahirkan melalui bedah sesar bisa saja masih prematur dan mempunyai berat badan yang rendah.

d.Nilai APGAR rendah

Hal ini bisa diakibatkan oleh anestesi, fetal distress sebelum persalinan atau kurangnya stimulasi selama persalinan (persalinan pervaginam memberikan stimulasi alami ketika bayi berada dalam jalan lahir). 50% bayi yang lahir melalui bedah sesar cenderung mempunyai nilai APGAR yang lebih rendah daripada bayi yang lahir pervaginam.

2.5.5.3.     Dampak Bedah Caesaria

Tanpa indikasi medis, ibu sudah seharusnya menjalani persalinan normal. Namun agaknya, masih banyak kesalahkaprahan dalam memandang persalinan sesar. Akibatnya, bersalin sesar atau normal sama-sama dijadikan pilihan seperti halnya menu makanan. Memang benar, kalau ibu dan ayah mendesak si jabang bayi dilahirkan di tanggal pesanan.

Proses melahirkan melalui sesar memiliki beberapa dampak baik pada ibu maupun pada bayi, Adapun dampak proses melahirkan melalui sesar yang akan dialami ibu menurut caterini (2007) yaitu :

  1. Sakit di tulang belakang

Banyak ibu setelah sesar mengeluh sakit dibagian tulang belakang (tempat dilakukan suntik anastesi sebelum operasi). Keluhan ini umumnya terasa saat membungkukkan badan, mengambil sesuatu di lantai, atau mengangkat beban yang lumayan berat. Sumber rasa nyeri berada tepat pada bekas tusukan jarum suntik saat dilakukan bius lokal. Akibatnya, sehabis melahirkan sesar, ibu tidak disarankan melakukan gerakan yang terlalu mendadak dan drastis serta harus menghindari mengangkat beban berat.

Umumnya jika keluhan ini berlarut-larut atau intensitas sakitnya meningkat, ibu disarankan untuk berkonsultasi pada dokter. Kalau perlu, akan dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya rontgen tulang belakang. Pada ibu yang melahirkan normal, kondisi ini tidak terjadi. Empat puluh hari bahkan enam jam setelah bersalin, ibu bisa langsung beraktivitas normal.

  1. Nyeri di bekas sayatan

Pasca-operasi, saat efek anestesi hilang, nyeri di bekas sayatan bedah akan terasa. Ibu melahirkan normal, setelah istirahat enam jam, paling-paling akan merasa letih atau pegal-pegal. Rasa letih ini lekas hilang jika ibu banyak bergerak.

  1. Rasa kebal di bekas sayatan

Keluhan lain sehabis operasi sesar adalah rasa kebal di bagian atas bekas sayatan operasi. Ini wajar karena saraf di daerah tersebut boleh jadi ada yang terputus akibat sayatan saat operasi. Butuh kira-kira 6-12 bulan, sampai serabut saraf tersebut menyambung kembali. Pada persalinan normal, putus saraf di perut dipastikan tidak ada.

  1. Nyeri di bekas jahitan

Keluhan ini sebetulnya wajar karena tubuh tengah mengalami luka, dan penyembuhannya tidak bisa sempurna 100%. Apalagi jika luka tersebut tergolong panjang dan dalam. Dalam operasi sesar ada 7 lapisan perut yang harus disayat. Sementara saat proses penutupan luka, 7 lapisan tersebut dijahit satu demi satu menggunakan beberapa macam benang jahit.

Proses penyembuhan tidak bisa dihindari terjadinya pembentukan jaringan parut. Jaringan parut inilah yang dapat menyebabkan nyeri saat melakukan aktivitas tertentu, terlebih aktivitas yang berlebihan atau aktivitas yang memberi penekanan di bagian tersebut.

Pada persalinan normal, walau ada jahitan pada vagina (ini juga tidak pada semua ibu), tapi efeknya tidak akan seperti kondisi ibu disesar. Ibu yang bersalin normal biasanya tidak akan mengeluhkan apa-apa pada jahitan tersebut.

  1. Mual muntah

Rasa mual-muntah yang umumnya timbul akibat sisa-sisa anestesi pada diri ibu. Efek seperti ini, tidak ditemukan pada ibu bersalin normal. Yang ibu rasakan hanyalah perasaan letih, lapar, dan haus.

  1. Muncul keloid dibekas jahitan

Selama masa penyembuhan luka operasi, banyak ibu yang gundah karena perutnya tak lagi mulus. Apalagi jika di bekas jahitan muncul benjolan memanjang yang disebut keloid. Munculnya keloid pada bekas sayatan operasi sesar biasanya disebabkan oleh paparan cairan ketuban yang mengandung faktor pertumbuhan sel, jenis benang jahit yang dipakai, teknik menjahit, serta bakat seseorang dalam reaksi jaringan. Pada ibu yang bersalin normal, mendambakan perut yang tetap mulus seperti saat gadis bukanlah masalah berarti.

  1. Gatal dibekas jahitan

Rasa gatal dibekas jahitan sangat mengganggu dan mendorong ibu untuk menggaruknya. Sedihnya, tidak disarankan bagi ibu untuk menggaruk karena dikhawatirkan jahitan akan terbuka dan menimbulkan dampak lebih parah. Rasa gatal bisa timbul akibat adanya infeksi pada daerah luka operasi seperti infeksi jamur atau karena reaksi penyembuhan luka yang berlebihan.

Bila penyebabnya infeksi biasanya akan tampak tanda radang di daerah jahitan (ditandai dengan kulit yang berwarna kemerahan, ada luka, ada cairan yang keluar, terasa panas, dan terasa nyeri bila ditekan). Berbeda bila disebabkan reaksi kulit yang berlebihan yaitu kulit di daerah jahitan menebal dan mengeras serta menonjol dibanding permukaan kulit lainnya. Inilah yang disebut keloid. Ibu bersalin normal tidak merasakan hal ini karena tidak ada luka sayatan di daerah perut.

  1. Luka berpeluang infeksi

Ibu yang melahirkan secara sesar harus menjaga luka di perutnya agar jangan sampai terkena air dan terinfeksi. Proses penyembuhan luka bekas sesar biasanya berlangsung 10 hari. Bagi ibu yang bersalin normal, perawatan luka kemungkinan dilakukan di bibir vagina yang diepisiotomi (digunting sedikit). Jika tak ada indikasi perlunya eposiotomi, setelah bersalin normal dan kembali bugar, ibu boleh mandi sesuka hati.

  1. Minum antibiotic

Untuk mencegah infeksi pada luka sayatan sesar, pasca operasi ibu akan diberi antibiotik untuk beberapa hari ke depan. Jadi, sabar-sabar saja untuk tidak putus obat sepanjang dosis yang ditentukan dokter. Ibu bersalin normal, tidak perlu antibiotik. Yang mesti dipenuhi adalah asupan makanan empat sehat lima sempurna, dan minum minimal 8 gelas sehari.

  1. Tidak Boleh Segera Hamil

Jarak aman antar kehamilan yang disarankan adalah 2 tahun setelah sesar, meski ini bukan angka mati karena terpulang kembali pada kondisi masing-masing ibu. Idealnya, sehabis menjalani operasi sesar, tunda kehamilan sampai luka operasi dan jahitannya benar-benar sembuh dan kuat.

Selain itu, tenggang waktu 2 tahun ini juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada organ-organ reproduksi maupun organ lainnya untuk beristirahat.

  1. Mobilisasi terbatas

Dalam waktu 24 jam, mobilisasi ibu pasca persalinan sesar mesti dilakukan secara lebih lama dan lebih bertahap. Tanpa itu, proses penyembuhan luka bisa mengalami gangguan. Ibu yang melahirkan normal, setelah 6 jam beristirahat hanya perlu tahapan singkat mobilisasi. Setelah itu, ibu dapat langsung beraktivitas seperti biasa.

  1. Latihan pernapasan dan batuk

Latihan pernapasan dan batuk bagi ibu sesar dimaksudkan untuk membantu mengeluarkan sisa-sisa anestesi. Tujuannya agar paru-paru benar-benar bersih dan terhindar dari risiko pneumonia. Ibu bersalin normal tidak perlu susah-susah melakukan latihan napas dan batuk. Cukup lakukan senam ringan yang akan membantu proses pemulihan.

  1. Dibatasi 3 anak

Ibu hamil yang sudah menjalani 3x operasi sesar mau tidak mau harus bersedia disteril. Ini adalah standar medis di Indonesia guna menghindari hal-hal yang sangat membahayakan ibu maupun janinnya. Juga karena memang belum ada RS yang menyediakan teknologi mutakhir untuk melakukan operasi sesar ke empat kalinya pada ibu yang sama. Pada ibu yang melakukan persalinan normal, setelah bersalin anak ketiga, jika masih berencana ingin punya anak keempat dan seterusnya boleh-boleh saja. Dengan catatan ibu mampu lahir dan batin.

  1. Pantangan-pantangan

Meski tergantung pada jenis anastesi yang digunakan, kemungkinan besar sehabis disesar ibu tidak boleh langsung minum sampai mendapat izin dari dokter. Ibu sesar juga mesti mengalami pemasangan kateter sebelum operasi dimulai yang dilepas setelah 24 jam. Biasanya setelah kateter dilepas, ibu sulit buang air kecil.

Pada ibu yang melahirkan secara normal, minum dan makan bisa dilakukan kapan saja setelahnya. Selain itu, tidak ada proses pemasangan kateter dan buang air kecil atau buang air besar bisa dilakukan langsung secara normal. Setelah operasi ibu yang bersalin sesar juga harus rela badannya ditusuk jarum infus yang tidak akan dirasakan oleh ibu yang bersalin normal.

2.5.6.      Perawatan Bedah Kebidanan

2.5.6.1.     Tujuan dilakukan perawatan

Dilakukan untuk menetapkan strategi  yang sesuai dengan kebutuhan individu selama periode perioperatif sehingga klien memperoleh kemudahan sejak datang sampai klien sehat kembali.

2.5.6.2.     Periode perioperatif

Perioperatif terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

  1. Pre-operatif (sebelum)
  2. Intra-operatif (selama)
  3. Post-operatif  (sesudah)

2.5.6.2.1.      PRE-OPERATIF

Perawatan pre operatif  merupakan  tahap pertama dari  perawatan perioperatif  yang dimulai   sejak   pasien   diterima  masuk   di   ruang   terima   pasien   dan   berakhir   ketika   pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.

Persiapan   pembedahan   dapat   dibagi   menjadi   2   bagian,   yang   meliputi   persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).

1. Persiapan psikologi

Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena:

  1. Takut akan perasaan sakit, narkosa atau hasilnya
  1. Keadaan social ekonomi keluarga

Penyuluhan  merupakan   fungsi   penting   dari   perawat   pada   fase   pra   bedah   dan   dapat mengurangi  cemas pasien.  Hal-hal  dibawah  ini  penyuluhan yang dapat  diberikan kepada pasien pra bedah:

  1. Penjelasan tentang peristiwa

1)      Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).

2)      Hal-hal yang rutin sebelum operasi.

3)      Alat-alat khusus yang diperlukan

4)      Pengiriman ke ruang bedah.

5)      Ruang pemulihan.

  1. Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :

a)      Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.

b)      Perlu kebebasan saluran nafas.

c)      Antisipasi pengobatan.

-        Bernafas dalam dan latihan batuk

-        Latihan kaki

-        Mobilitas

-        Membantu kenyamanan

2. Persiapan fisiologi

  1. Diet
    1. Persiapan Perut

Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.

Maksud dari pemberian lavement antara lain :

-     Mencegah cidera kolon

-     Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.

-     Mencegah konstipasi.

-     Mencegah infeksi.

a)    Persiapan Kulit

Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi.  Rambut  pubis dicukur  bila perlu saja,   lemak dan kotoran harus   terbebas   dari   daerah   kulit   yang   akan   dioperasi.   Luas   daerah   yang   dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.

b)   Hasil Pemeriksaan

Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.

c)    Persetujuan Operasi / Informed Consent

Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat. Pada   kasus   gawat   darurat   ahli   bedah mempunyai  wewenang   untuk  melaksanakan operasi  tanpa surat  izin tertulis dari  pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak  dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.

3. Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima dengan perawat OK)

  1. Mencegah cidera

Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini :

-        Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).

-        Cek gelang identitas / identifikasi pasien.

-        Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.

-        Lepas perhiasan

-        Bersihkan cat kuku.

-        Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.

-        Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.

-        Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada gangguan pendengaran.

-        Kaus   kaki   anti   emboli   perlu   dipasang   pada   pasien   yang   beresiko terhadap tromboplebitis.

-        Kandung kencing harus sudah kosong.

-        Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi ;

a)      Catatan tentang persiapan kulit.

b)      Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).

c)      Pemberian premedikasi.

d)     Pengobatan rutin.

e)      Data antropometri (BB, TB)

f)       Informed Consent

g)      Pemeriksan laboratorium.

  1. Pemberian obat premedikasi

Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi kecemasan,  memperlancar  induksi dan untuk pengelolaan anaesthesi.  Sedative biasanya diberikan pada malam menjelang operasi agar pasien tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas.

  1. Latihan Pra Operasi

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondsi pasca operasi, seperti : nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain latihan nafas dalam, latiihan batuk efektif dan latihan gerak sendi.

a) Latihan Nafas Dalam dan Batuk Efektif

Pengertian       : Suatu tindakan pendidikan kesehatan yang diajarkan pada klien sebelum operasi

Tujuan        :

(a) Mencegah terjadinya komplikasi paru-paru akibat pembedahan

(b) Membantu paru-paru berkembang dan mencegah terjadinya akumulasi sekresi yang terjadi setelah anestesi

Prosedur     :

-       Tidur dengan posisi semi fowler atau fowler penuh dengan lutut fleksi, abdomen relaks dan dada ekspansi penuh.

-        Letakkan tangan diatas perut

-        Bernafas pelan melalui hidung dengan membiarkan dada ekspansi dan rasakan perut mengempis dengan tangan yang ada diatasnya

-        Tahan nafas selama 3 detik

-        Keluarkan nafas melalui bibir yang terbuka sedikit secara pelan-pelan (abdomen/perut kontraksi dengan inspirasi)

-        Tarik dan keluarkan nafas 3x, kemudian setelah inspirasi diikuti dengan batuk yang kuat /keras untuk mengeluarkan secret

-        Istirahat

-        Ulangi tahap 3 sampai tahap 7

(b).  Latihan Kaki

Pengertian              : Suatu tindakan latihan persiapan fisik yang diajarkan ke pasien pada saat periode sebelum operasi (pre operasi).

Tujuan                    :

-           Memperlancar peredaran darah

-           Mencegah vena statis

-           Mempertahankan tonus otot

Prosedur :

Ajarkan pada pasien tiga bentuk latihan yang berisi tentang kontraksi dan relaksasi otot quadriceps (vastus intermedius, vastus lateralis, rectus femoris dan vastus medialis) dan otot gastroknemius.

-          Lakukan dorsifikasi dan flantar fleksi pada kaki. Latihan kadang-kadang diberiakan seperti dalam keadaan memompa. Gerakan ini akan membuat kontrksi dan relaksasi pada otot betis. Latihan kaki menolong mencegah terjadinya thrombophlebitis dan vena statis.

-          (b) Fleksi dan ekstensi pada lutut dan penekanan kembali lutut kedalam bed. Instruksikan pasien untuk memulai latihan segera setelah operasi sesuai dengan kemampuannya.

-          Naikkan dan turunkan kaki dari permukaan bed. Ekstensikan lutut untuk menggerakan kaki. Latihan ini menimbulkan kontraksi dan relaksasi otot quadriceps. Awasi pasien dalam melakukan latihan kurang lebih satu jam setiap bangun tidur, dengan catatan frekuensi latihan tergantung kondisi pasien. Jelaskan pada pasien bahwa dengan kontraksi otot akan memperlancar peredaran darah.

c) Latihan Gerak Sendi

Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasien

Keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus.

Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.

Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukungh dan mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usispenuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan operasi.

2.5.6.2.2.      INTRA-OPERATIF

Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.

1. Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operatif

Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :

  1. Anggota steril

-     Ahli bedah utama / operator

-     Asisten ahli bedah.

-     Scrub Nurse / Perawat Instrumen

  1. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :

-     Ahli atau pelaksana anaesthesi.

-     Perawat sirkulasi

-     Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).

2. Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.

a)    Persiapan Psikologis Pasien

b)   Pengaturan Posisi

Posisi  diberikan perawat   akan mempengaruhi   rasa nyaman pasien dan  keadaan psikologis pasien. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :

1)   Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

2)   Umur dan ukuran tubuh pasien.

3)   Tipe anaesthesia yang digunakan.

4)   Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :

  1. Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.
  2. Sedapat mungkin  jaga privasi  pasien,  buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan duk.
  3. Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya   dililitkan   diatas   lutut.   Saraf,   otot   dan   tulang   dilindungi   untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
  4. Jaga   pernafasan   dan   sirkulasi   vaskuler   pasien   tetap   adekuat,   untuk meyakinkan terjadinya pertukaran udara.
  5. Hindari   tekanan pada dada atau bagain  tubuh  tertentu,  karena  tekanan dapat  menyebabkan   perlambatan   sirkulasi   darah   yang  merupakan   faktor predisposisi terjadinya thrombus.
  6. Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.
  7. Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.
  8. Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan.
  9. Untuk   posisi   litotomi,   naikkan   dan   turunkan   kedua   ekstremitas bawah secara bersamaan untuk menjaga agar lutut tidak mengalami dislokasi.

-        Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.

-        Penutupan Daerah Steril

-        Mempertahankan Surgical Asepsis

-        Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh

-        Monitor dari Malignant Hyperthermia

-        Penutupan luka pembedahan

-        Perawatan Drainase

-        Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.

  1. 3.        Komplikasi Intra Operatif

Komplikasi selama operasi bisa muncul sewaktu-waktu selama tindakan pembedahan. Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan hipertermi maligna.

1) Hipotensi

Hipotensi yeng terjadi selama pembedahan, biasanya dilakukan dengan pemberian obat-obatan tertentu (hipotensi di induksi). Hipotensi ini memang diinginkan untuk menurunkan tekanan darah pasien dengan tujuan untuk menurunkan jumlah perdarahan pada bagian yang dioperasi, sehingga menungkinkan operasi lebih cepat dilakukan dengan jumlah perdarahan yang sedikit. Hipotensi yang disengaja ini biasanya dilakukan melalui inhalasi atau suntikan medikasi yang mempengaruhi sistem saraf simpatis dan otot polos perifer.

Agen anastetik inhalasi yang biasa digunakan adalah halotan.
Oleh karena adanya hipotensi diinduksi ini, maka perlu kewaspadaan perawat untuk selalu memantau kondisi fisiologis pasien, terutama fungsi kardiovaskulernya agar hipotensi yang tidak diinginkan tidak muncul, dan bila muncul hipotensi yang sifatnya malhipotensi bisa segera ditangani dengan penanganan yang adekuat.

2) Hipotermi

Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh dibawah 36,6 oC (normotermi : 36,6 37,5 oC). Hipotermi yang tidak diinginkan mungkin saja dialami pasien sebagai akibat suhu rendah di kamar operasi (25 oC,  26,6 oC), infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas dingin, kavitas atau luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia lanjut atau obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anastetik umum, dan lain-lain).

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari hipotermi yang tidak diinginkan adalah atur suhu ruangan kamar operasi pada suhu ideal (25 26,6 oC) jangan lebih rendah dari suhu tersebut, caiaran intravena dan irigasi dibuat pada suhu 37 oC, gaun operasi pasien dan selimut yang basah harus segera diganti dengan gaun dan selimut yang kering. Penggunaann topi operasi juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotermi. Penatalaksanaan pencegahan hipotermi ini dilakukan tidak hanya pada saat periode intra operatif saja, namun juga sampai saat pasca operatif.

3) Hipertermi Malignan

Hipertermi malignan sering kali terjadi pada pasien yang dioperasi. Angka mortalitasnya sangat tinggi lebih dari 50%. Sehingga diperlukan penatalaksanaan yang adekuat. Hipertermi malignan terjadi akibat gangguan otot yang disebabkan oleh agen anastetik. Selama anastesi, agen anastesi inhalasi (halotan, enfluran) dan relaksan otot (suksinilkolin) dapat memicu terjadinya hipertermi malignan.

Ketika diinduksi agen anastetik, kalsium di dalam kantong sarkoplasma akan dilepaskan ke membran luar yang akan menyebabkan terjadinya kontraksi. Secara normal, tubuh akan melakukan mekanisme pemompaan untuk mengembalikan kalsium ke dalam kantong sarkoplasma. Sehingga otot-otot akan kembali relaksasi. Namun pada orang dengan hipertermi malignan, mekanisme ini tidak terjadi sehingga otot akan terus berkontraksi dan tubuh akan mengalami hipermetabolisme. Akibatnya akan terjadi hipertermi malignan dan kerusakan sistem saraf pusat.

Untuk menghindari mortalitas, maka segera diberikan oksigen 100%, natrium dantrolen, natrium bikarbonat dan agen relaksan otot. lakukan juga monitoring terhadap kondisi pasien meliputi tanda-tanda vital, EKG, elektrolit dan analisa gas darah

2.5.6.2.3. POST-OPERATIF

Perawatan   post   operasi  merupakan   tahap   lanjutan   dari   perawatan   pre   dan   intra  operatif yang dimulai  saat klien diterima di  ruang pemulihan /  pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya

Periode segera sesudah anaesthesi adalah gawat. Pasien harus diamati dengan jeli dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis yang intensif sampai pengaruh utama dari anaesthesi mulai berkurang dan kondisi umum mulai stabil. Banyaknya  asuhan   yang   dilaksanakan   segera   setelah   periode   pasca anaesthesi   tergantung   kepada   prosedur   bedah   yang   dilakukan.

1. Hal-hal   yang   harus diperhatikan meliputi :

  1. Mempertahankan ventilasi pulmonary

-     Berikan   posisi   miring   atau   setengah   telungkup   dengan   kepala   tengadah kebelakang   dan   rahang   didorong   ke   depan   pada   pasien   sampai   reflek-reflek pelindung pulih.

-     Saluran nafas buatan. Saluran   nafas   pada   orofaring   biasanya   terpasang   terus   setelah   pemberian anaesthesi umum untuk mempertahankan saluran tetap terbuka dan lidah kedepan sampai reflek faring pulih. Bila pasien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak dan lendir harus dibantu dengan suction.

-     Terapi oksigen

O2 sering diberikan pada pasca operasi, karena obat anaesthesi dapat menyebabkan lyphokhemia.   Selain   pemberian  O2  harus   diberikan   latihan   nafas   dalam  setelah pasien sadar.

  1. Mempertahankan sirkulasi

Hipotensi dan aritmia adalah merupakan komplikasi kardiovaskuler yang paling sering terjadi pada pasien post anaesthesi. Pemantauan tanda vital dilakukan tiap 15 menit sekali selama pasien berada di ruang pemulihan.

  1. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Pemberian   infus  merupakan   usaha   pertama   untuk  mempertahankan   keseimbangan cairan dan elektrolit. Monitor cairan per  infus sangat  penting untuk mengetahui  kecukupan pengganti  dan pencegah kelebihan cairan. Begitu pula cairan yang keluar juga harus dimonitor.

  1. Mempertahankan keamanan dan kenyamanan

Pasien post  operasi  atau post  anaesthesi   sebaiknya pada  tempat   tidurnya dipasang pengaman  sampai  pasien  sadar  betul.  Posisi  pasien  sering diubah untuk mencegah kerusakan saraf akibat tekanan kepada saraf otot dan persendian. Obat analgesik dapat diberikan pada pasien yang kesakitan dan gelisah sesuai dengan program dokter. Pada pasien yang mulai  sadar,  memerlukan orientasi  dan merupakan tunjangan agar tidak merasa sendirian. Pasien harus diberi penjelasan bahwa operasi sudah selesai dan diberitahu apa yang sedang dilakukan.

2. Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan/Recovery   Room

Uraian diatas telah membahas tentang hal yang diperhatikan pada pasien post anaesthesi. Untuk  lebih  jelasnya maka dibawah  ini  adalah petunjuk perawatan/ observasi  diruang pemulihan:

  1. Posisi   kepala   pasien   lebih   rendah   dan   kepala   dimiringkan   pada   pasien   dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.
  2. Pasang pengaman pada tempat tidur.
  3. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.
  4. Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.
  5. Beri O2 2,3 liter sesuai program.
  6. Observasi adanya muntah.
  7. Catat intake dan out put cairan.
  1. Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis:

-  Tekanan sistolik <  90 –100 mmHg atau > 150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg.

-  HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit

-  Suhu > 38,3° C atau kurang dari 35° C.

-  Meningkatnya kegelisahan  pasien

-  Tidak BAK + 8 jam post operasi.

3. Pengeluaran dari ruang pemulihan / Recovery Room

Kriteria umum yang digunakan dalam mengevaluasi pasien :

  1. Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.
  2. Tanda-tanda vital harus stabil.
  3. Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.
  4. Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.
  5. Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna.
  6. Urine yang keluar  harus adekuat   (  1cc/  Kg/jam).   Jumlahnya harus dicatat  dan dilaporkan.
  7. Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.
  8. Jika   keadaan   pasien  membaik,   pernyataan   persetujuan   harus   dibuat   untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
  9. Staf   dari   unit   dimana   pasien   harus   dipindahkan,   perlu   diingatkan   untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.

4. Pengangkutan Pasien keruangan

Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain:

-     Keadaan penderita serta order dokter.

-     Usahakan pasien jangan sampai kedinginan.

-     Kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk menjaga bila muntah sewaktu-waktu dan  muka   pasien   harus   terlihat   sehingga   bila   ada   perubahan sewaktu-waktu terlihat.

2.6.      Nifas

2.6.1   Pengertian

Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosastro, 2007: 237)

Masa nifas didefinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara populer diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal (Cunningham, 2006 : 443)

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa pulihnya kembali alat-alat kandungan yang lamanya 6 minggu setelah persalinan.

2.6.2    Periode Masa Nifas

2.6.2.1 Puerperium Dini

Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2.6.2.2 Puerperium Intermedial

Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetilia yang lamanya 6-8 minggu. 2.6.2.3 Remote Puerperium

Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulan atau tahunan. (Mochtar, 1998) 2.6.3    Perubahan Fisiologi Masa Nifas

  1. Uterus

Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000 gram. Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. Dengan berat uterus 700 gram. Pada hari kelima pasca persalinan uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau pertengahan simfisis pusat dengan berat 500 gram, sesudah 2 minggu kemudian tinggi fundus tidak teraba lagi dengan berat 300 gram dan setelah 6 minggu kemudian bertambah kecil dengan berat 50 gram dan 8 minggu tinggi fundus uteri normal dengan berat 30 gram.

  1. Bagian bekas implantasi plasenta

Bagian bekas implantasi plasenta menjadi mengecil karena kontraksi dan menonjol ke dalam cavum uteri yang berdiameter 7,5 cm, sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke 6 berdiameter 2,4 cm dan akhirnya pulih.

  1. Involusi uterus dan pengeluaran lochea,

Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 30 gram. Proses preteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan.

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalan nifas, lochea mempunyai reaksi basalalkalis yang dapat membuat organisme berkembangan lebih cepat dari pada kondisi asam pada vagina normal. Lochea mengalami perubahan karena proses involusi. Lochea terdiri dari :

-       Lochea Rubra

Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, Verniks kaseosa, lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.

-       Lochea Sanguinolenta.

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir , pada hari ke 3-7 pasca persalinan.

-       Lochea Serosa

Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 pasca persalinan.

-       Lochea Alba

Cairan putih setelah 2 minggu post partum.

  1. Serviks

Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah dua jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari.

  1. Ligamen-ligamen

Ligamen fasia dan diafragma, perivis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke 2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah 3 minggu.

  1. Laktasi

Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan, umumnya produksi air susu ibu/ASI baru terjadi kedua atau ketiga pasca persalinan, pada hari pertama banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. (Mansjoer Arip, 2007: 316).

2.6.4    Perubahan Psikologi Masa Nifas

Reva Rubin membagi periode postpartum menjadi tiga fase (Pilitteri, 2003), yaitu :

1). Taking-In Phase (dependent phase)

Fase ini merupakan fase refleksi. Berlangsung selama satu atau dua hari setelah melahirkan. Pada masa ini ibu sangat tergantung dan pasif. Ibu masih ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dan masih berfokus pada kebutuhan dirinya sendiri, membutuhkan banyak istirahat dan makan. Pada masa ini ibu masih terkenang pengalamannya saat persalinan. Pada masa ini ibu semakin cemas jika dirinya tidak mampu merawat bayi dan tidak mampu menyusui dengan baik, tidak dilakukannya inisiasi menyusu dini dapat memperburuk kondisi menyusui ibu sehingga pengeluaran ASI menjadi terhambat (Komara, 2008).

2). Taking-Hold Phase (dependent-independent phase)

Berlangsung pada hari kedua atau ketiga postpartum hingga 10 hari postpartum. Ibu pada fase ini sudah mulai mandiri, memiliki keinginan yang kuat untuk terlibat dalam perawatan bayinya. Walaupun sudah mulai mandiri, tetapi masih memiliki rasa kekhawatiran tentang kemampuannya dalam merawat bayinya. Fase ini merup fase yang paling tepat untuk diberikan pendidikan kesehatan pada ibu postpartum. Pendidikan kesehatan tentang ASI dengan segala keuntungannya dapat diulang kembali pada masa ini selain pada masa prenatal, karena pada masa ini ibu sangat siap menerima informasi.

3). Letting-Go Phase (interdependent phase)

Ibu menerima peran dan tanggung jawab yang baru. Kemandirian dalam  perawatan diri dan bayinya semakin meningkat. Menyadari bahwa dirinya terpisah dari bayinya. Penyesuaian hubungan keluarga dalam menerima kehadiran bayinya, dengan kemandirian ini ibu berusaha memberikan yang terbaik untuk bayinya, termasuk bagaimana memenuhi gizi bayinya dengan hanya memberikan makanan terbaik yaitu ASI.

2.6.5.   Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari asuhan masa nifas adalah sebagai berikut :

  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
  2. Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
  3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
  4. Memberikan pelayanan Keluarga Berencana. (Saifuddin, 2006: 122)

2.6.6   Perawatan Masa Nifas

Kini perawatan masa nifas aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini. Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan :

  1. Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas.
  2. Mempercepat involusi alat kandungan.
  3. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
  4. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat pengeluaran ASI dan sisa-sisa metabolisme. (Manuaba, 2001)

2.6.7   Program dan Kebijakan Teknis

Paling sedikit 3 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan untuk mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi. (Saifuddin, 2002).

2.6.7.1 Kunjungan I: 2-6 Jam Setelah Persalinan

  1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
  3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  4. Pemberian ASI awal.
  5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
  6. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
  7. 7.      Menilai kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri.

2.6.7.2 Kunjungan II : 6 Hari Setelah Persalinan

  1. Memastikan involusi dan uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
  2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal. 3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
  3. Memastikan ibu menyesuaikan dengan baik dan tidak memperhitungkan tanda­ tanda penyakit.
  4. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tall pusat dan menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

2.6.7.3 Kunjungan llI : 6 minggu Setelah Persalinan

  1. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami.
  2. Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Saifuddin, 2006: 23)

2.6.8   Gizi Ibu Nifas

Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan­makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan Yang banyak mengandung zat besi dan yang dapat merangsang produksi ASI (Arif Mansjoer, 2007). Pada ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup, minum sebanyak 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin. Minum kapsul vitamin A (200.000 IU) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Saifuddin, 2006).

2.7.            Bendungan Payudara

2.7.1.      Definisi

Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan overdistensi dari saluran system laktasi.

2.7.2.      Penatalaksanaan

-          Susui bayi sesering mungkin dengan kedua payudara secara bergantian.

-          Kompres hangat payudara sebelum disusukan.

-          Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui.

-          Lakukan pengurutan mulai dari pangkal kearah puting.

-          Keluarkan ASI dengan pompa atau manual dengan tangan bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi

-          Sangga payudara dengan baik

-          Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui.

-          Masasse pada punggung untuk merangsang pengeluaran oksitosin agar ASI dapat menetes keluar (reflex oksitosin). Pijat oksitosin memberikan banyak manfaat dalam proses menyusui, manfaat yang dilaporkan adalah selain mengurangi stress pada ibu nifas dan mengurangi nyeri pada tulang belakang juga dapat merangsang kerja hormon oksitosin (Biancuzzzo, 2000).

-          Bila diperlukan, berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

-          Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengetahui hasilnya.

2.7.3.      Tehnik Menyusui yang Benar

Bayi harus memasukkan seluruh puting susu sampai daerah areola mammae kedalam mulutnya sehingga dapat menggunakan rahang untuk menekan daerah belakang puting susu (kantong penyimpanan susu).

Ibu mengambil posisi duduk, punggung ibu bersandar, kaki depan diangkat dan diluruskan kedepan sejajar dengan bokong atau kebawah tetapi harus diberi penyangga (jangan menggantung), bayi tidur di pangkuan ibu dengan dialasi bantal sehingga perut ibu bersentuhan / berhadapan dengan bayi. Leher bayi harus dalam posisi tidak terpelintir. Posisi menyusui cara lain adalah ibu tidur miring dengan bantal agak tinggi dan lengan tangan menopang kepala bayi. Posisi perut bayi dan perut ibu sama dengan pada posisi duduk. Siku bayi harus sejajar dengan telinga bayi bila ditarik garis lurus.

Bila mengambil posisi telungkup diatas meja, bayi ditidurkan di meja dengan kepala bayi mengarah ke payudara ibu. Posisi ini akan menguntungkan bayi kembar karena kedua bayi memperoleh kesempatan yang sama tanpa harus dibedakan. Segera setelah persalinan posisi menyusu yang terbaik untuk bayi adalah ditelungkupkan di perut ibu bersentuhan dengan kulit bayi sebagai proses penghangat untuk bayi dan sekaligus bayi dapat menghisap puting susu ibu.

 

2.8.            Bayi Baru Lahir

2.8.1    Pengertian

Bayi baru lahir adalah bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, langsung menangis kuat, seluruh tubuh kemerahan, pergerakan aktif dan denyut jantung 120-140 x/menit. (Prawirohardjo, 2007)

2.8.2   Tujuan Penanganan Bayi Baru Lahir

Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah membersihkan jalan nafas, memotong dan merawat tali pusat, mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, pencegahan infeksi. (Saifuddin, 2006 : 133)

2.8.3   Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

1. Gangguan Metabolisme Karbohidrat

Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonates pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolism asam lemaksehingga kadar gula dalam darah mencapai 120 mg/100 ml. bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguanpada metabolism asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonates, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemia.

  1. Gangguan Umum

Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 25 oC maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2 oC dalam waktu 15 menit. Kehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (mengeringkan, membungkus badan dan kepala dan kemudian diletakkan di tempat yang hangat seperti pangkuan ibu, dibawah sorotanlampu, incubator ,dll). Suhu lingkungan yang tidak baik akan menyebabkan bayi menderita hipothermi, hipertermi, dan trauma dingin (cold injury).

  1. Perubahan Sistem Pernafasan

Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernafasan timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor carotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen, rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didalam uterus dan diluar uterus.

Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 100 ml cairan, kehilangan ½ dari cairan ini. Sesudah bayi lahir, cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula.

4. Perubahan Sistem Sirkulasi

Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida menurun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga aliran darah kea lat tersebut meningkat.

5. Perubahan Lain

Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai berfungsi.

2.8.3.1 Pernapasan dan Peredaran Darah

Pernapasan pertama pada bayi baru lahir normal terjadi pada waktu 30 detik setelah lahir. Pada menit pertama ± 80 x/menit disertai pernapasan cuping hidung dan rintihan berlangsung 10-15 menit. Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan 02 dalam alveoli meningkat dan COZ menurun, hal ini menyebabkan aliran darah ketuban meningkatkan dan feramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang kembali menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu. Makin lama makin menurun dan pada menit ke 30 menjadi 140-120 x/menit.

2.8.3.2 Suhu

Pada saat bayi berada pada suhu lebih rendah daripada dalam kandungan dan dalam keadaan hypotermi. Ini dapat menyebabkan hypoglikemi, maka perlu mempertahankan tubuh supaya suhu berada pada 36° C – 37° C.

2.8.3.3 Kulit

Terdapat Verniks caseosa yaitu lemak putih yang melekat pada tubuh bayi baru lahir. Mungkin bercampur cairan amnion, darah, faeces, mekonium. 2.4.3.4 Faeces

Faeces berbentuk mekonium yaitu seperti ter hitam pekat yang telah berada dalam saluran pernapasan sejak janin 16 minggu. Mulai keluar dalam 24 jam pertama lalu sampai 2-3 hari, selanjutnya hari ke 4-5 berwarna coklat kehijauan, kemudian kuning, lembek setelah minum ASI.

2.8.3.4 Tali Pusat

Pemotong tali pusat merupakan pemisahan antara kehidupan bayi dan ibu. Tali pusat biasanya lepas pada 10-14 hari setelah lahir.

2.8.3.5 Refleks

Bayi yang dilahirkan mempunyai sejumlah refleks. Hal ini merupakan dasar bayi dasar bagi untuk mengadakan reaksi dan tindakan aktif. Reaksi sementara akan menghilang setelah umur 4-6 bulan. Macam-macam refleks pada bayi baru lahir adalah :

Reflek moro : Reflek peluk, reflek terkejut. Anak mengembangkan tangan ke samping lebar-lebar, melebarkan jari jari, lalu mengembalikan dengan tarikan cepat seakan memeluk seorang.
Reflek tonic neck : Refleks otot leher, anak akan mengangkat leher dan menoleh ke kanan, ke kiri jika ditemukan posisi tengkurap.
Reflek rooting : Mencengkram timbul karena stimulasi taktil pada pipi dan daerah mulut, anak bereaksi memutar kepala seakan-akan mencari puting susu.
Reflek sucking : Menghisap dan menelan (reflek oral). Timbul bersama-sama dengan rangsangan pip] untuk menghisap puting susu dan menelan ASI.
Reflek grasping : Bila ada rangsangan di telapak tangan, anak akan menggenggam.
Reflek babinsky : Rangsangan pada telapak kaki, ibu jari akan bergerak ke atas dan jari jari membuka.
Reflek walking Melangkah, jika bayi dibuat posisi berdiri akan ada gerakan spontan melangkah ke depan walau belum bisa berjalan.

2.8.3.6 Berat Badan

Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari. Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan air kencing dan meconium. Sedangkan cairan yang masuk belum cukup, dan pada hari ke 4 berat bada akan naik lagi. Kehilangan berat badan dalam ± 7% dari berat badan awal dan tidak melebihi 10% dari berat badan lahir. Hal ini dinamakan penurunan berat badan fisiologis. (Cunningham, 2006)

2.8.4    Tujuan Asuhan Bayi Baru Lahir

2.8.4.1 Tujuan Bayi Baru Lahir 1 Jam Pertama

Tujuan utama perawatan bayi segera setelah lahir adalah :

  1. Jaga kehangatan.
  2. Bersihkan jalan nafas (bila perlu).
  3. Keringkan dan tetap jaga kehangatan.
  4. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir.
    1. Lakukan inisiasi menyusu dini dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
    2. Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata.
    3. Beri suntikan Vitamin K 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah inisiasi menyusu dini.
    4. Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan anterolateral kira­kira setengah jam setelah pemberian Vitamin K,. (Wiknjosastro, 2008 : 123)

2.8.4.2 Tujuan Bayi Baru Lahir 1-24 Jam Pertama

Tujuannya untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah bayi baru lahir yang memerlukan keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.

  1. Pertahankan suhu tubuh bayi.
  2. Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  3. Lakukan perawatan tali pusat.
  4. Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi dan informasikan tanda bahaya pada bayi. (Saifuddin, 2006)
  5. Memandikan bayi

Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (suhu aksila antara 36,5 – 37,5° C). (Depkes RI, 2008)

2.8.4.3 Pencegahan Infeksi pada Mata Bayi

Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (Penyakit Menular Seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. (Saifuddin, 2006)

2.8.4.4 Profilaksis Pendarahan Bayi Baru Lahir

Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K injeksi l mg intramuskuler di paha kiRI sesegera mungkin untuk mencegah pendarahan bayi baru lahir akibat defisiensi Vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. (Depkes RI, 2008)

2.8.6. Keuntungan Rawat Gabung dan Pemberian ASI

2.8.6.1. Bagi Bayi

1)   Kolostrum ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi diare karena mengandung anti bodi

2)   Dalam tenggang waktu 3-6 bulan ASI sudah cukup untuk tumbuh kembang bayi dengan baik

3)   ASI merupakan makanan utama bayi dan telah siap setaiap saat dalam keadaan steril dan mudah dicerna

2.8.6.2. Bagi Ibu

1)   Pemberian ASI dapat mempercepat involusi uteri

2)   Pemberian ASI dapat bersifat sebegai alat kontrasepsi sampai waktu 3 bulan, karena ASI mengandung Hormone Prolaktin yang menghambat terjadinya pembuahan. Memperkecil kejadian keganasan payudara pada ibu menyusui karena ASI diberikan pada bayi sehingga tidak terjadi bendungan ASI yang dapat berlanjut pada kanker.

2.8.7.   ASI Eksklusif

2.8.7.1.Pengertian

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi baru lahir sampai 6 bulan tanpa diselingi dengan makanan pendamping ASI. (Depkes RI, 2003) 2.8.7.2.Keuntungan ASI

  1. Praktis, tidak perlu dibuat.
  2. Ekonomis, tidak perlu membeli.
  3. Mengandung semua zat gizi.
  4. Mengandung berbagai antibodi.
  5. Selalu bersedia dalam suhu yang ideal.
  6. Selalu segar, bebas dari kuman.
  7. Membina hubungan yang baik antara ibu dan bayi.

2.8.7.3.Alasan Mengapa ASI Diberikan Sedini Mungkin

-        Memberikan kepuasan dan ketenangan.

-        Hisapan bayi mempercepat involusi uterus.

-        Hisapan bayi memperlancar produksi ASI.

2.8.7.4.Tips Agar ASI Tetap Banyak

  1. Mulai menyusui segera setelah bayi lahir.
  2. Tidak menyelingi dengan makanan lain atau susu botol selama bayi berusia 0-6 bulan.
  3. Bersikap tenang dan percaya diri agar hormon perangsang ASI bisa bekerja.
  4. Menyusui dengan teknik dan posisi yang benar.
  5. Menyusui bayi sampai payudara kosong.
  6. Makan dan minum yang cukup terutama makan sayuran yang berwarna hijau tua.
  7. Istirahat yang cukup. (Depkes RI, 2003).

2.8.8    Imunisasi

2.8.8.1 Pengertian

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

2.8.8.2 Vaksin

Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya : vaksin BCG, Hepatitis, DPT dan Campak), dan melalui mulut (misalnya : vaksin Polio).

2.8.8.3 Tujuan Imunisasi

Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

2.8.8.4 Jenis-jenis Imunisasi Dasar

  1. 1.      Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG 1 kali, pemberiannya melalui intracutan. Efek samping pemberian dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan, limfadentis regional dan reaksi panas, sedangkan dosis pemberiannya 0,05 ml.

  1. 2.      Imunisasi Hepatitis B

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. Kandungan vaksin ini adalah HBsAg dalam bentuk cair. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml (1 buah), pemberian secara intramusculer pada daerah anterolateral paha, dan diberikan pada bayi usia 0-7 hari. Efek sampingnya adalah rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.

  1. 3.      Imunisasi Polio

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus (strain sabin) yang sudah dilemahkan. Diberikan secara oral, I dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.

  1. 4.      Imunisasi DPT/HB

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Vaksin DPT/HB mengandung toxoid difteri, toxoid tetanus yang telah dihilangkan sifat racunnya (dimurnikan) dan pertusis yang inactifasi namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid) dan vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg mumi dan bersifat noninfecsius. Cara pemberian intramusculer dengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali, dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Efek sampingnya adalah gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, pembengkakan dan kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala demam tinggi, iritabilitas terjadi 24 jam setelah imunisasi, reaksi ringan hilang setelah 2 hari.

  1. 5.      Imunisasi Campak

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak. Kandungan vaksin Campak merupakan virus hidup yang dilemahkan.

Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas pada usia 9-11 bulan. Efek sampingnya adalah demam ringan dan kemerahan pada daerah penyuntikan. (Depkes RI, 2006).

2.9.            Keluarga Berencana

2.9.1.   Pengertian

Keluarga Berencan (KB) adalah suatu usaha untuk menjarangkan kehamilan atau merencanakan jumlah da jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat secara mekanis, menggunakan obat, alat, atau dengan operasi.

2.9.2    Tujuan

A. Menunda Kehamilan

Dianjurkan pada pasangan dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Kontrasepsi yang sesuai pil, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mini, cara sederhana.

Alasannya :

-       Prioritas dibawah 20 tahun adalah usia dimana sebaiknya tidak mempunyai anak dulu

-       Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil Oral karena peserta masih muda

-       Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan sehingga akan mempunyai angka kegagalan yang tiggi.

B. Menjarangkan Kehamilan (Mengatur Kesuburan)

Dianjurkan pada istri berusia 20-30 tahun adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak denga jarak kelahiran 3-4 tahun. Kontrasepsi yang sesuai : AKDR, Pil, Suntik, cara sederhana, Susuk KB, Kontrasepsi mantap.

Alasannya :

-       Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan

-       Segera setelah lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama

-       Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tiggi namun tidak kurang berbahaya karean akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.

C. Mengakhiri Kesuburan (tidak ingin hamil lagi)

Dianjurkan saat istri di atas 30 tahun, setelah mempunyai 2. Kontrasepsi yang sesuai : Kontrasepsi mantap (Tubektomi/Vasektomi), susuk, KB, AKDR, Suntik, Pil, Cara Sederhana

Alasannnya :

-       Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau tidak mempunyai anak lagi karena alasan medis

-       Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap

-       Pada kontrasepsi darurat, kontap cocok dipakau dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR

-       Pil kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek sampig dan komplikasi

2.9.3    Syarat-syarat Kontrasepsi

  1. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya
  2. Efek samping yang merugikan tidak ada
  3. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
  4. Tidak mengganggu persetubuhan
  5. Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol  yang ketat selama pemakaian
  6. Cara penggunaannya sederhana
  7. Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas
  8. Dapat diterima oleh pasangan suami istri

2.9.4    Tempat Pelayanan KB

  1. Posyandu
  2. Pos KB Desa
  3. Puskesmas
  4. TKBK (Tim KB Keliling)
  5. Rumah Sakit
  6. Dokter dan Bidan Praktek Swasta

2.9.5.   Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

AKDR adalah merupakan benda asing dalam rahim sehigga menimbulkan rekasi. Benda asing dengan timbunan lekosit, makrofag.

Pemadatan endometrium oleh lekosit, makrofag dan limfosit, menyebabkan balstosis mungkin dirusak oleh makrofag, dan blastosis tidak mampu nidasi.

I0N Cu dikeluarkan AKDR dengan cupper menyebabkan gangguan gerak spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melakukan konsepsi.

  1. Cara Kerja AKDR
  2. Menghamba kemampuan sperma untuk masuk ketuab falopii
  3. Mempengaruhi fertilitas sebelum ovulasi mencapaui kavum uteri
  4. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum tertentu, walaupun AKDR
  5. Membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
  6. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
  7. Keuntungan AKDR
  8. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
  9. AKDR, dapat efektif setelah pemasangan
  10. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan tidak perlu diganti)
  11. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat
  12. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
  13. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT AKDR (CuT 380).
  14. Tidak mempengaruhi dari volume ASI. Dapat dipasang segera setelah lahir atau sesudah abortus (bila tidak terjadi infeksi)
  15. Dapat digunakan sampai menopause
  16. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
  17. Membantu mencegah kehamilan ektopik
    1. Kerugian AKDR

Efek samping yang umum terjadi :

-       Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setela 3 bulan)

-       Haid lebih lama dan banyak

-       Perdarahan (spotting) antar menstruasi

-       Saat haid lebih sakit

Komplikasi lain :

-       Merasakaan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.

-       Perdarahan berat pada waktu haid diantaran yang memungkinkan penyebab anemi

-       Perporasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)

-       Tidak mencegah IMS termasuk HIV /AID

-       Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering bengantian pasangan

-       Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR.

-       Sering nyeri dan perdarahan

-       Klien tidak dapat melapas AKDR sendiri

-       Mengkin AKDR keluar dari uterus

-       Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik

-       Perempuan harus memeriksa posisin benang.

  1. Persyaratan Pemakaian

Yang menggunakan :

-     Usia reproduktif

-     Keadaan nulipara

-     Menginginkan kontrasepsi jangka panjang

-     Setelah mengalami abortus

-     Tidak menghendaki metode hormonal

-     Tidak mengehendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama

Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR

-       Sedang hamil

-       Perdarahan vagina  yang tidak diketahui penyebabna

-       Sedang menderita infeksi alat genetalia

-       Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus

-       Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak

-       Penyakit trofoblas yang ganas

-       Diketahui menderita TBC pelvic

-       Kanket alat genetalia

-       Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

  1. Persiapan pemasangan AKDR

Persiapan alat

-       Bivalve speculum-       Tenakulum-       Sonde uterus-       Tampon tang

-       Gunting benang

-       Mangkok berisi lauran anti septic

-          Duk-          Sarung tangan 2 pasang-          Lampu sorot-          Tempat sampah

-          IUD copper T 380 A

-          Kassa

  1. Langkah-langkah Pemasangan AKDR

1)      Lakukan anamnesa antara lain HPHT, lama haid, nyeri haid, anemia, riwayat infeksi system gentalai, kanker srvik

2)      Lakukan pemeriksaan fisik, palpasi daerah perut apakah ada nyeri, tumor.

3)      Kenaikan kain penutup pada klien untuk memeriksa panggul

4)      Atur peralatan dalam wadah steril atau DTT

5)      Pasang sarung tangan DTT

6)      Lakukan infeksi pada daerah gentalia eksterna

7)      Masukan speculum

8)      Lakukan pemeriksaan speculum apakah ada lesi atau keputihan dan infeksi daerah serviks

9)      Keluarkan speculum dengan hati-hati

10)  Lakukan pemeriksaan bimanual

11)  Lakukan pemeriksaan retrivaginal bila ada indikasi

12)  Celupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%

  1. Tindakan Pada Pemasangan

1)      Jelaskan apa yang mau dilakuan pada

2)      Masukan lengan AKDR Cu T 380 A didalam kemasan sterilnya

  1. Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat ke belakang
  2. Masukan pendorong kedalam tabung inserter
  3. Letakan kemasan ditempat yang datar
  4. Selipkan kerta pengukur dibawah lengan AKDR
  5. Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal
  6. Setelah lengan melipat meyentuh tabung inserter, tarik tabung inserter dari bawah ikatan lengan
  7. Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk memasukan lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut kedalam tabung inserter.
  8. Tindakan Pemasangan

1)      Pasanga sarung tangan yang baru

2)      Pasang speculum vagina untuk melihat srviks

3)      Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali

4)      Jepit serviks dengna tenakulum dengan hati-hati

5)      Masukan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh (no touch).

6)      Tentukan posisi dan kedalam uterus

7)      Keluarkan sonde dan ukur kedalam kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung inserter kemudian buka semua plastik penutup kemasan

8)      Keluarkan inserter dari tempat kemasan

9)      Pegang tabung AKDR dengan posisi leher biru dalam keadaan horizontal kemudian masukan tabung inserter kedalam uterus sampai leher biru menyentuh serviks

10)  Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu lengan

11)  Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawel

12)  Keluarkan pendorong kemudian tabung inserter didorong kembali ke seriks sampai leher biru menyentuh serviks terasa ada tahanan.

13)  Keluarkan selurh tabung inserter

14)  Lepaskan tenakulum dengan hati-hati

15)  Periksa serviks bila ada perdarahan dari tempat belas tenakulum, tekan dengan kasa

16)  Keluarkanlah speculum dengan hati-hati.

  1. Konseling Pasca Pemasangan

1)      Ajarakan pada ibu bagaimana cara memeriksa benang AKDR

2)      Jelaskan pada ibu apa yang harus dilkukanbila ada efek samping

3)      Jelaskan pada ibu bahwa AKDR bisa dilepas setiap saat bilan diinginkan

4)      Amati klien kurang lebih selama 15 menit sebelum dipulangkan.

2.10.        Manajemen Kebidanan Menurut Varney

2.10.1 Pengertian

Proses manajemen adalah proses memecahkan masalah dengan menggunakan metode yang terorganisir meliputi pikiran dan tindakan dengan urutan logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan dengan menunjukkan Pernyataan yang jelas tentang proses berpikir dan tindakan.

Manajemen kebidanan memberikan asuhan komprehensif, terdiri dari 7 langkah :

2.10.1.1 Langkah I

Mengumpulkan data dasar lengkap untuk mengevaluasi pasien, meliputi nwayat pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul atas indikasi, mempelajari catatan sekarang atau laporan yang lalu, mempelajari data laboratorium dan membuat laporan singkat untuk menentukan kondisi pasien.

2.10.1.2 Langkah II

Adalah interpretasi data untuk spesifikasi masalah atau diagnosa.

2.10.1.3 Langkah III

Identifikasi masalah-masalah potensial atau diagnosa berdasarkan diagnosa sekarang adalah antisipasi masalah, mencegah bila mungkin, penjagaan betul-betul dan persiapan untuk beberapa kemungkinan yang terjadi.

2.10.1.4 Langkah IV

Adalah kelanjutan secara alami dalam proses manajemen, bukan hanya selama asuhan primer atau kunjungan antenatal tetapi secara terus menerus selama bidan bersama wanita, misalnya saat persalinan data tetap dicari dan dievaluasi.

2.11.1.5 Langkah V

Membuat rencana asuhan komperehensif, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, merupakan hasil pengembangan dari masalah sekarang antisipasi masalah dan diagnosa juga melengkapi data yang kurang serta data tambahan yang penting sebagai informasi untuk data dasar.

2.10.1.6 Langkah VI

Adalah implementasi dari rencana asuhan yang komprehensif, ini mungkin s;.luruhnya diselesaikan oleh bidan atau sebagian oleh wanita atau anggota team kesehatan lainnya.

2.10.1.7 Langkah VII

Adalah evaluasi benar-benar merupakan pengecekan bagaimana rencana asuhan apakah mencakup kebutuhan bantuan telah diidentifikasi pada masalah atau diagnosa, bila ya maka perencanaannya adalah efektif dan bila tidak berarti efektif

2.11.      Dokumentasi Kebidanan

2.11.1 Pengertian

Dokumentasi asuhan kebidanan adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, dan klinik kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan, produser pengobatan pada pasien dan pendidikan pada pasien dan respon pasien terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan.

2.11.2. Prinsip Dokumentasi

Asuhan yang diberikan bidan hams dicatat secara benar, sederhana, jelas dan logis serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga perlu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien yang di dalamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan. (Varney, 1997)

2.11.3 Fungsi Dokumentasi

Sebelum dokumentasi yang sah, alat komunikasi antara petugas kesehatan, sebagai bahan penelitian dan pendidikan, sebagai dokumen berharga untuk mengetahui perkembangannya dan evaluasi pasien, dan sebagai tanda bukti di pengadilan.

2.11. 4 Teknik Pencatatan atau Cara Penulisan Dokumentasi

  1. Mencantumkan nama pasien.
  2. Menulis dengan tinta hitam (idealnya)
  3. Menulis atau menggunakan singkatan dan simbol yang telah disepakati oleh institusi untuk mempercepat pencatatan.
  4. Mencantumkan tanggal, jam tindakan atau observasi yang dilakukan sesuai kenyataan dan bukan interpretasi.
  5. Hindarkan kata-kata yang menimbulkan penilaian, seperti : tampaknya, rupanya, dan bersifat umum.
  6. Tulis nama jelas pada catatan observasi dan pemeriksaan oleh yang melakukan.
  7. Hasil temuan digambarkan secara jelas termasuk keadaan, gejala, tanda, warna, jumlah dan besar dengan ukuran yang lazim dipakai.
  8. Interpretasi data obyektif harus didukung oleh observasi.
  9. Kolom jangan dibiarkan kosong, beri tanda bila tidak ada yang perlu ditulis.
  10. Coretan harus disertai paraf atau tanda tangan di sampingnya.

2.11.5.  Metode Pendokumentasian

Yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah SOAP, yang merupakan adalah satu metode pendokumentasian yang ada. SOAP adalah singkatan dari :

S     :   Subyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa (langkah 1).

O     :   Obyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment (langkah 1).

A     :   Assesment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subyektif dan obyektif suatu indikasi, diagnosa masalah, antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial, tindakan segera/kolaborasi (langkah 2, 3, dan 4).

P     :   Pelaksanaan

Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment (langkah 5, 6 dan 7).

2.12.        Standar Asuhan Kebidanan

2.12.1 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil

2.12.1.1 Pengertian

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangka tahapan mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (Varney)

2.12.1.2 Tujuan

Agar bidan mampu memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan berstandar pada ibu ante natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama hamil ini, kebutuhan dan respon ibu serta mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada dan mengantisipasinya. (PPKC, 2004)

2.12.1.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan kebidanan yang bersifat rutin maupun segera dan saat ibu hamil (trimester I s/d trimester III) meliputi pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah 280 hari 40 minggu) atau 9 bulan 7 hari, yang dibagi dalam 3 triwulan/trimester :

Triwulan I      : Kehamilan sampai dengan 14 minggu

Triwulan II      : Kehamilan 14 minggu – 28 minggu

Triwulan III    : Kehamilan 28 minggu – 36 minggu dan sesudah 36 minggu

Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu dan perubahan di dalam keluarga. (PPKC, 2004)

2.12.2 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin

2.12.2.1 Pengertian

Manajemen kebidanan pada ibu intra natal adalah proses pemecahan masalah pada masa intra natal yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.

2.12.2.2 Tujuan

Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan.

2.12.2.3 Hasil Yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada saat ibu intra partum (Kala I s/d Kala IV) termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan maupun oleh dokter atau melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.

2.12.3 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal

2.12.3.1 Pengertian

Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada jam pertama setelah kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran.

2.12.3.2 Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.

2.12.3.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bayi, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.12.4 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas

2.12.4.1 Pengertian

Asuhan ibu post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.

2.12.4.2 Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.

2.12.4.3 Hasil yang Diharapkan

Terlaksananya asuhan segera/rutin pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu, mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.

2.13.        Standar Pelayanan Kebidanan

2.13.1  Standar Pelayanan Antenatal (Standar 4)

2.13.1.1 Tujuan

Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.

2.13.1.2 Pernyataan Standar

Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan ristiikelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas tugas terkait lainnya yang diberikan oleh pukesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat dan setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. 2.13.1.3 Hasil

Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4x selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan. Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kedaruratan.

2.13.2 Standar Pelayanan Intranatal (Standar 9)

2.13.2.1 Tujuan

Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. 2.13.2.2 Pernyataan Standar

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai kemudian memberikan asuhan dan memantau yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.

2.13.2.3 Hasil

Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu bila diperlukan. Meningkatkan cakupan persalinan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus iama.

2.13.3 Standar Pelayanan Nifas (Standar 15)

2.13.3.1 Tujuan

Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.

2.13.3.2 Pernyataan Standar

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penatalaksanaan tall pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

2.13.3.3 Hasil

-     Komplikasi pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada saat yang tepat.

-     Mendukung dan menganjurkan pemberian ASI eksklusif

-     Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan.

-     Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.

-     Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana/penjarangan kelahiran.

-     Meningkatkan imunisasi pada bayi.

2.13.4 Standar Pelayanan Bayi Baru Lahir (Standar 13)

2.13.4.1 Tujuan

Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernapasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemia, dan infeksi.

2.13.4.2 Pernyataan Standar

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi,

2.13.4.3 Hasil

Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernapasan dengan baik. Penurunan kejadian hipotermia, asfiksia, infeksi, dan hipoglikemia pada bayi baru lahir. Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bahiyatun, S.Pd, S.Si.T. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta :EGC

Bobak,dkk.2005.Buku Ajar Keperawatan Maternitas.Jakarta.:EGC

Bick,Debra. Dkk. 2004. Postnatal Care – Evidence And Guidelines For Management. China : Churchill Livingstone.

Chapman, Vicky dkk. 2006.Asuhan Kebidanan : Persalinan & Kelahiran. Jakarta : EGC

Cunningham, F.Gary dkk, 2006 . William’s Obstetri, Jakarta :EGC

 

Denis, Difa. Kamus Istilah Kedokteran. Gitamedia Press

Departemen Kesehatan RI. 2008. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : JNPKKR

Everett, Suzanne. 2005. Handbook of Contraception and Reproductive Sexual Health. China : Elsevier Limited

http://drdidiksuprayitno.blogspot.com/ diunduh tanggal 01 November 2010

Johnson; Ruth. Taylor, Wendy. 2004. Praktik kebidanan (skills for midwifery practice): buku ajar. Jakarta : EGC

 

 Little,dr. http://www.anemia.org/. National Anemia Action Cauncil. Diunduh 12 Desember 2010

Manuaba, Ida Bagus Gde, 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB, Jakarta : EGC

——————————-, 2010 . Buku Panduan Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Bagi Bidan. Jakarta : EGC

Owen P. 2005. Caesarean section. http://www.netdoctor.co.uk. Diunduh 12 Desember 2010

Prawirohardjo,Sarwono.2006.Ilmu Kebidanan.Jakarta:FKUI

Ramaiah, dr.Savitri. 200 . Gaya Hidup di Masa Hamil. Jakarta : Kelompok Gramedia.

Safrudin, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes. 2009. Buku Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC

 Saifuddin,Prof. dr. Abdul Bari SPOG, MPH. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neontal, Jakarta : JNPKKR-POGI- JHPIEGO/MNH PROGRAM

————————————————————- 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : JNPKKR/POGI, BKKBN, DEPKES, dan JHPIEGO/STARH  PROGRAM

————————————————————- 2006 , Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal . Jakarta : JNPKKR-POGI- JHPIEGO/MNH PROGRAM

———————————————————— 2010. Buku Ilmu Kebidanan, Jakarta : YBP-SP

Tarwoto.Ns. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Jakarta : Trans Infomedia

WHO. 2003. Pregnancy, Childbirth, Postpartum and Newborn Care : A Guide For Essensial. Geneva : WHO

Winknjosastro,Prof. Dr. dr. Gulardi Hanifa SPOG, 2002. Buku Ilmu Kebidanan, Jakarta : YBP-SP

———————————————————— 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta : YBP-SP

www.usudigitallibrary.co.id. Diunduh tanggal 01 November 2010

www.medskills.eu/index.php. Diunduh 12 Desember 2010

http://www.wikipedia.org. Caesarean section (editorial) Diunduh 12 Desember 2010

Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC

 ——————-, 2007 . Buku Ajar Asuhan Kebidanan . Jakarta : EGC



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: